“Ayu! Kamu mempermalukan aku di depan umum!” teriak Mas Irham geram siap meledak. Wajahnya merah padam. Kali ini ia tak menahan diri untuk berkata kasar kepada wanita.
Semua orang menyaksikan sendiri bagaimana sikap Mas Irham selama ini. Bagi teman-temannya Mas Irham orang baik, sopan dan rendah hati. Tapi kali ini harga dirinya sudah jatuh. Sifat aslinya muncul.
Aku tersenyum lebar, menatapnya dengan pandangan paling merendahkan yang pernah kuberi. Pria yang dulu sangat kucinta. Rela mengorbankan diri demi dia dan keluarganya. Sekarang tak berarti apa-apa di depanku. Tak ada rasa seperti dulu lagi kehangatan yang selalu diberikan.
“Mempermalukanmu? Tidak, Mas. Aku hanya sedang memperkenalkan tamu spesial kepada kalian semua. Tamu yang sebentar lagi akan menjelaskan, siapa sebenarnya yang punya hak bicara di rumah ini.”
“Cukup! Sintia adalah putri Mama. Dia anak angkat Mama. Kamu tidak boleh zolim kepadanya karena iri hati. Dia itu putri Mama, berarti suadara kamu juga.”
“Iya Ayu. Aku ini sudah sejak dulu bersama mereka. Kamu jangan iri begitu, dong.”
Aku menoleh ke Mama. Sejak kapan Sintia jadi anaknya. Lucu sekali mertuaku ini. Tuduhan orang berbalik kepadaku. Mereka mulai goyah.
Orang-orang mulai meragukan ucapanku. Jangan sampai mereka berpihak dan aku terpojok lagi. Tidak, tak akan kubiarkan.
Pesta yang seharusnya menjadi panggung kemenangan Sintia berubah menjadi medan penghinaan. Aku menarik napas panjang, lalu tiba-tiba bahuku bergetar.
Aku tidak lagi menatap mereka dengan tatapan tajam, melainkan menunduk dalam. Air mata yang sudah kusiapkan pecah seketika.
Aku belajar dari Sintia bahwa di dunia ini, terkadang air mata lebih tajam daripada pedang.
“Aku hanya ingin tahu di mana letak harga diriku sebagai istri sah, Mas,” ucapku terisak, suaranya cukup keras untuk didengar seluruh tamu. “Kamu membawanya ke rumah ini memberinya kemewahan dengan uang tabunganku, bahkan merayakan pesta untuk anak yang aku sendiri tidak tahu siapa ayahnya. Apa salahku, Mas? Aku ini istrimu yang seharusnya kamu jaga perasaannya. Tapi kamu justru ….” Bahuku lebih berguncang. “Menyuruhku menjadi pelayannya. Memberikan kamar utama kita. Tabungan dipakai seenaknya tanpa izin. Lihat itu pakaiannya. Itu milikku juga. Kalian tak menjaga perasaan ku lagi.”
Bisik-bisik tamu berubah menjadi riuh hujatan. Teman-teman kantor Mas Irham menatapnya dengan pandangan menghina.
“Keterlaluan! Istri sah dizalimi di rumahnya sendiri!” seru salah satu tamu wanita setelah mengetahui perasaan ku dan apa yang ku alami.
“Dasar pelakor tidak tahu malu! Sudah numpang, masih mau pesta nujuh hari segala. Anak haram saja dibanggakan!” timpal yang lain, menunjuk-nunjuk wajah Sintia yang kini pucat pasi.
“Sudah diam. Jangan urusi rumah tangga anakku. Pergi kalian! Pesta bubar!” Mama seperti orang kesurupan mengusir teman-teman Mas Irham. Bukan itu saja. Teman sosialitanya juga mencibir di depan Mama.

“Gaya selangit ekonomi sulit ternyata masih numpang. Tak kira mertua baik ternyata julid.”
Wajah Mama tampak kesal, tapi tubuhnya ditahan Mas Irham dan aku menikmati setiap tonton hari ini. .
