Posted in

Dibuang oleh kakakku karena dianggap ojol miskin, aku ditumbalkan menggantikan posisinya setelah uang panaik satu miliar habis ludes di tangan orang tua kami. Kakakku begitu bangga menjadi istri polisi bintara, tanpa pernah dia tahu kalau suamiku yang selalu ia hina itu sebenarnya…

Saat Galang dan Giana masuk ke k a m a r, interaksi di dalam k a m a r itu terasa canggung, tapi anehnya tidak membuat Giana ingin kabur. Ada jeda-jeda yang tidak diisi kata, ada jarak yang masih terasa jelas, namun di sela semua itu, ada sesuatu yang pelan-pelan berubah.

Lalu Giana tiba-tiba keluar k a m a r tanpa banyak bicara. Pintu tertutup pelan di belakangnya, meninggalkan Galang yang masih duduk di tepi r a n j a n g dengan t u b u h yang terasa b e r a t.

Lima menit kemudian, Giana kembali.
Di tangannya ada secangkir teh hangat yang masih mengepul.

Ia melangkah masuk dengan hati-hati, seolah takut mengganggu sesuatu yang belum ia pahami.

“Hmm… aku tahu Kakak capek,” ucapnya pelan sambil meletakkan cangkir itu di atas nakas kayu yang sedikit miring. “Minum teh dulu.”

Galang tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap cangkir itu sebentar, lalu beralih ke wajah Giana.

Ada sesuatu yang terasa asing.

Perhatian sederhana seperti itu bukan hal yang sering ia terima. Hidupnya selama ini terlalu terbiasa dengan ritme k e r a s, ia tumbuh dalam keluarga kaku yang tak terbiasa memberi dan menerima perhatian, dalam tugas dalam pekerjaannya pun, ia terbiasa dengan lingkungan yang menuntut, bukan memberi.

Ia tidak tahu harus merespons bagaimana, ia hanya meminum teh itu sedikit lalu mengucap terima kasih dengan pelan.

Saat Galang hendak membuka resleting jaket ojolnya, Giana melangkah mendekat.
Gerakan itu membuat Galang refleks menahan napas.

Ia tidak menghindar, tapi jelas tidak siap.

Namun Giana tidak melakukan hal yang ia bayangkan.

Tanpa banyak bicara, gadis itu membantu melepaskan jaket lusuh dari pundaknya dengan gerakan yang tenang, seolah itu hal biasa.

“Ini aku cuci ya,” katanya ringan. “Nanti sore pas Kakak bangun sudah kering.”

Tangannya sudah lebih dulu mengambil jaket itu sebelum Galang sempat bereaksi.

Galang terdiam.

Ia hanya bisa mengikuti dengan pandangan saat Giana berbalik keluar k a m a r, membawa jaket itu seperti membawa sesuatu yang memang sudah menjadi tanggung jawabnya.

Beberapa menit kemudian, Giana kembali.
Galang sudah merebahkan diri, tapi matanya masih terbuka.

Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa lembar u a n g merah, lalu menarik tangan Giana tanpa banyak penjelasan.
U a n g itu ia letakkan di telapak tangan gadis itu.

“Kamu makan aja ya,” ucapnya pelan. “Aku tadi sudah makan di jalan. Ini buat u a n g ojek ke kampusmu, sekalian buat jajan.”

Ia berhenti sebentar, menahan kantuk yang mulai menarik kesadarannya.
“Maaf ya, aku nggak bisa antar. Aku ngantuk banget. Kalau u a n g nya habis, minta aja lagi. Terserah kamu mau pakai buat apa.”

Mata Giana melebar.

Bukan karena jumlahnya.

Tapi karena cara itu diberikan.

Tanpa diminta.

Tanpa disuruh.

Tanpa harus ia perjuangkan seperti biasanya.

Namun sebelum ia sempat berkata apa pun, Galang sudah memejamkan mata.
Napasnya berubah teratur, t u b u h nya langsung tenggelam dalam t i d u r yang dalam.

Ia benar-benar kelelahan.

Giana berdiri beberapa detik di tempatnya, masih memegang u a n g itu.

Lalu perlahan ia menatap pria yang kini t e r t i d u r di r a n j a n g nya.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian di k a m a r itu. Bahkan tidak merasa sendirian lagi dalam hidupnya yang sepi.

Malam harinya, suasana rumah Adrian kembali ke pola lamanya.

Giana duduk di meja makan bersama mereka.

Bukan karena dipanggil. Hal yang mustahil Rani memanggilnya ikut duduk makan bersama.

