Posted in

‘Ras, kamu lamaran, kok, nggak bilang-bilang, sih, sama aku? Gila, seserahanya banyak banget lagi. Udah kayak yang mau nikahan ini mah.’
Mataku yang masih setengah terpejam karena semalaman begadang, seketika terbuka dengan sempurna.
“Lamaran? Siapa yang mau lamaran?”
Aku tersentak. Buru-buru aku memposisikan diri untuk duduk.
‘Ya, kamulah, siapa lagi?’ Suara Tita di sebrang sana terdengar serius. ‘Tadi aku liat A Bagas-Bagasmu, itu. Dia sama rombongan keluarganya lewat depan rumahku. Asli, Ras. Seserahannya banyak banget, aku sama orang-orang di sini, sampe ngira kamu mau nikahan.’
Aku meneguk ludah susah payah, berusaha mencerna apa yang sedang terjadi saat ini. “Kamu salah liat kali, Ta. Kamu ‘kan tahu sendiri, Ibu sama Bapak ngelarang aku ngarunghal Teh Sekar. Makanya, bangun tidur itu langsung cuci muka, bukannya liat ponsel, pasti liat fyp video orang dan ngarang aneh-aneh kamu, kan?”
‘Aku serius, Ras. Aku yakin, kok, nggak salah liat. Lagian, ini tuh udah siang. Jam sepuluh Rarasati …!’ pekik Tita membuatku seketika menjauhkan ponsel dari telinga. ‘Teserah, deh, kalau kamu nggak percaya. Palingan kamu nanti kaget, rambut masih kayak singa, eh, calon suami datang sama keluarganya.’
Baru saja aku akan membalas perkataan Tita, tiba-tiba panggilan telpon itu dimatikan sepihak.
Aku diam. Alisku seketika terangkat. Lamaran? Mana mungkin. Bagas tahu betul bahwa keluargaku melarang keras melangkahi pernikahan. Itu sebabnya selama ini aku selalu menolak ajakan nikah darinya. Namun, untuk memastikan rasa penasaran, aku pun terpaksa melakukan panggilan telpon pada Bagas.
Satu, dua, sampai tiga kali panggilan. Nomornya tetap tidak aktif.
Entah kenapa, tiba-tiba aku jadi panik. Kalau yang dikatakan Tita benar, bagaimana?
Aku bangkit dengan perasaan campur aduk. Begitu pintu kamar terbuka, aku melihat Ibu, Bapak, beserta beberapa kerabat dekat kami tengah mondar-mandir seperti menyiapkan sesuatu.
Jantungku berdetak dengan sangat kencang. Apa mungkin mereka sengaja ingin memberikan kejutan lamaran ini untukku? Tapi sejak kapan Ibu dan Bapak memperbolehkan ngarunghal ini?
“Bu?” Aku menahan tangan Ibu yang memegang nampang berisi bolu kukus dan beberapa kudapan. Suaraku terkecat, nyaris hilang. “I-ini …?”
Ibu menepis kasar tanganku. “Sudahlah, jangan banyak tanya. Ibu lagi sibuk. Tamu Ibu udah di jalan, bentar lagi datang.”
Setelah mengatakan itu, Ibu langsung pergi meninggalkanku yang masih mematung di tempat.
Siapa pun, tolong, jantungku rasanya mau copot!
Aku bahagia bukan main. Kenapa bisa aku tidak sadar mereka mempersiapkan semua ini? Tidak ingin membuang waktu, buru-buru aku balik ke kamar. Tidak, meskipun mereka memberikan kejutan lamaran ini padaku, tapi aku tidak boleh terlihat seperti gembel. Aku harus tampil cantik. Ini lamaran, lamaran tertunda yang selama ini aku nanti-nanti.
Karena mandi tidak memungkinkan untuk saat ini, aku pun memutuskan hanya mencuci muka saja. Setelah itu, aku memilih-milih gamis paling terbaik yang aku punya. Pandanganku jatuh pada gamis putih dengan sedikit manik-manik, terkesan elegan, dan … persis seperti yang dikatakan Tita. Vibes nikahan sederhana.
Aku memandangi diri di cermin, lantas memoleskan sedikit make up. Baru saja lipstik itu kutempelkan di bibir, tiba-tiba teriakan Ibu membuatku tersentak hingga membuat tangan terpeleset.
“Pak, keluarga Bagas sudah di depan rumah!”
Sontak keringat dingin mulai membanjiri tubuhku. Aku bangkit dari kursi, lantas berjalan mondar-mandir tidak jelas. Sampai akhirnya, semua tamu masuk ke dalam rumah.
Aku merapatkan daun telinga pada pintu.
