Posted in

Mas, aku izin pulang, ya. Kata Mbak Rini, Emak sakit. Nggak lama kok, cuma tiga hari.”

Mas, aku izin pulang, ya. Kata Mbak Rini, Emak sakit. Nggak lama kok, cuma tiga hari.”

Aku memberanikan diri bicara pada Mas Imran, suamiku. Namun reaksinya persis seperti dugaan.

“Enak saja! Kamu pikir tiket kereta bisa dibayar pakai daun?” kata Mas Imran. Nada suaranya meninggi.

“Lagian, Emakmu itu manja banget sih! Demam sedikit saja sudah sibuk nyuruh kamu pulang!”

Aku menunduk, memilin ujung kaus kedodoran yang kukenakan.

“Mas, bukan Emak yang nyuruh aku pulang,” kataku lirih.

“Tapi perasaanku nggak enak dari kemarin. Apalagi sejak Mbak Rini bilang Emak sudah hampir seminggu sakit. Boleh ya, Mas?”

Aku kembali memohon, berharap lelaki itu berkata “iya”. Tapi sepertinya itu hanya harapan semu. Dia tetap melarang keras.

“Nggak boleh! Ngapain sampai izin pulang? Lebay amat! Emakmu itu cuma sakit, bukan mati!” kata suamiku, menusuk hati.

“Sudahlah, urus Ibuku sana! Dia minta makan bubur sumsum. Perutnya sakit lagi. Aku mau berangkat kerja.”

Mas Imran bersiap pergi, tapi kutahan tangannya dengan gemetar.

“Mas… kamu menyumpahi Emakku mati?” tanyaku dengan suara parau. Tatapanku buram, tertutup air mata yang siap jatuh.

“Apanya? Gitu saja tersinggung,” jawab Mas Imran enteng.

“Emakmu nggak bakal langsung mati cuma karena aku ngomong begitu. Sudahlah, aku mau berangkat kerja!”

Dia berbalik, lalu menambahkan tanpa rasa bersalah, “Jangan lupa, urus Ibuku dengan baik! Dan sebelum Yuna dan Raka bangun, kamu selesaikan semua kerjaan rumah!”

Mas Imran pergi tanpa sedikit pun rasa bersalah. Sementara aku hanya bisa menekan dada, berharap sakitnya mereda.

Aku kembali ke dapur.

Kutatap satu bak besar cucian kotor milik keluarga Mas Imran.

Belum lagi dua plastik merah berisi baju tetangga yang harus kucuci hari ini.

Aku menghela napas panjang.

Iya… aku memang menjadi buruh cucian untuk orang-orang sekitar sini.

Bukan karena ingin, tapi karena harus.

Upahnya memang tak seberapa. Hanya cukup untuk jajan Yuna dan Raka… itu pun kalau aku hemat.

Karena dari Mas Imran, tak pernah sekalipun aku memegang uang hasil kerjanya.

Semua dipegang ibunya.

“Buat bubur dulu. Terus lanjut nyuci. Soal sarapan aku dan anak-anak, goreng telur saja nanti.”

HP-ku bergetar saat aku sedang mengaduk bubur. Panggilan dari Mbak Rini tak sempat kuangkat.

[Iya, Mbak? Lagi masak ini.]

Aku mengirim pesan singkat.

[Emakmu pingsan! Tadi sempat sesak napas. Dia jalan ke rumahku sambil ngap-ngapan, terus tiba-tiba pingsan di teras!]

[Kapan kamu pulang? Ini sudah satu jam, Emakmu belum sadar juga. Suamiku lagi panggil dokter.]

Pesan itu kubaca sekali lagi.

“Emak… pingsan?”

Tanganku mulai gemetar. Tulisan di layar mendadak buram.

Satu jam… belum sadar?

Lututku langsung lemas.

Aku menatap pintu depan. Ucapan Mas Imran masih terngiang.

Kalau aku pergi, dia pasti marah.

Tapi kalau aku tidak pergi…

Aku mengepalkan tangan.

Persetan. Aku tidak peduli.

Aku mematikan kompor. Aku harus pulang sekarang, dengan atau tanpa izin suami jahat itu.

