SUAMI TERUS-MENERUS MEMIMPIKAN ISTRI HAMILNYA YANG MENINGGAL SELAMA 3 HARI BERTURUT-TURUT. SAAT MEMBONGKAR PLAFON RUMAH, IA MENEMUKAN RAHASIA MENGERIKAN
Hukum karma tidak pernah melewatkan siapa pun, terutama mereka yang berhati kejam yang bersembunyi di balik kedok keluarga. Kisah yang penuh air mata ini menjadi peringatan mendalam tentang harga yang harus dibayar atas kekerasan dalam rumah tangga.
Hao berasal dari keluarga sederhana di daerah. Karena kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan, sejak menikah dan tinggal di rumah mertua yang megah bertingkat empat, ia terus-menerus diremehkan dan disiksa oleh ibu mertuanya setiap kali sang suami tidak berada di rumah.
Ketika Hao hamil dan kondisi kesehatannya semakin lemah, ibu mertuanya berpura-pura peduli di depan anak laki-lakinya. Namun di belakang, ia memaksa Hao bekerja tanpa henti. Puncaknya, Hao dipaksa mengangkut air dari tempat yang berjarak lebih dari setengah kilometer di tengah terik matahari. Dalam perjalanan, ia terpeleset dan jatuh di lereng yang sepi.
Sebelum mengembuskan napas terakhir di rumah sakit, karena tidak ingin membuat suaminya berada dalam posisi sulit, Hao hanya mengatakan bahwa dirinya jatuh karena kecelakaan. Hung yang hancur karena kehilangan istrinya mempercayai penjelasan tersebut. Sementara itu, ibu mertuanya yang kejam tetap berpura-pura menangis dan tampil seolah tidak bersalah.
Namun, tidak ada kejahatan yang bisa selamanya tersembunyi.
Selama tiga malam berturut-turut setelah pemakaman, Hung terus mengalami mimpi buruk. Ia melihat istrinya yang sedang hamil berdiri di samping tempat tidur dengan tubuh berlumuran darah. Wajahnya pucat pasi, tidak mampu berbicara, hanya mengangkat tangan dan menunjuk ke arah plafon rumah.
Tatapan penuh kesedihan dan ketidakadilan itu membuat Hung tidak bisa tenang. Pada pagi hari ketiga, ia memutuskan mengambil tangga dan membongkar satu per satu lapisan plafon sesuai petunjuk yang ia lihat dalam mimpi.
Ketika mencapai sudut tersembunyi, jantungnya berdegup kencang. Di sana ia menemukan sebuah kotak besi berkarat yang direkatkan rapat dengan lakban.
Saat kotak itu dibuka, Hung terdiam membeku.

Di dalamnya terdapat sebuah buku harian yang penuh dengan catatan air mata serta sebuah alat perekam suara mini. Rekaman tersebut menyimpan seluruh bukti perlakuan kejam yang dialami Hao: suara cambukan, makian, ancaman, dan tekanan tanpa belas kasihan dari ibu mertuanya tepat pada hari ketika tragedi itu terjadi.
Kebenaran yang mengerikan akhirnya terungkap, mengubah kesedihan Hung menjadi amarah yang tak terbendung.
Air mata Hung menetes, membasahi lembaran buku harian yang kini berlumuran debu plafon. Suara rekaman yang berputar di tangannya bagai petir yang menyambar di siang bolong, menghancurkan seluruh rasa hormat yang tersisa untuk ibu kandungnya sendiri. Di dalam rekaman itu, suara Hao terdengar merintih memohon belas kasihan di bawah bentakan kejam sang ibu yang memaksanya pergi mengangkut air dalam kondisi lemah.
Hung berjalan turun dengan langkah berat, mencengkeram kotak besi itu erat-erat. Di ruang tamu, ibunya sedang duduk santai sambil meminum teh, seolah tidak pernah terjadi tragedi besar di rumah itu.
“Hung, ada apa dengan wajahmu? Kenapa kamu kotor begitu?” tanya ibunya dengan nada pura-pura cemas yang biasa ia tunjukkan.
Tanpa sepatah kata pun, Hung menyalakan alat perekam itu dengan volume maksimal. Begitu suara makian dan rintihan Hao menggema di ruangan, wajah wanita tua itu langsung pucat pasi. Gelas teh di tangannya jatuh dan pecah berkeping-keping.
“Kamu… dari mana kamu mendapatkan itu?!” bisik ibunya dengan bibir gemetar, seluruh topeng kepalsuannya runtuh seketika.
“Ini dari Hao, Bu. Dia yang memberitahuku lewat mimpi,” jawab Hung dengan suara bergetar menahan amarah yang teramat sangat. “Selama ini aku buta karena mengira Ibu menyayanginya. Ternyata Ibu adalah pembunuh istri dan anakku!”
Meskipun ibunya menangis dan berlutut memohon ampun, mengklaim bahwa ia tidak bermaksud membuat Hao meninggal, Hung tidak goyah. Rasa cintanya pada sang istri dan keadilan jauh lebih besar dari apa pun. Hari itu juga, Hung menyerahkan seluruh bukti rekaman dan buku harian tersebut ke pihak kepolisian.
Akhir dari Sebuah Kepalsuan
Hukum karma tidak pernah terlambat. Berdasarkan bukti-bukti yang tak terbantahkan, ibu Hung dijatuhi hukuman penjara yang berat atas tindakan kekerasan dalam rumah tangga yang menyebabkan kematian orang lain. Di dalam sel yang dingin, wanita tua itu harus menghabiskan sisa hidupnya dalam penyesalan yang mendalam, dihantui oleh bayang-bayang dosa yang ia perbuat.
Sementara itu, Hung memutuskan untuk menjual rumah bertingkat empat yang penuh kenangan kelam tersebut. Sebagian besar uangnya ia sumbangkan ke panti asuhan dan lembaga perlindungan perempuan atas nama Hao.
Malam setelah keadilan ditegakkan, Hung kembali memimpikan Hao. Namun kali ini, tidak ada lagi darah atau wajah pucat yang penuh penderitaan. Hao berdiri di taman bunga yang indah bersama anak mereka yang berada di dekapannya. Ia tersenyum lembut, mengangguk perlahan kepada Hung seolah mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal, sebelum akhirnya menghilang ke dalam cahaya yang damai.
Hung terbangun dengan air mata yang mengalir, namun kali ini hatinya terasa ringan. Ia tahu, istri dan anaknya kini telah tenang di alam sana.