“Biar kami panggilkan putri kami dulu, ya, Pak, Bu.”
Itu suara Ibu.
Aku kembali membenarkan posisiku, berdiri dengan tenang.
Satu, dua, tiga, sampai sepuluh detik. Pintuku tidak kunjung dibuka.
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Apa mereka benar-benar sengaja mempermainkanku?
Saat pikiranku sedang menerka-nerka, samar aku mendengar suara Ibu kembali.
“Nah, ini Sekar, putri kami.”
Deg!
Jantungku mendadak berhenti berdetak.
“Wah, cantik sekali ternyata. Lebih cantik dari pada di foto.” Terdengar kekehan kecil dari semua orang. “Emang nggak salah Bagas pilih calon istri.”
Kedua tanganku seketika mengepal.
Secepat kilat aku membuka pintu, lantas menerobos menemui tamu-tamu. Mereka tersentak begitu menyadari kehadiranku.
Kupandangi satu-per satu dari mereka. Tidak hanya terkejut, aku bisa melihat jelas bahwa mereka tidak suka dengan kehadiranku, termasuk Bagas.
“A, apa-apaan ini?!” sentakku tidak tahan. “Ibu, Bapak, Teh Sekar juga. Kalian ini apa-apaan, sih?! Kalau mau ngefrank tuh, ya, jangan keterlaluan. Masa ngebercandain lamaran, sih? A Bagas ‘kan pacar aku, bukan Teh Sekar!”
Semua orang saling pandang. Beberapa dari keluarga Bagas pun terlihat saling melemparkan pertanyaan.
Ibu bangkit lebih dulu. Ia menghampiriku, lantas berbisik, “Raras, apa yang kamu lakukan? Pergi, sana, ke kamar. Jangan menghancurkan acara lamaran Tetehmu.”
Aku menatap Ibu dengan tatapan tak percaya.
“Bu?”
Belum sempat aku meminta penjelasan, Bagas bangkit. Ia menatapku dari atas sampai bawah, lantas kemudian mencibir.
“Ternyata emang bener, ya, aku nggak salah pilih Sekar. Lihat, kamu, Raras.” Ia menunjuk wajahku dengan tangannya. “Kalau aku lamaran sama kamu, yang ada semua orang bakalan ngira aku lamaran sama ondel-ondel. Udah mah wajah asli pas-pasan, dandan menor sampe belebotan, bener-bener bukan cewek idaman!”
“A, kamu ….”
“Dia siapa, sih, Gas? Kok bisa-bisanya dia ngancurin acara lamaran kamu?”
Seorang perempuan yang usianya setara dengan Ibu ikut bangkit, ia mendelik ke arahku.
Aku yakin betul. Itu ibunya Bagas. Dulu, dia pernah memperlihat fotonya padaku, meski kami belum pernah bertemu.
“Dia adiknya Sekar, Ma, mantanku.” Bagas membenarkan kerah kemeja batiknya. “Emang beda jauh mereka. Yang satu kayak berlian, yang satu kayak upik abu.”
Darahku seketika mendidih.
“Sejak kapan kita putus, A?!” sentakku tidak terima. “Bukannya selama ini kamu yang selalu ngebet ajak aku nikah, tapi aku tolak karena nggak ….”
“Kamu tolak ‘kan?” Bagas maju satu langkah. “Kalau begitu, urusan kita selesai. Awas, jangan halangi acara lamaranku dengan Sekar.”
“Raras.” Teh Sekar yang sedari tadi diam ikut bangkit. “Teteh tahu, mungkin kamu belum bisa move on dari Bagas, tapi … kami sudah akan menikah. Jadi, lebih baik kamu diam di kamar, ya, jangan ganggu acara kami.”
“Benar yang dikatakan Sekar, Raras!” Bapak ikut bersuara. “Kalian itu sudah tidak ada hubungan apa-apa. Wajar-wajar saja kalau Bagas ngelamar Sekar. Yang turun ranjang aja banyak, apalagi ini cuman sebatas baru pacaran. Sudahlah, sana pergi ke kamar!”
Aku benar-benar tidak menyangka reaksi mereka akan seperti ini. Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Apa aku melewatkan sesuatu?
“Raras, ayo!”
Aku tersadar begitu tangan Ibu hendak menyeretku pergi dari sana dengan tatapan tajam. Namun, secepat mungkin aku melepaskan diri. Tidak, aku tidak bisa dipermalukan seperti ini.
“Nggak, aku nggak mau!” ucapku sedikit berteriak. “Yang harusnya dilamar di sini itu aku, bukan dia!”
“Raras!”
Sebuah tamparan hendak dilayangkan Ibu padaku, tapi tiba-tiba ….
“Biarkan dia di sini. Aku yang akan melamarnya.”
Deg!

