Posted in

“Mas, gimana nih, Lani sudah tahu semuanya,” ucap Angel p4nik sembari mengambil p*t*ngan bajunya yang bers3rakan di lantai.

“Entahlah,” jawabku pasrah dengan mengendikan bahu. Ot4kku masih belum stabil setelah dip3rg*ki oleh Laniara tadi. Aku hanya k4g3t bukan c3m4s.

Selepas Laniara pergi dengan kec3pat4n turbo aku langsung memakai atr1b*t di t*b*h yang penuh dengan ker1ngat dingin dan mengambil kunci serep yang dibu4ng Laniara sebelum pergi serta tak lupa menutup pintu lalu menguncinya. Aku tidak ingin ada orang lain yang melihat t*b*h Angel yang begitu memesona di mataku.

“Mas, kamu jangan diam aja. Gimana kalau semua rencana kita g4g4l,” ujar wanita berambut pir4ng dengan b0dy bak gitar spanyol yang masih sibuk memakaikan atribut ke t*b*hnya.

Aku menghela napas pelan lalu meminum seteguk kopi, “sudah, santai saja. Aku tahu siapa Laniara. Nanti aku akan ber4kting, pura-pura meny3s4li semuanya. Kamu tak perlu r1s4u, Sayang.”

“Serius, Mas?” Angel berjalan cepat menghampiriku dan duduk di atas pangku4nku. Tentu aku sambut dengan h4n9at sikapnya itu. Kini, tak ada lagi gur4t kec3m4san di wajahnya yang bening, malah hanya ada senyum men9g0da begitu yang tert4ngkap di kedua netraku.

Angel adalah sekretaris pribadiku di kantor, dia baru berg4bung selama 4 bulan seiring dengan ken4ikan jabatanku sebagai posisi Manager. Ini semua salahnya Laniara, mengapa dia harus merekomendasikan Angel yang notabene adalah sahabat k4ribnya semasa putih abu-abu dulu. Jangan salahkan aku dan Angel jika kami saling tert4rik satu sama lain seiring berjalannya waktu.

“Iya, aku tahu siapa, Laniara. Jadi. kamu tenang saja tidak perlu c3m4s,” jawabku meny4kinkan Angel. Sebenarnya aku tidak ingin k3hil4ngan keduanya, Angel adalah wanita yang paling mengerti akan kesen4ngan lelakiku, sedangkan Laniara adalah pembawa rezeki di hidupku semenjak kami menikah.

“Tapi … aku takut nantinya tidak amp*h sand1w4ra mu, Mas.”

“Kamu r4gu dengan kepi4waianku dalam berb*h*ng?” Perempuan yang memiliki mata coklat itu menggeleng pelan.

Sekalipun Laniara sudah mem3rg0kiku saat ‘bermain’ dengan Angel tadi, akan tetapi sedikit pun tidak ada rasa bersalah yang terlintas dib3n4kku. Apakah cintaku sudah pudar dengan adanya Angel?

“Aku masih kangen, ‘kan tadi belum tunt4s,” r3yuku dengan mem3luk er4t t*b*h Angel.

“Sama, Mas. Yuk, kita selesaikan dulu, aku juga masih kangen sama kamu,” b1s1knya m4nja yang membuat aku mer*nta ingin segera ‘bermain’ kembali.

Kurang lebih setengah jam tunt4s sudah perg3lut4n antara aku dan Angel. Sempurna dan m3mu4skan, itulah kata yang pantas bentuk pengh4rg4anku pada Angel yang tidak pernah meng3cew4kan untuk ur*san ranjang.

Sebelum pulang aku sengaja memasang kancing baju tidak sesuai semestinya dan meng9osok-g0sok kedua mataku hingga kini tampak mem3r4h, demi menyempurnakan akt1ngku nanti di depan Laniara.

💔
💔
💔

Sesampainya di rumah aku langsung ber4ksi untuk berpura-pura meny3s4li semua yang telah terjadi di depan Laniara yang tengah membersihkan meja makan.

Namun, ketika kutatap wajah Laniara yang penuh brut*s4n itu sama sekali tidak terlihat rasa s3dih ataupun am4rah yang mem*nc4k. Apakah Laniara set3gar itu sampai-sampai dengan begitu terlihat tenang seakan tidak mem3rg0ki apa-apa? Se-sayang itukah dia padaku, hingga aku melakukan hal fatal dia bersikap biasa saja?

Lebih an3hnya dia malah meny*ruhku untuk menikahi Angel. Apakah dia sudah siap di madu? Atau bar4ngkali dia sudah ikhlas akan dirinya yang tidak bisa memb3rikan aku seorang an4k.

Di dalam kamar mandi, aku termenung …

Seketika ada yang meng94njal di pikiranku, “kenapa Laniara bisa datang di saat yang tidak tepat?” tanyaku memb4thin. Apa ada seseorang yang memberi tahu? Kalau iya, siapa? Dan kenapa bisa?

