Posted in

TIDAK PERNAH AKU DIPERKENALKAN OLEH SUAMIKU DI DEPAN UMUM, TAPI ASISTEN WANITA DIA YANG SELALU DIBAWANYA KE SELURUH DUNIA

TIDAK PERNAH AKU DIPERKENALKAN OLEH SUAMIKU DI DEPAN UMUM, TAPI ASISTEN WANITA DIA YANG SELALU DIBAWANYA KE SELURUH DUNIA
Aku hidup diam-diam sebagai istri rahasianya selama delapan tahun.
Sampai sebuah email perceraian tiba-tiba muncul di tengah ruang konferensi perusahaan…

Suamiku seorang workaholic.

Sejak perusahaan teknologinya mulai terkenal, dia hampir setiap malam tidur di kantor dan bahkan tidak pernah lepas dari ponselnya bahkan lima menit pun.

Dia baru berusia tiga puluhan, tapi sudah menjadi CEO muda terkenal di kota pesisir ini.

Dan aku?

Aku hanya seorang team lead software development di perusahaan yang sama dengannya.

Selama dua tahun, aku terus-menerus memintanya menemaniku menonton pertandingan final basket profesional dari pemain favoritku.

Aku mengulanginya berkali-kali.

Sampai suatu saat dia mengerutkan kening karena kesal.

“Cuma pertandingan basket saja.”

Tapi mungkin karena sudah lelah mendengarku terus, akhirnya dia setuju.

Aku sangat senang saat itu.

Selama seminggu penuh aku lembur untuk membantunya menyelesaikan pemrosesan data proyek baru mereka agar jadwalnya kosong di hari pertandingan.

Tapi…

Pada hari penerbangan kami, aku berdiri di gerbang keberangkatan sambil menelponnya lebih dari delapan puluh kali.

Tidak ada jawaban.

Sampai akhirnya bandara mengumumkan bahwa gerbang akan ditutup.

Dia masih belum datang.

Dan tepat di saat itu—

Aku menerima notifikasi dari media sosial.

Yang memposting adalah asisten barunya—Mia Santos.

Caption-nya hanya satu:

“Terima kasih bos sudah melewatkan meeting penting demi menemaniku ke beach festival~”

Ada sembilan foto.

Di foto-foto itu, Adrian tampak tertawa ringan.

Dia memakai polo putih sambil duduk di tepi pantai bersama Mia.

Mereka bahkan berbagi air kelapa yang sama.

Di salah satu foto, Mia memakai jaketnya.

Aku menatap foto-foto itu lama.

Lalu dengan tenang aku menghapus pesan:

“Aku menunggumu di boarding gate.”

Dan aku naik pesawat sendirian.

Hari ini adalah pertandingan terakhir dari pemain basket yang sudah kusukai selama sepuluh tahun.

Dan lucunya…

mungkin ini juga hari terakhir dari delapan tahun pernikahan kami.

Seminggu kemudian, aku kembali.

Selama tujuh hari itu, tidak ada satu pun telepon dari Adrian.

Hujan deras di luar bandara.

Aku menunggu transportasi hampir empat puluh menit.

Lalu ponselku berdering.

Adrian.

Suaranya dingin, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Kamu di mana? Jemput kami sama Mia di international arrival.”

Aku terdiam beberapa detik.

Kalau dulu, aku pasti akan bertanya:

Kenapa kamu meninggalkanku?

Kenapa kamu memilih dia?

Kenapa kamu bahkan tidak menelepon?

Tapi sekarang…

Aku sudah terlalu lelah untuk bertanya.

Aku menatap hujan di luar dan berkata pelan:

“Aku tidak punya mobil.”

Dia langsung kesal.

“Maksudmu apa?”

“Kamu tahu aku baru turun dari red-eye flight, tapi kamu malah membiarkan kami cari mobil sendiri?”

Aku memotongnya.

“Aku juga baru saja turun dari pesawat.”

Tiba-tiba dia terdiam.

Seperti baru teringat janji menonton pertandingan denganku.

Suaranya sedikit melunak.

“Kamu di gate mana?”

