“IBU TIRIKU MEMAKSAKU MENIKAH DENGAN SEORANG PEMULUNG AGAR AKU KEHILANGAN HAK WARIS DAN MENJADI TERTAWAAAN DI MATA MASYARAKAT. MEREKA MENGIRA HIDUPKU SUDAH BERAKHIR. NAMUN KETIKA ‘GELANDANGAN’ ITU BERBICARA DI HADAPAN PASTOR DAN MENGHAPUS KOTORAN DI WAJAHNYA, LUTUT SEMUA ORANG BERGETAR DAN MEREKA YANG PERNAH MENGINJAK-INJAK HARGA DIRIKU SEAKAN KEHILANGAN NAPAS.”**
## Kutukan Ibu Tiri
Namaku Elara, dua puluh lima tahun.
Ayahku meninggal dunia sebulan yang lalu, meninggalkan seluruh perusahaan keluarga di bawah kendali ibu tiriku yang kejam, Dona Agatha, dan putrinya, Chloe.
Menurut surat wasiat Ayah, aku hanya bisa menerima 60% bagian warisanku setelah menikah.
Untuk memastikan aku tidak pernah mendapatkan perusahaan itu dan untuk mempermalukanku di depan semua orang, mereka menyusun rencana yang sangat keji.
“Kamu akan menikah besok,” ancam Dona Agatha sambil tersenyum puas dan memegang setumpuk dokumen.
“Dengan seorang pria yang ditemukan satpam di tempat pembuangan sampah. Namanya Kiko. Jika kamu menikah dengan gelandangan tak berguna seperti dia, kamu akan otomatis didiskualifikasi sebagai ahli waris karena ada klausul perusahaan yang melarang skandal yang mencoreng reputasi keluarga.”
“Ibu, tolong… jangan hancurkan hidup saya seperti ini!” pintaku sambil menangis dan berlutut di hadapannya.
“Kamu tidak punya pilihan, Elara,” sela Chloe sambil tertawa mengejek.
“Kalau kamu menolak, aku akan membongkar makam ayah dan ibumu lalu membuang tulang-belulang mereka ke laut!”
Karena takut mereka benar-benar menodai makam kedua orang tuaku, aku akhirnya menyerah.
Dengan air mata yang terus mengalir, aku menerima nasib yang mereka paksakan.
## Penghinaan di Lorong Gereja
Pernikahan itu diselenggarakan di sebuah gereja mewah.
Dona Agatha mengundang para miliarder, politisi, tokoh masyarakat, dan media untuk menyaksikan apa yang mereka sebut sebagai “kejatuhanku.”
Ketika pintu gereja terbuka, aku berjalan perlahan menyusuri lorong dengan gaun putih sederhana.
Tawa dan bisikan para tamu terdengar jelas di telingaku.
> “Kasihan Elara. Dia akan menikah dengan pria yang hidup dari sampah.”
>
> “Lihat pengantinnya! Pakaiannya robek semua dan wajahnya penuh jelaga!”
Di altar berdiri pria yang mereka panggil Kiko.
Ia mengenakan jaket tua yang terlalu besar dan compang-camping.
Rambutnya panjang dan kusut.
Wajahnya tertutup lapisan kotoran dan minyak hitam.
Kepalanya terus tertunduk.
Saat aku tiba di hadapannya, aku menahan tangis yang hampir pecah.
Pria itu perlahan menggenggam tanganku.
Aku terkejut.
Tangannya sangat bersih.
Hangat.
Lembut.
Dan entah mengapa, sentuhannya membuat rasa takut di hatiku sedikit berkurang.
“Shh… kamu aman sekarang.”
Suara bariton yang dalam berbisik di telingaku.
Aku langsung mengernyit.
Itu bukan suara seorang pemulung.
Bukan suara orang yang hidup terlunta-lunta di jalanan.
Suara itu penuh ketegasan.
Penuh kewibawaan.
Seolah terbiasa memimpin dan memberikan perintah.
Jantungku berdegup semakin cepat.

Siapa sebenarnya pria ini?
Mengapa rasanya semua yang kulihat hanyalah sebuah penyamaran?
Dan aku sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa menit lagi, seluruh isi gereja akan menyaksikan sebuah rahasia yang akan menghancurkan rencana Dona Agatha dan mengubah hidup kami selamanya.
Topeng yang Terbuka
Pastor berdeham, bersiap memulai pembacaan sumpah pernikahan. Namun, Dona Agatha tiba-tiba berdiri dari kursi terdepan dengan senyum kemenangan yang memuakkan. Ia melangkah maju ke arah altar, diikuti oleh beberapa fotografer media yang sengaja disewanya.
“Tunggu sebentar, Pastor,” potong Dona Agatha dengan suara lantang yang menggema di seluruh sudut gereja. “Sebelum pernikahan ini sah, aku ingin seluruh hadirin melihat dengan jelas wajah ‘pangeran berkuda putih’ pilihan anak tiriku ini. Kiko, angkat kepalamu! Jangan memalukan keluarga kami dengan terus menunduk seperti itu!”
