Posted in

DI MALAM PERTAMA PERNIKAHAN KAMI YANG MEWAH DENGAN PUTRA TUNGGAL KELUARGA WIJAYA YANG SANGAT KAYA, AKU DENGAN GEMETAR MENGANGKAT SELIMUT DAN MELIHAT KENYATAAN PAHIT YANG SELAMA INI DISEMBUNYIKAN DARI SUAMIKUAku berdiri di dapur mansion keluarga Wijaya di Pondok Indah, Jakarta Selatan. Lampu gantung kristal menyinari meja marmer tempatku mencuci piring sisa jamuan makan malam. Bau rempah-rempah dan daging panggang masih menggantung di udara. Setiap pagi pukul lima, aku mulai membersihkan lantai hingga berkilau, mengganti seprai sutra, dan menyiapkan kopi hitam pahit untuk keluarga yang bangun lebih siang. Dua tahun aku bekerja di sini sebagai pembantu rumah tangga. Aku datang dari desa kecil di Jawa Tengah setelah orang tuaku meninggalkan kami dalam kemiskinan. Aku mengirim hampir seluruh gajiku untuk biaya sekolah adik-adikku.

Raka Wijaya selalu menarik perhatianku sejak hari pertama. Putra tunggal pemilik Wijaya Group itu jarang tersenyum. Ia sering berdiri di depan jendela ruang tamu besar, menatap taman dengan pandangan kosong. Saat aku mengantar nampan sarapan ke studinya, ia hanya menjawab pelan, “Terima kasih, Sari.” Senyum tipisnya terasa seperti beban yang ia pikul sendirian.

Suatu malam setelah aku selesai membersihkan teras belakang, aku melihat bayangannya di taman. Raka duduk di bangku batu di bawah pohon besar. Bahunya berguncang. Ia menangis tanpa suara. Aku ragu beberapa detik, lalu melangkah mendekat.

“Mas Raka, maafkan saya jika mengganggu. Apakah Anda baik-baik saja?”

Ia menoleh kaget dan cepat mengusap wajah. “Sari? Kamu belum pulang?”

“Saya tinggal di kamar belakang, Mas. Saya melihat Anda dari jendela dapur.”

Ia menghela napas panjang. “Kamu selalu memperhatikan hal-hal kecil. Tidak seperti orang lain di rumah ini.”

Kami berbicara hampir satu jam. Ia bercerita tentang tekanan menjadi pewaris satu-satunya, tentang bagaimana semua orang menuntut kesempurnaan darinya. Aku hanya mendengarkan dan sesekali menjawab dengan pengalaman sederhanaku dari desa. “Di kampung, kami belajar menerima kenyataan, Mas. Bukan berarti menyerah, tapi terus mencari cara untuk melangkah.”

Sejak malam itu, percakapan kami menjadi lebih sering. Saat aku membersihkan perpustakaan, ia bertanya tentang desaku dan impianku yang sederhana untuk membuka warung kecil. Hatiku berdegup setiap kali ia memanggil namaku dengan nada hangat. Tapi aku selalu mengingatkan diri sendiri: aku hanya Sari, pembantu dari desa. Dia adalah Raka Wijaya.

Suatu sore, Ibu Lestari memanggilku ke ruang kerjanya yang luas. Pak Hendra duduk di sofa kulit dengan wajah serius. “Sari, kami ingin kamu menikah dengan Raka,” kata Ibu Lestari tanpa basa-basi.

Lututku lemas. “Ibu… kenapa saya? Saya hanya pembantu di rumah ini.”

“Kami sudah mengamati kamu lama,” jawab Pak Hendra. “Kamu memperlakukan Raka dengan tulus, tanpa pamrih. Itu langka di lingkungan kami.”

Aku menatap mereka bergantian. “Tapi mengapa harus saya?”

Ibu Lestari tersenyum tipis. “Ada hal yang akan kamu pahami nanti. Percayalah pada kami.”

Malam itu aku bertemu Raka di taman lagi. Ia sudah tahu rencana orang tuanya. “Sari, aku tidak akan memaksa. Jika kamu menolak, aku mengerti sepenuhnya. Tapi jika kamu setuju, aku akan berusaha menjadi suami yang layak bagimu.”

Aku melihat kesungguhan di matanya. Meski takut, hatiku sudah memutuskan. “Saya setuju, Mas Raka.”

Pernikahan berlangsung megah di hotel bintang lima. Ratusan tamu dari kalangan atas Jakarta hadir. Gaun putih yang tidak pernah kubayangkan kukenakan terasa berat di tubuhku. Raka berdiri di sisiku dalam jas hitam rapi, tapi senyumnya kaku sepanjang upacara. Aku merasa seperti orang asing dalam hidupku sendiri.

Setelah resepsi, mobil mewah mengantarkan kami ke mansion baru di kawasan elit yang sama. Rumah dua lantai dengan kolam renang dan taman luas berdiri megah di hadapan kami. “Ini hadiah untuk kalian berdua,” kata Ibu Lestari saat mengantar kami masuk. “Mulailah hidup baru di sini.”

Malam pertama tiba. Kamar utama luas dengan ranjang king size dan seprai putih bersih. Aroma lilin aromaterapi memenuhi ruangan. Raka duduk di tepi ranjang, masih memakai kemeja putih yang ia pakai seharian. Matanya menatap lantai.

Aku mendekat dengan hati berdebar. “Mas Raka, apakah kamu lelah?”

Ia mengangkat wajah. Matanya penuh kesedihan. “Sari, ada sesuatu yang harus kamu ketahui sebelum kamu membenciku.”

“Membencimu? Aku tidak akan pernah membencimu.”

“Izinkan aku menjelaskan dulu.” Ia menarik napas panjang. “Dua tahun lalu aku mengalami kecelakaan mobil di tol saat hujan deras. Mobil tergelincir. Kaki kananku hancur parah. Dokter harus mengamputasi di bawah lutut untuk menyelamatkan nyawaku.”

Aku menahan napas. Tanganku mulai gemetar.

“Istri tunanganku saat itu pergi beberapa bulan kemudian. Ia bilang tidak sanggup hidup dengan pria yang tidak utuh. Sejak saat itu aku merasa tak berguna. Orang tuaku khawatir aku akan menyerah sepenuhnya pada keputusasaan.”

Ia menatap mataku. “Mereka memilih kamu karena melihat kebaikanmu yang tulus. Mereka berharap kamu bisa menerimaku apa adanya.”

Aku menelan ludah. “Bisakah aku melihatnya?”

Ia mengangguk pelan.

Dengan tangan gemetar, aku mengangkat ujung selimut yang menutupi kakinya…