Posted in

“Istri nggak tahu diuntung! Cuma disiram kuah bakso saja semarah itu. Siapa suruh datang ke kantor dengan tampang babu?” makiku dalam hati sambil menyetir kasar.

Istri CEO Kusiram Kuah Bakso 5

​Sial! Benar-benar sial!

​Aku menggerutu sepanjang jalan sambil menyetir dengan kasar.

Gara-gara Mila mogok, penampilanku hari ini hancur total. Kemeja bermerekku kusut seribu lipatan karena tidak disetrika. Aku terpaksa mengaduk-aduk lemari hanya untuk mencari kaos kaki yang ternyata terselip entah di mana.

​Perutku keroncongan, perih. Biasanya sarapan sudah tertata rapi di meja, tapi pagi ini? Jangankan nasi, air putih pun aku harus tuang sendiri. Akibatnya, aku kesiangan dan kena potong gaji karena terlambat masuk kantor.

​”Istri nggak tahu diuntung. Cuma perkara kusiram kuah bakso saja semarah itu. Padahal itu kan salah dia sendiri! Siapa suruh datang ke kantor dengan tampang babu begitu? Dia yang mempermalukanku, kenapa dia yang merasa jadi korban?” maki ku dalam hati.

​Baru saja aku melangkah masuk ke ruangan, Tio sudah menyambutku dengan tawa mengejek.

​”Waduh, Pak Manager! Kok kusut amat hari ini? Itu kemeja atau pangsit? Kucel amat. Biasanya licin kayak perosotan,” ledek Tio sambil menunjuk kemejaku yang penuh kerutan.

​Aku mendengkus, membanting tas ke atas meja kerja. “Diem lo. Lagi apes gue.”

​”Tumben kesiangan. Pasti asyik sleepcall sama Vera ya? Sampai lupa waktu?” Tio mengerling meledek.

​”Ck. Ini gara-gara si Mila. Istri gue itu makin hari makin ngelunjak,” rutukku kasar.

​”Istri lo? Maksudmu perempuan dasteran yang kemarin lo siram bakso itu?”

​Aku mengangguk malas. Rasanya mau kutaruh wajahku di dalam laci setiap kali ingat penampilannya kemarin. Memalukan! Manager keren sepertiku punya istri yang baunya seperti bawang goreng.

​”Haha! Gue kira asisten rumah tangga lo, Ko. Serius, gue nggak nyangka selera lo turun drastis. Riko yang modis, punya istri kucel modal daster murahan. Ya panteslah lo ‘jajan’ di luar sama Vera. Siapa juga yang betah lama-lama lihat istri macam begitu.”

​”Nah! Itu lo tahu!” Aku menyambar kursi, duduk dengan angkuh. “Gue sudah suruh dia dandan, tapi emang dasarnya dia malas. Pemalas akut! Alasannya klasik: uang kurang. Padahal setiap bulan sudah kukasih satu juta bersih. Itu sudah banyak banget buat dia yang cuma duduk diam di rumah!”

​Tio melotot, matanya hampir keluar. “Hah? Sejuta? Lo kasih istri lo cuma sejuta sebulan, Ko?”

​”Iya. Sejuta itu besar, cuy! Nyari duit zaman sekarang susah. Dia enak tinggal di rumah, goyang kaki, dapat sejuta gratis. Kurang nikmat apa coba jadi dia?” sahutku santai, merasa sangat dermawan.

​”Gila lo, Ko! Sejuta zaman sekarang dapet apa? Skincare Vera saja lebih dari itu, kan? Gaji lo dua digit, bisa-bisanya lo cuma kasih sejuta buat urusan rumah?”

​”Alah! Itu sih pinter-pinternya dia saja ngatur uang. Ibu gue dulu nggak pernah dikasih uang sama Bapak, buktinya gue sama Mbak Rumi bisa hidup sampai sekarang. Mila-nya saja yang boros!”

​”Terus, Ibu sama kakak lo… lo jatah berapa?” tanya Tio penasaran.
​”Kalau mereka beda, mereka kan keluarga kandung. Ibu gue kasih dua juta, Mbak Rumi dua juta. Kadang Mbak Rumi minta tambahan kalau Delon butuh sepatu atau mainan baru. Wajarlah, mereka tanggung jawab utama gue sebagai laki-laki.”

​Tio menatapku seperti melihat alien. “Bisa-bisanya lo, Ko… Istri gue yang gue kasih hampir semua gaji saja masih suka protes kalau harga cabai naik. Apalagi Mila? Kalau aja Jihan yang jadi istri lo dan cuma lo kasih sejuta, mungkin kepala lo sudah digeprek pake ulekan.”

​”Halah, itu mah lo saja yang terlalu memanjakan istri. Makanya dia jadi ngelunjak. Istri itu jangan dimanja, nanti besar kepala kayak Mila!”

