Posted in

“Handphone aku kenapa mati ya, Tante? Padahal kemarin sore masih nyala,” keluh Mika saat membantu Tante Sari memasak pagi harinya.

“Kamu sudah tidak butuh handphone, Mika. Siapa yang mau kamu hubungi. Mama dan Papa ada di sini.”

Mika berusaha menahan diri. Ingat janjinya semalam. Ikuti permainan Tantenya agar dia tahu cara meloloskan diri.

“Aku kangen Ibu, Tante.”

“Ibumu itu aku, Mika. Sudah masak yang benar. Nanti Papa marah kalau masakannya tidak enak.”

Mika terpaksa diam, sambil merutuk dalam hati karena salah, malah ngajak bicara orang g il a.

“Assalamualaikum, Sari.” Suara sapaan dari depan pagar terdengar sampai ke dapur.

“Sari … assalamualaikum. Ini aku, Mirna.”

Bola mata Mika membeliak. Sontak dia meletakkan pisaunya begitu sadar suara siapa yang didengarnya.

“Ibu, Tante! Itu suara Ibu?! Ibu datang!” Mika memekik. Bersiap berlari ke luar rumah.

Baru satu langkah, tangan Tante Sari menahannya.

“Kamu siapkan kopi untuk papa saja Mika. Biar Mama yang ke depan.”

“Tapi, itu Ibu Tante.”

Tante Sari melotot menatapnya. “Ingat, Mika. Jangan buat Papa marah.”

Mika terpaksa diam, dan membiarkan Tantenya pergi ke depan.

Di dapur sambil membuat kopi, Mika merasa tidak tenang karena lama sekali ibunya masuk ke dalam rumah. Jadi dia memutuskan untuk mengintip dari jendela paviliun.

“Apa saya gak nunggu Mika aja di dalam, Sar? Saya baru datang, sengaja naik bus malam biar nyampe ke sini pagi.” Mika mendengar ucapan ibunya.

Rasanya tidak tahan Mika ingin berlari dan menemui ibunya.

“Kamu pulang saja, Mbak Mirna. Nanti saya transfer uang untuk ongkos. Saya sedang tidak mau menerima tamu.”

Mika melongo mendengar jawaban yang Tantenya berikan. Ibunya diusir?

“Saya kangen Mika, Sari. Saya ndak akan ganggu kamu. Saya cuma mau nunggu Mika pulang kerja.”

“Kalau saya bilang gak boleh, jangan maksa, Mbak! Suami saya gak suka keluarga saya datang ke rumah ini. Jadi Mbak pergi dari sini!” Tante Sari marah sembari mendorong Mirna sampai hampir jatuh.

“Ibu!” Mika memekik. Air matanya jatuh, dadanya sakit melihat ibunya diperlakukan seperti itu.

Mika harus keluar. Tidak boleh diam di dalam rumah.

Mika hendak membuka pintu saat suara langkah kaki terdengar mendekat berjalan ke arahnya. Sesosok pria yang tidak pernah dia temui di rumah ini, muncul di hadapannya. Sorot matanya tajam. Setengah badannya penuh darah. Wajahnya pucat. Pria ini sama persis dengan yang dilihatnya tempo hari menyebrang mobil tetangganya saat hendak keluar dari area parkir karyawan Swalayan.

“Mana kopi Papa, Mika.”

Deg!

Tubuh Mika lemas seketika.