Setiap Minggu Mereka Menghabiskan Isi Kulkasku, Lalu Aku yang Dibilang Egois—Aku Hanya Tersenyum dan Berkata, “Aku Akan Pulang ke Rumah Ibuku.” Sepuluh Hari Kemudian, Merekalah yang Panik dan Saling Menyalahkan
Ada orang-orang yang tidak pernah menyakitimu secara langsung, tetapi perlahan-lahan menguras habis dirimu.
Bukan dengan teriakan.
Bukan dengan tamparan.
Bukan dengan penindasan yang terang-terangan.
Melainkan dengan terus-menerus mengambil, mengabaikan, dan membuatmu merasa bahwa di rumahmu sendiri, kamulah orang asing.
Namaku Nina Reyes. Sudah tiga tahun aku menikah dengan Paolo de Leon.
Dan selama hampir dua tahun, tepat setiap hari Minggu pukul tiga sore, bel rumah kami berbunyi seperti alarm keluarga besar.
Aku selalu tahu siapa yang datang.
Aku mengusap tangan pada celemek, lalu membuka pintu.
Dan seperti yang kuduga, di sana berdiri Karen, adik perempuan Paolo, membawa tiga tas belanja kain yang masih kosong.
Di belakangnya kadang ada suaminya, Dennis. Kadang putra mereka yang berusia tujuh tahun, Miko.
Tetapi sering kali, Karen seorang diri saja sudah cukup untuk menghabiskan setengah isi rumah.
“Nina, kamu sibuk?” tanyanya sambil tersenyum.
Namun ia tidak pernah menunggu jawabanku.
Ia langsung berjalan menuju dapur.
Di ruang tamu, ibu mertuaku, Bu Cora, bersandar santai di sofa sambil menonton tayangan ulang acara televisi.
Begitu melihat Karen, wajahnya langsung berseri-seri.
“Nak, kamu sudah datang! Sini, Mama punya sesuatu untuk Miko.”
Kadang uang.
Kadang biskuit.
Kadang apa saja yang ingin ia berikan dari rumah yang seluruh isinya kubeli sendiri.
Aku kembali ke wastafel dan mencuci piring sambil mendengar suara kulkas yang terus dibuka dan ditutup.
Aku bahkan tidak perlu menoleh.
Aku sudah tahu apa yang terjadi.
Yogurt impor yang kubeli untuk bekal kerja kami.
Salmon yang masih tersegel.
Dumpling buatan tanganku yang kubuat hari Sabtu.
Anggur, stroberi, mentega, keju, bacon, bahkan sisa makanan yang masih bisa dimakan untuk makan malam.
Semuanya masuk satu per satu ke dalam tas Karen.
“Yogurt ini memang enak sekali,” kudengar Karen berkata dengan riang.
“Miko suka sekali. Baru tiga hari sudah habis yang kemarin.”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya menata piring di rak pengering seolah tidak mendengar apa pun.
“Wah, udang ini masih segar. Aku ambil ya. Besok aku tidak sempat ke pasar.”
Seolah itu hanya bantuan kecil.
Seolah itu hal yang wajar.
Seolah itu sudah menjadi rutinitas semua orang—kecuali aku.
Ketika keluar dari dapur, kulkas biasanya sudah hampir kosong.
Tiga tas penuh sesak.
Yang tersisa hanya sebotol kecap, setengah bawang, dan sedikit es di freezer.
“Kak, kami pulang dulu ya,” kata Karen seakan-akan dialah yang memberi hadiah kepada kami.
Lalu ibu mertuaku mengantarnya ke pintu dengan senyum lebar.
Setelah mereka pergi, akulah yang membersihkan remah-remah biskuit di lantai.
Aku yang membereskan gelas-gelas bekas mereka.
Aku juga yang harus memikirkan apa yang akan kumasak untuk suamiku nanti malam.
Awalnya aku diam saja.
Aku berpikir mungkin hanya sesekali.
Tetapi yang awalnya sesekali berubah menjadi setiap minggu.
Yang setiap minggu berubah menjadi kebiasaan.
Dan kebiasaan itu, di mata mereka, seolah menjadi kewajibanku.
Suatu hari Paolo pulang dan membuka kulkas.
“Nin, masih ada makanan?” tanyanya.
“Tidak ada. Karen mengambil semuanya lagi.”
Ia terdiam beberapa detik.
Lalu kembali memasang ekspresi yang sama—ekspresi seseorang yang tidak nyaman tetapi tidak ingin membuat keributan.
“Sudahlah. Aku beli makanan di luar saja.”
“Minggu lalu ayam. Minggu sebelumnya daging sapi. Sekarang dumpling dan buah juga habis.”
