Posted in

SUAMIKU MENCAMPURKAN KRIM PENGHILANG BULU KE DALAM SHAMPOOKU AGAR AKU BOTAK DAN HANCUR DI HARI PROMOSIKU. DIA MENGIRA AKU AKAN BERSEMBUNYI DI KAMAR SAMBIL MENANGIS KARENA MALU. TAPI SAAT AKU NAIK KE PANGGUNG TANPA SEHELAI RAMBUT PUN, RAHASIA KOTOR YANG KUBONGKAR LANGSUNG MENGHANCURKAN HIDUPNYA.

SUAMIKU MENCAMPURKAN KRIM PENGHILANG BULU KE DALAM SHAMPOOKU AGAR AKU BOTAK DAN HANCUR DI HARI PROMOSIKU. DIA MENGIRA AKU AKAN BERSEMBUNYI DI KAMAR SAMBIL MENANGIS KARENA MALU. TAPI SAAT AKU NAIK KE PANGGUNG TANPA SEHELAI RAMBUT PUN, RAHASIA KOTOR YANG KUBONGKAR LANGSUNG MENGHANCURKAN HIDUPNYA.

Suami yang Dipenuhi Iri

Namaku Clara, tiga puluh tahun, Senior Marketing Director di Vanguard Global Empire. Sudah lima tahun aku menikah dengan Troy. Kami bekerja di perusahaan yang sama, tapi sementara karierku terus naik karena kerja keras dan kemampuanku, Troy tetap menjadi Junior Manager biasa.

Alih-alih bangga padaku, dia justru semakin iri.

Dia mulai dingin.

Sering menyindir bahwa aku mendapat promosi karena “wajah cantik”, bukan kemampuan.

Dan hari ini adalah hari paling penting dalam hidupku.

Perusahaan mengadakan Corporate Gala besar, dan di depan para petinggi perusahaan serta media, aku akan diumumkan sebagai Chief Operating Officer baru.

“Jangan terlalu dandan, Clara. Nanti juga jatuh,” sindir Troy dingin pagi itu sebelum berangkat lebih dulu ke hotel tempat acara digelar.

Aku memilih mengabaikannya.

Aku masuk ke kamar mandi untuk bersiap.

Racun di Dalam Shampoo

Di bawah shower, aku memakai shampoo mahal favoritku.

Tapi beberapa menit kemudian, kulit kepalaku terasa perih dan panas.

Saat aku mengusap rambut untuk membilas…

duniaku seperti berhenti berputar.

Gumpalan-gumpalan rambut rontok di tanganku.

Berjatuhan ke lantai kamar mandi.

Aku menjerit panik.

Setiap kali menyentuh kepala, lebih banyak rambut panjangku yang lepas, meninggalkan bagian-bagian botak di kulit kepalaku.

Dengan tangan gemetar, aku mengambil botol shampoo itu dan menciumnya.

Aroma kimia menyengat langsung menusuk hidungku.

Hair removal cream.

Krim penghilang bulu berkekuatan industri dicampurkan ke shampooku.

Dan saat itu aku langsung teringat Troy masuk ke kamar mandi tadi pagi ketika kukira aku masih tidur.

Aku jatuh berlutut di lantai basah sambil menangis.

Dia sengaja melakukan ini.

Dia ingin menghancurkan penampilanku.

Dia ingin aku terlalu malu untuk datang ke acara promosi terpenting dalam karierku.

Dia ingin aku tetap berada di bawah bayangannya.

Kebangkitan Sang Ratu

Selama satu jam aku menangis di depan cermin.

Rambutku tinggal sedikit-sedikit.

Aku terlihat seperti pasien sakit parah.

Lalu ponselku berbunyi.

Pesan dari Troy:

“Sayang, acaranya sudah mulai. Nggak usah datang kalau badanmu nggak enak. Aku saja yang akan bilang ke Board kalau kamu mundur dari promosi.”

Air mataku berhenti.

Digantikan amarah yang membakar.

Dia pikir aku akan kalah hanya karena rambut?

Dia pikir kekuatanku ada di penampilanku?

Aku mengambil electric razor milik Troy dari lemari.

Tanpa ragu…

aku mencukur habis seluruh sisa rambut di kepalaku.

Sampai licin.

Aku memakai lipstick merah paling terang yang kupunya.

Lalu mengenakan crimson red power suit terbaikku.

Malam ini…

mereka akan melihat Clara yang sebenarnya.

Saat aku memasuki ballroom hotel…

seluruh ruangan langsung hening.

Puluhan eksekutif.

Media.

Direksi perusahaan.

