Posted in

SATU BULAN KAMI SUDAH MENIKAH, TAPI SUAMIKU TAK PERNAH MENYENTUHKU…

SATU BULAN KAMI SUDAH MENIKAH, TAPI SUAMIKU TAK PERNAH MENYENTUHKU…

PART 1

Namaku Jane Andara, 29 tahun. Anak sulung dari tiga bersaudara. Dari kami bertiga, hanya aku yang sudah menikah—namun belum punya anak, karena suamiku belum pernah sekalipun menyentuhku sebagai istri.

Aku bertemu Jake Pratama di media sosial pada tahun 2023. Saat itu aku bekerja sebagai kasir di sebuah supermarket di Surabaya, sementara Jake bekerja sebagai pelaut di kapal internasional.

Awalnya aku tidak terlalu serius menanggapinya karena jarak kami begitu jauh. Tapi lama-kelamaan, aku menyadari hatiku mulai jatuh padanya. Jake sangat baik. Kami hampir setiap hari melakukan video call. Kalau soal penampilan, dia tampan—kulit putih, tinggi, dan punya lesung pipi yang manis saat tersenyum.

Namun ada satu hal yang selalu menggangguku.

Bagaimana kalau dia sudah punya pacar? Atau bahkan istri?
Bagaimana kalau aku hanya hiburan sementara baginya saat sedang berlayar?

Jake bilang dia single dan ingin mendekatiku dengan serius. Tapi sebelum menerimanya, aku melakukan “penyelidikan” kecil-kecilan.

Aku mengulik semua foto di Facebook-nya. Unggahannya sedikit, lebih sering hanya membagikan story. Aku bahkan menghubungi salah satu temannya untuk memastikan.

Jawabannya membuatku heran.

“Jake? Dia belum pernah punya pacar.”

Aku makin bingung.
Kenapa pria setampan itu belum pernah punya pacar?

Mungkin dia pemalu, pikirku.

Selama hampir dua bulan dia “mendekatiku” lewat telepon. Entah bisa disebut pacaran atau tidak, karena semua hanya lewat layar. Dan lewat ponsel juga aku menerima cintanya.

Kami sama-sama bahagia. Terutama aku. Meski jauh di dalam hati, aku masih ragu—apakah hubungan ini akan bertahan? Apakah dia benar-benar serius?

“Begitu aku pulang, aku akan datang ke rumahmu. Aku akan melamar kamu secara resmi di depan orang tuamu. Supaya kamu tahu betapa seriusnya aku. Baru kali ini aku jatuh cinta seperti ini, Jane. Tolong percaya padaku. Aku ingin kita menikah setelah aku turun dari kapal.”

“Aku tahu kamu sayang sama aku, Love. Tapi kadang aku tetap ragu. Kata orang, kalau sudah pelaut… katanya SEA-man-loloko,” candaku sambil tertawa.

“Kamu ini! Tidak semua pelaut itu tukang selingkuh, dan tidak semua tukang selingkuh itu pelaut,” jawabnya sambil tertawa juga.

Setiap kali dia tersenyum dan lesung pipinya muncul, aku makin jatuh cinta.

“Aku cuma cantik di kamera, Love. Nanti kalau kamu lihat aku langsung, jangan-jangan kamu berubah pikiran.”

“Apa-apaan itu? Aku mencintaimu apa adanya. Lagi pula, aku tahu kamu cantik. Foto-fotomu saja tanpa filter.”

“Ah, kamu cuma merayuku.”

“Bukan rayuan. Ingat ya, begitu aku pulang, aku langsung melamarmu.”

“Serius? Cepat sekali?”

“Iya. Takut kamu direbut orang lain.”

“Tidak ada siapa-siapa. Aku cuma mau kamu.”


Jake benar-benar menepati janjinya.
Dia datang ke rumahku, melamarku secara resmi, dan beberapa bulan kemudian kami menikah.

Aku merasa seperti wanita paling beruntung di dunia.

Namun setelah satu bulan pernikahan…

Jake tidak pernah menyentuhku.

