SELAMA TUJUH TAHUN AKU MERAWAT IBUKU YANG TERKENA STROKE, TAPI SAAT KAKAKKU MEMBAWA PARA TETANGGA UNTUK MENUDUHKU MENGGELAPKAN UANG OBATNYA, AKU HANYA DIAM—HINGGA SEORANG PENGEMUDI TRISIKEL MASUK KE BALAI DESA**
### Bagian 1: TAS PLASTIK YANG DILEMPARKAN DI KAKIKU
Aku dibawa ke balai desa pada sore hari saat hujan deras, masih mengenakan blus pudar dari tukang jahit, dengan benang yang masih menempel di lengan.
Kupikir aku dipanggil untuk menandatangani perpanjangan obat Ibu.
Namun aku tidak menyangka, begitu aku masuk, Marites, iparku, melemparkan sebuah kantong plastik hitam tepat di kakiku.
Tas itu jatuh ke lantai semen.
Berat.
Bau.
Dan sebelum aku sempat bicara, dia menunjukku di depan kepala desa, dua petugas keamanan, beberapa tetangga, dan dua wanita dari pelayanan gereja.
“Lihat dia. Ini popok yang dia biarkan dipakai ibunya selama dua hari. Kalau kami tidak membawa Ibu Lorna, mungkin dia sudah membusuk di tempat tidur.”
Dadaku langsung terasa sesak.
Itu bukan popok ibuku.
Aku tahu betul.
Ibu selalu memakai popok dewasa berwarna ungu karena hanya itu yang tidak membuat kulitnya iritasi. Yang ada di kantong itu adalah popok biru murah dari rumah perawatan di desa sebelah.
Namun sebelum aku sempat menjelaskan, Marites sudah menangis.
Tangisnya rapi.
Tidak berantakan.
Pas untuk terlihat seperti korban, sambil tetap menjaga sudut wajahnya di kamera ponsel.
Dia sedang melakukan siaran langsung.
“Rina, jelaskan pada mereka. Di mana uang Ibu? Di mana obatnya? Kenapa kondisi orang tua ini seperti ini?”
Aku adalah Rina.
Selama tujuh tahun aku merawat Ibu Lorna setelah ia terkena stroke.
Sisi kiri tubuhnya tidak berfungsi dengan baik. Bicaranya terputus-putus. Kadang hanya namaku yang bisa ia ucapkan. Kadang “air.” Kadang “sakit.”
Tapi aku memahaminya.
Akulah yang paling mengerti dia karena akulah yang menemaninya setiap malam.
Akulah yang mengganti popoknya.
Akulah yang memasak buburnya.
Akulah yang menggendongnya ke trisikle saat kontrol.
Akulah yang membersihkan luka di punggungnya.
Akulah yang berhenti kuliah akuntansi karena tidak ada yang bisa menjaganya.
Kakakku, Jun, rumahnya hanya dua gang dari sini.
Tapi selama tujuh tahun, dia lebih sering memberi “praying hands” di Facebook daripada datang ke rumah ibu kami.
Marites selalu hadir saat ada kamera.
Saat ada bantuan dari desa, dia yang berdiri di samping Ibu.
Saat ada relawan gereja membawa beras, dia yang pertama memegang bahu Ibu.
Tapi saat ditanya siapa yang merawat, dia selalu berkata:
“Kami semua merawat.”
Ibu “kami” saat ada foto.
Ibu “aku” saat ada tagihan obat.
Ibu “aku” saat harus bangun jam dua pagi mengganti popok.
Ibu “aku” saat harus membersihkan tempat tidur yang basah.
Hari itu, di depan balai desa, dia menjadikanku anak yang tidak berperasaan.
Jun berdiri di sampingnya, menunduk, tidak menatapku.
“Rina, tanda tangan saja. Biar Ibu dirawat lebih baik di tempat kami.”
“Apa yang harus kutandatangani?”
Ketua desa mendorong kertas ke arahku.
Sebuah surat perjanjian.
Aku disebut setuju menyerahkan perawatan utama Ibu Lorna kepada Jun karena aku tidak mampu lagi.
Namun bukan itu saja.
Semua bantuan, uang obat, donasi gereja, dan hasil toko kecil kami akan dikelola Jun.
Aku langsung mengerti.
Mereka tidak hanya ingin Ibu.
Mereka juga ingin toko kecil itu.
Toko yang membeli susu Ibu saat aku telat gajian.
Toko yang menghidupi kami saat aku lembur.