Chloe tertawa terbahak-bahak dari bangku penonton, memicu gelombang bisikan mengejek dari para tamu undangan. Aku memejamkan mata erat-erat, bersiap menghadapi puncak dari segala penghinaan ini.
Namun ketika ‘gelandangan’ itu berbicara di hadapan Pastor dan menghapus kotoran di wajahnya, lutut semua orang bergetar dan mereka yang pernah menginjak-injak harga diriku seakan kehilangan napas.
“Apakah Anda yakin ingin melihat wajah saya, Nyonya Dona?”
Suara bariton yang dalam itu tidak lagi berbisik. Suara itu menggelegar penuh wibawa melintasi pengeras suara, membuat suasana gereja mendadak hening seketika.
Pria di sampingku mengangkat kepalanya tegak. Dengan satu gerakan tenang namun tegas, ia membuka jaket tua yang compang-camping itu, melemparkannya ke lantai altar, dan menampilkan setelan tuksedo sutra hitam yang sangat pas di tubuh tegapnya. Ia kemudian merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar saputangan basah, dan dengan santai menghapus lapisan jelaga serta minyak hitam di wajahnya.
Saat kotoran itu hilang, sebuah wajah berstruktur tegas dengan rahang kokoh dan sepasang mata elang yang tajam terpampang nyata.
“K-Christian… Christian Valerius?!” Teriak salah satu pengusaha terkaya di barisan depan, hingga kursinya bergeser ke belakang karena ia melompat berdiri akibat terkejut.
Wajah Dona Agatha memucat seketika, beralih dari warna merah kepuasan menjadi putih pucat seperti mayat. Di sampingnya, Chloe menjatuhkan tas desainer mahalnya ke lantai, tubuhnya gemetar hebat.
Pembalasan Sang Penguasa
Christian Valerius adalah sosok misterius yang memegang takhta tertinggi di dunia bisnis internasional. Dialah pemilik Valerius Holding, raksasa korporasi yang selama ini menjadi penyokong dana utama bagi perusahaan mendiang ayahku. Satu kata darinya bisa menaikkan sebuah bisnis ke puncak kejayaan, atau menghancurkannya hingga tak bersisa dalam hitungan jam.
Christian menatap Dona Agatha dengan tatapan dingin yang mampu membekukan darah siapa pun yang melihatnya.
“Maaf merusak pertunjukanmu, Nyonya Dona,” ucap Christian dengan senyum sinis yang mematikan. “Kamu mengira telah membayar seorang pemulung jalanan melalui anak buahmu. Kamu tidak tahu bahwa anak buahmu adalah orang-orangku, dan aku sendiri yang memilih untuk mengambil peran ini.”
Christian kemudian berbalik menatapku, tatapannya melembut secara drastis saat ia menggenggam jemariku dengan erat.
“Dua tahun lalu, mendiang ayahmu, Tuan Elara, adalah orang yang mendanai proyek pertama saya ketika saya hampir bangkrut. Sebelum beliau wafat, beliau menghubungi saya dan menceritakan kekhawatirannya tentang kelakuan busuk istri tirinya. Kami berdua telah menyusun rencana ini untuk memancingmu keluar dari sarangmu, Dona.”
Christian melangkah maju, mengintimidasi Dona Agatha yang kini melangkah mundur hingga hampir terjatuh.
“Mengenai klausul reputasi perusahaan yang kamu sebutkan tadi… kamu benar. Menikah dengan skandal akan membatalkan hak waris. Tapi menikahi Christian Valerius? Itu adalah pencapaian tertinggi dalam sejarah perusahaan ini! Hak waris 60% milik Elara mutlak sah, dan dengan investasi yang kubawa, saham Elara kini melonjak menjadi 85%. Kamu dan putrimu… resmi kehilangan segalanya.”
“T-tidak mungkin! Ini pasti mimpi!” Chloe berteriak histeris, sementara Dona Agatha memegangi dadanya, napasnya memburu karena syok yang teramat sangat.
“Dan satu hal lagi,” tambah Christian dingin. “Mengenai ancamanmu untuk merusak makam orang tua Elara… tuntutan hukum atas pengancaman, percobaan penggelapan aset, dan tindakan semena-mena sudah diproses. Polisi sudah mengepung gereja ini.”
Tepat setelah kalimat itu selesai, pintu gereja terbuka lebar dan beberapa petugas kepolisian masuk, langsung menggiring Dona Agatha dan Chloe yang menangis histeris di hadapan para tamu miliarder yang kini balik menatap mereka dengan pandangan jijik.
Christian kembali menghadapku. Ia mengecup punggung tanganku dengan penuh hormat di depan altar yang kini menjadi saksi bisu pembalikan takdirku.
“Elara, bersediakah kamu melanjutkan pernikahan ini denganku? Kali ini, bukan untuk bersembunyi dari mereka, melainkan untuk berdiri di sampingku sebagai ratu yang sesungguhnya.”
Dengan air mata kebahagiaan yang mengalir di pipiku, aku mengangguk pasti. Hari ini, di tempat yang mereka siapkan untuk menghancurkanku, aku justru menyaksikan runtuhnya kerajaan tirani ibu tiriku, dan memulai babak baru hidupku di puncak dunia.