Posted in

SUAMIKU MEMINTA “OPEN MARRIAGE” SETELAH SEPULUH TAHUN KAMI BERSAMA…

SUAMIKU MEMINTA “OPEN MARRIAGE” SETELAH SEPULUH TAHUN KAMI BERSAMA…
Tapi dia mulai kehilangan akal ketika melihat seorang pengusaha muda mengantarku pulang setiap hari
Dan malam itu, tangannya gemetar saat membuka kotak cincin yang kusimpan di dalam laci…

Malam ketika Adrian mengatakan bahwa dia ingin mencoba “open marriage,” aku tidak berteriak.

Aku juga tidak menangis di depannya.

Aku bahkan tidak melempar sendok sayur yang sedang kupegang meski sangat ingin melakukannya.

Aku hanya berdiri diam di dapur kecil kami di Quezon City sementara dia dengan tenang memakan tapsilog yang kumasak sendiri.

Baginya, percakapan itu terasa biasa saja.

Seolah dia hanya bertanya apakah kami perlu membeli sofa baru.

“Apa kamu nggak merasa hidup kita cuma begitu-begitu saja, Mara?” katanya tanpa menatapku. “Kadang aku merasa sesak.”

Aku menatap kipas angin tua di sudut dapur.

Sepuluh tahun.

Sepuluh tahun aku menahan lemburnya.

Sepuluh tahun aku hidup hemat supaya kami bisa membangun dua apartemen kontrakan di Pasig.

Sepuluh tahun aku tidur dalam keadaan lelah dan bangun tetap lelah sambil melihatnya perlahan naik jabatan di perusahaannya.

Dan sekarang ketika hidup kami akhirnya nyaman…

tiba-tiba dia merasa “sesak.”

“Maksudmu apa?” tanyaku dingin.

Dia menarik napas panjang.

“Aku cuma ingin merasa hidup lagi.”

Rasanya seperti ada air dingin disiramkan ke punggungku.

Tapi dia malah tersenyum.

“Aku nggak akan meninggalkanmu. Kamu tetap istriku.”

Istri.

Lucu sekali.

Seolah aku cuma pajangan rumah sementara dia mencari perempuan lain untuk menghibur dirinya.

Aku mengangguk pelan.

“Oke,” jawabku.

Mungkin dia pikir aku akan mengamuk.

Tapi tidak.

Keesokan harinya aku pergi rebonding di salon di BGC.

Setelah itu aku membeli pakaian yang dulu cuma bisa kulihat karena selalu berpikir, “sayang uangnya.”

Dress ketat.

Parfum mahal.

High heels yang sudah lama tidak kupakai.

Aku memakai kartu kreditnya.

Dan setiap kali kartu itu digesek, rasanya seperti perempuan yang sudah lama kulupakan demi menjadi “istri baik-baik” perlahan kembali hidup.

Tapi setiap malam aku tetap menangis.

Di kamar mandi.

Saat dia tidur.

Sambil menatap cermin dan berusaha mengingat kapan terakhir kali dia memandangku seolah masih ingin menyentuhku.

Beberapa minggu kemudian, aku mulai sadar cara orang memandangku berubah.

Lebih lama.

Lebih berani.

Lebih berbahaya.

Dan di situlah aku bertemu Nico.

Usianya dua puluh delapan tahun.

Punya bisnis kopi kecil di Makati.

Selalu memakai polo putih dengan lengan digulung.

Dan memiliki senyum yang seolah tahu bahwa dia bisa mengacaukan hidup perempuan mana pun.

Pertama kali aku melihatnya di gym di Ortigas.

Botol minumku jatuh.

Dia yang mengambilkannya.

“Kamu tinggal di sekitar sini?” tanyanya.

Seharusnya jawabanku sederhana.

Aku sudah punya suami.

Tapi entah kenapa aku langsung teringat Adrian.

Teringat malam ketika dia mengatakan ingin menjadi “bebas.”

Jadi aku hanya tersenyum.

“Kalau kamu?” balasku.

Sejak saat itu, kami hampir bertemu setiap hari.

Sampai suatu malam dia mengajakku minum kopi setelah workout.

“Kalau kamu nggak mau juga nggak apa-apa,” katanya. “Cuma… kamu kelihatan capek banget sama dunia.”

Dadaku langsung berdebar mendengar kalimat itu.

Capek.

Iya.

