Posted in

Panggilan terputus. Viona mencoba menghubungi Dave lagi, tapi ponselnya sudah tidak aktif. Viona langsung berjongkok dengan tatapan kosong.

Tidak mau menyerah begitu saja, Viona kembali menghubungi sang suami. Namun, ponselnya tetap tidak bisa dihubungi. Akhirnya, dia memilih untuk masuk kembali ke dalam ruangan sang adik dan berbicara dengan ibunya.

“Dokter bilang kerusakan pada katup j4ntung adikmu sudah parah, tidak bisa berfungsi dengan baik.”

Viona menoleh pada sang adik yang sedang terlelap dengan tatapan mengiba. Matanya pun seketika berkaca-kaca melihat wajah pucat adiknya.

“Ma, tenang saja, aku pasti akan mendapatkan biaya untuk oper4si Alisa.”

Bagaimanapun caranya, dia harus mendapatkan u4ng itu. Dia akan melakukan apa pun asalkan adiknya bisa dioper4si.

“Apa Dave setuju meminjamkan u4ng padamu?”

Meski sang putri tidak pernah menceritakan mengenai rumah tangganya, tapi dia tahu kalau sebenarnya Dave tidak pernah menyukai putrinya.

“Dave sedang berada di luar kota, Ma. Aku tidak bisa menghubunginya.”

Raut wajah ibu Viona menjadi kecewa. “Lalu, bagaimana?”

Viona meraih tangan sang ibu, kemudian menggenggamnya. “Ma, tenang saja. Paling lambat lusa, aku pasti akan mendapatkan u4ng itu.”

Usai mendengar itu, perasaan ibu Viona menjadi lega. “Maafkan Mama karena selalu merepotkanmu masalah biaya adikmu, padahal kamu juga kesulitan.”

Viona merengkuh sang ibu saat melihatnya menitikkan air mata. “Ma, aku tidak merasa direpotkan. Sebagai anak pertama, ini memang sudah menjadi tanggung jawabku.”

Setelah selesai berbicara dengan sang ibu, Viona akhirnya turun ke bawah. Dia berencana untuk pulang karena merasa sangat lelah, apalagi tadi dia sempat merasakan perutnya tiba-tiba keram.

Namun, ketika sedang menunggu taksi, tiba-tiba saja ada mobil yang berhenti di depannya. Ketika kaca mobil diturunkan, Viona akhirnya tahu kalau itu adalah mobil yang di sew4 Alan selama berada di Jakarta.

“Ayo, masuk. Aku antar kamu pulang.”

Karena sudah malam, Viona akhirnya setuju. Setelah duduk di kursi depan bersama dengan Cloe, Viona bertanya pada Alan kenapa pria itu masih di rumah sakit.

“Aku takut kamu membutuhkan bantuan, makanya aku menunggu.”

Hati Viona seketika tersentuh, Alan hanyalah orang luar, tapi begitu peduli padanya, sementara Dave—orang paling dekat dengannya justru sama sekali tidak peduli padanya.

“Bagaimana kondisi adikmu?”

Viona pun menjelaskan pada Alan mengenai kondisi sang adik.

“Kamu belum mendapatkan u4ng untuk biaya oper4sinya?” tebak Alan saat melihat raut wajah Viona tampak sedih.

“Iya, suamiku masih di luar kota, ponselnya tidak bisa dihubungi.”

“Kalau begitu, pakai saja dulu u4ngku.”

Viona yang terkejut seketika menoleh pada Alan. “Tapi nomin4lnya sangat besar, aku tidak mau membebanimu.”

“Tidak masalah,” jawab Alan santai sambil menatap fokus ke depan. “Lagi pula, kamu sudah banyak membantuku. Sudah lima hari kamu terus menjaga Cloe, anggap saja aku membalas kebaikanmu.”

“Iya, tapi biaya operasi adikku sangat besar.”

“Berapa?”

Viona pun menyebutkan nomin4lnya.

“Kirim saja nomor rek3ningmu, aku akan mentr4nsfernya setelah tiba di hotel.”