​Aku bersandar di kursi empukku. Pikiranku melayang ke masa lalu. Dulu, kuakui Mila cantik sekali. Kulitnya bersih, mulus, bahkan jerawat saja takut menempel di wajahnya. Bertemu Mila seperti melihat bidadari jatuh dari khayangan. Itu sebabnya dulu aku mati-matian mengejarnya.

​Tapi sekarang? Hancur. Sejak punya Laras, dia tidak lagi menarik. Lebih sering pakai daster batik bau matahari. Wajahnya berminyak, kusam, bahkan mulai jerawatan. Hobinya cuma satu: mengeluh soal uang, uang, dan uang. Bikin muak!

​Untung saja di kantor aku punya Vera. Meski tidak secantik Mila yang dulu, tapi Vera tahu cara memanjakan mataku. Bodinya semok, bajunya selalu ketat menggoda, dan yang penting… dia nggak pernah minta uang belanja kepadaku.

​”Mila… Mila… kalau kamu nggak mau berubah, jangan salahkan aku kalau posisi ‘Istri Manager’ ini bakal digantikan orang lain,” batinku penuh kemenangan.

“Loh, mas Riko kok baru dateng?”

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Yang diomongin muncul. Seketika raut kusutku berubah menjadi senyum lebar. Melihat kedatangan Vera, Tio langsung pergi.

“Mas kejebak macet tadi, Ver.”
“Kasiannya. Pantesan kemejanya sampai kusut begini,” Vera menyentuh kemejaku.
“Iya, makanya kesiangan. Kamu sudah sarapan?”
“Sudah. Mas Riko?”
“Belum aku, Ver. Temenin sarapan yuk.”
“Ayo!”

Vera menggandeng tanganku. Ah, enaknya jadi manager. Perempuan manapun mudah jatuh ke pelukanku.

​Kamu kira aku akan takut dengan ancaman perceraianmu, Mila? Jangan harap! Kamu itu hanya kerikil yang menghalangi sepatu mahalku. Lihat saja, baru saja aku mengabaikanmu, Vera wanita berkelas yang jauh lebih modis darimu sudah setia menemani di sampingku.

​”Mas Riko, makan siang apa kita hari ini? Bakso lagi?” suara Vera menggelayut manja di lenganku saat kami keluar dari gedung kantor. Aroma parfumnya seolah menghapus sisa-sisa bau bawang yang tertinggal di ingatanku tentang rumah.

​”Jangan, Ver. Agak jauhan dikit yuk, Mas mau manjain kamu,” sahutku sambil mengelus tangannya.

​”Tapi nanti kalau ketahuan gimana?”
​Aku tertawa sombong, merapikan kerah kemejaku. “Aman. Managernya kan aku, Ver. Kamu tenang saja, siapa yang berani lapor?”

​Kulajukan motor besarku dengan kecepatan tinggi, membiarkan Vera memeluk pinggangku erat. Aku ingin dunia tahu bahwa pria sesukses aku layak mendapatkan pendamping yang molek, bukan daster kusam.

​Kami sampai di sebuah rumah makan eksklusif. Aku memilih tempat paling sudut, area privat yang cocok untuk bermanja-manja tanpa gangguan.

​”Pesan apa, Sayang?” tanyaku lembut.
​”Apa ya, Mas… aku sudah sarapan sih. Pesan makanan ringan saja,” sahut Vera dengan nada menggemaskan.

​Aku baru saja hendak memanggil pelayan, saat kulihat wajah Vera berubah heran. Matanya tertuju pada meja di dekat jendela besar yang menghadap taman.

​”Mas… bukannya itu perempuan yang kemarin ya? Kalau nggak salah, itu istrimu, kan? Sama siapa dia? Kok laki-lakinya sudah tua?”

​Darahku mendidih seketika. Aku menoleh dengan cepat.

Dan benar saja! Di sana, di meja paling mahal, Mila duduk dengan sangat anggun. Rambutnya tergerai rapi, dia memakai baju yang tampak jauh lebih mahal dari semua pakaian yang pernah kubelikan. Di depannya, duduk seorang pria tua berpakaian sangat rapi dan berwibawa.

​Dadaku bergemuruh. Sialan! Baru kemarin dia berlagak suci, hari ini dia sudah berani kencan dengan pria tua? Pantas saja dia berani membuang uang pemberianku dan beli daging premium! Ternyata dia punya “gadun” sebagai sandarannya!

​BRAK!

​Aku menggebrak meja hingga beberapa pelanggan menoleh.

​”Sialan!” maki ku kasar.
​”Mas, mau ke mana? Mas Riko!”

​Kuabaikan panggilan Vera. Aku melangkah lebar, menghampiri meja mereka dengan emosi yang sudah di ubun-ubun. Rasa malu karena diselingkuhi istri yang aku anggap bukan siapa-siapa membuat akal sehatku hilang.

​”Ooh… jadi ini kelakuanmu di belakangku, Mila? Dasar istri durhaka! Tidak tahu malu!” bentakku tepat di hadapannya.

​Mila menatapku terkejut. Garpu yang ia pegang sempat tertahan di udara.

Mampus kamu Mila! Kubuka kedokmu disini.