“Kamu nampar aku?”
Dina berteriak marah.
“Berani kamu nampar aku?”
“Kenapa nggak berani, Mbak?” tanya Dini, memasang wajah bingung. “Mbak aja berani ambil suamiku. Kenapa aku nggak berani buat nampar Mbak Dina?”
Wajah Dina semakin memerah. Entah karena marah, entah karena malu.
“Oh, jadi kamu masih sakit hati karena Mas Bima nikah sama aku?” teriak Dina. “Salah kamu sendiri karena nggak bisa kasih anak buat Mas Bima! Memangnya kamu pikir laki-laki nikah itu hanya untuk hidup berdua?”
Dini mendengarkan tanpa memasang ekspresi berarti. Beberapa orang sudah masuk ke dapur setelah mendengar teriakan Dina.
“Laki-laki itu menikah karena pengen punya anak, Din. Kamu nggak bisa ngasih keturunan buat Mas Bima, wajar ajalah Mas Bima cari perempuan lain yang udah jelas bakal bisa kasih dia anak,” lanjut Dina tajam.
“Gitu ya?” ucap Dini, memasang wajah polos. “Kalau emang gitu, terus kenapa mantan suami Mbak Dina justru ninggalin Mbak setelah Mbak melahirkan anaknya?”
Wajah Dina semakin memerah mendengarnya.
“Kamu semakin kurang ajar ya, Din,” teriak Dina marah. “Bener-bener yak amu. Pantes aja kamu ditinggalin sama Mas Bima! Istri kurang ajar macam kamu emang pantes buat ditinggalin!”
Dina melangkah maju dan langsung memberi satu tamparan pada Dini. Kedua saudara sepupu itu kemudian bertengkar dengan saling memegang kepala. Dina menarik hijab Dini, sementara Dini berusaha mempertahankan hijabnya.
Orang-orang yang melihat berupaya untuk melerai, namun keduanya benar-benar bisa dipisahkan saat Fathan datang dan langsung menarik Dini agar Dina tidak lagi menarik kepalanya.
“Kenapa ini?” tanya salah seorang tetua dalam keluarga Fathan. “Kenapa malah bertengkar di hari baik begini?”
Dina merapikan rambutnya yang kini terlihat acak-acakan setelah ditarik oleh Dini.
“Dini terlalu ambil hati sama perkataanku,” kata Dina, jelas ingin membela diri. “Padahal aku cuma bercanda buat cairin suasana.”
“Bercandaan macam apa yang sampai ngatain orang lain mandul, Mbak?” tanya Dini tajam, matanya kini tampak berkaca-kaca. “Kalau Mbak emang bercanda, harusnya kita bisa ketawa sama-sama. Kalau satu orang yang ketawa dan merasa lucu, itu namanya menghina, Mbak. Bukan bercanda.”
Hening menyusul perkataan Dini. Orang-orang di dapur kini menatap Dina yang tampak kehabisan kata-kata. Dina kemudian memberi satu pandangan tajam terakhir pada Dini sebelum berbalik dan mengambil Eza yang duduk sambil menikmati kuenya.

Dina pulang ke rumah dengan wajah kusut. Bima menatapnya bingung.
“Kenapa?” tanya Bima.
Dina melempar tasnya ke arah Bima dan berkata ketus, “Mantan istrimu tuh! Berani-beraninya nampar aku.”
Bima mengangkat alis, jelas saja heran dengan ucapan Dina barusan.
“Mas, aku nggak mau tahu ya. Kamu pokoknya harus bela aku! Kamu datengin Dini sekarang, dan suruh dia buat mohon-mohon buat minta maaf ke aku!”
“Ada apa sih, Yang?” tanya Bima, heran dan bingung. “Jelasin dulu masalahnya apa, biar aku bisa jelas juga kenapa harus suruh Dini buat minta maaf ke kamu.”
“Pokoknya kamu harus suruh dia mohon-mohon ke aku, Mas!” kata Dina dengan nada tidak bisa dibantah. “Kalau kamu nggak suruh dia mohon-mohon maaf ke aku, kita cerai aja sekarang! Istrimu direndahkan sama mantanmu, tapi kamu malah santai aja kayak gitu!”
Sudah tamat di KBM App
Judul: Pernikahan Penuh Dusta
Penulis: Tiffany Qotrunnada
Di grup pelanggan udah ada sampai part 35 yaa. Yuk mau gabung segera ya