Aku bergegas meninggalkan Ibu dan langsung ke luar. Kulihat Hani menangis turun dari sepeda yang dibonceng oleh temannya.
Kuhampiri dia, dan Hani langsung memeluk pinggangku erat.
“Ada apa, Nak?” tanyaku cemas.
“Ayah belum meninggal, kan, Bu?”
“Siapa yang bilang begitu?” Aku mengernyit, menatapnya.
“Teman-teman bilang, Ayah jadi korban ambruknya jembatan. Mereka bilang Hani sudah yatim, Bu. Hani gak mau, Hani mau ayah.” Hani kembali mengeratkan pelukannya.
“Enggak, Nak. Mereka bohong. Ayah pergi kerja saat ini.”
“Kalau kerja, kenapa Ayahnya Mia yang juga sama kerjaannya sama ayah Hani tidak bekerja. Mia bilang, Ayah bercerita waktu malam itu, ayah sedang bekerja di tengah-tengah jembatan. Lalu pas mereka mau pulang, tiba-tiba jembatan ambruk. Semua yang ada di atas jembatan jatuh ke sungai.”
Benarkah? Tapi nuraniku berat sekali menerimanya. Aku masih yakin jika yang pulang ke rumah adalah suamiku.
“Kita masuk dulu aja, yuk! Jangan dengerin kata orang. Nanti malam ayah pulang kita tungguin sama-sama, ya.” Kuelus pipinya lembut.
Hani mengangguk. Aku menuntunnya masuk ke dalam rumah. Ibu yang entah apa maksudnya menarik tubuh putriku ke dalam dekapannya.
“Sabar, ya, Nak. Sekarang Hani sudah yatim.”
“Hani bukan yatim, Nek! Ayah masih hidup! Hani benci Nenek! Nenek selalu benci sama ayah. Padahal Ayah tidak pernah mengajarkan kami untuk benci sama Nenek!” Hani terus meracau, ia melepas diri dari pelukan Neneknya.
Hani berlari masuk ke dalam kamar. Ibu sangat keterlaluan. Harusnya dia bisa menjaga perasaan Hani. Ibu hanya terperangah melihat sikap cucunya yang baru pertama kali berani melawannya.
“Bu, aku udah pusing banget. Aku mohon Ibu dan Kak Fitri pulang saja.”
Ibu menatapku lekat, menghembuskan napas berat. Dia keluar di susul Kak Fitri. Mereka pergi meninggalkan rumahku tanpa bicara sepatah kata pun lagi.
Aku mengintip Hani dibalik pintu. Dia menangis memeluk guling memanggil ayahnya.
Bila kuturuti kata hati, rasanya ingin berlari kencang menuju sungai, mencari suamiku. Meminta dia pulang ke rumah dan menenangkan putri kami. Pikiran dan kabar dari orang-orang membuat hatiku gusar. Aku tak ingin percaya. Aku berharap ini adalah mimpi.
“Assalamualaikum … Fatmi!” Lagi-lagi orang datang ke rumahku bergantian.
“Waalaikumsalam,” sahutku sambil berjalan ke depan.
Ternyata ada Pak Kades dan mandor suamiku itu lagi yang datang.
“Ada apa, ya, Pak?”
“Fatmi, tim SAR menemukan dompet suamimu ketika melakukan pencarian di sungai. Ini,” ucap Pak Kades memberikan dompet basah berwarna coklat muda.
Tanganku bergetar menerimanya. Kubuka pelan memastikan bahwa benar dompet yang kupegang adalah milik suamiku.
Tulangku rasanya remuk. Aku bersandar di kosen pintu mengelus dada. Benar kalau dompet itu milik bang Jamal, ada foto kami bertiga yang berukuran cetak 2R.
“Kami turut berduka cita, Fat. Kami akan meminta tetua adat melakukan ritual, supaya korban ditemukan segera.”
Suara Pak Kades tak kudengar dengan jelas. Langkah–ku semakin gontai melangkah ke kamar. Namun tertahan di depan pintu kamar Hani. Anak gadisku yang kini duduk di bangku kelas 4 SD itu menangis sesenggukan. Hati siapa yang terlebih dahulu kutenangkan. Haruskah aku meraung menangis sejadi-jadinya di depan dia? Sementara dia juga terluka sama sepertiku.
Aku memilih masuk ke kamar. Kukeluarkan baju bang Jamal dari dalam lemari. Kuciumi tak henti-hentinya sambil meringkuk di atas ranjang.
“Abang ….!!!” batinku menjerit perih.

Duar! Petir menyambar di langit kelam. Angin kencang disertai hujan lebat membuat suasana semakin mencekam.
Sudah sangat lama aku berkurung diri di dalam kamar hingga melewati waktu maghrib. Anakku juga tidak keluar kamar. Aku memeriksanya, ternyata dia tertidur dengan wajah sembab.
