“Terbawa emosi atau akhirnya menunjukkan jati diri yang sebenarnya?” Arini menyilangkan tangan di dada. “Selama ini aku diam, Mas. Aku sabar menghadapi sikapmu dan keluargamu. Tapi hari ini, saat kamu membiarkan mantan istrimu menyentuhmu dan menghinaku di depan matamu sendiri, itu adalah batas akhirnya.”
Arini menarik napas panjang, mencoba menahan sesak yang mulai menyerang paru-parunya. “Baju-bajumu sudah aku kirim. Itu artinya, rumah ini bukan lagi tempatmu. Silakan pergi, Mas. Urusan kita selanjutnya biar pengadilan yang selesaikan.”
Arka jatuh berlutut di hadapan Arini, mengabaikan harga dirinya yang kini sudah tercecer di lantai teras. Ia mencoba meraih ujung daster Arini, namun wanita itu bergeming.
“Rin, aku cuma khilaf. Demi Tuhan, aku masih sangat mencintaimu, Rin!” ratap Arka dengan suara yang nyaris pecah. “Aku janji… aku akan menjauhi Maya. Aku nggak akan berhubungan lagi sama dia. Tapi untuk Sisil… aku nggak bisa, Rin. Dia juga anakku, darah dagingku. Kamu nggak mungkin memintaku membuang anakku sendiri, kan?”
Arini menatap suaminya dari ketinggian dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada secercah rasa iba yang sempat melintas, namun segera terkubur oleh kenyataan pahit yang baru saja ia saksikan. Ia menarik napas dalam, membiarkan udara dingin sore itu menguatkan hatinya.
“Sisil dan Maya itu satu kesatuan, Mas,” ucap Arini dengan nada bicara yang sangat terukur, seolah ia sedang menjelaskan fakta matematika yang sederhana. “Jika kamu ingin bertemu Sisil, secara otomatis kamu akan bertemu Maya. Kamu tidak bisa memisahkan seorang anak kecil dari ibunya.”
Arini menjeda kalimatnya, memberikan penekanan pada kata-kata selanjutnya.
“Apalagi sekarang mereka berdua sudah tinggal di rumah Mamamu. Masih mau bicara soal menjauh? Mas, setiap kali kamu melangkah ke rumah itu untuk melihat Sisil, di sana akan ada Maya yang menyambutmu dengan dalih anak. Dan setiap kali itu pula, aku akan menjadi pihak yang terus-menerus kamu lukai.”

“Tapi Rin, Mas bisa atur waktunya…”
“Tidak ada yang perlu diatur lagi, Mas,” potong Arini cepat. “Selama ini kamu selalu bilang ‘khilaf’, tapi khilaf yang dilakukan berulang kali itu namanya pilihan. Kamu sudah memilih untuk membawa mereka kembali ke lingkaran hidupmu, maka sekarang biarkan aku memilih untuk keluar dari lingkaran itu.”
Arini memegang gagang pintu, bersiap untuk mengakhirinya. “Pulanglah, Mas. Temui anakmu, temui mantan istrimu. Mereka sudah menunggumu di rumah Mamamu. Di sini sudah tidak ada tempat lagi untukmu.”
Wajah Arka yang semula memelas kini berubah mengeras. Sorot matanya yang penuh permohonan berganti menjadi kilatan amarah yang defensif. Ia berdiri tegak, mencoba mengintimidasi Arini dengan nada suaranya yang mulai naik satu oktav.
“Rin, kamu nggak kasihan sama Mesya?” desis Arka, mulai menggunakan kartu terakhirnya: anak. “Kamu egois! Kamu cuma memikirkan harga dirimu sampai tega membiarkan Mesya tumbuh tanpa sosok ayah. Kamu mau dia jadi anak broken home?”
Arini tidak tersentak. Ia justru melipat tangan di dada, menatap Arka dengan senyum miring yang menghina. Tidak ada lagi ketakutan di matanya, yang ada hanyalah keberanian seorang ibu yang sudah terlalu lama memendam luka.
“Memang kenapa kalau dia tidak ada kamu, Mas?” tanya Arini tenang, namun setiap katanya menghujam telak. “Toh, selama ini Mesya memang tidak pernah mendapatkan kasih sayangmu secara utuh. Dia punya ayah, tapi rasanya seperti yatim. Semua waktu, perhatian, bahkan cintamu, sudah kamu tumpahkan hanya untuk Sisil.”
Arini maju satu langkah, memperpendek jarak hingga Arka bisa melihat keteguhan di matanya. “Jangan pakai nama Mesya untuk menutupi kesalahanmu. Masih banyak orang di luar sana yang ingin menyayangi kami dengan tulus, tanpa harus membagi hati. Jadi, tidak usah buang-buang waktu lagi di sini.”
Kalimat terakhir Arini seperti menyulut sumbu ledak dalam diri Arka. Ego laki-lakinya merasa terinjak-injak mendengar Arini seolah-olah sudah memiliki cadangan pengganti dirinya.
“Dasar sombong!” bentak Arka, telunjuknya mengacung tepat di depan wajah Arini. Napasnya memburu, wajahnya merah padam karena harga dirinya terusik. “Kamu pikir kamu bisa bahagia tanpaku? Ingat ya, Arini, kamu pasti menyesal! Kamu akan memohon-mohon padaku untuk kembali saat kamu sadar betapa kerasnya hidup tanpa suamimu ini!”
Arini hanya menatap tangan Arka yang menunjuknya, lalu kembali menatap mata laki-laki itu dengan tatapan paling dingin yang pernah Arka lihat.
“Kita lihat saja nanti, Mas. Siapa yang akan menangis darah karena penyesalan,” ucap Arini pelan namun tajam.
Suara debuman keras menggema di teras rumah yang semula tenang. Arka melampiaskan kemarahan yang meluap-luap dengan menendang kursi rotan hingga tersungkur, lalu menghantamkan tinjunya ke meja kayu di sampingnya. Rasa sakit di tangannya tak sebanding dengan ego yang hancur berkeping-keping.
“Si al! Bre ng sek!” umpatnya dengan napas menderu.
Wajahnya merah padam, otot-otot lehernya menegang saat ia menatap pintu yang tertutup rapat itu dengan benci. Penolakan Arini adalah sesuatu yang tak pernah masuk dalam kamus hidupnya.
“Kamu pasti akan menyesal, Arini!” teriaknya lagi, meskipun ia tahu suaranya hanya akan memantul di dinding.