Posted in

Aku selalu menolak ajakan nikah dari pacarku karena keluargaku tidak ingin aku melangkahi kakakku. Namun, tiba-tiba, temanku mengirim pesan kalau pacarku dan keluarganya datang membawa rombongan seolah melamar. Saat aku keluar kamar, rupanya keluargaku pun sudah mempersiapkan sesuatu.

Aku selalu menolak ajakan nikah dari pacarku karena keluargaku tidak ingin aku melangkahi kakakku. Namun, tiba-tiba, temanku mengirim pesan kalau pacarku dan keluarganya datang membawa rombongan seolah melamar. Saat aku keluar kamar, rupanya keluargaku pun sudah mempersiapkan sesuatu. Aku pikir, mereka sengaja memberikan kejutan untukku, tapi ternyata yang dilamar malah kakakku. Aku marah besar, tapi mereka malah mengusirku. Sampai akhirnya, seseorang bilang.

“Biarkan dia di sini, aku yang akan melamarnya.”

‘Ras, kamu lamaran, kok, nggak bilang-bilang, sih, sama aku? Gila, seserahanya banyak banget lagi. Udah kayak yang mau nikahan ini mah.’

Mataku yang masih setengah terpejam karena semalaman begadang, seketika terbuka dengan sempurna.

“Lamaran? Siapa yang mau lamaran?”

Aku tersentak. Buru-buru aku memposisikan diri untuk duduk.

‘Ya, kamulah, siapa lagi?’ Suara Tita di sebrang sana terdengar serius. ‘Tadi aku liat A Bagas-Bagasmu, itu. Dia sama rombongan keluarganya lewat depan rumahku. Asli, Ras. Seserahannya banyak banget, aku sama orang-orang di sini, sampe ngira kamu mau nikahan.’

Aku meneguk ludah susah payah, berusaha mencerna apa yang sedang terjadi saat ini. “Kamu salah liat kali, Ta. Kamu ‘kan tahu sendiri, Ibu sama Bapak ngelarang aku ngarunghal Teh Sekar. Makanya, bangun tidur itu langsung cuci muka, bukannya liat ponsel, pasti liat fyp video orang dan ngarang aneh-aneh kamu, kan?”

‘Aku serius, Ras. Aku yakin, kok, nggak salah liat. Lagian, ini tuh udah siang. Jam sepuluh Rarasati …!’ pekik Tita membuatku seketika menjauhkan ponsel dari telinga. ‘Teserah, deh, kalau kamu nggak percaya. Palingan kamu nanti kaget, rambut masih kayak singa, eh, calon suami datang sama keluarganya.’

Baru saja aku akan membalas perkataan Tita, tiba-tiba panggilan telpon itu dimatikan sepihak.

Aku diam. Alisku seketika terangkat. Lamaran? Mana mungkin. Bagas tahu betul bahwa keluargaku melarang keras melangkahi pernikahan. Itu sebabnya selama ini aku selalu menolak ajakan nikah darinya. Namun, untuk memastikan rasa penasaran, aku pun terpaksa melakukan panggilan telpon pada Bagas.

Satu, dua, sampai tiga kali panggilan. Nomornya tetap tidak aktif.

Entah kenapa, tiba-tiba aku jadi panik. Kalau yang dikatakan Tita benar, bagaimana?

Aku bangkit dengan perasaan campur aduk. Begitu pintu kamar terbuka, aku melihat Ibu, Bapak, beserta beberapa kerabat dekat kami tengah mondar-mandir seperti menyiapkan sesuatu.

Jantungku berdetak dengan sangat kencang. Apa mungkin mereka sengaja ingin memberikan kejutan lamaran ini untukku? Tapi sejak kapan Ibu dan Bapak memperbolehkan ngarunghal ini?

“Bu?” Aku menahan tangan Ibu yang memegang nampang berisi bolu kukus dan beberapa kudapan. Suaraku terkecat, nyaris hilang. “I-ini …?”

Ibu menepis kasar tanganku. “Sudahlah, jangan banyak tanya. Ibu lagi sibuk. Tamu Ibu udah di jalan, bentar lagi datang.”

Setelah mengatakan itu, Ibu langsung pergi meninggalkanku yang masih mematung di tempat.

Siapa pun, tolong, jantungku rasanya mau copot!

Aku bahagia bukan main. Kenapa bisa aku tidak sadar mereka mempersiapkan semua ini? Tidak ingin membuang waktu, buru-buru aku balik ke kamar. Tidak, meskipun mereka memberikan kejutan lamaran ini padaku, tapi aku tidak boleh terlihat seperti gembel. Aku harus tampil cantik. Ini lamaran, lamaran tertunda yang selama ini aku nanti-nanti.

Karena mandi tidak memungkinkan untuk saat ini, aku pun memutuskan hanya mencuci muka saja. Setelah itu, aku memilih-milih gamis paling terbaik yang aku punya. Pandanganku jatuh pada gamis putih dengan sedikit manik-manik, terkesan elegan, dan … persis seperti yang dikatakan Tita. Vibes nikahan sederhana.

Aku memandangi diri di cermin, lantas memoleskan sedikit make up. Baru saja lipstik itu kutempelkan di bibir, tiba-tiba teriakan Ibu membuatku tersentak hingga membuat tangan terpeleset.

