Sampai sehari setelah pemakaman, kutemukan kendi berisi puluhan keping emas di dapur reot Emak.
Saat kujual, nominalnya mencapai….
Yuna sudah dipindahkan ke ruang rawat. Tangannya terpasang infus, matanya masih terpejam rapat.
Di sudut ruangan, Mbak Rini terlelap di kursi.
“Mbak… titip Yuna sama Raka ya. Aku harus pulang, ambil data buat administrasi,” ucapku pelan sambil membangunkannya.
Mbak Rini mengerjap, masih setengah sadar. “Sudah pagi?”
Aku mengangguk. “Sudah lewat subuh.”
“Ya sudah… kamu naik ojek? Mending bareng suamiku aja.”
“Mas Toni sudah pulang dari tadi, katanya berangkat kerja lebih awal.”
Mbak Rini hanya mengangguk. Aku tak ingin berlama-lama. Sebelum Yuna dan Raka bangun, semuanya harus sudah siap.
Aku berjalan menjauh dari rumah sakit, mencari ojek. Tak jauh dari sana, kulihat pangkalan kecil di pinggir jalan.
“Ojek, Pak. Antar ke Desa Kedawung.”
Pria tua itu tersenyum. “Ayo, Mbak. Pakai helm dulu. Ongkosnya empat puluh ribu.”
Aku mengangguk dan segera naik.
Perjalanan pulang terasa singkat. Dua puluh lima menit kemudian, aku sudah berdiri di depan rumah Emak.
“Pak, jangan pergi dulu ya. Saya masih perlu diantar lagi,” kataku setelah turun.
“Oh, tentu, Mbak. Nggak apa-apa.”
“Tunggu sebentar. Saya ambil barang dulu.”
Aku masuk tergesa. Dari dalam lemari, kuambil kendi yang kusimpan. Beberapa keping emas kuselipkan ke dalam tas, bersama uang yang tersisa, hasil mencongkel celengan tempo hari.

Tak banyak. Tapi cukup untuk sekarang.
Setelah semuanya siap, aku kembali keluar.
“Pak, ada tempat buat cek emas yang buka pagi begini?”
Pria itu berpikir sejenak. “Kalau toko emas biasanya jam sembilan. Tapi ada satu tempat… orangnya buka di rumah. Biasa nerima jual beli juga.”
“Bapak tahu tempatnya?”
“Pernah antar orang ke sana. Harganya lumayan bagus.”
“Antar saya ke sana, Pak.”
Motor kembali melaju.
Sepanjang perjalanan, pikiranku dipenuhi satu hal.
Semoga emas ini asli.
Bukan seperti yang dikatakan Mas Toni.
Lima belas menit kemudian, motor berhenti di depan sebuah rumah dengan papan bertuliskan Bianca Gold.
Seorang wanita bercadar sedang menyapu halaman.
“Assalamualaikum,” sapaku.
“Waalaikum salam. Mau jual emas?” tanyanya langsung.
“Saya… mau cek dulu keasliannya.”
Wanita itu mengangguk. “Erin. Panggil saja Erin.”
Aku membalas anggukan. “Saya Rahayu.”
“Silakan masuk.”
Aku menoleh pada ojek yang mengantarku.
“Masuk saja, Mbak. Saya tunggu di warung sebelah,” kata pria itu.
Aku naik ke teras. Mbak Erin membuka pintu rumahnya lebih lebar.
“Duduk, Mbak. Saya ambil alat tesnya dulu sebentar,” kata Mbak Erin.
Ia masuk sebentar, lalu kembali membawa beberapa alat.
Aku mengeluarkan lima keping emas dari dalam tas, lalu menyerahkannya padanya.
Tanganku terasa dingin saat menunggu.
—
Mbak Erin duduk di balik meja kecil. Ia membuka kain hitam tipis di atas permukaan meja, lalu mengisyaratkanku untuk mendekat.
“Biar kelihatan jelas,” ujarnya singkat.
Aku menurut. Jantungku berdetak pelan tapi berat.
Satu per satu keping emas itu ia susun di atas kain. Jemarinya lincah, tapi gerakannya tenang. Terbiasa.
Ia mengamatinya tanpa bicara. Memutar, mendekatkan ke mata, lalu membaliknya lagi.
“Ini dari mana?” tanyanya akhirnya, tanpa mengalihkan pandangan.
“Warisan… dari orang tua,” jawabku pelan.
Mbak Erin mengangguk tipis, seolah mencatat sesuatu dalam pikirannya sendiri.
Ia meraih sebuah magnet kecil dari samping meja, lalu mendekatkannya ke salah satu keping.
Tak ada reaksi.
Magnet itu berpindah ke keping lain.
“Kalau sampai nempel, biasanya sudah pasti bukan emas murni,” gumamnya santai.
Aku menelan ludah.
Mbak Erin lalu mengambil timbangan kecil. Salah satu keping emas diletakkan di atasnya. Angka digital menyala.
Ia mencatatnya sekilas, lalu mengambil gelas ukur kecil berisi air.
Emas itu dimasukkan perlahan. Permukaan air naik sedikit.
Ia memperhatikan dengan teliti, lalu mengangkatnya kembali.
Aku tak benar-benar paham apa yang ia hitung, tapi dari cara matanya bergerak, jelas ia sedang memastikan sesuatu.
Belum selesai.