Aku menyebutkan lokasiku lalu mematikan telepon.

Sepuluh menit kemudian, Adrian datang bersama Mia.

Bersamaan dengan mobil yang sudah aku pesan.

Tapi dia bahkan tidak menoleh padaku.

Dia langsung membuka pintu kursi belakang untuk Mia dan membantu dia masuk dengan hati-hati.

“Mia pusing di pesawat. Aku antar dia dulu.”

Mia duduk di dalam mobil dengan pura-pura malu.

“Maaf ya kak… aku cuma khawatir karena kondisi aku lagi kurang enak…”

Adrian langsung memasangkan seatbelt untuknya.

“Jangan bicara dulu. Istirahat saja.”

Aku berdiri diam di tengah hujan sambil melihat mereka.

Aku tidak berkata apa-apa.

Sebelum pintu mobil ditutup, dia baru seperti ingat aku masih ada di sana.

Dia menyelipkan tiket bagasi ke tanganku.

“Oh iya, sekalian ambilkan juga koper kami.”

Kami.

Dua huruf saja.

Tapi seolah aku sudah dihapus dari hidupnya.

Hujan dingin.

Tapi dadaku lebih dingin lagi.

Aku menunggu lebih dari setengah jam di area bagasi sendirian.

Saat aku mengambil koporku, muncul notifikasi baru.

Mia mengunggah lagi.

Di foto itu, dia bersandar di bahu Adrian di dalam mobil.

Caption-nya:

“Gimana dong, aku terlalu dimanja~”

Aku swipe lagi.

Sampai foto terakhir.

Jari-jariku berhenti.

Di foto itu, Adrian dan Mia memakai couple jacket.

Di hari ulang tahun pernikahan kami tahun lalu, aku membeli jaket couple untuk kami.

Dia hanya berkata dingin:

“Terlihat kekanak-kanakan.”

“Aku CEO. Tidak cocok.”

Delapan tahun kami menikah.

Dia tidak pernah mempostingku di media sosialnya.

Alasannya selalu sama:

“Aku tidak mau kehidupan pribadi diumbar.”

Tapi sekarang…

Dia justru melanggar prinsipnya sendiri untuk wanita lain.

Aku tertawa pahit.

Ternyata bukan dia tidak mau publik.

Dia hanya tidak mau mempublikasikanku.

Keesokan harinya, aku datang lebih awal ke kantor.

Perusahaan teknologi kami sedang bersiap untuk kontrak AI terbesar tahun ini.

Tiba-tiba muncul masalah celah keamanan serius di sistem dan seluruh tim teknis panik.

Kami menghabiskan enam jam dalam emergency meeting.

Hampir tanpa istirahat untuk memperbaiki masalah.

Meski hubungan kami sudah hancur…

Chemistry kami saat bekerja masih menakutkan.

Setelah meeting, project manager bercanda sambil merapikan laptop.

“Kalau Sir Adrian dan Ms. Lina bareng, semua masalah pasti selesai.”

“Golden pair perusahaan banget kalian.”

Ruangan langsung hening.

Tatapan Adrian langsung dingin.

Aku tahu dia tidak suka orang salah paham tentang hubungan kami.

Karena selama delapan tahun…

Tidak ada satu pun orang di perusahaan yang tahu kami suami istri.

Dulu dia pernah berkata:

“Aku tidak mau orang mengira ada nepotisme.”

Aku mempercayainya.

Jadi selama delapan tahun, aku hanya memanggilnya “Sir” di kantor.

Selalu menjaga jarak.

Selalu seperti orang asing.

Dulu aku diam-diam senang saat ditraktir bercanda oleh rekan kerja.

Tapi sekarang…

Aku merasa tidak sanggup lagi.

Sebelum Adrian bicara, aku memotong dengan dingin.

“Itu cuma bercanda.”

“Aku hanya karyawan biasa.”

“Bagaimana mungkin CEO bisa menyukaiku?”

Ruangan langsung hening.

Adrian menatapku.

Ekspresinya gelap.

Dan tepat saat itu—

Pintu ruang konferensi terbuka.

Mia masuk membawa folder dan tersenyum manis.

