Posted in

“Pastikan dia tidak menerima satu pun surat panggilan si dang itu. Aku ingin semuanya bersih, cepat, dan tanpa perlawanan yang membu wang waktu.”

Suara Bima Pradipta terdengar dingin, memantul di dinding ruang kerja pengacara kondang, Adibrata.

Bima berdiri di dekat jendela besar yang menghadap gedung-gedung pencakar langit Jakarta, sementara tangannya terselip di saku celana. Di belakang meja kerjanya, Adibrata mengangguk paham sambil membolak-balik berkas tebal berwarna merah.

“Tenang saja, Pak Bima,” jawab Adibrata dengan senyum profesional yang penuh percaya diri. “Tim saya sudah mengatur segalanya. Alamat surat panggilan untuk Tergugat, Noah Pratama sudah kami arahkan ke alamat properti lamanya yang kosong, bukan ke rumah sakit atau rumah utamanya. Secara hu kum, itu masih sah karena pernah menjadi domisilinya. Dengan begitu, dia tidak akan pernah tahu ada panggilan sidang sampai semuanya terlambat. Dia akan pulang bukan sebagai suami melainkan mantan suami Ibu Aruna.”

Bima berbalik, menatap pengacara senior itu dengan tatapan ta jam. “Dan alasannya?”

“Kami menggunakan pasal pelang garan taklik talak dan poligami tanpa izin istri pertama,” jelas Adibrata. Ia menunjuk poin-poin dalam dokumen gu ga tan. “Fakta bahwa Noah menikah lagi dengan Lisa Subarta baik secara siri atau resmi sekalipun, jika itu dilakukan tanpa persetujuan tertulis dari Ibu Aruna adalah senjata utama kita. Ditambah lagi, kita masukkan klaim bahwa Tergugat telah meninggalkan istri sah selama lebih dari tiga bulan berturut-turut tanpa nafkah batin dan kabar yang jelas.”

“Tapi dia baru pergi seminggu,” sela Bima, menguji argumen itu.

“Di atas kertas, Noah sering melakukan perjalanan bisnis panjang dan mengabaikan istrinya, bukan? Kita punya saksi-saksi, para asisten rumah tangga yang sudah kita ‘amankan’ yang siap bersaksi bahwa Noah jarang pulang.” Adibrata tersenyum li cik.

“Apalagi saat ini Tergu gat sedang berada di luar negeri, tidak bisa dihubungi, dan bersenang-senang dengan istri barunya. Ketidakhadirannya dalam sidang perdana, kedua, dan ketiga akan dianggap sebagai verstek. Ha kim akan memu tus perkara tanpa kehadiran tergu gat.”

Bima mengangguk pu as. Ia membayangkan Noah yang sedang tertawa-tawa di Paris atau Maladewa bersama Lisa, tidak menyadari bahwa di Jakarta, statusnya sebagai suami Aruna sedang dilucuti lembar demi lembar.

“Lakukan,” perintah Bima singkat. “Aku ingin Aruna bebas sebelum ba jin gan itu mendaratkan kakinya kembali di Jakarta. Bi a yanya tidak masalah. Percepat prosesnya.”

“Siap, Pak Bima. Dalam satu bulan, Ibu Aruna akan kembali melajang.”

*

Waktu cepat berlalu.

Di Penga dilan Agama Jakarta Selatan, ha kim mengetuk palu ha kim dengan tegas, suara ketukannya menggema di ruang sidang yang sunyi.

Tok! Tok! Tok!

“Mengabulkan gu ga tan Penggu gat untuk seluruhnya dengan verstek…”

Aruna yang duduk di kursi peng gu gat didampingi oleh tim pengacara Bima. Di kursi tergu gat, tempat seharusnya Noah duduk, kosong. Tidak ada pengacara, tidak ada pembelaan.

Noah terlalu sibuk menikmati bulan madunya, hingga tak pernah menghidupkan ponselnya membuat dia kehilangan haknya untuk membela diri.