“Kamu serius mau meminjamkan u4ng padaku?”

Alan mengangguk. Namun, pandangannya tetap fokus ke depan. “Mana mungkin aku main-main dengan hal penting seperti ini.”

Viona termenung. Setelah menimang selama beberapa saat, kemudian berkata, “Terima kasih, Alan. Aku janji tidak akan kabur, aku pasti akan melun4sinya.”

Alan terkekeh mendengar ucapan Viona. “Kamu itu bicara apa? Siapa juga yang takut kamu kabur?”

“Aku hanya takut kamu tidak percaya padaku.”

“Mana mungkin aku tidak percaya padamu.”

Setelah mobil terparkir di depan gerbang, Alan menatapnya sekilas pada rumah yang ada di sebelah kanannya, kemudian bertanya, “Ini rumahmu?”

“Rumah suamiku,” ralat Viona.

“Sepertinya, suamimu bukan orang sembarang.”

Jika dilihat dari megah dan besarnya rumah itu, Alan yakin kalau keluarga suami Viona bukan berasal dari keluarga biasa, pastinya dari golongan atas.

“Aku turun dulu.” Karena tidak mau membahas soal sang suami, Viona memilih untuk mengalihkan pembicaraan. “Terima kasih sudah mengantarku.”

Setelah mobil Alan pergi, Viona masuk ke dalam rumah. Keadaan rumah masih seperti sebelumnya, sunyi dan gelap.

Setelah selesai mandi, Viona mengecek ponselnya, ada pesan masuk dari Alan. Saat membuka pesan itu, mata Viona membola. Dia menghubungi Alan usai melihat bukti tr4nsfer di ponselnya.

“Kenapa kamu kirim banyak sekali?” tanya Viona.

“Tidak apa-apa. Selain biaya operasi, pasti ada biaya lain yang harus kamu bayar, kan?”

Viona membenarkan ucapan Alan. Memang ada, biaya kamar, ob4t-ob4t, dan biaya lain-lain yang masih harus dibayar.

“Terima kasih banyak, Alan. Maaf aku sudah merepotkanmu. Aku pasti akan segera membayarnya setelah suamiku kembali “

“Masalah itu, tidak perlu kamu pikirkan. Fokus saja pada adikmu.”

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Viona sudah mengurus administrasi sang adik. Dia berada di rumah sakit sampai dokter selesai berkunjung, baru setelah itu mengajak Alan bertemu.

“Vio, kamu sebenarnya tidak perlu sampai mentraktirku makan, aku tulus membantumu.”

“Iya, aku tahu, tapi aku akan merasa terbebani jika tidak melakukan apa-apa untukmu. Sementara ini, hanya ini yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikanmu.”

“Kamu sudah menjaga Cloe dengan baik selama beberapa hari, bahkan dia terlihat lebih ceria dan lebih berisi semenjak kamu urus, aku justru sangat berterima kasih padamu.”

“Sama-sama.”

Setelah selesai makan siang, Viona menemani Cloe di hotel sampai Alan selesai dengan pekerjaannya.

Pukul 7 malam, Viona baru kembali ke rumah sakit dengan mengendarai mobilnya sendiri. Setelah turun dari mobil, dia mencoba menghubungi ponsel suaminya kembali.

Kali ini, nomornya sudah aktif. Namun, tidak diangkat. Viona kembali menelpon dan akhirnya diangkat.

“Dave, kamu ke mana saja? Kenapa sulit sekali dihubungi?”

“Aku masih ada urusan penting, tidak bisa bicara lama-lama. Setelah aku kembali baru kita bicara.”

Panggilan diputus sepihak oleh Dave.

Viona merem4s ponselnya dengan kuat, kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti di depan pintu rumah sakit.

Saat dia akan berbelok ke arah lift, tidak sengaja dia melihat bayangan sosok laki-laki yang mirip dengan sang suami, Viona pun mempercepat langkahnya dan segera menyusul pria itu.