Kalimat Mama membuatku terdiam.
“Apa maksudnya, Ma?” suaraku mulai bergetar, bukan lagi karena marah… tapi karena takut.
Mama perlahan duduk di lantai kamar mandi. Wajahnya pucat, bibirnya kering.
Marco masuk menyusulku, membawa segelas air.
“Sudah,” katanya pelan kepadaku. “Dengar dulu penjelasan Mama.”
Aku menatap mereka berdua. Dadaku sesak.
Mama memegang perutnya dengan kedua tangan.
“Ini bukan kehamilan,” katanya lirih. “Ini tumor.”
Dunia seperti berhenti berputar.
“Apa…?”
“Sudah lima bulan Mama tahu,” lanjutnya. “Waktu masih di Cebu, Mama periksa karena sering sakit perut. Dokter bilang ada tumor di rahim… dan sudah cukup besar.”
Kepalaku berdengung.
“Kenapa Mama tidak bilang?!” suaraku pecah.
Mama tersenyum kecil—senyum yang selama ini selalu menenangkanku.
“Karena kamu baru saja melahirkan. Kamu kurang tidur. Kamu kerja siang malam. Mama tidak mau jadi beban tambahan.”
Air mataku langsung jatuh.
Marco menatapku. “Aku baru tahu minggu lalu,” katanya pelan. “Mama pingsan di balkon. Aku yang memaksa dia periksa lagi. Hasilnya… sudah stadium lanjut.”
Kakiku melemas. Aku terduduk di lantai.
Semua prasangka buruk. Semua tuduhan. Semua kata-kata kejam yang baru saja kulontarkan.
“Tidak mungkin…” bisikku.
Mama menatapku dengan mata yang sama seperti saat aku kecil dan jatuh dari sepeda.
“Enam bulan ini Mama hanya mau satu hal,” katanya. “Menjaga Sofia. Menggendongnya.
Menghafal wajahnya. Supaya kalau nanti Mama tidak ada… Mama sudah cukup bahagia.”
Dadaku seperti diremas.
Aku teringat semua momen kecil itu.
Mama yang bangun jam lima pagi untuk menyiapkan bubur Sofia.
Mama yang tertawa saat Sofia pertama kali memanggil “Lola.”
Mama yang sering berdiri lama di balkon, memandangi langit senja.

Bukan menyembunyikan aib.
Tapi menahan sakit.
“Aku… aku sudah berpikir yang tidak-tidak…” suaraku hilang di antara tangis.
Mama menggeleng pelan.
“Wajar. Kamu takut. Tapi lain kali… tanya dulu sebelum menghakimi.”
Kata-kata itu lebih lembut daripada tamparan, tapi lebih menyakitkan.
Malam itu kami membawanya ke rumah sakit.
Hasil CT-scan menunjukkan tumor besar yang menekan organ lain—itulah sebabnya perutnya terlihat seperti hamil. Berat badannya turun karena tubuhnya sudah lemah.
Dokter bilang operasi masih mungkin… tapi risikonya tinggi.
Aku menggenggam tangan Mama sepanjang malam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku sadar—orang tua tidak selamanya kuat.
Enam bulan kemudian, setelah operasi dan kemoterapi yang panjang dan menyakitkan…
Mama kehilangan rambutnya.
Tubuhnya makin kurus.
Tapi suatu pagi, saat Sofia tertatih-tatih berjalan ke arahnya dan berkata, “Lola… bangun…”
Mama tertawa.
Tertawa seperti tidak ada penyakit.
Dan saat itu aku mengerti sesuatu yang terlambat kusadari:
Perut yang semakin besar itu bukan karena aib.
Itu adalah tubuh yang diam-diam berperang.
Dan malam ketika aku membuka kamera CCTV dan melihat Mama memegangi perutnya sendirian di ruang tamu, bukan sedang menyembunyikan dosa…
Ia sedang menahan sakit agar cucunya tetap bisa tidur nyenyak.
Sekarang, setiap kali aku melihat bekas luka operasi di perutnya, aku tidak lagi melihat ketakutan.
Aku melihat pengorbanan.
Dan setiap kali aku mengingat malam ketika aku bert
eriak padanya…
Hatiku masih terasa perih.
Karena kadang, bukan penyakit yang paling menyakitkan.
Tapi kata-kata anak kepada ibunya.
Dan sejak hari itu, aku berjanji pada diriku sendiri:
Sebelum mencurigai…
Aku akan memeluk dulu.