“Adrian, aku sudah dapat kontrak bar—”

Tapi dia berhenti.

Karena di layar besar di belakangku…

Ada email terbuka.

Dari departemen legal.

Dengan satu judul:

“Perjanjian perceraian telah difinalisasi.”

Judul email di layar proyektor berkedip-kedip, memantulkan cahaya putih yang kontras di wajah Adrian yang mendadak kaku.

Seluruh ruang konferensi seketika sunyi senyap. Beberapa manajer proyek yang tadi masih merapikan berkas membeku di tempat, pandangan mereka bergantian menatap layar besar, lalu ke arahku, dan terakhir ke arah Adrian.

Mia, yang baru saja melangkah masuk, menjatuhkan folder di tangannya. Lembaran kertas berserakan di lantai, tapi dia bahkan tidak peduli. Matanya melebar menatap namaku dan nama Adrian yang tertera jelas di baris dokumen legal tersebut sebagai pihak yang berpekara.

“Li… Lina?” Manajer proyek berbisik, suaranya bergetar. “Ini… maksudnya apa? Perjanjian perceraian? Kamu dan Sir Adrian…?”

Aku tidak menjawab. Dengan tenang, aku berjalan ke ujung meja, mencabut kabel HDMI dari laptopku, dan layar besar itu seketika menjadi hitam.

“Rapat hari ini selesai. Kalian bisa keluar,” kataku dengan nada suara paling datar yang pernah kukeluarkan seumur hidupku.

Tanpa perlu dikomando dua kali, para staf bergegas keluar dari ruang konferensi seolah-olah ruangan itu baru saja dijatuhi bom. Mia sempat terpaku, menatap Adrian dengan pandangan menuntut penjelasan, namun Adrian bahkan tidak melihatnya. Tatapan Adrian terkunci sepenuhnya padaku—tajam, gelap, dan sarat akan kemarahan yang tertahan.

“Keluar, Mia,” desis Adrian dingin.

Mia menggigit bibir bawahnya, lalu berbalik dan menutup pintu ruang konferensi dengan keras.

Retaknya Topeng Sang CEO

Begitu pintu tertutup, Adrian langsung bangkit dari kursinya. Ia melangkah lebar memutari meja panjang dan mencengkeram pergelangan tanganku.

“Apa-apaan ini, Lina?! Perceraian? Kamu sengaja mempermalukanku di depan staf?!” suaranya meninggi, gurat-gurat kekesalan tercetak jelas di dahinya. “Kalau kamu marah soal pertandingan basket itu, aku sudah minta maaf! Aku sibuk, Mia mendadak sakit di pantai, aku tidak punya pilihan!”

Aku menatap tangannya yang mencengkeramku, lalu menatap matanya. Tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi rasa sesak. Hanya ada kekosongan yang mutlak.

“Lepas, Sir Adrian,” kataku lirih.

Adrian tertegun mendengar panggilan itu. “Lina, kita sedang tidak di depan staf. Jangan panggil aku seperti itu.”

“Tapi selama delapan tahun, bukankah ini yang kamu inginkan? Menjadi orang asing?” Aku menyentakkan tanganku hingga cengkeramannya terlepas. “Aku tidak sengaja membuka email itu di proyektor. Aku baru saja menerimanya dari pengacara keluarga sore ini, dan laptopku otomatis menampilkan notifikasi. Tapi kupikir, ini malah bagus.”

“Bagus?” Adrian tertawa sinis, tak habis pikir. “Kamu menghancurkan reputasiku demi drama kekanak-kanakan ini?”

“Kekanak-kanakan?” Aku mengangguk pelan, mengeluarkan ponselku dan melemparkannya ke atas meja. Layarnya menampilkan foto Mia yang sedang bersandar di bahunya, memakai jaket couple yang dulu ia sebut konyol. “Membawa asistenmu keliling dunia, memakai barang yang kamu tolak dariku, dan membiarkan dia mengumumkan kedekatan kalian ke seluruh jagat maya sementara aku harus bersembunyi seperti tikus selama delapan tahun… apakah itu juga bagian dari reputasimu yang terhormat, Sir?”

