“Darah dagingku, Ma?! Cucu kandung yang selalu Mama jadikan alasan untuk menghina istriku mandul setiap hari, ternyata Mama sendiri yang membuangnya ke tong sampah?!”
Suaraku pecah, melengking memantul di dinding kaca ruangan mewah ini. Dadaku terasa seperti dihantam godam ribuan ton. Udara di sekitarku mendadak raib, membuatku tercekik oleh kenyataan yang kelewat brutal ini.
Di bawah tatapanku, Mama yang masih terkapar di atas karpet tebal itu menggeleng panik.
Wajah keriputnya pias tak berdarah, bibirnya membiru menahan pasokan oksigen yang kian menipis ke jantungnya.
“M-Mama tidak tahu dia hamil, Ga! Sumpah, Mama tidak tahu!” rintih Mama, merangkak memegangi ujung sepatuku. Air matanya menetes mengotori kulit sepatuku yang berdebu.
“Dokter cuma bilang rahimnya hancur, Mama panik! Mama cuma mau menyelamatkan nyawanya, Ga!”
“Berhenti bersandiwara, Nyonya besar.”
Suara Hani mengalun selembut beludru, namun sanggup membungkam isak tangis Mama seketika.
Mantan istriku itu tidak beranjak dari kursinya. Ia hanya memberi isyarat kecil pada Wendi. Pengacara berjas navy itu dengan sigap melangkah maju, menjatuhkan sebuah map bening tepat di depan wajah Mama.
Di dalam map itu, terdapat salinan rekam medis berstempel resmi rumah sakit yang sudah menguning.
“Dokter menyodorkan hasil USG yang menunjukkan ada kantung janin berusia delapan minggu, dan Anda merobek kertas itu di depan dua perawat jaga,” ucap Hani membacakan fakta dengan ketenangan yang membekukan tulang.
“Anda menolak opsi operasi yang bisa menyelamatkan rahimku karena biayanya mahal. Anda justru memaksa dokter memotong habis rahimku malam itu juga, murni karena Anda ingin menghemat uang asuransi Mas Yoga agar bisa Anda pakai untuk foya-foya.”
Tubuhku luruh ke lantai. Lututku menghantam karpet dengan keras. Aku tak lagi bisa menahan gejolak di perutku.
Rasanya aku ingin memuntahkan seluruh isi perutku melihat monster berwujud ibu kandung yang selama ini kupuja setengah mati.
“Telan obatmu, Nyonya. Sebelum jantungmu benar-benar berhenti berdetak di ruanganku.”
Hani menggeser botol kecil itu lebih dekat ke arah Mama, menatapnya dengan pandangan sedingin es.
Dengan tangan bergetar hebat bak orang penderita parkinson, Mama membuka tutup botol itu.
Ia menuangkan secuil bubuk kecokelatan itu langsung ke mulutnya, menelannya dengan rakus tanpa bantuan air.
Beberapa detik kemudian, napasnya yang semula memburu perlahan mulai teratur. Ia menangis tersedu-sedu, memeluk botol kecil itu seolah itu adalah nyawanya sendiri.

Ia selamat. Iblis yang menghilangkan anakku ini masih diizinkan hidup.
Aku menunduk dalam-dalam, tak berani menatap wajah Hani.
“Bawa polisi kemari, Han,” bisikku putus asa. Air mataku menetes membasahi karpet mahal di bawahku.
“Penjarakan kami berdua. Kami pantas membusuk di balik jeruji besi. Lakukan apa saja yang bisa membuat luka di hatimu sedikit sembuh.”
Terdengar suara kursi yang digeser. Hani bangkit dari duduknya. Langkah hak tingginya terdengar mendekat, berhenti tepat di depanku yang masih bersimpuh tak berdaya. Ujung sepatu mahalnya menyentuh lututku.
“Polisi? Penjara?” Hani tertawa pelan, tawa yang tak menyiratkan kegembiraan sama sekali.
“Itu terlalu nyaman, Mas Yoga. Di penjara, kalian masih bisa tidur di atas kasur gratis dan makan tiga kali sehari dari uang pajak negara. Aku tidak akan membiarkan kalian lepas semudah itu.”
Aku mendongak, menatap wajah cantik yang kini terasa sangat jauh tak tergapai.
“Lalu, apa yang kau inginkan, Han?”
Hani tersenyum miring. Ia menatap Ibumu yang masih gemetar memeluk botol obat di lantai, lalu kembali menatapku dengan sorot mata yang menggelapkan seluruh masa depanku.
“Obat di tangan Ibumu itu hanya cukup untuk tiga hari,” ucap Hani dengan nada pelan dan mematikan.
“Di hari keempat, kalau Nyonya besar ini masih ingin bernapas, kalian berdua harus datang ke dapur pabrik rotiku setiap subuh. Masuk lewat pintu belakang yang gelap, pakai celemek paling kusam, dan uleni adonan kue dengan tangan kosong kalian sendiri sampai kapalan dan melepuh.”
Napas Mama tercekat mendengar syarat itu.
“Setiap seribu adonan yang berhasil tangan rapuh Ibumu uleni, akan kutukar dengan satu takaran bubuk nyawa untuk hari itu,” lanjut Hani, mencondongkan wajahnya menatap kami dengan kepuasan yang absolut.
“Selama tiga tahun Ibumu menghina bau tepung dan keringat di tubuhku. Sekarang mari kita lihat, seberapa lama Nyonya besar yang angkuh ini sanggup merangkak dan mencium bau keringatnya sendiri demi memperpanjang nyawanya satu hari lagi.”