Aku sudah terlalu lelah menjadi perempuan yang selalu menunggu.

Jadi aku ikut dengannya.

Dan dari situlah semuanya dimulai.

Saat Adrian sibuk berkencan dengan perempuan lain, aku perlahan belajar lagi bagaimana rasanya bahagia.

Bahagia ketika ada yang bertanya apakah kamu sudah makan.

Bahagia ketika ada yang benar-benar mendengarkan saat kamu bicara.

Bahagia ketika ada laki-laki yang memandangmu seolah kamu bukan sekadar barang rumah yang setiap hari sudah biasa dia lihat.

Tapi Adrian juga cepat menyadari perubahan itu.

Dulu aku yang selalu menunggunya pulang malam.

Sekarang justru aku yang sering pulang terlambat.

Dulu aku selalu bertanya dia ada di mana.

Sekarang aku tidak peduli lagi.

Dan itulah yang tidak bisa dia terima.

Suatu malam, hampir pukul sebelas aku baru sampai rumah.

Begitu masuk, aku melihat dia duduk di ruang tamu.

Wajahnya gelap.

“Kamu dari mana?” tanyanya dingin.

Aku melepas anting dengan tenang.

“Keluar.”

“Sama siapa?”

Aku tersenyum tipis.

“Bukannya kita open marriage?”

Aku bisa melihat jelas rahangnya menegang.

Tapi dia tidak bisa menjawab apa pun.

Keesokan harinya, sikapnya langsung berubah.

Tiba-tiba jadi manis.

Tiba-tiba sering membawakan makanan.

Tiba-tiba mengajakku keluar.

Seolah dia sangat takut kehilangan sesuatu.

Dan ternyata aku benar.

Karena suatu sore, saat aku sedang minum kopi bersama Nico di Taguig, tiba-tiba aku merasa ada seseorang berdiri di samping meja kami.

Bahkan sebelum mengangkat kepala, aku sudah tahu siapa itu.

Adrian.

Dia hanya diam menatap Nico.

Lalu menatapku.

Seolah menunggu aku panik.

Menjelaskan semuanya.

Memperkenalkannya sebagai suamiku.

Tapi aku hanya menyesap kopi.

Lalu menatapnya seolah aku tidak mengenalnya.

“Maaf… ada perlu?” tanyaku.

Aku melihat dengan jelas bagaimana wajahnya seperti retak karena malu.

Dan Nico?

Dia tetap diam tapi menggenggam tanganku erat di bawah meja.

Malam itu, saat aku pulang ke rumah, lampu kamar kami masih menyala.

Adrian berdiri di tengah ruangan.

Wajahnya penuh amarah.

Tapi yang membuatku terkejut…

laci mejaku terbuka.

Dan di tangannya ada kotak beludru kecil yang baru dua hari lalu kusimpan di sana.

Dia membukanya perlahan.

Dan saat melihat isi di dalamnya…

ekspresinya langsung berubah.

Karena yang ada di dalam kotak itu…

bukan cincin pernikahanku.

Melainkan sebuah cincin pertunangan.

Dan di kartu kecil di dalamnya…

nama yang tertulis di sana bukan “Adrian.”

Melainkan nama “Nico.”

Tangan Adrian gemetar hebat hingga kotak beludru itu hampir merosot dari jemarinya. Sepuluh tahun kami bersama, dan aku belum pernah melihat suamiku tampak sehancur ini. Keangkuhan yang dia bawa saat meminta open marriage sebulan lalu menguap tanpa sisa.

“Mara… apa maksudnya ini?” suara Adrian bergetar, serak menahan tangis yang mulai pecah. “Cincin siapa ini? Siapa Nico?! Kamu… kamu berselingkuh di belakangku?!”

Aku menutup pintu kamar dengan tenang, meletakkan tas tanganku di atas meja rias, lalu berbalik menatapnya. Tidak ada amarah di mataku. Hanya ada kekosongan yang mutlak.

“Berselingkuh?” Aku terkekeh pelan, sebuah tawa pendek yang terdengar sangat dingin di keheningan malam. “Adrian, bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa hidup kita terlalu sesak? Kamu yang membuka pintu rumah ini untuk orang lain. Kamu yang meminta kebebasan. Aku hanya berjalan melewati pintu yang kamu buka.”