Semua orang di ruang tamu sontak menoleh ke arah sumber suara.

Seorang pria tinggi dengan kemeja hitam berdiri di ambang pintu rumah. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tajam menusuk. Di belakangnya berdiri seorang lelaki paruh baya dan seorang perempuan elegan yang tampaknya adalah orang tuanya.

Aku mengernyit bingung.

Siapa dia?

Bahkan Ibu sampai menurunkan tangannya perlahan karena terkejut.

“Maaf,” ucap pria itu lagi sambil melangkah masuk. “Kalau memang Raras tidak diterima di acara ini, biar saya saja yang melamarnya.”

Ruangan langsung riuh.

“Siapa dia?” bisik salah satu keluarga Bagas.

Bagas sendiri tampak mengernyit tidak suka. “Mas, kayaknya Anda salah rumah.”

Pria itu malah tersenyum tipis. “Nggak salah.”

Tatapannya beralih padaku.

“Saya datang memang untuk Raras.”

Jantungku berdetak tidak karuan.

Aku yakin seratus persen belum pernah mengenal pria ini sebelumnya.

“Maaf … kita kenal?” tanyaku pelan.

Pria itu mengangguk kecil. “Belum. Tapi saya kenal kamu.”

Hah?

Aku makin bingung.

Sementara itu, Teh Sekar mulai terlihat tidak nyaman. Wajahnya yang tadi berseri-seri perlahan berubah tegang karena perhatian semua orang kini beralih padaku.

“Mas,” ucap Bagas dengan nada menahan emosi, “ini acara keluarga saya. Jangan bikin keributan.”

“Aku justru datang buat menyelamatkan keributan,” jawab pria itu santai.

Ayahku maju selangkah. “Maaf, Nak. Kamu siapa sebenarnya?”

Pria itu langsung menyalami Ayah dengan sopan.

“Perkenalkan, saya Arvin Mahendra.”

Nama itu membuat beberapa orang langsung saling pandang.

Tunggu.

Arvin Mahendra?

Bukankah itu nama pemilik perusahaan konstruksi terbesar di kota sebelah?

Aku sampai membeku.

Bahkan Bagas yang tadi begitu sombong kini terlihat sedikit gugup.

“Dan ini orang tua saya,” lanjutnya. “Kami datang karena saya serius ingin mengenal Raras.”

Ruangan mendadak sunyi.

Ibu menatapku tidak percaya. “Raras … kamu kenal dia?”

“A-aku aja baru lihat sekarang, Bu!”

Bagas tertawa sinis. “Paling juga drama buat cari perhatian.”

Namun, belum selesai dia bicara, Arvin mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Sebuah ponsel.

Ia memperlihatkan layar ponselnya ke arah semua orang.

“Itu CCTV butik, kan?” tanya seseorang.

Aku ikut melihat.

Dan seketika tubuhku menegang.

Itu rekaman saat aku bekerja paruh waktu di butik beberapa bulan lalu.

Di video itu terlihat seorang ibu tua hampir jatuh di parkiran karena terpeleset. Semua orang sibuk menonton, tapi aku berlari menghampiri dan menolongnya.

