Rafael membeku di tempatnya, satu tangan masih berusaha memasukkan lengan ke kemejanya. Wajahnya pucat, matanya membelalak seperti hewan yang tertangkap lampu mobil di malam hari.
Lira di atas tempat tidur langsung bangkit, wajahnya penuh kepanikan. Tangannya refleks menarik selimut menutupi tubuhnya, meski ia masih mengenakan baju tidur itu.

“Anton… d-dengar dulu—” suaranya gemetar.
Saya tidak menjawab.
Saya hanya berdiri di ambang pintu lemari, ponsel masih merekam, menangkap setiap detik kehancuran hidup saya.
Sunyi. Sangat sunyi. Bahkan detak jantung saya sendiri terasa seperti gema di ruangan itu.
“Apa… yang sedang kalian lakukan?” akhirnya saya berkata, suara saya rendah, datar—terlalu tenang untuk situasi seperti ini.
Rafael menelan ludah. “Ini bukan seperti yang kamu pikirkan—”
Saya tertawa kecil.
Satu tawa pendek yang bahkan tidak terdengar seperti milik saya sendiri.
“Kalimat paling basi di dunia,” potong saya. “Coba yang lain.”
Lira turun dari tempat tidur dengan hati-hati. Perutnya yang membesar membuat gerakannya lambat. Ia mendekat, air mata mulai jatuh.
“Anton, aku bisa jelaskan…”
“Jelaskan?” saya menatapnya. “Baju terbalik. Tempat tidur berantakan. Dia setengah telanjang di lemari kita. Jelaskan bagian mana yang belum jelas?”
Dia terdiam. Bibirnya bergetar.
Rafael akhirnya melangkah keluar dari lemari, kini kemejanya sudah terpasang, tapi tidak rapi. Ia mencoba mendekat, tapi saya mengangkat tangan, menghentikannya.
“Jangan mendekat,” kata saya dingin.
Dia berhenti.
“Saya… saya salah, Ton. Tapi ini—”
“Salah?” saya menatapnya tajam. “Kamu bukan tersandung ke kamar saya dan ‘tidak sengaja’ melepas baju.”
Kata-kata saya tajam, tapi suara saya tetap pelan. Itu justru membuat suasana semakin mencekam.
Saya mengalihkan pandangan ke Lira.
“Sudah berapa lama?”
Pertanyaan itu menggantung di udara seperti vonis.
Lira menangis. “Ini… ini baru beberapa kali…”
Saya mengangguk pelan. “Beberapa kali.”
Saya mengulanginya seolah sedang mencicipi racun.
“Di rumah saya?”
Dia tidak menjawab. Itu sudah jawaban.
Saya menghela napas panjang, lalu berjalan ke meja, mengambil kue dan bunga yang tadi saya bawa.
Saya melihatnya sejenak.
Konyol.
Saya kembali menatap mereka berdua.
“Kalian tahu apa yang paling lucu?” kata saya pelan. “Saya pulang lebih awal karena saya kangen. Karena saya pikir… keluarga saya adalah tempat paling aman di dunia.”
Saya meletakkan kue itu kembali, tapi kali ini sedikit lebih keras.
“Dan ternyata…” saya tersenyum tipis, tapi mata saya dingin, “tempat ini hanya panggung sandiwara.”
Lira jatuh berlutut.
“Anton, tolong… demi anak kita…”
Kalimat itu.
Itu yang membuat saya berhenti.
Perlahan, saya menoleh.
“Anak kita?” ulang saya.
Ruangan kembali sunyi.
Saya menatap perutnya.
Enam bulan.
Tiba-tiba, semua potongan mulai terasa… tidak lagi sesederhana yang saya kira.
Saya menatap Rafael.
Lalu kembali ke Lira.
“Jawab saya dengan jujur,” suara saya kini lebih berat, lebih dalam. “Anak itu… anak saya?”
Air mata Lira semakin deras.
Rafael menunduk.
Dan dalam keheningan yang menyesakkan itu… Lira akhirnya membuka mulutnya.
Namun sebelum dia sempat menjawab—
ponsel di tangan saya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Dari nomor tak dikenal.
Saya membuka layar, dan hanya ada satu kalimat di sana:
“Kalau kamu sudah pulang, sekarang saatnya kamu tahu semuanya. Anak itu bukan milikmu.”