Kataku pelan meski dadaku sudah mendidih.
“Ini terjadi setiap minggu, Paolo. Apa yang tersisa untuk kita?”
Malam itu ia duduk di tepi tempat tidur tanpa berani menatap mataku.
“Kamu tahu mereka sedang kesulitan,” katanya.
“Lagipula Mama bilang kita keluarga.”
Keluarga.
Aku tersenyum pahit.
Saat Karen menikah, orang tuanya memberinya bantuan hampir Rp80 juta, lengkap dengan peralatan rumah tangga dan hadiah uang tunai.
Saat aku dan Paolo menikah, kami hanya diberi sekitar Rp4 juta dan diminta hidup hemat.
Aku tidak pernah mempermasalahkannya.
Tetapi sekarang, setiap Minggu, aku merasa mereka perlahan merampas hakku sebagai nyonya rumah ini.
Kadang makanan.
Kadang barang-barang pribadi.
Syal sutra hadiah ibuku pernah kulihat dipakai Karen saat acara keluarga.
Set teh khusus yang kubawa dari rumah orang tuaku juga berkali-kali menjadi sasaran matanya.
Dan yang paling menyakitkan bukanlah apa yang mereka ambil.
Melainkan diamnya Paolo.
Seolah ia lebih memilih ketenangan daripada membela istrinya yang perlahan hancur.
Suatu hari Jumat, saat aku sedang berbelanja, Bu Cora menelepon.
“Nina, besok Karen datang. Belikan udang besar yang dia suka ya.”
“Hah?”
“Yang impor kalau ada. Sekalian tambah anggur. Yang kemarin cepat habis.”
Itu tidak terdengar seperti permintaan.
Itu terdengar seperti perintah.
Aku menatap isi keranjang belanjaku.
Susu, telur, roti, deterjen, sedikit buah, dan makanan beku untuk satu minggu kerja yang melelahkan.
“Baik, Bu,” jawabku.
Namun sebenarnya aku membeli udang termurah yang tersedia.
Keesokan harinya Karen datang.
Ia membuka kulkas lalu langsung cemberut.
“Hah? Merek yang ini? Tidak ada yang lebih bagus?”
“Katanya stok habis,” jawabku tanpa menoleh.
Tetapi ia tetap mengambilnya.
Bersama bakpao, buah-buahan, olesan daging buatanku, dua rak telur, dan setengah kilogram dada ayam yang sebenarnya akan kusiapkan untuk hari Senin.
Sebelum pulang, matanya tertuju pada set teh di lemari.
“Kak, aku pinjam set teh ini ya? Hari Selasa ada tamu. Nanti kukembalikan.”
Aku menatapnya.
Itu hadiah dari ibuku untuk ulang tahun pernikahanku yang ketiga.
“Tidak bisa.”
Ia tampak tidak percaya.
“Hah? Aku cuma pinjam.”
“Tidak bisa.”
Senyumnya langsung mengeras.
“Kamu pelit sekali. Cuma set teh.”
“Itu set teh milikku.”
Karen tidak menjawab.
Ia membanting pintu saat pergi.
Ketika Bu Cora pulang, ia langsung menyerbuku.
“Tadi Karen datang?”
“Iya.”
“Kenapa katanya kamu kasar padanya?”
Aku sedang merebus air saat itu.
Tetapi pertanyaan itu membuat semuanya terasa semakin berat.
“Dia ingin meminjam set teh hadiah dari ibuku. Aku menolak.”
Wajah Bu Cora langsung berubah.
“Hanya karena itu? Nina, benda sekecil itu saja kamu pelit? Kita ini keluarga!”
Aku mematikan kompor perlahan.
“Itu hadiah dari ibu saya.”
“Justru karena keluarga, kamu harus lebih murah hati!”
Aku tidak menjawab.
Karena apa pun yang kukatakan, pada akhirnya aku yang akan dianggap egois.
Malam itu Paolo pulang dalam keadaan lelah.
Ia bertanya apakah aku bertengkar dengan ibunya.
“Bukan bertengkar,” kataku.
“Aku hanya sudah muak.”
“Sudahlah. Mama cuma ingin semuanya rukun.”
“Rukun?”
Aku tertawa pelan.
“Paolo, kapan terakhir kali kamu membelaku?”
Ia diam.
“Kapan kamu pernah bilang pada adikmu bahwa ini bukan supermarket? Bahwa rumah ini bukan gudang keluarga kalian?”
Ia tidak menatapku.
Setelah makan malam, ia akhirnya berkata:
“Lain kali saja kita beli kulkas yang lebih besar.”