Tapi karena dipanggil oleh Viora—dan Giana tahu itu bukan karena kebaikan.

“Lihat tuh di depan, Gi,” ujar Viora sambil menunjuk ke arah teras dengan dagunya.
Sebuah motor NMAX baru berwarna hitam mengkilap terparkir di sana, kontras dengan suasana r u m a h yang biasa.

“Andika, pacarku yang kasih,” lanjutnya dengan nada bangga. “Ya… d i c i c i l sih, tapi kan dia yang b a y a r tiap bulan.”

Giana hanya mengangguk pelan sambil menyuap nasi.

Ia tidak benar-benar tertarik.

Ia hanya tidak ingin memancing sesuatu.
Namun dalam hati, ia mulai menyadari sesuatu.

Viora sekarang sering sekali berbicara padanya.

Bahkan menunjukkan sesuatu, seperti sengaja pamer.

Padahal dulu, ia bahkan tidak dianggap cukup penting untuk diajak bicara.

“Memang beda ya, Ma, kalau punya pasangan mapan,” sambung Viora, yang langsung disambut anggukan setuju dari Rani dan Adrian.

Nama Andika kembali dielu-elukan, seolah pria itu adalah solusi dari semua masalah mereka.

Giana tetap diam.

Sampai suara motor lain terdengar dari luar.

Galang masuk hampir bersamaan dengan Andika yang juga datang bertamu.

Di tangannya ada kantong plastik dari salah satu kedai burger terkenal di Seminyak. Aroma makanan itu langsung menyebar, dan Giana mengenalinya dengan cepat.

Itu makanan yang ia suka. Tanpa perlu diberi tahu.

Viora sempat melirik, tapi langsung mengalihkan perhatian ke Andika.

“Baby,” ucapnya manja, “aku tadi bilang ke Papa sama Mama kalau kamu ny i c i l i n motor buat aku.”

Galang yang sedang mengeluarkan isi kantong itu tiba-tiba mengeluarkan suara kecil seperti menahan tawa.

Tidak k e r a s.

Tapi cukup untuk terdengar.

Viora langsung menoleh t a j a m.

“Kenapa?” tanyanya s i n i s. “Iri? Baru bisa beliin sarapan hotel aja sudah merasa hebat. Nih, Andika kasih aku motor. Kamu bisa kasi apa ke istrimu selain makanan?”

Galang mengangkat wajahnya, ekspresinya santai seperti biasa.
“Wah, selamat ya,” ucapnya ringan.
Terlalu ringan.

Sampai terdengar seperti sindiran.

Andika yang berdiri di samping Viora langsung merasa tersenggol. Tatapannya berubah, menilai Galang dari atas ke bawah dengan jelas.

“Hati-hati dengan ucapan kamu,” bentaknya dengan nada tinggi.

Galang berhenti bergerak.
Ia meletakkan bungkus makanannya perlahan, lalu menegakkan t u b u h nya.

Tatapannya beralih ke Andika.

Datar.

Tapi dingin.

“Kenapa?” tanyanya pelan.

Ia melangkah satu langkah mendekat. Tidak terburu-buru. Tapi cukup untuk membuat jarak itu terasa berbeda.

“Seharusnya kamu yang lebih hati-hati, Bripda Andika,” lanjutnya, suaranya tetap rendah. “Jangan sampai c i c i l a n motormu lebih panjang daripada masa berlaku seragam yang kamu banggakan itu.”

Ruangan itu langsung berubah.

Andika terdiam.

Bukan karena tidak punya jawaban.
Tapi karena ia merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Kalimat itu bukan sekadar sindiran.
Itu terdengar seperti peringatan.

Dan cara Galang mengatakannya… terlalu tenang untuk seorang pria yang hanya terlihat seperti tukang ojek.

Tengkuk Andika meremang.

Ada aura yang ia kenal.

Aura yang biasanya hanya ia rasakan saat berdiri di hadapan perwira yang jauh di atasnya.

Dan itu membuatnya tidak berani melanjutkan.

Di sisi lain meja, Giana menatap Galang tanpa sadar.

Ada banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya.

Tentang sikapnya. Tentang caranya berbicara.

Tentang bagaimana seorang pria seperti Andika bisa langsung kehilangan suara hanya karena satu kalimat.

Siapa sebenarnya pria ini?

Dan kenapa, semakin lama, ia justru merasa… semakin tidak sederhana?

Baca selengkapnya di Aplikasi KBM