Posted in

Malam ini, aku memutuskan untuk tidak kembali ke ba rak. Aku akan tidur di rumah dinas ini. Bukan karena aku mulai luluh, tapi karena rasa penasaran yang mem ba kar da da. Aku ingin mengawasi Inggit. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya dilakukan wanita ini saat aku tidak ada.

Ada sesuatu yang sangat tidak beres.

Rumah ini hanya memiliki dua kamar kecil yang dipisahkan oleh dinding papan tipis. Inggit masuk ke kamarnya lebih dulu setelah membersihkan sisa makan malam. Aku duduk di ruang tengah, di atas kursi kayu yang ke ras, menatap celah di bawah pintu kamarnya.

Lampu kuning di sana masih menyala. Bayangannya bergerak sesekali, tapi tidak ada suara isak ta ngis, tidak ada suara ke lu han, bahkan tidak ada suara langkah kaki yang ge li sah.

Seharusnya dia bosan setengah ma ti. Di sini tidak ada sinyal ponsel—benda yang biasanya menjadi nyawa bagi gadis-gadis Jakarta. Tidak ada televisi, tidak ada mall, tidak ada kafe tempatnya memamerkan kopi mahal. Dia juga tidak punya siapa-siapa untuk diajak bicara. Tapi kenapa dia terlihat begitu … tenang? Ketenangannya justru terasa seperti e je kan bagiku.

Aku berdiri, melangkah pelan ke arah dapur. Aku memeriksa meja kayu tempatnya menyiapkan makanan tadi. Di sana, tertumpuk rapi sisa-sisa dedaunan yang ia bawa dari hutan. Dahiku berkerut. Ini bukan sekadar sayuran. Aku mengenali beberapa. Ada pucuk merah dan semacam rimpang hutan yang biasanya digunakan masyarakat lokal sebagai obat luka atau penawar demam.

“Dari mana dia belajar mengenali tanaman ini?” gumamku pelan.

Di dapur itu hampir tidak ada bumbu standar. Tidak ada botol saus atau penyedap rasa instan yang biasanya menumpuk di dapur ibu-ibu. Tapi masakan tadi … rasanya sangat ku at. Gurihnya alami, segar, dan jujur saja, lebih enak daripada masakan di kantin asrama. Rasanya seolah dia benar-benar mengerti bagaimana cara “berkomunikasi” dengan alam Papua yang ga nas ini.

Aku berbalik, lalu melongok ke dalam kamarku sendiri. Kasurnya hanya busa tipis, tapi herannya, ruangan itu terasa jauh lebih manusiawi sekarang. Spreinya terpasang kencang, bantalnya tertata rapi, dan ada aroma wangi yang samar namun menenangkan. Apakah dia membawa pewangi selusin dari Jakarta? Atau dia menemukan cara lain untuk menyingkirkan bau apak kayu bu suk ini?

Rasa geng siku mulai bertabrakan dengan nurani.

Sebenarnya, aku ingin sekali mengucap maaf padanya. Aku ingin meminta maaf karena membuatnya sendirian saat ma ti lampu. Aku ingin meminta maaf karena sengaja menyulitkannya tanpa kompor.

Tapi melihat betapa tangguhnya dia, kata maaf itu tersangkut di tenggorokan. Dia terlalu ku at untuk dika sihani.

Aku berjalan perlahan. Mendekati kamarnya. Lalu berdeham ke ras di depan pintu. “Inggit!” panggilku.

Hening sejenak, lalu pintu terbuka. Inggit muncul dengan kaos polos dan celana panjang. Rambut panjangnya diikat rapi. Wajahnya polos tanpa riasan, tapi entah kenapa, di bawah cahaya lampu redup ini, aura di wajahnya terlihat jauh lebih ta jam daripada saat di pernikahan.

Tatapan matanya … sangat me nu suk seperti be la ti. Bibir tipisnya, cukup merona dan berwarna alami tanpa polesan. Pipinya tidak terlalu tirus, tapi nampak sekali mulus dan halus. Beberapa anak rambut yang melambai di antara pipi dan telinganya membuat tanganku ga tal ingin me nyen tuh nya dan merapikannya.

“Ada apa, Kapten? Butuh sesuatu?” tanyanya datar.

Aku mendadak salah tingkah. Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. “Tidak ada. Aku cuma … mau bilang. Besok-besok tidak perlu susah payah ke sungai atau masuk ke hutan belakang. Ba ha ya.”

Aku mencoba memasang wajah ga lak lagi, mencoba menutupi kegugupanku. “Kamu itu anak kota. Jangan sok tahu soal hutan perbatasan! Sekali kamu terpeleset di sungai itu, atau di gi git ular tanah, ujung-ujungnya aku yang akan repot nantinya! Jangan membuat be ban kerjaku bertambah hanya karena kamu ingin pamer bisa memasak.”

Inggit hanya menatapku, matanya tenang seperti telaga. Tidak ada bantahan, tidak ada ke mara han.

Aku merogoh saku celana lorengku, mengeluarkan beberapa lembar u ang ratusan ribu yang sudah agak lusuh. Aku menyodorkannya dengan ka sar. “Ini. Ambil! Di dekat gerbang kompleks ada warung kecil yang dikelola ibu-ibu Persit. Besok kamu beli kebutuhan di sana saja. Jangan seperti orang susah! Kita tidak hidup di jaman purba! Untuk apa berburu ke hutan segala hanya untuk makanan? Aku masih mampu memberi makan istriku dengan cara normal.”

Inggit menatap uang itu, lalu menatap wajahku. Dia tidak langsung mengambilnya.

“Terima kasih, Kapten,” ucapnya pelan sambil mengambil uang itu. “Tapi sungai dan hutan tidak seber baha ya yang Kapten pikirkan. Selama kita tahu cara menghormatinya, hutan bisa menyediakan apa pun yang kita butuhkan, termasuk makanan.”

“Sudahlah! Kamu itu bukan titisan Tarzan! Jangan sok tahu! Tidur sana!” bentakku, lalu berbalik cepat menuju kamarku sendiri.

Aku mengunci pintu, menghempaskan tubuh ke kasur tipis yang entah kenapa sekarang terasa sangat nyaman. Di balik dinding papan, aku mendengar langkah kakinya menjauh, lalu bunyi tempat tidurnya yang berderit pelan.

Tanganku masih sedikit gemetar. Untuk apa aku merasa gugup di depan gadis itu?

Aneh! Aku seperti baru saja berhadapan dengan mu suh tangguh.

Aku bahkan merasa terpojok di rumahku sendiri. Lucu sekali!

Aku memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan Inggit yang memegang pi sau dapur dengan tatapan yang sangat ahli.

Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan cari tahu, siapa sosok gadis itu sebenarnya!