Aku mengusap air mata, lalu berlari ke kamar. Kusibak baju-baju di lemari dan mengambil celengan plastik seukuran botol kecil yang kusimpan rapi.

Kulubangi bagian bawah celengan itu, lalu kutarik uang-uang lusuh dengan tergesa.

“Bu, ngapain?” tanya Raka, yang terbangun karena gerakanku.

“Nak, bangunkan adikmu. Bantu siap-siap. Masukkan baju ke dalam tas. Kita pulang ke rumah Mbah Uti,” kataku menahan tangis.

Bocah berusia lima tahun itu tak banyak tanya. Ia langsung membangunkan Yuna, lalu memasukkan beberapa pakaian ke dalam ransel.

Kuhitung uang hasil buruh cuci gosok yang kukumpulkan sedikit demi sedikit.

Empat ratus lima puluh ribu.

Kuharap ini cukup.

“Ayo, kita ke stasiun.”

Aku menggandeng mereka berdua keluar rumah. Tak lupa, kutulis surat untuk suamiku.

Dia pasti akan membacanya nanti.

Dan saat itu, aku sudah tidak ada di rumah ini lagi.

***

Aku tiba di stasiun dengan menaiki angkot tua yang penuh.

Aku langsung mengantre di depan loket pembelian tiket dengan jantung berdebar.

Tanganku berkeringat saat menggenggam uang lusuh itu. Raka berdiri diam di sampingku, sementara Yuna memeluk kakiku, sesekali mengusap matanya yang masih mengantuk.

“Bu, kita pergi tanpa Bapak? Apa nggak apa-apa?” bisik Raka.

“Nggak apa-apa. Bapak sibuk, nggak bisa ikut,” kilahku.

Antrean bergerak. Tinggal satu orang lagi sebelum giliranku.

Aku menelan ludah.

“Berikutnya.”

Aku melangkah maju.

“Ke… ke Surabaya, Pak. Tiga orang,” ucapku pelan.

Petugas loket mengetik sesuatu di komputer tanpa menatapku.

“Tiga tiket. Lima ratus sepuluh ribu.”

Jantungku seperti berhenti.

Tanganku gemetar.

Perlahan, kuhitung uang di tanganku. Sekali. Dua kali.

Jumlahnya sama. Empat ratus lima puluh ribu. Jelas uang ini kurang.

Aku menelan ludah, mencoba bicara. “Pak… bisa kurang sedikit, nggak? Saya…”

Belum sempat aku selesai, petugas itu sudah menggeleng.

“Nggak bisa, Bu. Harga sudah sesuai sistem.”

Suasana mendadak terasa sempit. Yuna menarik ujung bajuku.

“Bu… kita jadi ke Mbah Uti, kan?”

Aku menunduk. Tenggorokanku tercekat.

“Iya, Nak…” suaraku nyaris tak terdengar.

Di belakangku, antrean mulai panjang.

“Lama banget sih…” terdengar seseorang berbisik.

Napasku terasa makin sesak.

“Bu, kalau nggak jadi, minggir dulu ya…” kata orang di belakangku, tak sabar.

Yuna menoleh ke arah petugas loket. Matanya bulat, polos.

“Pak…”

Petugas itu akhirnya mengangkat kepala.

“Iya?”

“Kalau kita ke Mbah Uti… boleh nggak pakai uang segini saja?”

Yuna membuka genggaman kecilnya, memperlihatkan beberapa lembar uang dua ribuan lusuh.

Petugas itu terdiam.

Yuna melanjutkan, suaranya lugu.

“Soalnya Mbah lagi sakit. Kata Ibu, tadi pingsan…”

Aku langsung menutup mulut Yuna pelan.

“Nak…” bisikku, menahan tangis.

Suasana mendadak sunyi.

Petugas loket menatap kami beberapa detik lebih lama. Namun akhirnya ia menarik napas.

“Maaf, Bu. Saya nggak bisa bantu soal harga. Itu sudah aturan.”

Aku mengangguk pelan.

“Iya, Pak…” suaraku hampir tak keluar.
“Saya mengerti…”

“Bu…” Raka menarik bajuku pelan.
“Kalau nggak cukup… kita pulang lagi saja?”

Tanganku kembali meremas uang itu.

Pikiranku kosong.

