Posted in

“Kalau miskin ya miskin aja! Berobat kan bisa pakai BPJS! Bilang sama ibumu, jangan manja!”

Di hari acara keluarga, aku menampar dan menalak istriku karena dia berani melempar uang ke wajah ibuku! Entah darimana dia dapat uang untuk membayar utangnya pada Ibu!

Namun, setelah aku tau semuanya, rasa sesal tak dapat kubendung!

“Lima puluh ribu itu lebih dari cukup untuk makan seminggu, Almira! Kamu saja yang terlalu boros dan tidak becus jadi istri!”

Lembaran uang berwarna biru lima puluh ribuan itu dilemparkan begitu saja oleh Helmi ke wajah istrinya. Uang itu melayang sejenak di udara sebelum jatuh mengenaskan di atas ubin kusam rumah mereka.

Almira menunduk. Dadanya bergemuruh menahan sesak. Ia memungut uang itu dengan jemari bergetar. “Mas, beras kita habis. Gas juga mati hari ini. Uang lima puluh ribu ini bahkan nggak cukup buat beli dua barang itu, apalagi buat lauk kamu seminggu ke depan.”

Helmi mendengkus kasar. Pria berseragam kemeja pabrik garmen yang sudah disetrikan rapi oleh Almira itu menatap istrinya dengan sorot merendahkan.

“Itu deritamu, bukan urusanku! Harusnya kamu itu mikir gimana caranya biar hemat. Aku ini capek kerja banting tulang, gajiku kecil, jangan kamu peras terus!” omel Helmi sambil meraih ponselnya dari atas meja.

Almira menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Gajinya kecil? Sudah dua tahunnHelmi diangkat menjadi karyawan tetap dengan posisi supervisor produksi. Gajinya jauh di atas UMR. Namun, jangankan memegang kartu ATM suami, melihat wujud slip gajinya saja Almira tidak pernah. Helmi selalu berdalih memegang uangnya sendiri agar Almira tidak boros.

Ting!

Layar ponsel Helmi menyala terang, memunculkan sebuah notifikasi pesan WhatsApp dari Rika, adik perempuan Helmi.

Meski Helmi berusaha menutupi, mata Almira yang awas tanpa sengaja menangkap rentetan kalimat di layar itu sebelum Helmi menguncinya.

[Makasih ya, Mas Helmi sayang! Transferan dua jutanya udah masuk. Tas brandedninceran Rika akhirnya kebeli juga.]

Seketika, lutut Almira terasa lemas. Matanya memanas. Dua juta? Untuk membelikan adik perempuannya tas? Sementara istrinya di sini harus mengemis dan dimaki hanya karena meminta tambahan uang untuk membeli tabung gas tiga kilogram?

Belum sempat Almira meluapkan rasa sakit hatinya, ponsel lamanya yang layarnya sudah retak bergetar hebat di atas meja makan. Panggilan masuk dari Shaka, kakak kandung Almira satu-satunya.

Almira buru-buru mengangkatnya. “Halo, Mas?”

“Al… Almira…” Suara Shaka terdengar bergetar dan panik di seberang sana, diiringi suara bising khas ruang gawat darurat. “Ibu, Al. Ibu jatuh di kamar mandi, kepalanya pendarahan hebat. Mas sekarang lagi di IGD sama Ibu.”

“Astaghfirullahaladzim, Ibu!” pekik Almira tertahan. Jantungnya seakan merosot ke perut. Air matanya langsung tumpah ruah.

“Al, Mas nggak ada uang buat nebus obat dan bayar ruang inap. Tukang harian kayak Mas lagi sepi proyek. Kamu… kamu bisa bantu Mas, Al Dokter minta deposit lima juta hari ini juga.”

Almira menoleh menatap Helmi yang sedang merapikan kerah kemejanya di depan cermin, bersiap berangkat kerja. Dengan sisa-sisa keberaniannya, Almira membuang semua gengsinya.

“Mas, aku mohon…” Almira menahan lengan suaminya. “Ibu masuk rumah sakit, kepalanya bocor. Pihak rumah sakit minta deposit lima juta, Mas. Aku mohon, pinjamkan aku uangmu. Nanti aku cari cara buat ganti, Mas.”

Helmi menepis tangan Almira dengan kasar seolah baru saja disentuh kotoran. Wajahnya mengeras. “Uang dari mana?! Kamu kan tahu gajiku habis buat nutupin kebutuhan rumah!”

“Tapi tadi kamu bisa transfer tiga juta buat Rika beli tas, Mas!” teriak Almira, tak tahan lagi untuk tidak membongkar apa yang dilihatnya.

Mata Helmi membelalak tajam. Bukannya merasa bersalah karena ketahuan, pria itu justru murka.

“Oh, jadi kamu sekarang berani ngintip HP suami?! Lancang kamu, ya! Rika itu adikku, wajar aku nyenengin dia! Daripada keluargamu itu, kebiasaan, dikit-dikit minta, dikit-dikit nyusahin Udah miskin, penyakitan pula! Gak ada uang! Kalau udah tau miskin, kan pakai bpjs bisa!”

Tanpa rasa belas kasihan sedikit pun melihat istrinya menangis tersedu-sedu, Helmi menyambar kunci motornya dan melangkah keluar rumah. Suara deru motor yang menjauh menjadi saksi bisu hancurnya hati Almira.

Tubuh Almira luruh ke lantai. Suaminya lebih memilih membelikan tas mahal untuk adiknya daripada menyelamatkan nyawa ibu mertuanya sendiri.

Di tengah isak tangisnya, tatapan Almira tertuju pada rumah besar bercat putih yang hanya berjarak beberapa meter dari rumahnya. Rumah ibu mertuanya, Bu Nunung. Almira tahu itu adalah kandang singa, namun saat ini, demi nyawa sang ibu, ia rela menyerahkan dirinya untuk diterkam.