Tidak pernah memelukku lebih lama dari biasanya.
Tidak pernah mengajakku berbagi ranjang sebagai suami istri.

Awalnya aku berpikir dia lelah.
Atau mungkin malu.

Tapi malam demi malam berlalu… dan tak ada yang berubah.

Sampai suatu hari, dia duduk di tepi ranjang dengan wajah pucat dan berkata,

“Jane… ada sesuatu yang harus kamu tahu.”

PART 2… 👇👇

Malam itu kamar terasa sunyi. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan.

Jake duduk di tepi ranjang, kedua tangannya saling menggenggam kuat. Aku bisa melihat jari-jarinya gemetar.

“Jane… maafkan aku,” suaranya serak. “Aku takut kamu akan membenciku setelah ini.”

Dadaku tiba-tiba terasa sesak.

“Ada apa, Jake? Kamu sakit? Atau… kamu sebenarnya sudah punya wanita lain?” tanyaku dengan suara bergetar.

Dia cepat menggeleng.

“Tidak! Demi Tuhan, tidak ada wanita lain. Aku hanya mencintaimu.”

Aku semakin bingung.

“Lalu kenapa kamu menjauh dariku? Kita sudah menikah sebulan, Jake… tapi kamu bahkan tidak pernah benar-benar menyentuhku.”

Air mata mulai menggenang di matanya.

“Aku pernah mengalami kecelakaan kerja dua tahun lalu di kapal,” katanya pelan. “Aku jatuh saat badai. Secara fisik aku sembuh… tapi dokter bilang ada trauma yang memengaruhi… kemampuanku sebagai suami.”

Aku terdiam.

“Aku bisa saja berobat. Dokter bilang ada peluang untuk pulih. Tapi aku takut… takut kamu kecewa. Takut kamu merasa menikah dengan pria yang tidak sempurna.”

Tangisku pecah.

Selama ini aku mengira yang aneh adalah diriku. Aku pikir dia tidak tertarik padaku. Aku merasa tidak cukup cantik. Tidak cukup menarik.

Ternyata… dia hanya menyimpan ketakutan sendirian.

“Kenapa kamu tidak bilang dari awal?” bisikku.

“Aku takut kamu pergi.”

Aku memegang wajahnya dan menatapnya dalam-dalam.

“Jake, aku menikah denganmu bukan hanya karena tubuhmu. Aku menikah dengan hatimu. Kalau kita harus berjuang bersama, kita lakukan bersama.”

Tangisnya jatuh tanpa bisa ditahan.

Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, dia memelukku erat. Bukan karena kewajiban, tapi karena kelegaan.


Beberapa bulan kemudian, kami rutin berkonsultasi ke dokter dan menjalani terapi. Prosesnya tidak mudah. Ada hari-hari di mana Jake merasa rendah diri. Ada malam-malam di mana aku harus meyakinkannya bahwa dia tetap pria yang kuat di mataku.

Dan perlahan… dia mulai pulih.

Bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental.

Setahun setelah pernikahan kami, di pagi yang cerah, aku memegang test pack dengan tangan gemetar.

Dua garis merah.

Aku menatap Jake yang baru keluar dari kamar mandi.

“Love… sepertinya keluarga kecil kita akan bertambah.”

Dia terdiam beberapa detik, lalu air matanya jatuh lagi—kali ini karena bahagia.

Dia berlutut di depanku.

“Terima kasih sudah tidak menyerah padaku.”

Aku tersenyum sambil mengusap wajahnya.

“Cinta bukan tentang kesempurnaan. Cinta itu tentang memilih untuk tetap tinggal… bahkan saat semuanya terasa sulit.”

Dan saat itu aku sadar—

Terkadang, jarak bukanlah ujian terbesar dalam hubungan.
Rahasia dan ketakutanlah yang paling berbahaya.

Tapi selama dua orang mau saling menggenggam dan jujur…
bahkan luka lama pun bisa berubah menjadi awal kebahagiaan baru.

Tamat.