Arkan menikahi Laras karena terpaksa. Ia akan membuat gadis itu tersiksa lahir batin dan akan dalam waktu paling lama satu tahun mereka akan bercerai.
Lalu, yang terjadi….
Malam itu, egoku kembali mengambil alih kemudi. Rasa penasaran dan kekaguman yang sempat muncul saat sarapan tadi pagi harus segera kupadamkan. Aku tak boleh kalah. Aku adalah Arkan, dan di duniaku, akulah yang menulis aturan mainnya. Jika Laras tak bisa dihancurkan dengan pengabaian, maka aku akan menghancurkannya dengan penghinaan di depan umum.
“Kita akan pergi malam ini,” kataku saat melihatnya sedang merapikan buku di perpustakaan kecilku. Suaraku tajam, tanpa menoleh sedikit pun, seolah dia hanyalah asisten yang sedang kuberikan perintah harian.
Laras menghentikan gerakannya. “Acara apa, Mas Arkan?”
“Pertemuan kolega bisnis penting. Para petinggi perusahaan akan hadir. Cepat bersiap,” jawabku singkat sebelum melangkah pergi.
Aku sudah menyusun rencana yang sempurna. Sebuah jamuan makan malam pribadi di sebuah restoran mewah yang telah kusewa seluruhnya. Di sana, di depan orang-orang yang paling kuhargai opininya, aku akan menjatuhkan martabatnya serendah mungkin. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya menjadi debu di tengah kilau berlian.
Begitu malam tiba, kulihat Laras keluar dari kamarnya. Dia mengenakan gaun hitam sederhana yang sebenarnya sangat elegan dan pas di tubuhnya. Namun, aku segera mencegatnya di depan pintu.
“Ganti pakaianmu,” kataku sambil menatapnya dingin.
Laras mengernyit. “Ada yang salah dengan gaun ini?”
“Terlalu bagus untuk posisimu malam ini. Pakai pakaian yang biasa kamu pakai di desa. Kemeja flanel atau apapun itu yang menurutmu pantas untuk bekerja kasar,” perintahku.
Dia tampak sedikit terkejut. Ada jeda beberapa detik di mana aku berharap dia akan meledak, marah, atau menolak. Tapi tidak. Laras justru menatapku dengan ketenangan yang sama seperti kemarin. Ketenangan yang mulai terasa seperti ancaman bagiku.
“Baik, Mas Arkan. Jika itu yang kau inginkan,” jawabnya pelan.
Restoran itu bernuansa emas dan marmer. Di meja panjang yang dihiasi bunga-bunga lili putih, para pembesar perusahaan sudah duduk manis. Mereka mengenakan setelan jas puluhan juta dan jam tangan mewah. Di tengah-tengah mereka, aku duduk di kursi utama, layaknya seorang raja di singgasananya.
Dan di sana, di sudut ruangan, Laras berdiri. Dia mengenakan pakaian yang sangat kontras—celana kain hitam dan kemeja polos yang tertutup celemek seragam pelayan restoran yang kupaksa dia kenakan. Aku benar-benar menyuruhnya menjadi pelayan di acaraku sendiri.
“Siapa gadis itu, Arkan? Baru ya?” tanya salah satu kolega bisnisku sambil menunjuk ke arah Laras yang sedang menuangkan air mineral.
“Hanya… seseorang yang sedang belajar mencari nafkah,” jawabku dengan senyum miring yang dipaksakan.
Ruangan itu mulai dipenuhi bisik-bisik. Mereka tidak buta. Mereka melihat betapa cantiknya pelayan itu, namun mereka juga melihat betapa rendahnya aku memperlakukannya. Bahkan Sheila, wanita yang malam itu membawaku pulang dalam keadaan mabuk, hadir di sana. Dia sengaja menumpahkan sedikit wine ke lantai hanya untuk melihat Laras berlutut membersihkannya.
“Heh, gadis desa! Bersihkan ini. Jangan cuma berdiri diam seperti patung,” bentak Sheila dengan nada menghardik yang memuakkan.
Laras tak membalas. Dia berlutut, mengelap tumpahan itu dengan gerakan yang sangat tenang. Dia sama sekali tidak terlihat malu. Justru, martabatnya seolah memancar meski dia sedang berlutut. Dari kejauhan, dia mendongak dan menatapku. Tatapan kami beradu.