Aku harus bagaimana?

***

Aku masih berdiri terpaku di depan loket. Uang di tanganku terasa makin berat, seolah menertawakan ketidakmampuanku.

Tiga tiket. Lima ratus sepuluh ribu. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri yang mulai kacau.

Tunggu. Tiba-tiba satu hal terlintas di kepalaku.

Aku menunduk, menatap Yuna yang masih memeluk kakiku. Wajahnya polos, matanya masih sembab karena baru bangun tidur.

“Umur Yuna…” gumamku pelan.

Petugas loket sudah mulai mengalihkan perhatian ke antrean berikutnya.

“Bu, kalau nggak jadi, lebih baik …”

“Pak, tunggu!” potongku cepat.

Petugas itu menghela napas, tampak sedikit tidak sabar. “Iya, Bu?”

Aku menelan ludah.

“Bukannya kalau anak di bawah tiga tahun… nggak perlu tiket, kan?”

Petugas itu menatapku, lalu melirik ke arah Yuna.

“Kalau belum genap tiga tahun, tidak perlu tiket, Bu. Dipangku saja.”

Jantungku langsung berdegup lebih kencang.

Belum genap. Ulang tahun Yuna memang masih seminggu lagi.

Aku hampir tak percaya dengan harapan kecil yang tiba-tiba muncul.

“Yuna belum tiga tahun, Pak,” kataku cepat, nyaris tanpa jeda. “Baru mau tiga tahun, minggu depan.”

Petugas itu memperhatikan Yuna lagi. Mungkin menilai. Atau mungkin ragu? Terserah, yang terpenting kami bisa berangkat.

Aku refleks memeluk Yuna lebih erat, seakan ingin memastikan tubuh kecil itu terlihat lebih mungil.

“Ya sudah. Dua tiket saja.”

Aku menghembuskan napas lega.

“Dua tiket, tiga ratus empat puluh ribu.”

Tanganku gemetar saat menyerahkan uang lusuhku. Kali ini cukup. Alhamdulillah.

Aku menahan napas, lalu menghembuskannya perlahan.

Emak… tunggu aku.

Aku memasukkan uangku yang masih tersisa sedikit itu ke saku.

“Silahkan, ini tiketnya.”

Aku hampir menangis saat menerima tiket itu.

“Terima kasih, Pak… terima kasih…” ucapku lirih.

Aku menggandeng Raka dan menggendong Yuna.

“Kita jadi, Nak…” bisikku.

Raka tersenyum kecil. Yuna memeluk leherku lebih erat.

Ruang tunggu stasiun terasa penuh.

Kami duduk di bangku panjang yang dingin. Aku memeluk Yuna di pangkuan, sementara Raka duduk di sampingku. Anak itu diam seperti sedang berusaha mengerti situasi.

Tiba-tiba, suara pengumuman menggema.

“Kereta tujuan Surabaya mengalami keterlambatan karena gangguan teknis. Diharapkan penumpang menunggu…”

Aku memejamkan mata.

Delay.

Tentu saja. Seolah semua harus terasa lebih sulit.

“Bu…” suara Yuna pelan di telingaku.

“Iya, Nak?”

“Aku lapar…”

Dadaku langsung sesak. Aku menelan ludah, lalu mengangguk pelan.

“Iya, ayo kita makan ya.”

Aku berdiri, berjalan ke penjual makanan sederhana di ujung ruang tunggu.

“Pak, nasi bungkus satu.”

Aku memilih yang paling murah. Dengan lauk paling sederhana. Yang penting cukup untuk mengusir rasa lapar.

Akan gawat kalau Yuna meminta makan saat kereta sudah berjalan. Yang aku tahu, harga makanan dalam kereta jauh lebih mahal.

Kami kembali ke bangku. Kubuka bungkus nasi itu perlahan. Nasi putih, tumisan kacang panjang, sedikit sambal, dan dua potong kecil tempe.

Aku menyuapi Yuna dulu.

“Pelan-pelan ya, Nak…”

Lalu ke Raka.

“Kamu juga.”

Raka menggeleng.

“Ibu dulu aja.”

Aku tersenyum pahit. “Nggak. Kita makan bareng.”

Akhirnya kami bertiga makan dari satu bungkus nasi yang sama.