Semua mata tertuju padaku.

Pada kepala plontosku.

Dan di sudut ruangan…

wajah Troy langsung pucat pasi.

Dia mengira aku akan bersembunyi.

Dia tidak tahu…

aku justru datang untuk menghancurkan hidupnya.

Aku berjalan dengan langkah mantap melewati barisan kursi. Setiap pasang mata mengikuti gerakanku, tapi aku tidak menunduk. Aku tidak butuh rambut untuk menunjukkan siapa otoritas di ruangan ini.

Troy mencoba mencegatku di dekat tangga panggung. Wajahnya berkeringat, matanya liar ketakutan.

“Clara, apa-apaan ini? Kamu gila? Kamu terlihat seperti orang sakit! Pulang sekarang sebelum kamu mempermalukan diri sendiri!” bisiknya dengan nada mengancam.

Aku hanya menatapnya dengan senyum tipis yang mematikan. “Aku tidak pernah merasa sewaras ini, Troy.”

Aku menepis tangannya dan melangkah naik ke podium. Mikrofon berdengung sesaat sebelum suaraku menggema di seluruh aula.

“Selamat malam, semuanya,” kataku tenang. “Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa calon COO kalian tampil dengan gaya yang berbeda malam ini.”

Keheningan di ruangan itu begitu pekat hingga suara detak jam pun bisa terdengar.

“Banyak orang mengira kekuatan seorang wanita ada pada mahkotanya—rambutnya. Tapi malam ini, aku berdiri di sini untuk membuktikan bahwa kekuatan sejati ada pada integritas dan keberanian. Rambutku hilang bukan karena penyakit, melainkan karena sabotase rendah yang dilakukan oleh orang yang paling iri dengan kesuksesanku.”

Bisik-bisik mulai pecah. Aku melirik ke arah Troy yang mencoba menyelinap keluar, tapi satpam perusahaan—yang sudah kuberi instruksi lewat pesan singkat sebelumnya—menghalangi pintu keluar.

“Suamiku sendiri, Troy, mencampurkan krim penghilang bulu ke dalam shampooku pagi ini agar aku terlalu malu untuk hadir di sini,” lanjutku, suaraku kini menggelegar. “Dia ingin aku mundur agar posisiku bisa kosong, atau mungkin dia berharap ketidakstabilanku akan membuat dewan direksi meragukanku.”

Aku melihat CEO Vanguard, Mr. Henderson, berdiri dengan wajah merah padam karena marah.

“Tapi Troy tidak hanya mencuri rambutku,” kataku sambil menekan sebuah tombol di remote presentasi yang terhubung ke layar raksasa di belakangku. “Selama aku meratapi rambutku di kamar mandi tadi, aku menyadari satu hal: seseorang yang cukup gila untuk menghancurkan fisik istrinya, pasti cukup gila untuk menghancurkan perusahaannya.”

Layar raksasa itu menyala.

Bukan presentasi marketing yang muncul, melainkan folder tersembunyi yang kutemukan di laptop Troy saat aku mencari bukti sabotase tadi. Di sana terpampang jelas: Data penggelapan dana proyek Junior Manager, bukti transfer ke rekening pribadi Troy dari vendor fiktif, dan draf rencana pembocoran rahasia dagang Vanguard kepada kompetitor jika dia tidak segera naik jabatan.

“Dia tidak hanya suami yang buruk, dia adalah parasit perusahaan yang berbahaya,” desisku.

Kekacauan pecah. Troy berteriak-teriak histeris saat polisi yang kupanggil menyeretnya keluar dari ballroom. Dia memaki, menyebutku monster, tapi suaranya segera hilang ditelan pintu aula yang tertutup rapat.

Aku kembali menatap hadirin. Aku mengusap kepala plontosku dengan bangga.

“Nama saya Clara. Dan sebagai COO baru kalian, saya baru saja menyelesaikan tugas pertama saya: membersihkan limbah dari perusahaan ini.”

Gemuruh tepuk tangan yang belum pernah kudengar sebelumnya meledak di seluruh ruangan. Mr. Henderson naik ke panggung, menjabat tanganku erat, dan berbisik, “Kami butuh pemimpin seperti Anda.”

Malam itu, Troy kehilangan segalanya—pekerjaannya, rumahnya, dan kebebasannya.

Sedangkan aku? Aku kehilangan rambutku, tapi aku mendapatkan duniaku kembali. Berdiri di bawah lampu kristal yang berkilau, dengan kepala tegak dan lipstik merah yang membara, aku sadar: mahkota sejati seorang wanita tidak tumbuh di kepalanya, tapi di dalam jiwanya.