Pas buka lihat, ternyata dia mantan terindahku yang dulu pergi pas lagi sayang2nya.
Pilih istri yang lagi keskitan, atau adzanin ank mantan
“Pak, pasien sebelah melhirkan tapi nggak ada suaminya. Bapak boleh minta tolong adzanin?”
Aku bengong sebentar. Ini perawat ada-ada saja. Istriku lagi bertruh nya wa di depan mata, malah disuruh adzanin ank orang. Mana ba yinya bukan ankku pula. Memangnya di klinik sebesar ini nggak ada petugas laki-laki apa?
“Mas … aku sudah bukaan delapan! Kamu mau ke mana?!”
Lenganku dicngkeram kuat banget sampai aku meringis. Tapi jujur, mataku malah gatel ingin melirik ke balik tirai sebelah.
Tadi pas perawatnya lewat dan tirainya sedikit tersingkap, aku sempat mengintp sedikit. Wajah itu … kayak nggak asing.
Seperti Juwita? Mantanku yang dulu memtuskanku demi cowok yang katanya lebih mapan? Kenapa dia bisa ada di sini?
“Dek, ini … ada bayi minta tolong diadzanin. Kasihan, bapaknya nggak ada,” kataku berusaha mencari alasan. Padahal hatiku sudah nggak karuan ingin tahu itu beneran Juwita atau bukan. Kalau aku nggak cek sekarang, aku bisa ma ti pensaran seumur hidup.
“Tapi sebentar lagi ank kita keluar, Mas! Kamu jangan ke mana-mana!” Nadia nggak rela.
Aku berdiri di antara dua bed yang cuma dipsah tirai tipis ini. Rasanya aneh banget. Di kanan ada masa depanku yang sedang berjuang, di kiri ada masa laluku yang sepertinya sedang hncur.
“Dek, Mas tolong sebentar ya, cuma sebentar kok. Kata susternya nggak ada laki-laki, ksihan nggak ada yang adzanin bayinya. Mas cuma mau bantu,” bujukku lagi.
“Tapi, Mas—”
“Bentar, Sayang. Mas wudhu dulu. Biar nanti pas ank kita lahir, Mas sudah suci, sudah dalam keadaan wudhu!”
Aku langsung melepaskan tangan Nadia tanpa menunggu dia setuju. Aku lari ke kmar mndi di sudut ruangan.
Sebenarnya bukan mau wudhu-wudhu amat, cuma ingin menenangkan jntung yang mau cpot. Aku membasuh wajahku berkali-kali di bawah kucuran keran.
Kalau benar itu Juwita, dan dia la hiran sendirian tanpa suami … wah, ini kesempatan aku jadi pahlawan. Aku bakal tunjukkan kalau aku sekarang jauh lebih keren dan sukses dibanding cowok pilihan dia dulu.
Buru-buru aku keluar dari kmar mndi, lalu langsung nyelinap ke bed sebelah. Dan benar saja.
“Juwita?” tanyaku pelan, nyaris berbisik.
Wanita itu noleh lemas banget. Rambutnya diikat cepol asal-asalan. Wajahnya pucat pasi. Sum pah, aku nggak tega lihatnya. Dia yang dulu selalu tampil cantik dan berkelas, sekarang terlihat begitu rapuh.
“Mas … Raka?” ucapnya serak, matanya yang sayu menatapku seolah tidak percaya.
Ternyata benar. Gi la, kebetulan macam apa ini? Di mana suaminya?
“Bu, biar saya adzanin ba yinya!” kataku mantap ke Bu Titi, mamanya Juwita yang berdiri di samping temat tidur dengan wajah kusut.
Aku mengambil ba yi merah yang masih terbungkus kain bedung itu. Ba yi laki-laki.
Pas mulai adzan di telinganya, aku sengaja membagus-baguskan suaraku. Aku ingin suaraku terdengar teduh tapi berwibawa. Biar Juwita tahu, kalau cowok yang dulu dia buang ini sudah bertransformasi jadi pria dewasa yang sangat bisa diandalkan.
Juwita menangis tersedu-sedu. Sepertinya dia terharu banget.
“Makasih ya, Mas Raka. Makasih banyak,” bisik Bu Titi sambil mengusap air matanya sendiri.
“Sama-sama, Bu. Memangnya … suaminya lagi di mana? Kok nggak kelihatan?”
Juwita malah makin nangis, dia menutup wajahnya dengan sebelah tangan. Aku jadi bingung sekaligus nggak enak hati.
“Suaminya pergi sama pelakr pas Juwita lagi hmil besar kemarin, Nak,” jawab Bu Titi pelan.
Hah? Serius?
Kasihan Juwita. Tega banget ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, eh, maksudku pas lagi butuh-butuhnya.
Andai saja dulu dia tetap bersamaku, mungkin nasibnya nggak akan sesedih ini.
“Oh … sabar ya, Wit.”
Cuma itu yang bisa keluar dari mulutku. Padahal batin aku ingin banget mengusp pundknya buat kasih kekuatan.