Sedikit demi sedikit. Berusaha cukup. Berusaha kenyang. Meski sebenarnya tidak.

Beberapa waktu kemudian, pengumuman kembali terdengar.

Kereta kami akhirnya siap berangkat.

Aku menggenggam tiket itu erat-erat. Kalau tiketnya hilang, aku tak punya cukup uang untuk membelinya lagi.

Kami naik ke dalam kereta. Aku duduk di kursi, Yuna di pangkuan, Raka di sampingku.

Saat kereta mulai bergerak, hatiku ikut bergetar.

Aku benar-benar pergi.

Tanpa izin.

Tanpa restu.

Tanpa tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

Baru beberapa menit perjalanan, ponselku bergetar.

Nama Mas Imran muncul di layar. Tanganku langsung terasa dingin.

Aku menatap layar itu beberapa detik. Lalu… kutekan tombol tolak.

Tak lama, ponselku bergetar lagi. Dia menelepon lagi. Aku menutup mata sejenak, lalu menjawab.

“Mas…”

“Di mana kamu!?” bentaknya langsung, tanpa salam.

Aku terdiam.

“Kamu berani-beraninya kabur dari rumah!?” suaranya penuh amarah. “Nggak tahu diri! Sudah kutampung, sekarang seenaknya pergi bawa anak-anak!”

“Mas, aku cuma …”

“Diam!” potongnya kasar. “Kalau kamu nggak balik sekarang juga, jangan harap kamu masih aku anggap istri!”

Dadaku sesak.

“Aku bisa talak kamu kapan aja, paham!?” lanjutnya. “Dan anak-anak itu …”

Tanganku gemetar.

Aku langsung mematikan telepon itu. Napasku memburu.

Belum sempat tenang, ponselku kembali bergetar. Mas Imran lagi.

Aku menggertakkan gigi. Kutolak panggilannya.

Berdering lagi.

Lagi.

Lagi.

Sampai akhirnya kesabaranku habis.
Aku mengangkat telepon itu dengan kasar.

“APALAGI SIH, MAS!?” bentakku, suaraku pecah. Keras bercampur parau.

Beberapa penumpang sampai menoleh ke arahku. Menatap dengan tatapan aneh. Biar saja.

Sunyi.

Beberapa detik. Lalu suara di seberang sana terdengar pelan.

“…Yu?”

Aku terdiam. Itu bukan suara Mas Imran.

“Mbak… Rini?” suaraku langsung melemah.

Di seberang sana, terdengar isak tertahan.

Dadaku langsung sesak.

“Yu…” suara Mbak Rini bergetar. “Kamu di mana sekarang?” tanya wanita itu, dengan suara serak.

Aku tak bisa langsung menjawab. Jantungku berdetak tak karuan.

Perasaanku mendadak tak enak.

“Di… di kereta, Mbak…”

Hening sejenak.

Lalu …

“Emakmu…” suara Mbak Rini pecah.

Aku langsung menggenggam ponsel itu erat-erat.

“Emakmu udah nggak ada, Yu.”

Deg! Kedua mataku membulat. Dunia seakan berhenti.

Aku tak mendengar apa-apa lagi. Suara kereta. Suara orang. Semua lenyap.

“Emak…?” suaraku nyaris tak terdengar.

“Tadi… habis dokter datang…” lanjut Mbak Rini dengan tangis yang pecah. “Nggak lama… Emakmu pergi.”

Tanganku lemas. Ponsel itu hampir jatuh.

“Emak…” bisikku pilu.

Air mataku jatuh tanpa suara.

Aku terlambat.

Aku… terlambat pulang. Sampai Emak mendahului pulang ke Penciptanya.

Yuna yang ada di pangkuanku menatap wajahku.

“Bu… kenapa nangis?”

Aku tak bisa menjawab.

Raka menggenggam tanganku. Dia diam, tapi dari tatapannya tampak jelas dia sedang khawatir.

“Bu…”

Aku memeluk mereka berdua erat-erat.

Tangisku akhirnya pecah. Keras, tanpa bisa kutahan lagi.

Di tengah kereta yang terus melaju, kudapati kabar bahwa aku kehilangan satu-satunya tempat pulang.