Tidak ada kebencian di matanya. Hanya ada kekosongan yang dalam. Dan entah kenapa, tatapan itu membuat dadaku berdesir hebat. Ada rasa sakit yang tiba-tiba menghujam jantungku, sebuah rasa bersalah yang coba kutepis mati-matian dengan tegukan wiski.

Perjalanan pulang terasa seperti di dalam peti mati. Hening. Hanya suara deru mesin mobil pribadiku yang memecah malam. Laras duduk di sampingku, menatap ke luar jendela. Dia tak mengeluh, tidak menangis, bahkan tidak meminta penjelasan. Keheningan itu justru lebih menyiksaku daripada ribuan makian.
Tiba-tiba, ponselku yang tergeletak di dasbor bergetar hebat. Nama ‘Mama’ muncul di layar. Kuhela napas panjang dan mengaktifkan speaker.
“Halo, Ma?”
“Arkan! Apa-apaan kamu?!” Suara Mama menggelegar, bergetar karena amarah yang luar biasa. “Mama baru saja mendapat laporan dari salah satu rekan Mama yang ada di sana. Kau menjadikan Laras pelayan? Di depan kolega bisnismu sendiri?!”
Aku terperanjat. Sial, aku lupa bahwa di antara para petinggi itu, pasti ada mata-mata Mama.
“Ma, aku hanya… aku hanya ingin dia belajar bagaimana duniaku bekerja,” kucoba membela diri, meskipun suaraku terdengar sangat lemah.
“Jangan kau kira Mama bodoh ya, Arkan! Belajar duniaku katamu? Itu penghinaan! Arkan, dia istrimu sekarang! Kau tega menjadikan istrimu sendiri seorang pelayan di depan orang banyak? Di mana otakmu? Di mana harga dirimu sebagai laki-laki?!”
“Ma, Laras sendiri yang mau melakukan semuanya. Dia yang mau membantu…” Aku berbohong, sebuah kebohongan yang terasa sangat pahit di lidahku sendiri.
“Bohong! Mama tahu kau memaksanya! Kenapa kau seperti ini, Arkan? Begitu jahatnya kau pada Laras… Apa salah anak itu padamu sampai kau ingin menghancurkan jiwanya seperti itu?” Mama mulai terisak di seberang telepon. “Ingat Arkan, kalau bukan karena dia, hari ini kau tidak akan punya Mama untuk kau ajak bicara!”
Laras yang duduk di sampingku hanya diam. Dia mendengar setiap kata, setiap isakan Mama, dan setiap kebohonganku. Sambil menyetir, kupaksa menahan malu yang luar biasa. Aku merasa seperti monster yang tertangkap basah oleh ibunya sendiri.
“Ma, sudah ya, aku sedang menyetir,” kataku buru-buru menutup telepon.
Suasana kembali hening, namun kali ini heningnya terasa mencekam. Kulirik Laras dari sudut mataku. Dia masih menatap jalanan yang sepi.
“Kenapa kau tak membela diri tadi?” tanyaku, suaraku parau. “Kenapa kau tak bilang ke Mama kalau aku yang memaksamu?”
Laras menoleh pelan. Cahaya lampu jalan yang melewati mobil memberikan bayangan yang dramatis di wajahnya.
“Untuk apa, Mas Arkan?” tanyanya balik. Suaranya sangat lembut, namun setiap katanya terasa seperti sembilu yang menyayat. “Membela diri hanya dilakukan oleh orang yang merasa dirinya bersalah atau terhina. Malam ini, aku tidak merasa terhina. Aku hanya sedang melihat seberapa jauh kau bisa merendahkan dirimu sendiri untuk mencoba merendahkanku.”
Dia mengalihkan pandangannya kembali ke depan. “Dan ternyata, kau jauh lebih menyedihkan dari yang kubayangkan.”
Aku terbungkam. Rem di bawah kakiku nyaris kuinjak dengan keras karena keterkejutan itu. Kalimatnya menghujam tepat di ulu hati, meruntuhkan seluruh tembok ego yang kubangun sejak pagi. Malam ini, aku berniat mempermalukannya, tapi pada akhirnya, dialah yang menelanjangi betapa buruknya jiwaku.
Aku terus menyetir dalam kegelapan, menyadari bahwa penyiksaan batin ini mulai memakan tuannya sendiri.