Saat itulah aku benar-benar terdiam.
Ia tidak melihat masalahnya.
Ia hanya ingin memperbesar tempat untuk menampung penyalahgunaan yang sama.
Keesokan harinya, hari Minggu lagi.
Pukul dua siang aku sudah keluar rumah dan duduk di taman kecil dekat sudut jalan.
Pukul tiga, Karen mengirim pesan.
“Kak, kamu tidak di rumah? Mama yang bukakan pintu. Aku ambil sedikit ya.”
Aku tidak membalas.
Ketika pulang pukul empat, kulkas hampir kosong.
Dan Bu Cora berkata santai dari sofa:
“Aku bilang saja suruh dia ambil, daripada makanan itu rusak.”
Aku menutup pintu kulkas perlahan.
Menatap permukaannya yang dingin.
Lalu menatap ibu mertuaku yang seolah tidak merasa bersalah.
Setelah itu aku langsung masuk ke kamar.
Aku mengeluarkan koper dari bawah tempat tidur.
Pada saat yang sama, ponselku berbunyi.
Pesan dari Paolo yang sedang dinas luar kota.
“Nin, hari Minggu lagi ya. Karen datang? Tolong sisakan dumpling di freezer untukku saat pulang.”
Tanganku mencengkeram ritsleting koper semakin erat.
Karena kali ini, yang akan hilang bukan lagi dumpling.
Melainkan diriku.
Rahasia di Balik Keruntuhan Rumah Tangga
Aku melipat pakaianku satu per satu dengan tenang. Tidak ada air mata, tidak ada kemarahan yang meledak-ledak. Dadaku justru terasa sangat ringan, seolah beban berat yang menghimpitku selama dua tahun terakhir menguap begitu saja.
Ketika aku keluar dari kamar sambil menyeret koper, Bu Cora terlonjak kaget dari sofanya. Matanya tertuju pada koper besar di tanganku, lalu beralih ke wajahku dengan tatapan tidak percaya.
“Nina? Mau ke mana kamu membawa koper besar begitu? Paolo kan baru pulang dinas tiga hari lagi,” tanyanya dengan nada menuduh, seolah aku sedang melakukan kesalahan besar.
Aku hanya tersenyum tipis, senyuman paling tulus yang pernah kuberikan padanya selama berada di rumah ini.
“Aku akan pulang ke rumah ibuku,” kataku pelan, suaraku begitu tenang hingga membuat Bu Cora mengernyit bingung.
“Pulang? Hanya karena masalah Karen kemarin? Astaga Nina, kamu kekanak-kanakan sekali! Kamu ini egois, tidak mau mengalah demi keharmonisan keluarga! Pergi saja sana, paling dua hari juga kamu sudah menangis minta dijemput Paolo karena kelaparan!” cibirnya sambil mengibaskan tangan, kembali menonton televisinya seolah kepergianku hanyalah gertakan sambal.
Aku tidak membalas makiannya. Aku melangkah keluar, mengunci pintu, dan masuk ke dalam taksi yang sudah menungguku.
Bu Cora dan Karen mengira aku pergi karena merajuk. Mereka tidak tahu bahwa sebelum aku melangkah keluar dari rumah itu, aku sudah menandatangani surat gugatan cerai untuk Paolo, mengosongkan rekening bersama yang 90% isinya berasal dari gajiku, dan yang paling penting: aku sudah memutus semua fasilitas otomatis di rumah itu.
Rumah yang kami tempati adalah rumah atas nama pribadiku, hadiah pernikahan dari orang tuaku. Selama ini, akulah yang membayar seluruh tagihan cicilan, listrik, air, internet, gaji pembantu harian, hingga asuransi kesehatan Bu Cora. Paolo? Gajinya yang tidak seberapa itu habis untuk mencicil mobil barunya dan memberikan “uang jajan” tambahan untuk Karen dan Dennis.
Mereka mengira aku adalah pelayan gratis yang bisa diinjak-injak atas nama “keluarga”. Kini, saatnya mereka menghadapi realitas tanpa diriku.
Sepuluh Hari yang Menghancurkan
Hari ke-3 setelah kepergianku: Paolo pulang dari dinas luar kota. Ia mendapati rumah dalam keadaan berantakan karena Bu Cora tidak pernah tahu cara membersihkan rumah dengan benar. Saat Paolo membuka kulkas untuk mencari dumpling permintaannya, ia hanya menemukan sebotol kecap dan air putih.
Paolo meneleponku berpuluh-puluh kali, mengirim pesan teks panjang penuh tuntutan: “Nin, kamu di mana? Mama bilang kamu pergi karena pelit pada Karen? Tolong pulang, rumah berantakan, aku lapar. Kenapa kartu debit bersamaku tidak bisa digunakan?”