Pesta itu bubar dengan cara yang paling memalukan. Satu per satu tamu pergi dengan caci maki. Sintia menangis histeris, bukan karena menyesal, tapi karena malu identitasnya dikuliti di depan umum.
Begitu pintu depan tertutup rapat dan suasana menjadi sepi, Mas Irham berbalik. Wajahnya merah padam, urat lehernya menonjol.
“PUAS KAMU, AYU?!”
Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Tenaganya begitu besar hingga tubuhku terhuyung dan kepalaku menghantam ujung meja jati di ruang tamu.
Rasa sakit yang luar biasa menghujam kesadaranku. Sesuatu yang hangat mengalir dari pelipisku. Darah. Cairan merah itu menetes ke lantai marmer putih, menodai rumah suci peninggalan Papaku. Mas Irham mematung, tangannya gemetar melihatku yang tergeletak bersimbah darah.
“A-Ayu … aku tidak bermaksud ….” Mas Irham melangkah maju, ingin menyentuhku.
Namun, sebelum ia sampai, suara jeritan Sintia memecah suasana. “Mas! Aku tidak kuat lagi! Semua orang menghinaku! Lebih baik aku mati saja sekarang!” Sintia berlari ke arah dapur, berpura-pura mencari sesuatu untuk bunuh diri.
Drama murahan itu berhasil. Mas Irham yang baru saja ingin menolongku, seketika berbalik arah mengejar Sintia.
“Sintia! Jangan gila! Aku di sini!”
Aku tertawa dalam rintihanku. Aku menyeka darah di pelipis dengan punggung tangan. “Ingat ini, Irham Baskhara.” Suaraku parau, tapi tajam.
“Kamu bukan siapa-siapa tanpa aku. Rumah ini, mobil yang kamu pakai, bahkan harga dirimu di kantor itu. semuanya berdiri di atas kakiku. Dan hari ini, aku baru saja mematahkan kaki itu.”
Dua hari kemudian.
Suasana rumah kembali tenang. Namun penuh dengan aura kemenangan yang palsu. Ibu mertuaku sibuk mengompres pipi Sintia yang diklaim ‘sakit’ karena stres, sementara Mas Irham duduk di ruang makan dengan wajah gelisah.
Tiba-tiba, seorang kurir datang membawa amplop besar dengan logo Ardiansyah Group—perusahaan pusat tempat Mas Irham bekerja selama ini.
Mas Irham membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Wajahnya seketika cerah, binar matanya kembali.
“Ibu! Sintia! Lihat ini!”
Ibu mertua berlari mendekat. “Ada apa, Irham?”
“Panggilan ke kantor pusat! Aku dipromosikan, Bu! Aku akan diangkat menjadi Wakil Direktur menggantikan posisi yang kosong dua hari lagi. Ini jabatan impianku!” Mas Irham bersorak, bahkan ia seolah lupa bahwa ia baru saja mencelakaiku.
Ibu mertua tersenyum sinis ke arahku yang sedang duduk diam di sudut ruangan. “Dengar itu, Ayu? Anakku akan jadi orang besar. Kamu lihat saja, dua hari lagi setelah Irham resmi jadi Wakil Direktur, kami akan mengusirmu dari sini. Kamu tidak berguna lagi!”
Sintia pun ikut tersenyum kemenangan dari balik bahu Mas Irham. Mereka merasa dunia kembali berada di genggaman mereka. Mereka merasa promosi ini adalah jawaban atas “kesabaran” mereka menghadapiku.
Aku hanya menyesap tehku dengan perlahan. Senyum tipis terukir di bibirku yang masih sedikit bengkak. Mereka tidak tahu bahwa siapa pemilik Ardiansyah Group.
“Selamat ya, Mas. Nikmatilah dua hari terakhirmu ini dengan baik,” ucapku lembut, nyaris seperti bisikan malaikat maut yang siap membawanya.
Kesempatan kamu sudah habis, Mas. Dan panggung kehancuranmu baru saja dimulai.