Posted in

SUAMIKU BILANG DIA SEDANG LEMBUR DI KANTOR.

SUAMIKU BILANG DIA SEDANG LEMBUR DI KANTOR.

Tapi di rekaman CCTV lorong apartemen, aku melihat dengan jelas seorang wanita menggunakan kunci untuk membuka rumah kami.

Dan apa yang menyambutku di dalam cukup untuk menghancurkan seluruh duniaku…

Aku baru saja menyelesaikan pelatihan selama seminggu di kota lain.

Pukul sepuluh malam ketika bus yang kutumpangi tiba di kompleks apartemen.

Saat menyeret koper memasuki lobi, tanpa sadar aku melihat ke kotak surat keluarga kami.

Dan aku langsung terdiam.

Ada sebuah pot anggrek putih diletakkan di atasnya.

Yang aneh, aku tidak pernah menanam anggrek.

Apalagi suamiku.

Kami sudah menikah selama lima tahun.

Dan salah satu hal yang paling dia benci adalah merawat tanaman.

Aku menatap pot itu selama beberapa detik.

Tiba-tiba ponselku bergetar.

Marco menelepon.

— Kamu sudah sampai?

Suaranya masih selembut biasanya.

Aku melirik anggrek itu.

— Hampir sampai.

— Aku sedang memasak makanan favoritmu.

— Cepat pulang ya.

Aku tersenyum.

Namun entah kenapa ada perasaan gelisah yang aneh di dadaku.

Aku mengangkat pot itu.

Dan saat itulah aku melihat sebuah kartu kecil di bawahnya.

Hanya ada beberapa kata tertulis di sana.

“Terima kasih untuk tadi malam.”

Duniaku seakan berhenti berputar.

Beberapa detik kemudian.

Aku tertawa kecil.

Pasti salah taruh.

Ya.

Pasti bukan untuk kami.

Karena aku sangat mengenal suamiku.

Dulu dia menolak kesempatan bekerja di luar negeri karena tidak ingin aku jauh dari keluargaku.

Saat ibuku dirawat di rumah sakit, dia hampir tidak tidur selama beberapa malam demi menjaganya.

Tiga tahun lalu aku mengalami kecelakaan motor.

Dialah orang pertama yang tiba di rumah sakit.

Bagaimana mungkin pria seperti itu berselingkuh?

Aku menenangkan diri dan membawa pot itu ke atas.

Begitu pintu terbuka.

Aroma masakan yang akrab langsung menyambutku.

Marco berada di dapur.

Begitu melihatku, dia langsung memelukku.

— Akhirnya kamu pulang.

Aku tersenyum.

— Sebegitu kangennya kamu padaku?

— Tentu saja.

Dia mencium keningku dengan lembut.

Semuanya masih terasa sempurna.

Sampai aku masuk ke kamar.

Ada sebuah jepit rambut berwarna merah muda di samping tempat tidur.

Dan itu bukan milikku.

Aku membeku.

Jantungku mulai berdetak kencang.

— Ada apa?

Dia mendekat dari belakang.

Aku mengangkat jepit rambut itu.

— Ini punya siapa?

Hanya satu detik.

Tapi aku melihat sorot matanya menegang.

— Ah…

— Mungkin milik gadis yang tinggal di lantai bawah.

— Dia meminjam alat listrik beberapa hari lalu.

— Mungkin tertinggal.

Aku mengangguk.

Dan tidak mengatakan apa-apa lagi.

Malam itu.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menikah.

Aku tidak bisa tidur.

Aku berbaring di sampingnya.

Mengamati pria yang tertidur lelap itu.

Kata-kata di kartu itu terus terngiang di kepalaku.

“Terima kasih untuk tadi malam.”

Keesokan harinya.

Aku berpura-pura ada urusan penting di kantor.

Aku pergi pagi-pagi.

Tapi aku tidak benar-benar masuk kerja.

Aku duduk di sebuah kafe di seberang apartemen.

Dan mengamati.

Pukul sepuluh.

Pukul sebelas.

Pukul dua belas.

Tidak terjadi apa-apa.

Aku mulai berpikir mungkin aku terlalu curiga.

Sampai pukul satu siang.

Seorang wanita muda datang.

Sekitar dua puluh tahunan.

Mengenakan gaun putih.

Membawa seikat anggrek putih yang sama persis dengan yang kulihat semalam.

Dia langsung masuk ke lift.

Menuju lantai tempat kami tinggal.

Aku langsung berdiri.

Darahku terasa membeku.

Lima menit kemudian.

Marco menelepon.

— Sudah makan?

Suaranya masih terdengar normal.

— Sudah.

