Suara Tiara terdengar seperti nyanyian iblis di telinga Ayu.
Tu b uh Ayu terangkat beberapa sentimeter dari lantai ubin. Cengkeraman tangan Banyu di lehernya sekeras besi. Udara di sekitarnya menguap. Paru-parunya terbakar mencari oksigen.
Mata Banyu merah menyala. Urat leher pria itu menonjol keluar. Wajahnya sangat dekat. Bau melati layu dan kemenyan menusuk hidung Ayu menutupi bau sabun cuci di ruangan itu.
“Mas … Banyu ….” Ayu mencoba bersuara. Suaranya hanya berupa bunyi gemeresik di tenggorokan yang tercekik.
“Kamu menya ki t i istriku. Kamu pantas m a t ii.” Banyu menggeram.
Pandangan Ayu mulai mengabur. Titik hitam bermunculan di sudut matanya. Di ambang kesadaran yang semakin menipis, bibir Ayu bergerak pelan tanpa mengeluarkan suara. Ia menyebut nama Sang Pencipta berulang kali. Alunan selawat mengalir deras di dalam batinnya. Ia pasrah menyerahkan nya wa nya detik itu juga.
Tiba-tiba tangan besar Banyu bergetar hebat. Pria itu meringis kesa ki tan. Telapak tangannya seolah baru saja menggenggam bongkahan besi panas.
“Panas!” Banyu berteriak ngeri. Cengkramannya terlepas.
Tepat pada detik yang sama, rentetan ketukan ke r as terdengar dari arah pintu dapur.
“Izin, Komandan! Laporan pagi, Komandan!” Suara bariton seorang prajurit memecah ketegangan. Sepatu lars mengetuk lantai ubin dengan keras mendekat ke arah ruang cuci.
Tu b uh Ayu ambruk ke lantai. Ia terbatuk keras meraup oksigen sebanyak mungkin. Lehernya terasa sangat pe r ih.
Banyu mundur sempoyongan. Ia menatap kedua telapak tangannya sendiri dengan dahi berkerut dalam. Sorot matanya yang li a r perlahan memudar sejenak. Pria itu tampak kebingungan melihat istrinya terkapar di lantai.
“Ayu? Kamu kenapa di bawah?” Banyu bergumam pelan. Suaranya kembali normal walau terdengar parau.
Tiara bertindak sangat cepat. Perempuan itu langsung menubruk kaki Banyu dan menangis meraung-raung.
“Mas Banyu! Mbak Ayu tadi mau bun vvuh aku pakai gvvn ting. Aku takut sekali, Mas.” Tiara mem e luk lutut Banyu erat-erat.
Pintu dapur di belakang mereka terbuka lebar. Sersan Dimas berdiri tegap. Matanya menyapu ruangan sempit itu dengan kilat. Ia melihat Nyonya Komandannya terbatuk memegangi leher yang memerah, dan seorang perempuan asing menangis mem el uk kaki atasannya.
“Siap, salah masuk, Komandan!” Sersan Dimas memalingkan wajah dan bersiap mundur. Wajah prajurit muda itu pias melihat keributan rumah tangga komandannya.
“Tunggu di luar, Dimas.” Banyu memberi perintah dengan suara berat. Pria itu memijat pelipisnya yang berkeringat. “Saya segera keluar.”
“Siap, laksanakan!” Sersan Dimas menutup pintu kembali dengan cepat.
Ayu bangkit perlahan menggunakan sisa tenaganya. Ia menatap suaminya. Banyu masih memijat kepalanya. Pria itu sama sekali tidak berusaha mengulurkan tangan untuk menolong Ayu. Banyu justru menunduk dan mengu s ap rambut Tiara.
“Jangan menangis. Ada aku di sini.” Banyu berbisik lembut menenangkan gu n diknya.
Ayu menelan ludah yang terasa amis. Hatinya hancur melihat adegan itu. Da r ah dari ujung kuku Tiara menetes mengotori lantai. Bungkusan kain hitam berisi tanah kuburan dan foto Ayu yang dirusak tadi masih tergeletak di dekat kaki mesin cuci.
Tiara menatap Ayu dengan ekor matanya, lalu diam-diam mene n dang bungkusan hitam itu ke bawah kolong mesin cuci agar tidak terlihat oleh Banyu.
“Berhenti memutarbalikkan fakta, Tiara.” Suara Ayu sangat serak namun tegas. Matanya menatap nya la ng. “Kamu yang membawa barang najis itu ke rumahku.”

“Cukup, Ayu.” Banyu menoleh t aj am. Matanya kembali menyorotkan kebencian. Hati nuraninya sudah kembali tertutup sepenuhnya oleh bisikan gaib. “Kemasi sisa barangmu. Jangan pernah berani keluar dari kamar belakang kalau gak ada yang memanggil. Aku malu punya istri yang mau membvvu n nuh madunya sendiri.”
Banyu memapah Tiara berdiri dan membawanya keluar dari ruang cuci. Pria tegap itu meninggalkan istri sahnya sendirian bersama lantai yang dingin dan napas yang masih tersengal.
Malam harinya, asrama batalyon diguyur hujan sangat deras. Suara petir menyambar bersahutan di langit kelam. Ayu duduk di tepi ran jang besi di kamar pelayan. Lehernya kini menyisakan bekas memar kebiruan berbentuk cetakan jari tangan suaminya. Ia mengoleskan salep pereda nyeri dalam diam.
Pintu kayu kamarnya berderit terbuka pelan. Cahaya dari lampu lorong menembus masuk.
Tiara berdiri di ambang pintu sendirian. Gaun tidur berbahan sutra hitam membalut tu b uhnya.
“Mas Banyu sudah tidur.” Tiara tersenyum manis. Ia melangkah masuk mendekati Ayu tanpa diundang. “Kamu hebat juga bisa selamat pagi tadi, Mbak.”
Ayu tetap diam. Tangannya menggenggam erat ujung botol salep. Matanya menatap t aj am setiap gerak-gerik perempuan musyrik di depannya.
Tiara menunduk hingga wajahnya sejajar dengan wajah Ayu. Bau bunga melati yang bu s uk kembali menyerbak memenuhi ruangan sempit itu, mengalahkan udara dingin dari luar jendela. Jari lentik Tiara terulur dan sengaja menye nt uh memar biru di leher Ayu.
“Bungkusan di baju loreng pagi tadi itu cuma pemanasan, Mbak.” Tiara berbisik sangat pelan, namun suaranya mengalahkan gemuruh hujan di luar sana. “Besok, bukan tangan Mas Banyu yang akan mence k ikmu waktu kamu tidur. Tapi tanganmu sendiri.”