“Pak, keluarga Bagas sudah di depan rumah!”

Sontak keringat dingin mulai membanjiri tubuhku. Aku bangkit dari kursi, lantas berjalan mondar-mandir tidak jelas. Sampai akhirnya, semua tamu masuk ke dalam rumah.

Aku merapatkan daun telinga pada pintu.

“Biar kami panggilkan putri kami dulu, ya, Pak, Bu.”

Itu suara Ibu.

Aku kembali membenarkan posisiku, berdiri dengan tenang.

Satu, dua, tiga, sampai sepuluh detik. Pintuku tidak kunjung dibuka.

Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Apa mereka benar-benar sengaja mempermainkanku?

Saat pikiranku sedang menerka-nerka, samar aku mendengar suara Ibu kembali.

“Nah, ini Sekar, putri kami.”

Deg!

Jantungku mendadak berhenti berdetak.

“Wah, cantik sekali ternyata. Lebih cantik dari pada di foto.” Terdengar kekehan kecil dari semua orang. “Emang nggak salah Bagas pilih calon istri.”

Kedua tanganku seketika mengepal.

Secepat kilat aku membuka pintu, lantas menerobos menemui tamu-tamu. Mereka tersentak begitu menyadari kehadiranku.

Kupandangi satu-per satu dari mereka. Tidak hanya terkejut, aku bisa melihat jelas bahwa mereka tidak suka dengan kehadiranku, termasuk Bagas.

“A, apa-apaan ini?!” sentakku tidak tahan. “Ibu, Bapak, Teh Sekar juga. Kalian ini apa-apaan, sih?! Kalau mau ngefrank tuh, ya, jangan keterlaluan. Masa ngebercandain lamaran, sih? A Bagas ‘kan pacar aku, bukan Teh Sekar!”

Semua orang saling pandang. Beberapa dari keluarga Bagas pun terlihat saling melemparkan pertanyaan.

Ibu bangkit lebih dulu. Ia menghampiriku, lantas berbisik, “Raras, apa yang kamu lakukan? Pergi, sana, ke kamar. Jangan menghancurkan acara lamaran Tetehmu.”

Aku menatap Ibu dengan tatapan tak percaya.

“Bu?”

Belum sempat aku meminta penjelasan, Bagas bangkit. Ia menatapku dari atas sampai bawah, lantas kemudian mencibir.

“Ternyata emang bener, ya, aku nggak salah pilih Sekar. Lihat, kamu, Raras.” Ia menunjuk wajahku dengan tangannya. “Kalau aku lamaran sama kamu, yang ada semua orang bakalan ngira aku lamaran sama ondel-ondel. Udah mah wajah asli pas-pasan, dandan menor sampe belebotan, bener-bener bukan cewek idaman!”

“A, kamu ….”

“Dia siapa, sih, Gas? Kok bisa-bisanya dia ngancurin acara lamaran kamu?”

Seorang perempuan yang usianya setara dengan Ibu ikut bangkit, ia mendelik ke arahku.

Aku yakin betul. Itu ibunya Bagas. Dulu, dia pernah memperlihat fotonya padaku, meski kami belum pernah bertemu.

“Dia adiknya Sekar, Ma, mantanku.” Bagas membenarkan kerah kemeja batiknya. “Emang beda jauh mereka. Yang satu kayak berlian, yang satu kayak upik abu.”

Darahku seketika mendidih.

“Sejak kapan kita putus, A?!” sentakku tidak terima. “Bukannya selama ini kamu yang selalu ngebet ajak aku nikah, tapi aku tolak karena nggak ….”

“Kamu tolak ‘kan?” Bagas maju satu langkah. “Kalau begitu, urusan kita selesai. Awas, jangan halangi acara lamaranku dengan Sekar.”

“Raras.” Teh Sekar yang sedari tadi diam ikut bangkit. “Teteh tahu, mungkin kamu belum bisa move on dari Bagas, tapi … kami sudah akan menikah. Jadi, lebih baik kamu diam di kamar, ya, jangan ganggu acara kami.”

“Benar yang dikatakan Sekar, Raras!” Bapak ikut bersuara. “Kalian itu sudah tidak ada hubungan apa-apa. Wajar-wajar saja kalau Bagas ngelamar Sekar. Yang turun ranjang aja banyak, apalagi ini cuman sebatas baru pacaran. Sudahlah, sana pergi ke kamar!”

Aku benar-benar tidak menyangka reaksi mereka akan seperti ini. Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Apa aku melewatkan sesuatu?

“Raras, ayo!”

Aku tersadar begitu tangan Ibu hendak menyeretku pergi dari sana dengan tatapan tajam. Namun, secepat mungkin aku melepaskan diri. Tidak, aku tidak bisa dipermalukan seperti ini.

“Nggak, aku nggak mau!” ucapku sedikit berteriak. “Yang harusnya dilamar di sini itu aku, bukan dia!”

“Raras!”

Sebuah tamparan hendak dilayangkan Ibu padaku, tapi tiba-tiba ….

“Biarkan dia di sini. Aku yang akan melamarnya.”

Deg!