Suamiku yang bekerja di balai kota jatuh cinta pada seorang wanita yang melakukan livestream jualan, lebih muda darinya 17 tahun. Saat hari fiesta, ia menyuruhku menandatangani surat pembatalan pernikahan, sementara anak kami memanggil wanita itu “mama.” Tapi ketika aku membuka semua utang dengan tanda tanganku yang dipalsukan di balai desa, di situlah keluarganya akhirnya tahu siapa sebenarnya yang “dijual.”
BAGIAN 1: Lumpia belum sempat dibereskan, ia sudah meletakkan surat annulment di meja
Hari itu aku sedang menyiapkan makanan untuk fiesta di kampung kami.
Minyak di wajan masih panas. Aroma lumpia goreng, pancit, dan ayam adobo memenuhi dapur kecil kami.
Baru saja aku selesai membungkus nampan terakhir lumpia ketika Raul meletakkan sebuah map tebal di meja makan.
Ia memakai kemeja putihnya. Rambutnya rapi. ID pegawai balai kota masih tergantung di dadanya.
Wajahnya sangat tenang.
Tenang sampai terasa menakutkan.
— Marisol, kita annul saja.
Aku terdiam.
Satu lumpia jatuh dari tanganku. Kulitnya sobek, dan isi panasnya berhamburan ke lantai.
Adegan itu terasa terlalu familiar.
Familiar sampai dadaku perlahan menjadi dingin.
Di kehidupanku yang dulu, di hari fiesta yang sama, Raul juga mengatakan ia mencintai orang lain.
Nama perempuan itu Jessa.
Usianya 25 tahun.
Ia menjual produk kecantikan lewat livestream, dan malam hari bernyanyi di karaoke bar dekat terminal.
Ia muda. Ia tahu tersenyum. Ia tahu bermanja. Ia memanggil Raul “sir Raul” dengan suara manis seperti gula.
Aku berusia 39 tahun.
Tanganku penuh bekas luka bakar. Rambutku selalu diikat seadanya. Tubuhku hampir setiap hari berbau asap, minyak, dan deterjen murah.
Di kehidupan dulu, aku menampar Raul.
Aku menangis. Aku berteriak. Aku pergi ke rumah mertuaku. Bahkan ke kantor balai kotanya, aku membuat keributan.
Tapi semua orang mengatakan hal yang sama:
Aku harus bertahan.
Mertuaku berkata:
— Dia laki-laki. Kadang hanya terbawa suasana. Yang penting dia masih pulang.
Iparku berkata:
— Anak kalian masih kecil. Kalau kamu ibu yang baik, pikirkan anak dulu.
Bahkan ibuku sendiri sambil menangis menggenggam tanganku:
— Marisol, ini tidak mudah. Kalau cerai, bagaimana dengan anak?
Aku mendengarkan mereka.
Aku menggunakan kedua tanganku yang penuh luka untuk mempertahankan rumah itu.
Aku pikir selama aku tidak setuju, Jessa tidak akan bisa masuk ke rumah kami.
Benar.
Dia tidak masuk.
Tapi sejak itu, Raul juga bukan lagi suamiku.
Saat Jessa meninggalkan Raul untuk pria lain yang punya toko bahan bangunan, Raul malah menjadikanku musuhnya.
Ia masih tinggal di rumah, tapi tidak pernah memberi uang sepeser pun.
Ia makan dari masakanku. Memakai pakaian yang kucuci. Menggunakan listrik dan air yang kubayar.
Lalu ia menatapku dingin saat aku bekerja sampai hampir pingsan.
Aku membuka warung kecil di depan rumah.
Pagi menjual bubur ayam.
Siang paket makan siang untuk pekerja.
Malam menerima pesanan dari kantor dan tetangga.
Aku membesarkan anak kami. Aku membayar sekolah. Aku membeli obat untuk mertuaku. Aku ikut menanggung semua acara keluarga mereka.
Saat aku berusia 48 tahun, aku benar-benar jatuh sakit.
Dokter berkata sel kanker sudah menyebar.
Aku terbaring di rumah sakit, sangat kurus, tinggal kulit dan tulang.
Namun bahkan sebelum aku benar-benar dikuburkan, Raul sudah membawa Jessa ke rumah yang kubayar setengah hidupku.
Ia memberikan kartu ATM kepada Jessa.
— Ini gaji delapan tahun aku. Aku tidak pernah memberinya sepeser pun kepada wanita tua itu.