Mbak Erin mengambil sebuah batu hitam kecil, permukaannya kasar, sedikit mengilap.
Ia menggesekkan salah satu keping emas di atasnya, meninggalkan garis tipis berwarna kuning.
Melihatku kebingungan, Mbak Erin menjelaskan.
“Ini batu uji,” katanya singkat, seolah tahu aku memperhatikan.
Dari kotak kecil, ia mengambil botol mungil berisi cairan bening.
Setetes cairan itu dijatuhkan tepat di atas garis emas tadi.
Aku menahan napas. Beberapa detik berlalu.
Garis itu… tetap ada. Tidak hilang, bahkan tidak memudar.
Mbak Erin diam sejenak, lalu mengulang proses yang sama pada keping lain. Gosok. Tetes. Tunggu.
Semua hasilnya sama.
Ia meletakkan botol itu kembali, lalu menatapku.
“Kalau palsu, biasanya langsung hilang atau berubah warna,” ucapnya pelan.
Jantungku berdegup lebih kencang.
Mbak Erin merapikan kembali keping-keping emas itu, menyusunnya seperti semula.
Ia tidak langsung bicara. Justru itulah yang membuat dadaku makin sesak.
“Jadi… gimana, Mbak?” suaraku hampir tak terdengar.
Mbak Erin mengangkat salah satu keping, menimangnya sebentar di ujung jari.
“Ini emas asli.”
Deg! Aku terdiam.
“Dan dari hasilnya…” ia berhenti sejenak, menatap keping itu lebih lama, “…kadar tinggi, 24 karat.”
Dunia seolah berhenti satu detik. Napasku tertahan.
Ini asli.
Berarti Mas Toni … bohong?
Aku menahan napas.
Untuk apa dia bilang ini palsu?
Tanganku perlahan mengepal.
Dia mau apa sebenarnya?
Apa … dia tabu itu asli. Dia menjual emas itu, tapi uangnya tak pernah sampai padaku?
Jadi Mas Toni memungut benda milikku yang dia sebut “barang imitasi” untuk dirinya sendiri? Benar-benar jahat!
Ah, sudahlah, setidaknya sekarang, aku punya satu hal yang pasti.
Harapan.
Soal Mas Toni, akan aku urus sampai tuntas nanti.
“Jadi mau dijual semua, atau salah satunya, Mbak? Kalau semua, saya masih harus ambil uang ke bank, Mbak. Ini terlalu besar nilainya,” kata Mbak Erin. Seketika aku tercengang.
“Me-memangnya, ada berapa gram, Mbak?” aku bertanya dengan suara yang terbata-bata.
“Di sini ada tiga keping 10 Dinar. Dan yang dua lagi, ini emas cukim. Yang satu berat 51 gram, satu lagi beratnya di 20 gram. Tanpa merk, bentuknya juga beda ya, Mbak.”
“Apa cukimnya laku? Bentuknya nggak bulat,” tanyaku. Aku langsung diam, merutuki pertanyaan bodohku.
“Tentu saja laku, Mbak. Jadi yang mana yang mau dijual?” tanya Mbak Erin, sambil membereskan mejanya.
“Ka-kalau semuanya, saya bisa dapat uang berapa, Mbak?” tanyaku, masih terbata-bata.
Mbak Erin diam. Dia mengetik di layar ponsel, seolah menghitung sesuatu.
“Kalau berdasarkan harga Buyback saya terkini, saya berani ambil di harga 533 juta ya Mbak.”
“Uhuk!”
Aku yang sedang minum air mineral gelas, langsung tersedak.
“Lima … ratus juta?” tanyaku tak percaya.
“Apa harganya nggak cocok, Mbak?”
“Sa-sangat cocok. Sa-saya jual sekeping, gramasi paling rendah. Yang penting saya tau ini asli. Saya butuh segera buat pengobatan anak saya,” kataku cepat.
“Yang mau dijual, cukim 20 gram ya Mbak? Saya ambil dulu uangnya. Saya beli di harga 54 juta hari ini.”
Mbak Erin meninggalkan aku yang masih terpaku.
“Jadi, semua asli?” batinku. “Emak, kenapa aku bisa nggak tau soal harta yang Emak sembunyikan?”
“Mbak, ini dihitung dulu. Emas yang lain boleh dimasukkan lagi ke tasnya, takut hilang.”
Aku menerima uang gepokan itu dengan gemetar.
“Ini benar … milikku kan?” gumamku lirih, nyaris tanpa suara.
Uang gepokan itu terasa tebal dan berat di tanganku. Bau khas kertas uang yang baru keluar dari mesin menyengat indra penciumanku.
Tanganku gemetar bukan lagi karena takut, tapi karena tak pernah menyangka memeliliki uang sebanyak ini.
Aku segera memasukkan uang itu ke dalam tas. Tas yang biasanya hanya berisi minyak telon, kertas bon dan dompet kempis.
Aku keluar dari rumah Mbak Erin dengan tatapan kosong. Semua terlalu mengejutkan.
Siapa sangka, di dalam tas bututku, tersimpan sesuatu bernilai lima ratus juta rupiah.
Dan di dalam reot lemari Emak, tersimpan kendi berisi emas, yang aku sendiri tak tahu pasti nilainya.
Yang kutahu, nilainya jauh lebih dari sekadar angka lima ratus juta.