Jawabku pelan.

— Kamu?

— Aku masih di kantor.

Aku menggenggam cangkir kopi erat-erat.

Masih di kantor?

Kalau begitu…

Apa yang dilakukan wanita itu di rumah kami?

Aku segera menelepon petugas keamanan.

Dan meminta salinan rekaman CCTV lorong.

Kami saling mengenal, jadi mereka mengizinkannya.

Sepuluh menit kemudian.

Videonya kuterima.

Tanganku gemetar saat membukanya.

Di layar.

Wanita berpakaian putih itu berdiri di depan pintu rumah kami.

Dia tidak mengetuk.

Juga tidak menelepon.

Sebaliknya.

Dia mengeluarkan sebuah kunci.

Dan membuka pintu sendiri.

Aku seperti kehilangan napas.

Seluruh tubuhku terasa dingin.

Tidak ada orang lain yang seharusnya memiliki kunci rumah kami.

Kecuali jika…

Seseorang memberikannya kepadanya.

Aku terpaku menatap layar.

Seolah duniaku runtuh sedikit demi sedikit.

Dan tepat pada saat itu.

Sebuah notifikasi media sosial muncul.

Tanpa sengaja aku membukanya.

Sebuah unggahan baru.

Dari akun wanita yang baru saja masuk ke rumah kami.

Dia sama dengan foto profilnya.

Hanya ada satu foto.

Tangan seorang pria menggenggam tangannya.

Dan pria itu mengenakan jam tangan yang kuberikan kepada Marco pada hari ulang tahun pernikahan kami.

Di bawahnya tertulis:

“Akhirnya kita tidak perlu bersembunyi lagi.”

Telingaku berdenging.

Aku berlari keluar dari kafe.

Dan naik taksi pulang.

Sepanjang perjalanan.

Aku terus menelepon Marco.

Tidak ada jawaban.

Satu kali.

Dua kali.

Sepuluh kali.

Tetap tidak ada jawaban.

Saat pintu lift terbuka di lantai kami.

Aku hampir berlari.

Lorong itu sunyi.

Pintu unit kami tertutup.

Namun dari dalam.

Aku mendengar suara tawa.

Suara seorang wanita.

Suara seorang pria.

Dengan tangan gemetar aku mengeluarkan kunci.

Memasukkannya ke lubang kunci.

Dan perlahan membuka pintu.

Saat pintu terbuka.

Suara-suara dari dalam terdengar semakin jelas.

Koperku tergeletak di sudut ruangan.

Anggrek putih berada di tengah ruang tamu.

Dan di sofa yang selama bertahun-tahun kami duduki sebagai suami istri…

Seorang wanita sedang bersandar di bahu Marco.

Mereka berdua menoleh ketika mendengar pintu terbuka.

Namun bukan wajah wanita itu yang membuatku berhenti bernapas.

Melainkan seorang anak berusia sekitar empat tahun yang duduk di samping mereka.

Begitu melihatku.

Anak itu langsung berdiri.

Dan berlari ke arahku.

Memeluk kakiku erat-erat.

Sambil menangis.

— Mama…

— Akhirnya Mama pulang juga…

Dalam sekejap.

Seluruh ruang tamu tenggelam dalam keheningan.

Dan wajah Marco berubah pucat seperti kertas.

Wajahku terasa kaku. Lidahku kelu, dan seluruh persendianku seolah lolos dari tempatnya. Aku menatap ke bawah, ke arah anak kecil yang memeluk kakiku dengan begitu erat, lalu menatap wanita bergaun putih di sofa, dan terakhir… pada Marco.

Pria yang telah bersamaku selama lima tahun itu bangkit dari sofa dengan gerakan patah-patah. Wajahnya yang pucat pasi menyiratkan ketakutan yang belum pernah kulihat seumur hidupku.

“M-Mama?” cicitku, suaranya nyaris tenggelam oleh degup jantungku sendiri. “Marco… apa-apaan ini? Siapa mereka?”

“Nara… ini tidak seperti yang kamu bayangkan,” Marco melangkah maju dengan tangan gemetar, mencoba meraih pundakku, namun aku refleks mundur selangkah, membuat anak kecil yang memelukku ikut bergeser.

“Jangan sentuh aku!” pekikku, suaraku melengking di tengah keheningan apartemen yang mendadak terasa mencekam. “Siapa wanita itu, Marco? Dan kenapa anak ini memanggilku Mama?!”

Wanita bergaun putih di sofa itu perlahan berdiri. Alih-alih terlihat panik atau bersalah seperti Marco, matanya justru berkaca-kaca menatapku. Dia melangkah mendekat, lalu dengan suara yang bergetar, dia berbicara.