Aruna menghembuskan na pas panjang. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, melainkan karena rasa lega yang luar biasa. Rantai emas yang selama ini membelenggu kakinya di rumah me wah Noah akhirnya pu tus. Dia sudah bebas

Bima, yang duduk di bangku pengunjung paling belakang, menatap punggung Aruna dengan bangga. Wanita itu tidak menoleh ke belakang, tapi Bima tahu, bahu Aruna kini terlihat lebih ringan.

Rencana mereka berjalan mulus. Akta cer ai akan segera terbit.

Dua hari kemudian.

Sebuah taksi bandara berwarna hitam memasuki pelataran rumah me wah di kawasan Pondok Indah. Pintu taksi terbuka, dan Noah Pratama melangkah keluar dengan wajah berseri-seri. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Di tangannya, ia menenteng beberapa paper bag bermerek He r mes dan Lo uis Vu it ton yang ia beli sebagai oleh-oleh untuk ‘menenangkan’ Aruna.

Noah tahu Aruna pasti marah. Istri mana yang tidak marah ditinggal suaminya berbulan madu dengan wanita lain? Tapi Noah, dengan segala arogansinya, yakin dia bisa membujuk Aruna.

“Aruna itu wanita penurut. Dia sangat mencintaiku. Sedikit hadiah me wah dan kata-kata manis pasti akan meluluhkan hatinya kembali. Lagipula, kemana lagi dia bisa pergi tanpa ua ngku?”

Noah yakin dia bisa menjalani kehidupan poligami yang sempurna; Lisa untuk kesenangan dan ga i rah, Aruna untuk mengurus rumah dan menjaga citra keluarga terhormat.

“Sa yang! Mas pulang!” seru Noah begitu ia membuka pintu utama.

Hening.

Tidak ada sambutan. Tidak ada aroma masakan favoritnya yang biasanya menguar dari dapur. Tidak ada Aruna yang berjalan tergopoh-gopoh menyambutnya dan menci yum tangannya. Rumah itu terasa dingin, seolah tidak berpenghuni.

Noah mengerutkan kening. Ia meletakkan barang-barang bawaannya di meja konsol.

“Aruna?” panggilnya lagi.

Bi Surti, asisten rumah tangga paling senior, muncul dari arah dapur dengan langkah ragu-ragu. Wajah wanita paruh baya itu pucat pasi, tangannya gemetar saat memilin ujung celemeknya.

“Eh … Tuan Noah sudah pulang …” sapa Bi Surti dengan suara menci cit.

“Di mana Ibu?” tanya Noah langsung, nada suaranya mulai tidak sabar. “Saya panggil-panggil kok tidak menyahut. Apa dia masih tidur? Atau dia sedang di taman?”

Bi Surti menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap mata majikannya. “Ibu … Ibu tidak ada di ka mar, Tuan. Ibu juga tidak di taman.”

“Lalu di mana dia? Pergi belanja?” Noah mulai ke sal. Dia baru saja pulang dari perjalanan jauh, seharusnya dila yani, bukan disuruh main tebak-tebakan.

“Ibu … Ibu sudah pergi, Tuan,” jawab Bi Surti terbata-bata.

Noah terdiam sejenak, ot aknya memproses informasi itu dengan lambat. “Pergi? Maksudmu pergi ke rumah orang tuanya? Ngambek?” Noah mendengus remeh. “Dasar wanita, selalu dramatis. Kapan dia pergi?”

“Bukan, Tuan …” Bi Surti memberanikan diri mendongak sedikit, matanya menyiratkan ketakutan. “Ibu pergi … membawa semua barang-barangnya. Sudah hampir sebulan yang lalu, Tuan. Tiga hari setelah Tuan berangkat ke luar negeri.”

Jedar!

Bagaikan disambar petir di siang bolong, Noah terpaku di tempatnya. Senyum di wajahnya lenyap seketika.