Sembari bertanya-tanya di dalam hati, aku terus meng9uyur t*b*h yang sudah t3rpu4skan oleh Angel tadi. Aku akan berpura-pura meny3sal di depan Laniara sampai kepercayaannya ku r3n9gut kembali. Dan men*nt4skan misiku lainnya setelah itu baru aku menc3r4ikan wanita pembawa rezeki itu.

Untung saja tadi aku bisa berpura-pura mer1nt1h ketika Laniara berdiri di amb4ng pintu h0tel. Padahal sel3pas dia pergi aku dan Angel melanjutkan permainan yang sempat terganggu tadi. Sayang kalau tidak closing, karena aku rela memb4y4r m4h4l demi mel3pas d4h4ga.

Lain kali aku akan lebih hati-hati supaya Laniara tidak bisa mem3rg0kiku lagi ketika ‘bermain’ dengan Angel. Apalagi tadi aku m4lu ketika perempuan yang sedang standby di meja res3psionis menatapku dengan nan4r. Masih untung dan masih selamat satpam h0t3l tidak menggr3b3k aku dan Angel.

Selesai mandi aku sengaja tidak langsung memakai baju, karena aku akan melanjutkan aksi. Jika dia tidak m4r4h padaku, malam ini aku akan memb3rinya n4fkah b4thin padanya.

“Lan … Mas sangat meny3s4li soal yang tadi,” ucapku dengan l1rih, tapi pura-pura. Laniara yang sedang duduk di dekat meja ri4snya s*nt4k berdiri.

“Tak perlu membicarakan itu lagi, Mas. Aku juga tidak mempermasalahkannya, ” jawabnya santai sembari berjalan menuju r*nj*ng. Tak sedikit pun dia menoleh padaku.

“Makasih, ya. Kamu memang istri terbaik, berarti malam ini aku boleh dong ngasih kamu n4fkah b4thin?” tanyaku pel4n dan menduduki b*bot di b1b1r r4nj4ng.

“Tamu bulanan ku masih ada, Mas.” jawabnya singkat, lalu mer3b4hkan diri di per4duan.

“Oh, nanti sajalah kalau kamu sudah tidak kedatangan tamu bulanan padahal aku ingin sekali kita memadu kasih, Lan,” jawabku pura-pura tidak terima.

Sebenarnya inilah alasanku akhirnya terg*d4 dan memadu kasih lebih dalam dengan Angel karena Laniara sering kedatangan tamu bulanan, bahkan dalam sebulan hanya bersih tiga hari. Naluriku sebagai lelaki kurang tersalurkan.

“Lan … Laniara,” panggilku pelan. Tetapi tidak ada sahutan sama sekali. Dia benar-benar aneh, aku pikir dia akan mer*nta-r0nta bahkan men4ng1s sejadinya di hadapanku dan memohon untuk mel3p4skan Angel. Rupanya malah sebaliknya di luar ekspetasiku, dia begitu tenang, bahkan tidurnya saja terlihat ny3nyak.

Setelah memakai baju dan per1ntil4n lainnya aku mem*t*skan untuk keluar k4m4r, bosan juga di dalam apalagi dit1nggal tidur oleh Laniara.

“Ma, mama jangan terlalu k4s4r ngomongnya di depan Laniara,” protesku pada mama yang tengah duduk di depan TV bersama Ayudia. Duduki sofa kosong sebelah mama.

“Siapa yang kasar sih, Fan. Lagian tadi Laniara terlihat baik-baik saja, malah dia meny*r*hmu untuk menikahi Angel, ‘kan? Kenapa nggak diambil saja kesempatan emas itu?” hasut mama. Aku mend3ngk*s.

“Iya, nih. Katanya mau punya an4k, kalau ditunggu Kak Laniara h4m1l sampai s3mbilan bulan bakalan r*nt*h dunia, Mas. Kamu ikutin saja kata mama. Nggak kasihan sama mama, Mas?” t1mbr*ng Ayudia.

“Tapi, Ma -“

“Tapi apalagi sih, Fan?” p*t0ng Mama. Dia ber4nj4k dari duduknya lalu masuk ke dalam k4m4r.

“Udah lah, Mas. Nikahin aja Angel, lagian kalau dibandingkan nih, ya. Angel lebih ketceh ket1mb4ng Laniara,” h4s*t Ayudia sembari meng3d1pkan kedua matanya padaku.

Ayudia adalah adik perempuanku satu-satunya yang baru saja meraih gel4r Sarjana Ekonomi yang sekarang sedang sib*k mel4m4r ke beberapa perus4h4an.

Aku hanya menatap kosong.

“Apa aku harus menikahi Angel? Dan … memiliki dua istri?” b1s1kku dalam hati.

Baiknya Arfan diap4in yah? Seenak jid4t aja ngomongnya.

Judul Novel Perce raian yang Terindah

Penulis Dwi Nella Mustika

Novel ini bisa dibaca di aplikasi KBM App yaa