Aku ingat kejadian itu.

Aku bahkan mengantar ibu itu sampai ke mobil dan membelikannya air minum.

Ternyata…

Ibu tua itu adalah mama Arvin.

“Saya mulai mencari tahu tentang dia sejak hari itu,” ujar Arvin sambil menatapku lurus. “Saya belum pernah melihat perempuan setulus itu.”

Aku tercekat.

“Awalnya saya cuma penasaran,” lanjutnya. “Tapi makin saya cari tahu, saya malah tahu kalau Raras selalu dianggap sebelah mata di keluarganya sendiri.”

Wajah Ibu dan Ayah langsung berubah.

“Mas, jangan asal bicara,” sela Teh Sekar cepat.

Arvin menatap Sekar datar.

“Saya nggak asal bicara.” Nada suaranya berubah dingin. “Saya tahu siapa yang diam-diam menyuruh Bagas mendekati Raras dulu.”

Deg!

Aku menoleh cepat ke arah Sekar.

Wajah kakakku langsung pucat.

Bagas mulai panik. “Mas, jangan ngaco.”

“Perlu saya putar rekamannya?”

Kini seluruh ruangan benar-benar hening.

Tanganku mulai dingin.

“Apa maksudnya?” tanyaku lirih.

Arvin menatapku beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Bagas awalnya mendekatimu karena taruhan.”

Duniaku seperti runtuh dalam satu detik.

“Apa?”

“Sekar bilang, nggak mungkin ada laki-laki yang betah sama perempuan kayak kamu. Jadi Bagas ditantang buat bikin kamu jatuh cinta.”

Aku langsung menatap Bagas.

Pria itu tampak salah tingkah.

“Nggak … nggak gitu—”

“Tapi ternyata,” potong Arvin, “kamu malah benar-benar tulus mencintainya. Dan waktu Bagas mulai nyaman sama kamu, Sekar nggak terima.”

“Bohong!” bentak Sekar.

Namun Arvin kembali mengangkat ponselnya.

Kali ini terdengar jelas suara Sekar dari rekaman audio.

“Kalau kamu serius sama Raras, berarti kamu kalah taruhan. Tapi kalau kamu berhasil bikin dia nangis dan ninggalin dia buat aku, mobil baru itu jadi milik kamu.”

Tubuhku langsung limbung.

Aku menatap kakakku sendiri dengan mata berkaca-kaca.

“Teh…?”

Sekar langsung panik.

“Itu—itu nggak seperti yang kamu pikir!”

PLAK!

Tamparan keras tiba-tiba mendarat di wajah Bagas.

Ibunya sendiri yang menampar.

“Kurang ajar kamu!” bentaknya gemetar. “Mama didik kamu buat mempermainkan perempuan?!”

Bagas langsung pucat.

Sementara Ayah terduduk lemas di kursi.

Ibu menatap Sekar dengan gemetar hebat.

“Kamu … tega ngelakuin itu sama adik sendiri?”

Sekar mulai menangis.

“Tapi aku capek selalu kalah dari Raras!”

Aku membelalak tak percaya.

“Kalah?” suaraku bergetar. “Selama ini aku selalu ngalah buat Teteh!”

Dan itu memang benar.

Sejak kecil, aku selalu jadi bayang-bayang Sekar.

Kalau ada baju bagus, Sekar yang dapat.

Kalau ada makanan favorit, Sekar yang diprioritaskan.

Bahkan saat aku diterima kuliah lewat jalur beasiswa, Ibu malah menyuruhku mengalah karena Sekar menangis ingin kuliah di tempat yang sama.

Aku mengalah.

Selalu.

Namun ternyata semua itu masih belum cukup.

“Aku benci lihat kamu selalu dicintai orang!” teriak Sekar sambil menangis histeris. “Meski kamu biasa aja, orang-orang selalu lebih nyaman sama kamu!”

Air mataku jatuh begitu saja.

Untuk pertama kalinya, aku sadar.

Bukan aku yang kurang.

Mereka saja yang tidak pernah benar-benar melihatku.

Bagas mencoba mendekatiku.

“Ras, aku sebenarnya—”

“Jangan sentuh aku.”

Suaraku dingin.

