Aditya terbangun lebih dulu. Ia menghirup dalam-dalam aroma rambut Diandra yang mengge litik hidungnya. Perlahan, ia mendaratkan sebuah ci uman hangat di kening istrinya.
Diandra menggeliat, matanya perlahan terbuka dan langsung disambut oleh tatapan teduh sang suami. “Pagi, Mas ….” Suara seraknya terdengar sangat merdu di telinga Aditya.
”Pagi, Sayang,” sahut Aditya pelan. Ia mengelus pipi Diandra dengan ibu jarinya. “Jadwalmu hari ini ke mana? Ada janji di luar?”
Diandra menggeleng, lalu menarik selimutnya lebih tinggi hingga sebatas dagu. “Belum ada, Mas. Aku masih ingin istirahat sehari lagi. Rasanya badan masih pegal semua. Paling besok baru ke rumah sakit batalyon buat melapor kalau aku sudah kembali dari satgas.”
Aditya tersenyum puas. “Kalau begitu aku juga sama. Aku belum mau ke kantor. Gimana kalau kita malas-malasan saja hari ini? Hanya berdua di rumah.”
”Boleh banget, Mas. Aku masih ingin rebahan. Masih kerasa banget capeknya sisa perjalanan kemarin,” jawab Diandra sambil menyandarkan kepalanya di lengan Aditya.
”Sini aku peluk.” Aditya menarik Diandra lebih rapat ke da danya. “Sambil kita begini, cerita dong apa pun tentang kamu. Aku sadar, meski kita sudah agak lama menikah, aku baru benar-benar ‘mengenalmu’ di perbatasan kemarin. Terutama … kenapa kamu bisa milih jadi dokter militer? Itu bukan pekerjaan yang mudah buat perempuan.”
Diandra tersenyum, memainkan kancing kaos yang dipakai Aditya. “Mas ini mau tahu saja deh. Sebenarnya … semua karena Papa, Mas. Mas kan tahu sendiri Papaku dokter militer angkatan senior.”
”Iya, aku tahu beliau orang hebat. Sahabat dekat Papaku juga,” sahut Aditya.
”Dulu aku lihat Papa tuh keren banget. Seorang dokter yang bersahabat dekat dengan para prajurit, ya itu Papaku. Aku sering lihat Papa berangkat tugas dengan seragam lorengnya, tapi tetap membawa tas medis. Walaupun sering tugas ke perbatasan atau daerah konflik, Papa nggak pernah lupa sama Mama dan aku. Dia selalu punya cara buat bikin kami merasa tetap diutamakan. Itulah yang bikin aku terobsesi pengen jadi seperti beliau.”

Diandra terdiam sejenak, sorot matanya berubah menjadi penuh tanya. “Tapi, ada satu hal yang aku nggak habis pikir sampai sekarang. Kenapa Papa kita menjodohkan kita, ya? Emang mereka nggak tahu kalau Mas itu punya pacar?”
Mendengar pertanyaan itu, Aditya menghela napas panjang. Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang.
”Papaku tahu soal Sari, Diandra. Aku sudah pernah mengenalkannya,” aku Aditya jujur. “Tapi Papa dari awal memang tidak setuju. Beliau bilang, Sari bukan tipe wanita yang bisa mengimbangi hidup seorang prajurit. Papa tetap memaksa supaya aku nikah sama kamu.”
Aditya menoleh, menatap Diandra dengan binar sayang. “Papa bilang, ‘Dit, nikahlah sama anaknya Om Surya. Dia dokter, dia mengerti duniamu. Kamu nggak akan menyesal.’ Dan ternyata benar, ucapan orang tua itu manjur.”
”Manjur gimana?” goda Diandra.
”Ya manjur. Buktinya sekarang aku sudah bertekuk lutut sama si dokter cantik ini. Dokter yang sudah mengalihkan duniaku sejak di perbatasan.” Aditya tersenyum manis, membuat Diandra tersipu malu.
”Ih, gombalnya keluar lagi! Kayaknya demam kemarin bikin saraf romantis Mas putus ya?” ledek Diandra sambil mencubit perut Aditya.
”Bukan putus, tapi baru tersambung dengan benar!” Aditya tertawa, lalu mengeratkan pelukannya.