“Apa maksudmu membawa semua barang-barangnya?” desis Noah, melangkah maju mendekati pembantunya.

“Ibu membawa koper-koper besar, Tuan. Baju-baju, perhi asan, lukisan kesayangan Ibu … semuanya dibawa. Ibu bilang … Ibu tidak akan kembali lagi.”

Da rah Noah mendi dih. Wajahnya memerah padam. “Omong kosong!” ben taknya, membuat Bi Surti terlonjak kaget. “Dia pasti cuma menggertak! Aruna tidak punya tempat tujuan lain selain di sini! Dia istriku!”

Dengan tangan gemetar karena amarah dan panik yang mulai menjalar, Noah merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel ma halnya. Ia mencari kontak ‘Istriku’ dan menekan tombol panggil.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan …”

Noah mematikan panggilan, lalu mencoba lagi. Hasilnya sama. Suara operator yang datar itu terdengar seperti ej ekan di telinganya.

“Si yalan!” umpat Noah. Ia mencoba mengirim pesan WhatsApp. Ceklis satu. Foto profil Aruna yang biasanya menampilkan wajah cantiknya kini kosong.

“S i yal, dia memblo kirku.”

Aruna, istrinya yang lembut, yang tidak pernah membantah, yang selalu menunggunya pulang meski larut malam, kini memblo kir nomornya dan pergi dari rumah? Ini tidak masuk akal. Siapa yang mera cuni pikiran Aruna?

“Aruna!!” te riak Noah frustasi.

Tanpa mempedulikan Bi Surti yang ketakutan, Noah berlari menuju tangga. Langkah kakinya berdebum keras menaiki an ak tangga marmer satu per satu. Na pasnya memburu. Pikirannya kacau. Dia harus membuktikan bahwa pembantunya salah. Aruna pasti masih ada di ka mar. Mungkin sedang bersembunyi di ka mar mandi, menangis, menunggu dibujuk.

Noah sampai di depan pintu ka mar utama yang selama ini menjadi saksi pernikahan mereka. Dengan kasar, ia memutar gagang pintu dan mendorongnya hingga terbuka lebar.

BRAK!

Mata Noah menyapu seisi ruangan.

Kosong.

Saat aku sedang bersenang-senang dengan istri baruku, istri pertamaku justru melakukan hal yang sangat tidak masuk akal …

Meja rias tempat biasanya berjejer parfum dan skincare ma hal milik Aruna kini bersih tanpa sisa. Lemari pakaian yang pintunya sedikit terbuka memperlihatkan gantungan-gantungan baju yang melompong. Tidak ada baju tidur Aruna, tidak ada gaun-gaunnya. Bahkan foto pernikahan mereka yang biasanya tergantung besar di dinding di atas kepala ra n jang sudah tidak ada.

Ka mar itu terasa asing. Seperti ka mar ho tel yang belum ditempati. Aroma bunga lili yang biasa menjadi ciri khas Aruna pun sudah hilang, berganti dengan bau debu tipis.

“Tidak mungkin …” gumam Noah, kakinya lemas. Ia melangkah masuk, me nyen tuh meja rias yang dingin.

Pandangan Noah kemudian tertuju pada tempat tidur king size mereka yang tertata rapi. Di tengah seprai putih yang licin itu, tergeletak sebuah amplop cokelat besar dengan kop surat resmi. Amplop itu terlihat sangat mencolok di tengah kehampaan ruangan.

Jan tung Noah berdegup kencang. Perasaan tidak enak menyergapnya semakin kuat.

Dengan tangan gemetar, Noah meraih amplop itu. Di sudut kanan atas, tertera logo Pengadilan Agama Jakarta Selatan.

Noah mero bek segel amplop itu dengan kasar. Ia mena rik keluar isinya, sebuah dokumen tebal dengan kertas berwarna hijau muda di halaman depannya.

Matanya terbelalak saat membaca judul dokumen itu yang dicetak dengan huruf kapital tebal.