Memangnya aku akan kelaparan kalau tidak makan di rumah ini?” aku lalu menyambar ponselku yang ada di atas meja. Aku lalu membuka aplikasi pesan makanan dan memilih beberapa makanan.
Aku lalu melangkah keluar kamar dan pada saat itu Mama mertua dan Dara sedang menikmati makanan di meja makan sambil tertawa. Mereka ini tidak punya ad ab atau bagimana sih?
“Nia, awas kemasukan lalat mulutmu. Bisa tersedak kamu nanti, sedang makan tertawa lebar banget,” aku menghentikan langkah di dekat Mama mertua dan Nia dan memperingatkan Nia.
“Mbak kamu sirik ya, aku dan Mama bisa makan enak?” Nia mencebik, ia lalu kembali makan sambil tertawa bicara dengan Bu Marni, Mama mertuaku.
Baru saja aku memperingatkannya, ia terbatuk-batuk karena tersedak, “Nia minum,” Nak,” Mama mertua menyodorkan segelas air kepada Nia.
Nia menerima air pemberian Mama mertua dan meminumnya hingga tandas. Wajah Nia sudah seperti kepiting rebus.
“Aku sudah memperingatkanmu kalau makan mulut jangan dibuka lebar-lebar. Tidak ada lalat yang masuk ke mulut tapi kamu tersedak kan?” ucapku kepada Nia.
“Pasti kamu senang melihatku seperti ini kan, Mbak?” tanya Nia sengit.
“Aku tidak mengatakan itu, aku sudah memperingataknmu kan tadi? Kamu tidak mendegnar peringatanku sih,” tukasku.
Mama mertua melirikku sinis. Sementara itu Nia terdiam, sepertinya dia sedang berpikir. Setelah itu dia baru bicara, “Mbak Tara, kamu pasti lapar. Ini ambillah,”Nia menyodorkan opor ayam kepadaku.
“Nia, kamu apa-apaan sih? Tara tdiak mau bekerja, tidak usah kasihan degan perempuan sepreti Tara,” Mama mertua menghentikan Nia yang akan memberikan semur ayam itu kepadaku.
“Kasihan Mbak Tara, Ma. Pasti dia kelaparan,” tukas Nia.
“Tara mau kelap aran atau apa pun itu terserah. Semua ini untuk pelajaran, supya dia tidak bertindak seperti Ratu,” ucap Mama mertua lagi.
Nia memberi kode kepada Mama mertua, entah apa maksudnya. Aku tidak tahu.
“Ya, sudah kamu bisa
makan, Ra. Seharian kamu belum makan kan?” ucap Mama mertua akhirnya.
“Mama serius?”
“Tentu saja, Tara. Ambillah opor ayam itu,” ucap Mama mertua.
Aku mengerutkan kening, memang saat ini aku sangat lapar tapi kenapa Nia tidak memberikan aku kursi malah dia mau memberi opor ayam. Aku jadi curiga.
“Mbak Tara, ini. Ambillah opor ayam ini,” ucap Nia.
“Tidak, aku tidak lapar. Kamu dan Mama saja yang makan. Sebentar lagi pesananku juga datang,” tolakku. Aku menci um gelagat tidak baik dari Mama dan Nia.

“Pesanan apa, Mbak?” tanya Nia lagi.
“Makanan. Aku sudah pesan makanan lewat aplikasi.”
“Gaya banget sih kamu ini, Tara. Kamu ini dari kampung tapi gayanya seperti orang kota saja.
Kamu pesan makanan lewat aplikasi? Memangnya kamu ngerti cara pesan makanan lewat aplikasi?” tanya Mama mertua. Aku tahu maksud Mama bertanya seperti itu, dia sebenarnya mau menge jekku karena dari kampung dan tidak tahu tekhnologi.
“Bukan gaya sih, Ma. Tadi kan Mama menyembunyikan semua makanannya dan aku tidak boleh makan jadi aku pesan saja di aplikasi,” tukasku.
“Aku kan sudah memberi kamu opor ayam, Mbak. Kamunya sendiri yang menolaknya,” ucap Nia.
“Sudah telat. Aku sudah pesan makanan,” aku lalu melewati Mama mertua dan Nia.
Aku memilih duduk di ruang tamu, “Em, Mas Rendi ke mana ya?” Sejak aku bangun tid ur, suamiku itu tidak nampak baatang hidungnya.
Tiga puluh menit kemudian makanan yang aku pesan datang. Aku memesan beberapa makanan berat dan juga makanan oenutup.
“Tara kamu pesan makanan sebanyak ini? Kamu ini boros sekali. Kamu tidak kasihan dengan Rendi yang ba nting tulang untuk kamu hambur-hamburkan?” Mama mertua langsung mengomel melihat banyaknya makanan yang aku pesan.
“Mama tidak perlu khawatir, aku memb eli semua ini bukan dengan ua ng dari Mas Rendi. Mas Rendi juga tidak pernah memberi aku uan g selama aku jadi istrinya, Ma.”
“Mbak, tidak usah bohong. Dapat dari mana uan gmu kalau bukan dari Mas Rendi?” kini Nia yang bertanya. Aku diinterogasi Mama dan adiknya Mas Rendi cuma gara-gara aku dari kampung dan bisa membeli banyak makanan sedangkan Mas Rendi tidak pernah memberiku u ang.
“Memang kalian percaya dengan penjelasanku? Aku dapat uan gnya dari mana?”