Aku memblokir nomornya.

Hari ke-5: Karen datang seperti biasa untuk ritual hari Minggunya, membawa tas belanja kain kosongnya yang besar. Namun saat ia membuka kulkas, matanya terbelalak. Kulkas itu benar-benar kosong, bahkan lampunya mati. Bukan hanya kulkas, seluruh rumah mendadak gelap gulita.
Tagihan listrik, air, dan internet yang biasanya terpotong otomatis dari rekening pribadiku telah kuhentikan. Bu Cora dan Paolo tidak pernah tahu berapa biaya bulanan rumah itu karena mereka hanya tahu tinggal di sana dengan nyaman.
Hari ke-10: Puncaknya terjadi pada hari kesepuluh. Merekalah yang panik dan saling menyalahkan.
Sebuah mobil kurir pengadilan datang ke rumah, mengantarkan dua dokumen penting sekaligus: Surat Gugatan Cerai mutlak dan Surat Somasi Pengosongan Rumah dalam waktu 2×24 jam atas nama Nina Reyes.
Pertahanan mereka runtuh seketika. Tanpa tabungan bersama yang telah kuamankan, Paolo tidak mampu membayar tunggakan listrik dan air yang membengkak, apalagi membayar pengacara. Ditambah lagi, pihak bank menelepon Paolo karena cicilan mobilnya menunggak—uang yang biasanya diam-diam ditutupi dari sisa uang belanja bulanan yang kukasih.
Di tengah rumah yang gelap, panas, dan berbau karena sampah yang menumpuk, persidangan keluarga de Leon dimulai oleh mereka sendiri.
“Ini semua karena kamu, Karen!” teriak Paolo frustrasi, suaranya terdengar hingga ke halaman rumah. “Kalau saja kamu tidak serakah dan menguras isi rumah ini setiap minggu, Nina tidak akan nekat menceraikan aku! Sekarang rumah ini mau disita, kita mau tinggal di mana?!”
“Kok Kakak menyalahkan aku?!” balas Karen tidak terima, suaranya melengking tinggi. “Mama yang menyuruhku mengambil semuanya! Mama yang bilang Nina itu pelit dan bodoh, makanya harus dimanfaatkan! Lagipula, Kak Paolo yang lemah jadi laki-laki! Kenapa tidak bisa becermin kalau gajimu itu tidak cukup untuk menghidupi kami?!”
“Jaga mulutmu, Karen! Aku ini kakakmu!” bentak Paolo, wajahnya memerah karena malu dan murka.
“Kakak macam apa yang membiarkan ibunya dan adiknya telantar?! Kamu yang tidak berguna, Paolo! Istrimu pergi membawa semua uangnya karena kamu tidak bisa tegas!” teriak Karen sambil membanting tas desainer tiruannya ke lantai.
Bu Cora duduk di sudut sofa yang berdebu, menangis histeris sambil memegangi kepalanya. Wanita yang biasanya angkuh itu kini meratap, “Sudah! Jangan bertengkar! Kepala Mama sakit… Paolo, telepon Nina! Minta maaf padanya! Bilang pada wanita pelit itu kalau Mama berjanji tidak akan membiarkan Karen mengambil makanannya lagi! Mama tidak mau tinggal di jalanan!”
Namun semuanya sudah terlambat.
Dua hari kemudian, dengan didampingi kuasa hukumku dan petugas keamanan, aku datang ke rumah itu. Aku berdiri di ambang pintu, menatap mereka bertiga yang tampak kusut, pucat, dan membawa kantong-kantong plastik berisi pakaian mereka—pemandangan yang sangat kontras dengan gaya sosialita yang biasa mereka pamerkan.
Karen menatapku dengan pandangan penuh dendam namun tersirat ketakutan yang amat besar. Paolo mencoba mendekat, matanya berkaca-kaca, “Nin… tolong, beri aku satu kesempatan lagi. Kita bisa bicarakan ini…”
Aku bahkan tidak menatap matanya. Aku hanya menoleh ke arah petugas dan berkata dengan nada yang sangat tenang, “Silakan ganti semua kunci rumah ini. Pastikan tidak ada satu pun orang asing yang bisa masuk lagi.”
Aku berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh ke belakang. Di belakangku, sayup-sayup terdengar suara Bu Cora yang mulai menyalahkan Karen lagi, dan Karen yang memaki Paolo. Mereka yang dulu bersatu untuk menguras habis diriku, kini hancur dan saling mencabik satu sama lain di dalam lubang yang mereka gali sendiri.