Aku mundur beberapa langkah.

“Selama ini aku percaya sama kamu.”

Bagas terlihat panik. “Aku memang awalnya taruhan, tapi lama-lama aku serius—”

“Tapi kamu tetap ninggalin aku demi kakakku.”

Bagas terdiam.

Dan diamnya adalah jawaban paling menyakitkan.

Aku tertawa kecil sambil menghapus air mata.

Lucu sekali.

Tadi pagi aku masih sibuk memilih gamis terbaik untuk lamaran impianku.

Ternyata aku hanya bahan taruhan.

Ruangan terasa sesak.

Aku ingin pergi dari sana.

Namun sebelum aku melangkah, suara Arvin kembali terdengar.

“Kalau mereka nggak bisa menghargai kamu,” katanya pelan, “izinkan saya yang melakukannya.”

Aku menoleh.

Tatapannya begitu tenang.

Tidak merendahkan.

Tidak mengasihani.

Untuk pertama kalinya hari itu, ada seseorang yang melihatku tanpa membandingkanku dengan siapa pun.

“Aku nggak butuh dikasihani,” jawabku lirih.

“Aku juga nggak berniat mengasihani.”

Arvin melangkah mendekat.

“Saya cuma nggak suka lihat perempuan baik dipermainkan.”

Hening.

Lalu perlahan mama Arvin menghampiriku dan menggenggam tanganku hangat.

“Kamu perempuan hebat,” katanya lembut. “Dan kamu pantas dapat laki-laki yang datang karena mencintaimu, bukan karena taruhan.”

Dadaku langsung sesak.

Aku menangis lagi.

Kali ini bukan karena dipermalukan.

Tapi karena akhirnya… ada yang membelaku.

Ibu mendadak ikut menangis.

“Raras … maafin Ibu…”

Aku menatap beliau lama.

Ada luka yang terlalu dalam untuk sembuh secepat itu.

Namun aku terlalu lelah untuk marah.

“Aku capek, Bu.”

Hanya itu yang mampu kukatakan.

Hari itu acara lamaran berakhir kacau.

Keluarga Bagas pulang dengan wajah malu.

Sekar mengurung diri di kamar.

Dan aku…

Aku duduk sendirian di teras rumah sambil menatap langit sore yang mendung.

Tak lama kemudian, Arvin datang membawa dua gelas teh hangat.

Ia duduk di sampingku tanpa bicara.

Beberapa menit berlalu dalam diam.

“Kenapa?” tanyaku akhirnya. “Kenapa mau repot-repot bela orang yang bahkan nggak kamu kenal?”

Arvin tersenyum kecil.

“Karena dulu saya pernah ada di posisi kamu.”

Aku menoleh.

“Saya juga pernah diremehkan keluarga sendiri,” lanjutnya pelan. “Jadi saya tahu rasanya dianggap nggak cukup.”

Angin sore bertiup pelan.

Dan anehnya… untuk pertama kalinya sejak pagi, dadaku terasa sedikit ringan.

“Tapi satu hal yang saya pelajari,” katanya sambil menatap lurus ke depan, “orang yang tepat nggak akan membuat kita mempertanyakan harga diri kita sendiri.”

Aku diam.

Kalimat itu terasa menampar sekaligus menenangkan.

Sebulan kemudian, aku memutuskan pindah kerja ke kota tempat Arvin tinggal.

Bukan karena cinta.

Bukan juga karena balas dendam.

Aku hanya ingin memulai hidup baru.

Dan selama proses itu, Arvin selalu ada.

Dia tidak pernah memaksaku.

Tidak pernah mengumbar janji manis.

Dia hanya hadir.

Mendukungku diam-diam.

Sampai suatu malam, saat kami duduk di rooftop kantor sambil melihat lampu kota, Arvin tiba-tiba berkata—

“Sekarang saya mau melamar kamu beneran.”

Aku tertawa kecil.

“Cepat banget?”

“Saya takut didahului orang.”

“Kalau aku nolak?”

Arvin menatapku sambil tersenyum tipis.

“Saya tunggu sampai kamu siap.”

Dan entah kenapa…

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa dicintai tanpa harus bersaing dengan siapa pun.