Posted in

Kule mparkan lima bendel u ang baru ke wa jah istri pertamaku karena dia i ri. Istri kedua kuberi THR 2oo jt untuk op las di luar negeri sementara dia dapat ja tah bula nan 2 jt per bulan selalu habis untuk keperluan keluarga.

Kupikir dia akan bersu jud minta ma af padaku. Dia malah …

“Mas yakin itu untuk ganti unit baru?”

”Orang sukses sepertiku memang pantas dapat fasilitas itu. Besok pagi, mobil mewh pasti sudah parkir di sini!”

Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Bagas.,

[Bu Laksmi, mobil sudah diamankan. Reke ning operasional atas nama Idham juga sudah dibekukan untuk inves tigasi internal besok pagi. Apa langkah selanjutnya?]

Aku tersenyum menatap pantulan diriku di cermin. Daster ini memang ro bek, tapi kekua saan yang kupunya mampu mero bek hid up mereka hingga tak bersisa.

Tiba-tiba pintu k amarku dige dor.

“Ines, Mana draf laporan untuk zoom besok jam sembilan pagi? Siska minta filenya sekarang, dia mau pelajari buat bahan presentasi di depan General Manajer perusa haan yang baru.”

Aku membuka pintu.

“Draf laporannya? Oh, sudah kuselesaikan, Mas. Tapi maaf, filenya tidak akan bisa dibuka oleh Siska.”

“Maksudmu apa? Kamu i ri ya gara-gara Siska, sekretarisu yang jadi is tri siri dapat THR 200jeti sementara kamu yang is tri sah hanya dapat 2jeti?”

”I ri? Sudah level dend am kesu mat kali ah, Mas.”

”Tuh kan kamu memang ma tre. Ngga bisa hitung apa semua peng orbananku selama tiga tahun pernikahan buat kamu? Baru sekali aku begini ke Siska itu pun karena dia mampu nyenengin aku. Sementara kamu di rumah sibuk aja ngeladenin nenek, ibu sama Lia.”

”Nah tuh tahu sendiri. Aku sibuk gara-gara siapa.”

”Aku capek de bat sama kamu.”

”Aku juga ca pek, Mas. Oh iya po poknya nenek belum kubu ang. Tadi habis pu p. Jangan lupa kamu bu ang, ya!”

“Apa? Kamu menyur uhku membu ang po pok Nenek? Ines, aku ini manajer. Ta ngan ini tidak la yak menyen tuh ko toran.”

Aku hanya mengangkat ba hu. “Tang anmu memang hanya layak memega ng u ang ha ram untuk seli ngkuhanmu ya, Mas? Padahal itu nenekmu sendiri. Ibu dari ayahmu yang sudah membesarkanmu.”

Lia adik iparku ikut nimbrung. “Ih, Mbak Ines jo rok banget sih. Pantesan Mas Idham betah sama Mbak Siska. Mbak Ines ngga pengertian. Kalau Mas Idham sampai mun tah gara-gara ba u ini, siapa yang mau tanggung jawab?”

Aku tidak menjawab lagi. Aku memilih melangkah masuk ke ka mar Nenek. Di atas ran jang besi tua itu, seorang wa nita ren ta terbaring le mah. Ma tanya yang sa yu menatapku dengan penuh rasa bersalah.

“Ma … af … Nes …” suara Nenek sangat pelan, terbata karena sera ngan stro ke satu tahun lalu.

Aku segera mengge nggam tan gannya. Hanya Nenek yang memperlakukanku dengan baik. Dulu, saat aku pertama kali masuk ke keluarga ini dengan menyamar sebagai gadis desa biasa, Neneklah yang membelaku.

“Nggak apa-apa, Nek. Ines nggak capek, kok. Nenek yang sabar, ya,” bisikku sembari cekatan mengganti po poknya.

Air mata Nenek luruh. Ia pasti mendengar teri akan cucunya sendiri yang ji jik padanya. Hatiku ped ih. Idham bisa memberi 200 jt untuk permak wa jah orang lain, tapi tidak mau meluangkan lima menit untuk membu ang koto ran neneknya sendiri.

“Ines, buka! Mana file laporannya? Siska sudah menelepon terus. Ini kesempatan e mas Siska untuk pa mer kece rdasan di depan GM baru!”

Aku membuka pintu sedikit, lalu menyodorkan sebuah flashdisk kecil berwarna perak. “Ini filenya. Tapi ingat, Mas. File ini diproteksi sistem keamanan baru. Jangan coba-coba dibuka sebelum jam rapat dimulai, atau datanya akan terkunci otomatis.”

“Halah, gaya kamu so k tahu IT. Paling cuma kamu kunci pakai password tanggal lahirmu, kan? Da sar no rak.”

“Coba saja kalau tidak percaya.”

Idham mende ngus, lalu berbalik menuju ruang tengah. Aku bisa mendengar dia menelepon Siska dengan nada suara yang berubah drastis menjadi sangat manis, menji jikkan.

“Sayang, ini filenya sudah ada di tanganku. Kamu tenang saja, besok kamu tinggal baca narasi yang sudah disiapkan si Ines. GM baru pasti bakal terpes ona sama kita. Siapa tahu nanti aku diangkat jadi Senior Manajer. Kamu pasti naik jabatan juga.”

Aih, siang-siang panas begini suam iku dan si ma du pa hit malah mimpi.