Di samping mereka, anakku Nico tampak bahagia.
— Untung dia sudah mati. Mommy Jessa memang lebih pantas jadi ibuku.
Jiwaku melayang di langit-langit.
Aku melihat mereka membuka lemari pakaianku.
Aku melihat mereka memasukkan pakaianku ke kantong sampah.
Aku melihat anakku duduk di meja itu—meja tempat aku mengajarinya PR—sambil memanggil wanita itu “mama.”
Aku tidak bisa menangis lagi.
Rasanya seperti darah yang keluar dari mataku.
Dan ketika aku membuka mata lagi, aku berdiri di depan wajan panas.
Raul lebih muda delapan tahun.
Dan di depanku ada surat annulment.
— Aku tahu aku salah padamu.
Suara Raul pelan.
— Kalau kamu setuju, aku pergi tanpa membawa apa-apa. Rumah dan Nico untukmu. Aku hanya ingin hidup jujur dengan perasaanku.
Di kehidupan dulu, kalimat itu membuatku hancur.
Di kehidupan ini, aku hanya mematikan kompor perlahan.
Aku mencuci tangan.
Mengeringkan setiap jari.
Lalu duduk di depannya.

— Baik.
Raul langsung menatap.
— Apa?
Aku menatap matanya.
— Aku setuju. Tapi harus bersih. Rumah, utang, hak asuh, nafkah—semua harus dibahas di depan pengacara.
Ia terdiam.
Mungkin ia berharap aku menangis dan memohon.
Tapi aku tenang.
Tiba-tiba ponselnya menyala.
Di layar tertulis nama dengan hati pink:
“Baby Jessa.”
Ia cepat mematikan layar.
Aku tersenyum dingin.
— Angkat saja. Jangan membuatnya menunggu. Lagipula nanti kamu juga akan membawanya ke rumah calon mertua.
Wajah Raul berubah.
— Kamu mengikutiku?
Aku berdiri dan berjalan ke kamar.
— Tidak perlu. Kalau pria selingkuh, dia meninggalkan bau. Yang masalah itu, istri yang terlalu mencintai biasanya pura-pura tidak mencium bau itu.
BAGIAN 2: Pesta Fiesta yang Menjadi Pengadilan
Sore hari di hari fiesta, rumah mertuaku dipenuhi gelak tawa. Bau babi panggang dan musik keras terdengar sampai ke jalan. Di ruang tamu, Jessa sudah duduk di sana. Ia memakai gaun merah muda yang ketat, wajahnya penuh riasan tebal seperti saat ia melakukan livestream.
Di sampingnya, Nico, anak laki-lakiku yang berusia sembilan tahun, sedang memegang sebuah robot mainan mahal.
— “Ma, lihat! Mama Jessa membelikanku ini! Tidak seperti Mama yang selalu pelit dan hanya tahu cara menggoreng lumpia!” ucap Nico dengan mata berbinar.
Jessa tersenyum penuh kemenangan, mengelus kepala Nico sambil menatapku yang baru saja masuk.
Raul berdiri di sampingnya, mengenakan kemeja terbaiknya. Ibu mertuaku langsung mencibir begitu melihat kedatanganku. — “Marisol, baguslah kalau kamu sadar diri. Raul bekerja di balai kota, dia butuh istri yang modis, yang bisa menghasilkan uang banyak dari internet, bukan wanita kusam sepertimu. Suratnya sudah kamu tanda tangani?”
Aku tidak menangis seperti di kehidupan lalu. Aku berjalan tenang, meletakkan sebuah tas dokumen hitam di atas meja, tepat di depan tumpukan makanan fiesta.
— “Aku tidak akan menandatangani surat pembatalan pernikahan itu,” kataku datar.
Raul langsung naik pitam. Wajahnya memerah. — “Marisol! Kita sudah sepakat di rumah tadi! Jangan membuat keributan di depan keluargaku dan Jessa! Kamu mau meminta harta lebih? Rumah itu sudah kuberikan untukmu!”
— “Rumah?” Aku terkekeh, suara tawaku terdengar dingin di tengah ruangan yang mendadak sunyi. — “Rumah yang mana, Raul? Rumah yang sertifikatnya sudah kamu gadaikan?”
