“Angkat kakimu dari rumah ini sekarang juga, perempuan melarat! Anakku Yasir itu sekarang sudah jadi manajer, dia pantas mendapatkan istri dari keluarga terpandang, bukan parasit yatim piatu sepertimu yang cuma bisa menumpang hidup dan menghabiskan beras!”
Sebuah tas pakaian usang dilempar kasar hingga isinya berhamburan ke lantai marmer.
Aku menatap nanar beberapa helai baju murahku yang berserakan, lalu perlahan mengangkat wajah, menatap wanita paruh baya yang sedang berkacak pinggang di hadapanku. Ibu mertuaku, Bu Ratih.
Di sebelahnya, Yasir, pria yang sudah tiga tahun ini kupanggil suami, hanya berdiri melipat tangan di dada. Tidak ada raut penyesalan, apalagi niat untuk membelaku.
“Kamu dengar sendiri, kan, Fin?” ucap Yasir dingin, tatapannya merendahkan.
“Gajiku sudah puluhan juta sekarang. Aku butuh istri yang bisa dibanggakan saat kumpul bersama kolega, bukan perempuan yang penampilannya lebih mirip pembantu sepertimu. Surat cerai akan segera kuurus.”
Aku menghela napas pelan, perlahan memunguti bajuku dan memasukkannya kembali ke dalam tas.
Hatiku yang dulu mungkin akan hancur lebur mendengar kata-kata itu, kini justru terasa mati rasa.
Lucu sekali. Tiga tahun aku menekan egoku, menyembunyikan identitasku, dan melayani mereka layaknya pelayan hanya demi mencari tahu apa arti ‘keluarga’ yang tulus itu.
Ternyata, ketulusan memang tidak pernah ada di rumah ini.
“Kenapa diam saja? Cepat pergi! Jangan harap kamu bisa bawa satu barang pun dari rumah mewah ini!” sentak Bu Ratih lagi, menendang ujung tasku.

“Syukur-syukur Yasir dulu mau menampung gelandangan sepertimu!”
Aku berdiri tegak. Sebuah senyum sinis tanpa sadar mengembang di bibirku, membuat dahi Yasir berkerut heran.
Rumah mewah ini? Yasir yang menampungku?
Mereka benar-benar tidak tahu apa-apa.
Yasir mungkin merasa menjadi raja setelah dipromosikan menjadi Manajer Operasional di Bumi Artha Group bulan lalu. Dia sangat bangga dengan pencapaiannya.
Tapi, suami tercintaku itu tidak pernah tahu bahwa gedung perkantoran dua puluh lantai tempatnya mengabdi, beserta seluruh saham perusahaannya, berada di bawah kendaliku.
Bahkan, rumah mewah berlantai dua yang saat ini mereka pijak dengan penuh kesombongan, sertifikat aslinya tersimpan rapi di brankas pribadiku atas nama Fina.
“Baik,” kataku pelan namun tajam. Mataku menatap lurus ke arah Yasir.
“Aku akan pergi. Tapi ingat satu hal, Yasir, sekali aku melangkah keluar dari pintu ini, jangan pernah berlutut memohon untuk kembali padaku.”
Bu Ratih tertawa sumbang, tawanya menggema di seluruh ruangan.
“Mimpi kamu, gembel! Anakku sebentar lagi akan menikahi Siska, anak direktur! Mana sudi dia mengemis sama yatim piatu sepertimu!”
Aku tidak menjawab lagi. Tanpa menoleh ke belakang, aku melangkah keluar menembus dinginnya angin malam.
Tepat saat pintu gerbang rumah itu tertutup rapat di belakangku, sebuah mobil keluaran terbaru berwarna hitam pekat meluncur dan berhenti tepat di hadapanku.
Seorang pria bersetelan jas rapi bergegas turun, menunduk hormat 90 derajat sambil membukakan pintu untukku.
“Maaf terlambat menjemput Anda, Nona Fina.”
Aku masuk ke dalam mobil yang hangat dan langsung bersandar di kursi kulit yang nyaman.
Kuraih ponsel dari dalam saku, mendial sebuah nomor yang sudah tiga tahun tak pernah kuhubungi. Panggilan itu langsung diangkat pada dering pertama.
“Halo, Pengacara Dimas? Siapkan berkas penarikan aset rumah di blok ini besok pagi. Dan satu lagi, pastikan besok pagi meja manajer atas nama Yasir sudah kosong sebelum dia datang ke kantorku.”