“Keluar dari rumah ini kalau tidak bisa menghormati ibuku!”
Suara Arga menggema di ruang tamu.
Di belakangnya, ibu mertuaku berdiri sambil melipat tangan dengan senyum kemenangan.
Seolah-olah ia baru saja memenangkan perang yang sudah lama direncanakan.
Aku menatap koper yang dilemparkan ke dekat kakiku.
Pakaian-pakaianku berhamburan keluar.
Beberapa foto keluarga bahkan jatuh dan pecah.
Namun tidak ada satu pun yang berusaha menghentikan semua itu.
Tidak Arga.
Tidak ibu mertuaku.
Tidak pula adik iparku yang sedang merekam diam-diam dengan ponselnya.
Mereka tampak menikmati pemandangan itu.
Seperti sedang menonton pertunjukan yang sudah lama mereka tunggu.
“Kenapa diam?” tanya ibu mertuaku sinis.
“Akhirnya sadar juga kalau rumah ini bukan tempatmu?”
Aku menatap wanita yang selama tujuh tahun terakhir selalu menemukan cara untuk merendahkanku.
Apa pun yang kulakukan selalu salah.
Ketika aku bekerja membantu keuangan keluarga, katanya aku terlalu ambisius.
Ketika aku berhenti bekerja demi mengurus anak, katanya aku hanya menumpang hidup.
Ketika aku membeli mobil baru untuk keluarga, mereka memuji Arga.
Ketika aku melunasi utang rumah, mereka menyebut Arga sebagai suami yang bertanggung jawab.

Aku selalu menjadi bayangan.
Orang yang bekerja diam-diam agar semua terlihat sempurna.
Dan Arga membiarkannya.
Bahkan menikmatinya.
Hari itu semuanya bermula karena makan siang keluarga.
Ibu mertuaku kembali membandingkan putraku dengan anak adik ipar.
“Kamu harus belajar dari sepupumu.”
“Kamu tidak sepintar dia.”
“Kamu tidak setampan dia.”
Kalimat demi kalimat terus keluar.
Sampai akhirnya putraku yang berusia sembilan tahun menundukkan kepala dan berhenti makan.
Untuk pertama kalinya aku menegur.
Dengan sopan.
Dengan tenang.
Tetapi ibu mertuaku langsung menangis.
Dan seperti biasa, Arga berdiri di pihak ibunya.
“Aku tidak peduli siapa yang mulai.”
“Kamu harus minta maaf pada Mama.”
Aku menolak.
Dan itulah alasan koperku sekarang berada di depan pintu.
“Ayo keluar.”
kata Arga dingin.
“Aku sudah muak.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Lalu mengangguk pelan.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada permohonan.
Aku hanya mengambil koper dan menggandeng tangan putraku.
Sebelum pergi, aku sempat melihat senyum puas di wajah mereka.
Mereka benar-benar percaya bahwa mereka baru saja mengusir wanita yang tidak memiliki apa-apa.
Padahal kenyataannya sangat berbeda.
Karena selama tujuh tahun terakhir, seluruh cicilan rumah itu dibayar dari perusahaanku.
Rumah itu memang atas nama Arga.
Tetapi ada satu fakta yang tidak pernah diketahui siapa pun.
Termasuk suamiku sendiri.
Fakta yang kusimpan karena terlalu percaya pada pernikahan kami.
Sore itu aku menginap di hotel bersama putraku.
Saat kami sedang makan malam, ponselku bergetar.
Pesan dari pengacara.
“Semua dokumen sudah diproses.”
“Perubahan kepemilikan dan eksekusi perjanjian telah disetujui.”
Aku membaca pesan itu berulang kali.
Lalu tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
Sementara itu, puluhan kilometer dari tempatku berada, keluarga suamiku sedang merayakan keberhasilannya mengusirku.
Mereka bahkan mengadakan makan malam kecil di rumah.
Mengundang beberapa kerabat.
Tertawa.
Mengejekku.
Dan membahas bagaimana Arga akhirnya “menjadi kepala keluarga yang tegas.”
Sampai bel rumah berbunyi.
Seorang pria bersetelan rapi berdiri di depan pintu.
Membawa map hitam tebal.
Awalnya mereka mengira itu kurir.
Namun beberapa menit kemudian…
Wajah Arga mendadak berubah pucat.
Gelas di tangannya jatuh ke lantai.
Ibu mertuaku langsung berdiri.
“Ada apa?”
tanyanya panik.
Arga tidak menjawab.
Tangannya gemetar saat membaca dokumen yang baru diterimanya.
Lalu perlahan ia mengangkat kepala.
Menatap pria di depannya.
Dan mengucapkan satu kalimat yang membuat seluruh ruangan membeku.
“Tidak mungkin…”
“Rumah ini… ternyata bukan milikku?”
Dan tepat saat itu, pria bersetelan rapi tersebut menyerahkan satu lembar dokumen terakhir.
Dokumen yang membuat ibu mertuaku menjerit histeris di depan semua tamu.
Karena nama yang tertera sebagai pemilik sah seluruh aset keluarga mereka ternyata adalah…
Aku.
Dan yang lebih mengejutkan lagi…
Di halaman berikutnya terdapat nama seseorang yang selama ini mereka kira sudah meninggal lima tahun lalu…