Aku menatap Jun.
“Kamu ingin merawat Ibu, atau hanya ingin menguasai toko?”
Marites langsung berteriak,
“Lihat! Dia tidak peduli ibunya, dia hanya pikir uang!”
Bisik-bisik terdengar di sekitar.
Orang-orang yang pernah melihatku menggendong Ibu di tengah hujan.
Orang-orang yang pernah berutang di tokoku.
Kini hanya dengan satu tas plastik, mereka siap menghapus tujuh tahun pengabdianku.
Aku mengambil kertas itu.
Tapi aku tidak menandatangani.
Aku hanya bertanya,
“Di mana Ibu?”
“Di rumah kami,” jawab Jun.
Dadaku langsung dingin.
Pagi tadi aku meninggalkan Ibu di rumah. Popoknya sudah kuganti. Obatnya sudah diminum. Bubur labu sudah kubuat.
Bagaimana dia bisa pindah?
Aku langsung keluar dari balai desa.
Marites menarik lenganku.
“Tanda tangan dulu!”
Aku melepaskannya.
“Aku tidak akan tanda tangan sampai aku melihat Ibu.”
Aku berlari di bawah hujan.
Saat sampai di rumah Jun, aku melihat Ibu duduk di bangku kayu.
Pakaiannya diganti daster lama.
Bibirnya kering.
Tangannya gemetar.
Aku berlutut di sampingnya.
“Nek, ini aku. Rina.”
Matanya memerah.

Bibirnya bergerak pelan.
Aku mendekatkan telingaku.
Hanya dua kata yang kudengar.
“Bawa… pulang…” bisik Ibu. Suaranya serak, begitu lemah hingga hampir tenggelam oleh suara rintik hujan yang menghantam atap seng. Air matanya menetes, jatuh tepat di punggung tanganku yang gemetar.
Saat itulah Jun, Marites, kepala desa, dan rombongan warga dari balai desa tiba. Marites masih mengarahkan ponselnya ke wajah kami, melakukan siaran langsung dengan ekspresi wajah yang dibuat sedih sekaligus geram.
“Lihat semuanya! Rina sengaja datang ke sini untuk membuat keributan dan berpura-pura peduli! Padahal selama ini dia menelantarkan ibunya sendiri!” teriak Marites ke arah kamera.
Aku hanya diam. Aku memeluk Ibu erat-erat, membiarkan dasterku basah oleh air matanya. Aku tidak membalas makian Marites, tidak juga mendebat tatapan menghakimi dari para tetangga yang berdiri di bawah payung mereka.
Tujuh tahun merawat Ibu telah mengajarkanku bahwa air yang tenang jauh lebih dalam daripada ombak yang berisik. Aku tahu, bicara apa pun saat ini hanya akan diputarbalikkan oleh mereka yang buta karena keserakahan.
Bagian 2: Kedatangan sang Penyelamat
“Rina, demi kebaikan bersama, serahkan saja dokumen toko itu,” kata kepala desa, melangkah maju sambil menyodorkan kembali surat perjanjian di bawah perlindungan payungnya. “Warga sudah melihat buktinya. Jangan sampai masalah ini dibawa ke jalur hukum atas dugaan penggelapan uang bantuan.”
“Toko itu milik Rina! Dan kalian semua adalah segerombolan pencuri yang tidak tahu malu!”
Sebuah suara lantang memecah hujan dari arah jalan.
Semua orang menoleh. Sebuah trisikel tua yang basah kuyup berhenti tepat di depan pagar rumah Jun. Seorang pria paruh baya berkulit gelap, mengenakan mantel hujan plastik tipis yang robek di bagian bahu, turun dengan tergesa-gesa.
Dia adalah Mang Kuya, pengemudi trisikel langgananku yang selama lima tahun terakhir selalu mengantar aku dan Ibu ke rumah sakit untuk kontrol bulanan.
Di tangannya, Mang Kuya membawa sebuah tas kain tebal yang dibungkus plastik bening agar tidak basah. Dia berjalan menerobos kerumunan warga, langsung berdiri di depanku dan Ibu, memblokir pandangan kamera ponsel Marites.
“Mang Kuya? Apa yang Anda lakukan di sini?” tanya kepala desa kebingungan.
“Saya ke sini untuk mencuci bersih nama anak yang berbakti ini!” jawab Mang Kuya dengan napas terengah-engah. Dia menunjuk tepat ke wajah Jun dan Marites. “Kalian bilang Rina menggelapkan uang obat? Kalian bilang dia menelantarkan ibunya?! Biar saya tunjukkan siapa yang sebenarnya menjadi iblis di desa ini!”