“Beruntung banget ketemu Nak Raka di sini. Mela hirkan jam dua pagi, klinik lagi sepi-sepinya. Makasih ya sudah mau bantu.” Bu Titi menatapku penuh harap.
“Sama-sama, Bu. Sudah kewajiban saya.”
“Ngomong-ngomong, Nak Raka lagi ngapain di sini?”
Pertanyaan Bu Titi langsung membuatku tersmbr petir. Aku tersentak hebat. “Oh, istri saya … lagi la hiran juga di sebelah.”
Astaga … Nadia! Aku benar-benar lupa kalau istriku lagi berjuang di balik tirai tipis itu!
“Mas … kamu di mana?! Mas Raka!!!”
“Saya permisi dulu, Bu! Istri saya sudah mau la hiran!”
Aku langsung kabur dari bed Juwita. Sempat menengok dia sebentar, melihat matanya yang sembab.
Diiseling khin pas hmil besar itu jhat banget. Nggak tega aku lihat mukanya tadi. Pasti dia hncur sehncur-hncurnya.
“Mas …!!!” Nadia triak lagi. Makin kacau suaranya, bercampur isak tangis.
Aku gercep balik ke samping Nadia. Aku raih tangannya yang langsung menckar lenganku kuat-kuat. Aku ciyum2 keningnya. “Maaf, Sayang. Mas di sini. Tadi cuma sebentar.”
“Kamu ke mana saja sih? Sakit banget, Mas! Udah nggak tahan!” Nadia meracau.
Aku pi jat ping gang Nadia, tapi otakku malah isinya Juwita melulu. Pikiranku bercabang. Aku melihat Nadia, tapi yang terbayang adalah wajah Juwita yang hncur.
Nadia mah enak, ada aku yang siaga, ada keluarga besar yang menunggu di luar dengan antusias.
Lah, si Juwita? Lhiran sendirian sambil ptah hati, cuma ditemani ibunya yang sudah tua. Kasihan banget asli.
“Mas, panggil bidan! Cepetan! Rasanya sudah mau keluar!” Nadia bertriak lagi, kali ini dibarengi dengan rin tihan panjang yang terdengar sangat mendrita.
“Iya, iya! Sebentar!”
“Bidan! Bu Bidan! Istri saya sudah nggak kuat!”
Nggak lama, Bidan datang dengan langkah cepat disusul asistennya. Mereka langsung masuk ke bilik Nadia. Aku berdiri di samping kepala Nadia, membiarkan dia menjmbak kaosku sampai kancing atasnya lepas.

“Sabar ya, Bu Nadia, jangan menge jan dulu. Kita cek dulu,” kata Bidan tenang. Dia mulai melakukan pemeriksaan dalam. “Wah, ini sudah bukaan sepuluh, Pak. Sudah lengkap! Sudah boleh menge jan, Bu.”
“Beneran, Bu? Sudah boleh nge den?” tanyaku semangat, sekaligus ngeri melihat wajah Nadia yang makin pucat.
“Iya, sudah boleh. Ayo, Bu Nadia, kalau ada kon traksi lagi, drong yang kuat ya! Trik napas dari hidung, keluarkan dari mulut, jangan triak ya Bu biar tenaganya nggak habis!”
Nadia mulai menge jan. Suaranya terthan. Aku memegangi pun daknya, berusaha memberi kekuatan.
Tapi lagi-lagi, mataku malah melirik ke arah tirai pembatas bed sebelah. Aku membayangkan, tadi Juwita melewati proses bukaan sepuluh ini dengan siapa? Siapa yang dia jmbak bajunya? Siapa yang menyemangatinya?
Eh, kok aku malah mikirin Juwita lagi di saat ankku mau la hir? Fokus, Raka! Fokus ke istri sendiri!
Nadia menge jan lagi, kali ini lebih lama. Tangannya menckar lenganku sampai terasa pe rih sekali. Aku melihat wajah istriku yang sudah kayak mau ping san karena kelelahan. Beda banget sama Juwita tadi yang nggak ada sandaran laki-laki sama sekali. Kasihan benar nasib mantan aku itu.
“Bagus, Bu Nadia! Sedikit lagi! Kepalanya sudah mau keluar!” seru Bidan.
Bidannya sempat menoleh ke aku sebentar sambil menyiapkan peralatan di bawah sana. Mungkin dia ingin mencairkan suasana yang tegang.
“Makasih ya Pak, tadi sudah bantu adzanin bayi sebelah.”
Aku manggut-manggut saja, mencoba bersikap ramah meski badanku sudah kaku semua dijam-bak Nadia.
“Iya, sama-sama Bu. Kasihan memang, kebetulan dia itu mantan saya!”
Glek. Gwat, aku kecep losan!
Detik itu juga, rasanya aku ingin telan ludah sendiri tapi nggak bisa. Aku merasa seperti baru saja menjtuhkan bo om di tengah ruangan.
Bdoh banget aku! Kenapa juga mulut ini nggak bisa dijaga? Kenapa harus pa mer kalau dia mantan?!
“Apa, Mas?! Mantan?!”
Mampus aku. Rasanya lebih baik aku ikut menge jan daripada harus menghadapi tatapan Nadia sekarang.
Bersambung ….