BAGIAN AKHIR: Kebenaran di Balik Tanda Tangan yang Dipalsukan
Aku membuka tas hitam itu dan mengeluarkan tumpukan salinan berkas berkekuatan hukum lengkap dengan stempel resmi dari balai desa dan bank pemerintah.
— “Selama lima tahun terakhir, suamiku yang terhormat, yang bekerja di balai kota ini, telah memalsukan tanda tanganku untuk mengambil pinjaman besar,” kataku sambil melemparkan lembaran-lembaran itu ke wajah Raul.
Lembaran kertas itu berserakan di atas meja. Ibu mertuaku dan Jessa refleks mengambilnya.
Rincian Utang Atas Nama Marisol (Tanda Tangan Dipalsukan):
- Pinjaman Koperasi Balai Kota: Mengurangi gaji Raul hingga tersisa 10% setiap bulan untuk membayar biaya pengobatan ibu mertuaku.
- Kredit Bank Dana Desa: Digunakan untuk membelikan mobil bekas yang dipakai Raul memamerkan kekayaan di depan Jessa.
- Pinjaman Online & Rentenir: Digunakan Raul untuk memberikan hadiah ‘hadiah paus’ (gift mahal) saat Jessa melakukan livestream agar Jessa jatuh cinta padanya.
Wajah Raul mendadak pucat pasi. Tubuhnya gemetar. — “Ka… kamu… bagaimana bisa kamu mendapatkan berkas ini?”
— “Kamu lupa aku punya warung yang sering melayani katering untuk orang-orang di balai desa?” aku menatapnya tajam. — “Di kehidupan ini, aku tidak buta karena cinta. Begitu aku melihat ada keganjilan pada laporan keuangan wilayah, aku langsung menyewa pengacara untuk menyelidikinya.”
Aku menatap ibu mertuaku dan iparku yang mulai panik membaca angka utang yang mencapai ratusan juta rupiah.
— “Kalian selalu berpikir aku adalah beban. Kalian pikir Raul yang menghidupiku. Padahal, semua kemewahan kalian, obat-obatanmu, dan modal livestream wanita muda ini berasal dari utang yang kalian bebankan atas namaku!”
Jessa terkejut melihat total utang tersebut. Ia langsung berdiri, menjauh dari Raul. — “Raul! Kamu bilang kamu kepala bagian yang punya banyak tabungan! Kenapa kamu punya utang sebanyak ini?!”
— “Jessa, sayang, aku bisa jelaskan…” Raul mencoba meraih tangan Jessa, namun Jessa menepisnya dengan jijik.
— “Jangan menyentuhku! Aku tidak mau ikut menanggung utang ratusan juta! Kita putus!” Jessa langsung menyambar tasnya dan berlari keluar dari rumah itu, mengabaikan teriakan Raul.
Aku tersenyum puas. Di kehidupan lalu, mereka merayakan kematianku di atas penderitaanku. Di kehidupan ini, mereka hancur bahkan sebelum aku pergi.
— “Marisol… tolong…” Raul berlutut di depanku, air matanya menetes. — “Kalau kamu tidak menandatangani surat itu dan memaafkan utang ini, aku akan dipecat dari balai kota dan dipenjara karena pemalsuan dokumen!”
Ibu mertuaku ikut menangis, mencoba memegang kakiku. — “Marisol, demi Nico… tolong kasihanilah kami…”
Aku melihat ke arah Nico. Anak laki-laki itu ketakutan melihat robot mainannya jatuh ke lantai. Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca. — “Mama… Nico mau ikut Mama…”
Aku menarik kakiku mundur dari jangkauan mereka. Aku menatap Nico dengan tatapan kosong, luka dari kehidupan lalu terlalu dalam untuk disembuhkan hanya dengan tangisan penyesalan sesaat.
— “Nico, bukankah kamu bilang Mama Jessa lebih pantas jadi ibumu? Tinggallah bersama ayahmu dan bayar semua utang ini bersama-sama,” kataku dingin.
Aku membalikkan badan, membawa tas hitamku, dan berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Di belakangku, suara tangisan histeris ibu mertuaku dan teriakan frustrasi Raul saling bersahutan di hari fiesta yang paling buruk dalam hidup mereka.
Hari ini, aku tidak kehilangan apa-apa. Aku keluar sebagai wanita bebas, membawa seluruh tabungan rahasia dari hasil warungku, sementara mereka terkubur hidup-hidup oleh keserakahan mereka sendiri.
Disclaimer: This story is a work of fiction created for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.