Posted in

“Aneh banget kamu,” kata Nadine sambil melotot. “Itu baju kalian sendiri. Kalau nggak mau laundry, ya cuci sendiri! Aku bukan pembantu kamu di sini. Ngerti?”

Evi terdiam. Bibirnya bergetar, tapi tidak ada kata yang keluar. Nadine menatapnya untuk beberapa detik terakhir sebelum berbalik menuju kamarnya, menutup pintu dengan tegas.

Sementara Evi kembali mengomel setelah Nadine benar-benar masuk kamar.

“Huh! Jadi pembantu ya pembantu aja. Mau tinggal dimana ya tetap aja namanya pembantu.
Dasar nggak tau diri. Maunya cuma enak-enakan di rumah aja.”

Nadine terpaksa membungkus semua pakaian kotornya untuk dibawa ke Laundry.

Esoknya, seperti biasa, rutinitas pagi Nadine kalau di rumah ini sejak awal tak pernah berubah. Sejak subuh Ia sudah bangun, menanak nasi, menyiapkan sayur sederhana, memasak menu untuk sarapan, dan membuat teh manis panas. Seisi rumah belum ada yang bangun, tapi itu justru membuat Nadine bergerak lebih cepat dan nyaman.

“Untung aja belum pada bangun, jadi kerjaanku bisa beres sebelum ada drama dari penghuni rumah ini,” gumamnya pelan sambil menuang sop ke mangkuk besar.

Begitu semua selesai, barulah Nadine mengganti pakaiannya dengan baju olahraga dan keluar rumah untuk jogging. Hawa pagi membuat dadanya terasa lebih lega. Meski hidupnya sejak pulang ke Indonesia ia merasa banyak tekanan, dengan jogging selalu membuat kepalanya lebih tenang.

Saat melewati pangkalan ojek di ujung jalan, langkah Nadine terhenti sesaat. Matanya langsung menangkap sesuatu yang ia kenali. Ada motor Fajar di sana. Motor itu terparkir menyendiri di ujung deretan motor ojek lain, masih kotor seperti kemarin. Tapi anehnya, Fajar sendiri tidak terlihat di sana.

Nadine sempat melirik ke arah beberapa tukang ojek yang sedang duduk ngobrol, tapi ia buru-buru memalingkan pandangan.
“Ah, mungkin Fajar lagi ke warung atau ke rumah temennya .…” ucapnya berusaha menenangkan diri, meski dalam hati ia penasaran.

Ia ingin bertanya, tapi membayangkan jadi bahan gunjingan para tukang ojeg yang merupakan tetangganya juga, membuatnya langsung mengurungkan niat.

Di kampung ini, satu kata saja bisa jadi gosip seminggu penuh.

Nadine menarik napas panjang lalu kembali berlari kecil, berusaha mengalihkan pikiran.
Usai jogging, Nadine memutuskan mampir sebentar ke tukang sayur. Di sana sudah ada beberapa ibu tetangga yang mengenalinya. Mereka sedang mengobrol sambil memilih-milih sayuran, seperti menjadi ritual mereka setiap pagi.

“Ih, Nadine … pagi banget kamu!” sapa Bu Rini yang selalu ceria.

Nadine tersenyum sambil meraih plastik belanja. “Iya, Bu. Sekalian olahraga.”

Bu Rini melihat Nadine dari ujung kaki sampai kepala. “Kamu kapan balik ke Singapore lagi, Nad?”

Nadine tersenyum ramah. “Belum tahu, Bu. Mungkin dua atau tiga bulan lagi.”

Tetangga lainnya langsung menyahut dengan suara penuh rasa ingin tahu, “Memang majikan kamu orang mana? Kok baik banget kamu setahun udah dikasih pulang?”

Pertanyaan itu benar-benar menyebalkan bagi Nadine, tapi ia menahannya. Ia mengangkat bahu dan hanya tersenyum. “Ya begitulah, Bu. Rezeki saya.”

Seorang wanita usia 40an yang berdiri tak jauh dari Nadine, mengamati tas kecil yang Nadine pakai. “Gaji kamu pasti gede, ya, Nad. Soalnya penampilan kamu beda banget. Barang-barang kamu yang kamu pakai merek barang mahal semua.”

Nadine terdiam, bingung harus menjawab apa. Ia tidak pernah berniat pamer. Ia bekerja di luar negeri dengan jabatan tinggi, wajar kalau ia punya barang bagus. Tapi orang-orang di sini terlanjur percaya bahwa ia hanyalah pekerja rumah tangga.

“Enggak, Bu … biasa aja,” jawab Nadine sambil tetap tersenyum santai.

Tetangga lainnya yang juga ada di sana ikut nimbrung, sambil memilih kacang panjang. “Ada kamu di sini enak. Bisa masakin Bu Laela. Kasihan, biasanya Bu Laela makan beli di warteg. Beliau kan nggak bisa masak. Apalagi mantu barunya yang sok kaya itu.”

Nadine mengangguk sopan sambil tetap tersenyum. “Saya memang suka masak, Bu.”
Padahal di dalam hati ia tahu, komentar itu bukan pujian. Tapi Nadine terlalu lelah untuk menjelaskan siapa dirinya sebenarnya. Lagipula, merasa benar bukan berarti harus berteriak membuktikan diri.

Ia buru-buru pamit setelah membayar belanjaannya, tidak ingin percakapan semakin melebar.

Saat kembali melewati pangkalan ojek, mata Nadine kembali tertuju ke motor Fajar. Masih ada di sana.

Persis seperti tadi pagi

Namun, Fajar tetap tidak terlihat.
Rasa penasaran mengalahkan rasa segannya. Nadine akhirnya mendekat ke salah satu tukang ojek yang paling ia ingat, seorang pria paruh baya bernama Bang Mus.

Dengan sopan ia bertanya, “Bang Mus, lihat Fajar nggak?”

Bang Mus menoleh, sempat terlihat kaget. “Eh, kamu Nadine ya? Gila … makin cakep aja sekarang.”

Nadine tersenyum kaku. “Iya, Bang. Lihat Fajar, nggak?”

Bang Mus menyandarkan tubuhnya ke motor. “Fajar dari semalam nggak di sini. Itu motornya dipake si Otoy buat ngojek.”

Nadine terkejut. “Dari semalam?”

Bang Mus mengangguk santai, sama sekali tidak peka bahwa informasi itu membuat Nadine panas dingin.

“Iya. Fajar kan bilang mau ada urusan. Motornya dititipin. Ya Otoy pakai buat ojeg, lumaya lah.

“Kalau begitu, makasih. Bang!”.

Ia buru-buru melangkah pergi, takut ekspresinya terbaca.
Tapi baru beberapa langkah ia menjauh, terengar lagi suara Bang Mus di belakang, kali ini berbicara dengan tukang ojek lain.

“Gebleg itu si Fajar. Punya bini cakep bahenol gitu, masih aja cari yang lain.”

Nadine menelan ludah, menunduk, lalu melanjutkan langkah tanpa menoleh ke belakang.

“Masih cari yang lain …?” gumamnya lirih, perih, dan tidak percaya. Ia buru-buru melangkah menuju rumah.

Sampai di halaman rumah, ponsel Nadine bergetar, ada notifikasi pesan masuk.

[Selamat pagi Ibu Nadine. Ibu diundang secara hormat pada acara launching produk baru di anak perusahaan kita PT. Bumi Transport]

“PT Bumi Transport?” ulang Nandine sangat pelan. Matanya melirik pada Evi yang baru saja keluar dari pintu. Nama yang ia sebut barusan, sama dengan tulisan yang ada di baju seragam Evi.