Lampu tiba-tiba mati. Aku bergerak mencari lilin. Kupasangkan di setiap sudut ruang. Kusingkap sedikit tirai jendela, menatap keluar.
Aku masih berharap jika Bang Jamal pulang. Kan kutahan dia untuk tidak pergi sewaktu aku masih tertidur pulas. Aku ingin menghabiskan hari esok bersamanya, bersama anak kami juga.
“Aku masih menunggu, Bang,” gumamku penuh harap.
Duar! Petir menggelegar menampakkan kilatan cahayanya. Kututup kembali tirai dan duduk di kursi.
“Ayah ….” Hani tiba-tiba berteriak di dalam kamar.
Aku berlari melihat dia. Anakku mengigau dengan keringat yang terus bercucuran. Kuusap dahinya yang penuh keringat itu. Badannya terasa panas.
“Han, Hani … bangun, Nak!” Kuusap pipinya.
“Ayah, dingin, ya? Sini kami peluk,” ucapnya dengan mata terpejam.
“Sayang, bangun.”
Perlahan anakku membuka mata. Di kedua sudut matanya keluar bulir bening. Bibirnya pucat.
“Biar Ibu kompres, ya.”
“Bu, Hani mimpi ayah. Kasian ayah, Bu. Ayah menggigil kedinginan.”
“Iya, bentar lagi juga Ayah akan pulang.” Aku bangkit dari ranjang bermaksud mengambil sebaskom air untuk mengompres Hani. Tanganku ditarik olehnya.
“Ibu kenapa gak jujur, Ayah Hani meninggal, kan, Bu?”
“Huussst … kamu gak boleh bilang begitu. Ayah akan segera pulang. Kita tungguin aja, ya.” Aku mencium pucuk kepalanya.
Dengan suasana yang remang kuberanikan ke dapur. Sosok bayangan putih melintasi meja makan. Aku sempat ingin berteriak. Namun, karena tidak begitu jelas bentuknya jadi aku mencoba untuk tidak panik.
Kuambil segayung air di dalam kamar mandi. Mataku malah berfokus pada cucian yang belum sempat kucuci tadi pagi. Ada tumpukan pakaian kotor milik bang Jamal.
“Abang …” ucapku dengan mata mengekor mengawasi.
Tidak ada sahutan. Aku yakin itu miliknya. Kututup kembali kamar mandi dari luar.
Byurr … byurr …
Baru dua langkah aku menjauhi pintu kamar mandi. Langkahku berhenti mendadak mendengar seseorang seperti sedang mandi di dalam sana.
Dadaku kembang kempis menoleh sedikit ke belakang. Kakiku melangkah dengan gugup mendekati pintu kamar mandi. Aku menempelkan telinga di daun pintu, mencoba mendengar lagi suara tersebut.
Lama aku mempertajam indra pendengaran, namun suara itu tak jua kunjung terdengar lagi. Mungkin aku yang salah dengar, ditambah suara hujan di luar. Mungkin yang kudengar tadi hanyalah halusinasiku saja.
Kutinggalkan ruang belakang dan kembali ke kamar Hani. Aku mengompres dahinya dengan kain.
Bibir anakku bergetar, dia menyilangkan tangannya di atas dada. Coba saja kalau tidak hujan dan mati lampu begini, mungkin aku sudah berlari ke warung terdekat membelikan obat. Mana bang Jamal tidak ada, semakin menambah kebingungan.
“Hani mau makan?”
“Hani mau Ayah, Bu.”
“Iya, nanti Ayah juga akan pulang. Sekarang Hani makan dulu, ya. Kalau Ayah lihat Hani sakit nanti Ayah sedih,” ucapku membujuknya.
Hani mengangguk. Kuselimuti dirinya dan kembali ke dapur. Tapi baru saja kaki ini hendak melangkah masuk ke ruang belakang yang di sudutnya ada meja makan dengan 2 kursi, mendadak tubuhku panas dingin.
Sosok Bang Jamal duduk di kursi dalam keadaan basah kuyup. Dia menunduk seolah tak tahu kalau aku memperhatikannya.
“Bang,” seruku pelan.
Dia memang tidak mendengar entah bagaimana. Aku melangkah mendekatinya.
“Ibu …!!” Hani berteriak kencang. Aku buru-buru ke kamar melihatnya.
“Ada apa, Nak?” tanyaku di ambang pintu.
“Hani takut, Bu. Tadi ada lewat di depan pintu,” ucapnya.
Lekas kupeluk anakku. Perasaanku semakin tak karuan. Tak terbayang sama sekali jika aku mengalami hal ini. Bang Jamal! Dia kenapa tidak ikut menyusul aku ke sini? Padahal anaknya berteriak ketakutan.