Bagian 3: Bukti yang Berbicara
Mang Kuya membuka plastik bening itu dengan kasar, lalu mengeluarkan isi tas kainnya ke atas meja teras rumah Jun.
Itu adalah tumpukan buku catatan kecil berwujud lusuh, lengkap dengan ratusan lembar kuitansi resmi yang dijepit rapi.
“Ini adalah buku catatan perjalanan dan pengobatan Ibu Lorna selama lima tahun terakhir!” seru Mang Kuya, suaranya menggelegar mengalahkan suara hujan. “Karena Rina tidak bisa menyetir, sayalah yang selalu mengantarnya. Setiap satu peso uang donasi yang masuk, Rina selalu mencatatnya di sini! Lihat ini! Kuitansi obat dari apotek rumah sakit pusat, kuitansi terapi wicara, kuitansi popok ungu yang mahal itu!”
Beberapa tetangga maju, penasaran. Kepala desa mengambil salah satu buku catatan dan membukanya. Di sana, tertulis dengan tulisan tangan Rina yang rapi: setiap detail pemasukan dari toko kecil dan bantuan donasi, diadu dengan pengeluaran obat yang nilainya bahkan sering kali melebihi pendapatan mereka. Rina sering kali menahan lapar dan tidak membeli baju baru selama bertahun-tahun hanya demi memastikan obat Ibu tidak pernah terputus.
“Dan kalian mau tahu dari mana popok biru bau di dalam kantong plastik hitam itu berasal?” Mang Kuya menatap Marites dengan pandangan murka. “Kemarin sore, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, Marites datang ke rumah perawatan gratis di desa sebelah. Dia meminta popok bekas yang sudah dibuang di tempat sampah luar, lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik! Saya mengira dia sudah gila, ternyata… ternyata dia menggunakannya untuk menjebak adik iparnya sendiri demi menguasai tokonya!”
Bagian 4: Runtuhnya Panggung Sandiwara
“Itu… itu fitnah! Pengemudi trisikel ini pasti dibayar oleh Rina!” Marites berteriak histeris, wajahnya mendadak pucat pasi. Namun, siaran langsung di ponselnya masih menyala, dan kolom komentar kini dipenuhi oleh makian dari netizen yang menyadari kebenaran yang sesungguhnya.
“Saya punya rekaman kamera dasbor dari trisikel saya, Marites! Saat kamu mengambil sampah popok itu, wajahmu terekam jelas!” tembak Mang Kuya telak.
Jun melangkah mundur, melepaskan pegangannya dari bahu istrinya. Wajahnya dipenuhi rasa malu yang luar biasa di depan seluruh tetangga.
Aku berdiri perlahan dari sisi Ibu. Aku menatap kepala desa, lalu beralih ke Jun dan Marites yang kini menjadi tontonan menjijikkan bagi warga yang tadi membela mereka.
“Selama tujuh tahun, aku tidak pernah meminta satu sen pun dari kalian untuk merawat Ibu,” kataku, suaranya tenang namun menusuk dalam. “Dan hari ini, di depan seluruh warga desa dan kamera yang masih menyala itu… aku tidak akan memberikan toko milikku, ataupun membiarkan Ibu tinggal satu menit lagi di rumah yang penuh dengan kemunafikan ini.”
Aku mengambil draf surat perjanjian dari tangan kepala desa, lalu merobeknya menjadi dua bagian di depan wajah Jun.
“Mang Kuya, tolong bantu saya menggendong Ibu ke trisikel,” kataku lembut.
“Siap, Rina. Mari kita pulang,” jawab Mang Kuya dengan senyuman bangga.
Warga desa bergeser, membuka jalan bagi kami dengan kepala tertunduk penuh penyesalan. Marites mematikan siaran langsungnya dengan tangan gemetar saat menyadari reputasinya telah hancur total, sementara Jun hanya bisa berdiri mematung di bawah guyuran hujan.
Saat trisikel Mang Kuya mulai berjalan menjauh meninggalkan tempat itu, Ibu menggenggam jemariku erat-erat. Hujan di luar memang masih deras, namun di dalam gerobak kecil itu, aku tahu Ibu akhirnya merasa aman, karena kebenaran telah menjemput kami pulang.
Disclaimer: This story is a work of fiction created for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.