Adrian melihat foto itu, dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku melihat kilasan rasa bersalah dan panik di matanya.

“Lina… Mia itu masih muda, dia hanya pamer di media sosial, itu tidak berarti apa-apa—”

“Itu berarti segalanya bagiku, Adrian,” potongku, beralih memanggil namanya langsung. “Itu membuktikan bahwa kamu bukan tidak suka mengumbar kehidupan pribadi. Kamu hanya malu mengakuiku sebagai istrimu. Kontrak AI perusahaan sudah selesai, sistem sudah stabil. Tugasku di perusahaan ini, dan di hidupmu, sudah selesai.”

Aku mengambil laptopku, berbalik, dan melangkah menuju pintu.

“Lina! Kalau kamu keluar dari pintu ini, kita benar-benar selesai! Aku tidak akan mencarimu!” ancam Adrian di belakangku, suaranya bergetar antara amarah dan ketakutan yang egois.

Aku berhenti di depan pintu, tanpa menoleh ke belakang. “Itu hal terbaik yang pernah kamu katakan dalam delapan tahun ini.”

Angin Baru di Benua yang Berbeda

Dua minggu setelah hari itu, surat perceraian kami resmi ditandatangani tanpa ada tuntutan harta gono-gini dariku. Aku melepaskan sahamku di perusahaannya, mengemas seluruh barangku, dan menghilang dari kota pesisir itu tanpa pamit pada siapa pun di kantor.

Satu bulan kemudian. London, Inggris.

Udara musim gugur yang sejuk menyapa wajahku saat aku berjalan keluar dari gedung kantor pusat sebuah firma teknologi global terkemuka. Aku baru saja menandatangani kontrak sebagai Director of Software Architecture di sini—sebuah posisi yang jauh lebih tinggi daripada apa yang bisa kudapatkan saat berada di bawah bayang-bayang Adrian.

Malam itu, aku pergi ke sebuah stadion dalam ruangan di London. Riuh rendah suara penonton menggema.

Aku duduk di barisan depan, memegang tiket pertandingan basket profesional. Pemain favoritku, yang melewatkan pertandingan finalnya bulan lalu karena cedera, malam ini melakukan comeback pertamanya.

Saat peluit pertandingan dimulai, aku menarik napas dalam-dalam. Selama delapan tahun, aku mengira duniaku hanya berputar di sekitar ruang server kantor dan ruang tunggu bandara, menunggu seorang pria yang tidak pernah menoleh ke arahku.

Ponselku bergetar di dalam tas. Aku membukanya.

Itu adalah pesan dari mantan rekan kerjaku di kota pesisir dulu. Dia mengirimkan tangkapan layar berita bisnis lokal: “Saham Perusahaan Teknologi Adrian Villareal Merosot Setelah Kehilangan Kepala Tim Teknis Utama, Beberapa Proyek AI Mengalami Delay Besar.”

Rekan kerjaku juga menambahkan pesan teks: “Lina, sejak kamu pergi, Adrian seperti orang gila. Dia memecat Mia minggu lalu karena salah menginput data enkripsi, dan dia terus mendatangi rumah lamamu setiap malam. Dia mencari kamu.”

Aku menatap layar itu selama beberapa detik. Tidak ada getaran di hatiku. Tidak ada rasa puas, pun tidak ada rasa kasihan. Adrian baru menyadari nilayaku setelah aku tidak lagi ada untuk merapikan kekacauannya. Tapi sayangnya, pintu itu sudah tertutup dan kuncinya sudah kubuang ke laut.

Aku menekan tombol block pada nomor tersebut, lalu memasukkan ponselku kembali ke dalam tas.

Di lapangan, pemain favoritku baru saja mencetak tiga angka, membuat seluruh stadion bergemuruh dalam sorak-sorai. Aku ikut berdiri, bertepuk tangan dengan senyum paling lepas yang pernah kumiliki.

Di bawah lampu stadion yang terang, aku akhirnya terbebas. Aku bukan lagi istri rahasia siapapun. Aku adalah Lina, dan duniaku baru saja dimulai.