Sejak saat itu istriku tak lagi cemburu, bahkan dia melakukan sesuatu yang membuatku tercengang. Ternyata dia …..
“Amira! Apa yang kamu lakukan?!”
Saga merangsek masuk dengan napas memburu. Matanya tertuju pada koper terbuka dan botol kecil di tangan Amira. Namun, dengan gerakan yang sangat tenang Amira menutup koper itu dan menyelipkan lembaran kertas bermaterai ke sela-sela pakaian di dalamnya. Ia menyimpan botol cairan itu di atas nakas, seperti tidak pernah terjadi hal yang mencurigakan.
Saga berdiri mematung di tengah kamar.
“Tadi itu kertas apa, Mir? Dan untuk apa koper itu terbuka? Kamu mau ke mana?”
Amira tidak langsung menjawab. Ia berdiri, merapikan sedikit pakaiannya yang kusut, lalu menatap Saga dengan tatapan yang membuat pria itu merasa seperti sedang menatap dinding batu yang dingin.
“Bukan apa-apa, Mas. Hanya merapikan barang sisa yang belum hangus,” jawab Amira singkat.
Saga melangkah maju, tangannya terjulur hendak menyentuh bahu Amira. Ada rasa bersalah yang menggunung di dadanya, ingin sekali ia memeluk istrinya dan memohon agar Amira kembali menjadi wanita yang hangat seperti dulu.
“Mir, Mas mohon, jangan begini. Bicara padaku—”
“AAAAAAKH! SAGA! TOLONG!”
Sebuah teriakan melengking dari arah dapur memotong kalimat Saga. Suara Dea terdengar penuh penderitaan, disusul bunyi benda jatuh yang keras.
Wajah Saga seketika pucat pasi. Tanpa berpikir dua kali, ia menarik kembali tangannya dari Amira dan berbalik arah.
“Dea!” teriaknya panik.
Langkah kaki Saga terdengar terburu-buru, hampir berlari meninggalkan kamar Amira demi menuju sumber suara.
Amira berdiri diam di ambang pintu kamarnya. Ia melihat punggung suaminya yang menjauh dengan kecepatan penuh, kecepatan yang tidak ia dapatkan saat rumah mereka terbakar beberapa hari lalu.
Sebuah senyum kecil, sangat tipis dan miris terukir di bibir Amira.
“Begitu cepat kamu berlari untuknya, Mas,” bisik Amira pada keheningan kamar.
Perut Amira terasa perih, pengingat bahwa ia belum makan apa pun sejak keluar dari rumah sakit pagi tadi.
Dengan langkah pelan dan raut wajah tanpa emosi, ia berjalan menuju dapur.
Di sana pemandangan dramatis tersaji. Dea terduduk di lantai dekat kompor, memegangi pergelangan tangannya yang memerah. Sebuah panci kecil terguling di dekatnya, air panas menggenangi lantai. Saga berlutut di samping Dea, meniup-niup tangan wanita itu dengan wajah yang lebih hancur daripada saat melihat rumahnya terbakar.

“Dea! Kenapa bisa begini?” Saga terlihat sangat cemas, tangannya gemetar saat mencoba memeriksa luka Dea.
“Maaf, Saga … a-aku tadi ingin membuatkan teh jahe untukmu agar kamu tenang setelah bicara dengan Amira,” ucap Dea sambil terisak kecil. Matanya yang bulat tampak sangat rapuh, menatap Saga seolah pria itu adalah satu-satunya pelindung di dunia ini.
“Tapi tanganku mendadak lemas, aku … aku masih sering gemetar kalau ingat kejadian malam itu.”
Dea menyandarkan kepalanya di bahu Saga, membiarkan suaminya merengkvh tubvhnya untuk menenangkan isak tangisnya. Ia sengaja memosisikan diri sedemikian rupa sehingga saat Amira masuk ke dapur, ia bisa melirik ke arah Amira dari balik pundak Saga.
Amira masuk ke area dapur seolah-olah dua orang yang sedang berpelukan itu hanyalah bagian dari furnitur rumah. Ia tidak bertanya, tidak menolong, bahkan tidak melirik sedikit pun pada tangan Dea yang memerah. Amira hanya membuka kulkas, mengambil sepotong roti tawar, lalu duduk di kursi meja makan yang tepat menghadap ke arah mereka.
Saga mendongak, menatap Amira dengan tatapan tidak percaya. “Amira! Kamu tidak lihat Dea terluka? Ambilkan es batu atau apa saja! Dia begini karena ingin membuatkan teh untukku!”
Amira mengunyah rotinya perlahan, matanya menyorot kosong. “Ada es di kulkas. Ambil saja sendiri, Mas. Kan tanganmu tidak kena air panas.”
“Amira! Di mana hati nuranimu?!” bentak Saga, suaranya menggelegar di dapur yang baru itu.
“Saga, sudah. Jangan marahi Amira,” sela Dea dengan suara li r i h yang dibuat-buat seolah dia sedang melindungi Amira.
“Dia mungkin masih syok. Aku tidak apa-apa, sungguh, biar aku tahan sakit ini sendiri.”
Dea semakin merapatkan tubuhnya pada Saga, jemarinya meremas kemeja Saga dengan kuat.
Saga yang merasa Dea sangat baik karena masih membela istrinya yang dingin justru semakin merangkul Dea erat.
Amira menyelesaikan potongan terakhir rotinya. Ia berdiri, mencuci tangannya di wastafel, lalu berbalik hendak kembali ke kamar. Namun, langkahnya terhenti saat matanya tak sengaja menangkap sebuah amplop cokelat yang terselip di bawah tas milik Dea di atas meja konter dapur.
Amplop itu tidak tertutup rapat. Dari celahnya, terlihat secarik kertas dengan kop surat sebuah firma hukum yang sangat Amira kenal.
Yang membuat Amira terpaku adalah sebuah nama yang terketik jelas di sana.
Amira menatap Dea dari kejauhan, ada kilat di mata Amira. Bukan amarah, melainkan sebuah temuan yang mengejutkan.
“Wanita sam-pah memang pantas dengan pria sam-pah!”
Amira tersenyum kecil, lalu melangkah menjauh sambil bergumam pelan, “Ternyata ada rahasia besar.”