“Mbak Nara… maafkan kami. Saya… saya bukan selingkuhan Mas Marco.”

Kalimat itu membuatku tertawa getir. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah membasahi pipi. “Bukan selingkuhan? Kamu punya kunci rumah kami! Kamu mengunggah foto menggenggam tangan suamiku dengan jam tangan pemberianku! Dan kamu bilang kamu bukan selingkuhannya?!”

“Itu karena dia adalah adik kandungku, Nara!” potong Marco setengah berteriak, air mata kini mulai mengalir di wajah pucatnya.

Langkahku terhenti. Kalimat itu seperti hantaman godam yang membuat otaku berhenti berfungsi. “Adik? Kamu anak tunggal, Marco. Ibumu sendiri yang mengatakannya padaku.”

“Dia adik tiri saya, Mbak,” wanita itu menyela, air matanya kini mengalir deras. “Nama saya fiona. Empat tahun lalu, ibu saya—yang merupakan istri siri dari almarhum ayah Mas Marco—meninggal dunia karena kanker. Sebelum meninggal, beliau menitipkan anak ini… anak saya… kepada Mas Marco.”

Fiona berjalan mendekat, lalu berlutut di depan anak kecil yang masih memeluk kakiku. “Sayang… ini bukan Mama. Ini Tante Nara, istrinya Om Marco. Wajahnya memang mirip dengan mendiang Nenek, itu kenapa kamu salah mengenali…”

Aku menggelengkan kepala, mencoba mencerna kegilaan ini. “Kalau dia adikmu… kenapa kamu harus menyembunyikannya selama empat tahun? Kenapa kamu harus datang sembunyi-sembunyi saat aku tidak ada?! Dan apa maksud unggahanmu, ‘akhirnya kita tidak perlu bersembunyi lagi’?!”

Marco ikut berlutut di hadapanku, wajahnya dipenuhi penyesalan yang mendalam. “Karena ibuku, Nara. Kamu tahu bagaimana kerasnya ibuku. Dia sangat membenci fakta bahwa ayahnya punya keluarga simpanan. Jika ibuku tahu aku membantu Fiona dan membiayai pengobatan anak ini, ibuku akan mencoretku dari keluarga dan menghentikan seluruh bantuan dana untuk pengobatan rumah sakit ibumu dulu!”

Napas bernapas dengan cepat, kenyataan demi kenyataan menghantamku tanpa ampun.

“Tiga tahun lalu, saat kamu kecelakaan dan ibumu masuk rumah sakit di saat bersamaan… aku tidak punya uang, Nara. Gajiku sebagai karyawan biasa tidak cukup,” Marco terisak, memegang ujung celandaku. “Aku terpaksa membuat kesepakatan dengan ibuku. Aku berjanji tidak akan pernah menemui Fiona dan menganggapnya adik, asalkan ibuku mau membayar semua biaya rumah sakitmu dan ibumu.”

“Tapi Fiona tidak punya siapa-siapa lagi, Nara… Anaknya sakit jantung, dan dia butuh bantuan. Selama ini aku membantunya diam-diam. Jam tangan itu… Fiona memegang tanganku semalam karena dia menangis berterima kasih setelah aku memberikan sisa tabunganku untuk operasi anaknya bulan depan. Unggahan itu… maksudnya dia akhirnya bisa melunasi biaya operasi anaknya, jadi mereka tidak perlu hidup bersembunyi dari kejaran penagih utang rumah sakit lagi.”

Aku tertegun, menatap Marco, Fiona, dan anak kecil yang kini menatapku dengan mata polosnya yang basah.

Duniaku memang hancur hari ini. Rumah tangga yang kukira sempurna ternyata menyimpan rahasia besar yang begitu pekat. Marco tidak berselingkuh secara fisik dengan wanita lain, namun fakta bahwa dia memilih membohongiku selama bertahun-tahun, membiarkanku hidup dalam ketidaktahuan, dan membiarkan ego ibunya mengendalikan hidup kami… menorehkan luka yang tidak kalah dalam.

Aku melepaskan pelukan anak kecil itu dengan perlahan, lalu menatap Marco yang masih bersimpuh di lantai.

“Kamu menyelamatkan ibuku, Marco… tapi kamu juga menghancurkan kepercayaanku,” kataku dengan suara yang teramat dingin, meski hatiku hancur berkeping-keping. “Keluar dari sini. Bawa adikmu dan anak itu. Aku butuh waktu untuk berpikir, apakah pernikahan yang dibangun di atas tumpukan kebohongan ini masih layak untuk kupertahankan.”