“Tapi tidak seperti ini, Mara!” teriaknya histeris, melemparkan kotak cincin itu ke atas tempat tidur. “Open marriage itu artinya kita tetap bersama! Kita cuma bersenang-senang di luar! Tapi kamu… kamu menerima lamaran pria lain?! Kamu berniat meninggalkanku?!”

Aku melangkah mendekati tempat tidur, memungut kotak cincin dari Nico dengan hati-hati, lalu mengusap permukaannya yang lembut.

“Bersenang-senang?” tanyaku sambil menatap Adrian. “Kamu menggunakan kata itu untuk menutupi fakta bahwa kamu sudah bosan merawat pernikahan kita. Sepuluh tahun aku hidup hemat, Adrian. Aku menahan lapar, menahan lelah, mengorbankan masa mudaku di Quezon City ini agar kamu bisa naik jabatan dan kita bisa punya aset di Pasig. Dan begitu kamu sukses, hadiah yang kauberikan untuk kesetiaanku adalah izin untuk tidur dengan wanita lain.”

Air mata yang selama berminggu-minggu ini kutahan di kamar mandi akhirnya menetes, namun kali ini bukan karena sedih. Ini adalah air mata pelepasan.

“Nico tidak pernah melihatku sebagai pajangan rumah, Adrian,” lanjutku, suaraku mengalun tajam. “Saat aku capek, dia mendengarkan. Saat botol minumku jatuh, dia memungutnya—hal kecil yang tidak pernah lagi kamu lakukan selama lima tahun terakhir. Dia tahu aku sudah menikah, dan dia tidak pernah memaksaku. Tapi dua hari lalu, dia memberikan cincin ini. Dia bilang, ‘Jika suatu hari kamu memutuskan untuk menyembuhkan lukamu dan pergi dari rumah itu, aku akan menunggumu di altar.’

Adrian langsung berlutut di lantai, memeluk kedua kakiku erat-erat. Pria yang biasanya selalu rapi dan bangga dengan jabatannya sebagai direktur itu kini menangis meraung-raung seperti anak kecil.

“Mara, aku salah… Aku minta maaf. Aku sangat bodoh!” ratapnya sambil mencium ujung kakiku. “Aku akan batalkan semuanya. Kita tutup open marriage ini. Aku tidak akan pernah melihat wanita lain lagi. Aku akan membawamu liburan ke mana pun kamu mau. Tolong, jangan tinggalkan aku… Aku tidak bisa hidup tanpamu.”

Aku menatap kepala Adrian yang tertunduk di kakiku. Lucu sekali melihat bagaimana seorang pria baru menyadari nilai istrinya justru saat pria lain sudah bersiap untuk mengambil alih posisinya. Kebahagiaan dan ego yang dia cari di luar sana mendadak menjadi sampah tidak berguna saat dia tahu aku tidak lagi menunggunya di rumah.

Aku perlahan melepaskan pelukan tangannya dari kakiku, lalu mundur selangkah. Dari laci yang sama, aku mengeluarkan sebuah map putih yang sudah kutandatangani tadi siang.

Surat gugatan cerai dan pembagian harta untuk apartemen di Pasig.

“Sudah terlambat, Adrian,” kataku sambil meletakkan kertas-kertas itu di lantai, tepat di depan wajahnya yang basah oleh air mata. “Kamu yang meminta open marriage karena merasa sesak bersamaku. Sekarang, aku memberikanmu kebebasan yang sesungguhnya. Kamu bisa menghirup udara di luar sana sepuasmu, tanpa perlu pulang ke rumah ini lagi.”

Malam itu, aku mengemas sisa barang-barangku ke dalam koper. Adrian hanya bisa duduk bersandar di kaki tempat tidur, menatap kosong ke arah lantai, dihancurkan oleh konsekuensi dari keserakahannya sendiri.

Saat aku melangkah keluar dari rumah kami, angin malam Quezon City terasa begitu segar menerpa wajahku. Di ujung jalan, sebuah mobil dengan lampu hazard menyala sudah menungguku. Nico keluar dari pintu kemudi, tersenyum hangat, lalu mengambil alih koper dari tanganku.

Adrian mengira dia sedang bermain api dengan perasaanku, tanpa pernah sadar bahwa dia sedang membakar seluruh hidupnya sendiri. Dia kehilangan istri yang menemaninya dari titik nol, dan malam ini, dia harus belajar tidur di dalam rumah yang luas namun sepenuhnya kosong.