Posted in

Sejak malam itu, semua sikapku benar-benar berubah.

Tidak ada lagi aku yang biasanya berusaha menjaga keharmonisan rumah tangga meski hati sendiri terkoyak.
Aku mulai diam-diam menabung uang sebanyak-banyaknya, sengaja membuat tabungan yang tidak diketahui oleh suamiku.
Setiap kali Abi memberiku uang belanja lebih, aku sisihkan. Uang hasil mengajar santri pun aku simpan dalam tabungan rahasia itu. Abi tidak tahu, dan aku pastikan dia tidak akan pernah tahu.
Aku tidak lagi mau tidur satu kamar dengannya. Bahkan menyentuhnya pun aku tak ingin. Aku diam, tak banyak bicara, meskipun kami tinggal satu rumah, rasanya seperti tinggal dengan orang asing. Tidak ada sapa, tidak ada tanya, suamiku semakin menjadi dengan sikap egonya, dan aku pun tidak peduli dengan apa pun yang dia lakukan di luar sana.
Aku bertahan di sini, untuk mendapatkan sesuatu yang pantas menjadi milikku. Untuk mengambil kembali uang ibuku, dan juga untuk masa depan putri-putriku.
Begitu juga dengan Dua, setiap hari dia hanya sibuk dengan urusannya, pergi pagi dan pulang malam, bahkan kami hampir tidak pernah bertatapan wajah. Dia tidak lagi peduli aku masak apa, aku pun tidak peduli dia pergi ke mana, pulang kapan.
Hatiku sudah sampai di puncak lelah. Rasa cintaku sudah mati.
Dia pikir aku bodoh, tapi dia tidak tahu kalau aku sedang mempersiapkan masa depanku, dan saat waktunya tiba, aku pastikan kedua matanya akan tercengang saat melihatku.
Abi Haris pun… entah pura-pura tidak peduli atau memang sudah terbiasa, atau mungkin memang ini kemauannya. Hingga putriku kedua lahir, kami tidak pernah hidup sebagai suami istri lagi.
Dia seperti tidak membutuhkan aku, apalagi aku yang langsung muak saat melihat wajahnya.
Aku tahu, dia pria yang sulit menahan keinginannya, dan aku yakin dia sudah dekat dengan banyak perempuan di luar sana. Tapi aku tidak peduli, aku hanya sibuk mengurus pondok pesantren dan juga dua putriku yang selalu menjadi penyemangatku setiap hari.


Hari berganti hari begitu saja.
Kami seperti dua orang yang hanya kebetulan menempati alamat yang sama. Demi tujuan dan ambisi masing-masing. Di depan umum, apalagi di depan para ustaz dan ustazah yang ada di pondok pesantren, kami terlihat seperti pasangan yang paling serasi. Tapi sebenarnya, kami adalah pasangan yang saling tidak peduli.
Hingga suatu siang, aku pergi ke pasar untuk membeli beberapa kebutuhan. Saat melintas di depan sebuah warung bakso, mataku menangkap sosok pria yang masih sah sebagai suamiku.
Dia duduk berhadap-hadapan dengan seorang wanita. Terlihat akrab. Tertawa kecil, dan seketika darahku langsung mendidih. Tanpa berpikir panjang, aku pun mendekatinya.
Langkahku cepat. Orang-orang menoleh. Aku langsung meraih mangkuk bakso yang masih panas di meja mereka, lalu menyiramkannya ke atas kepala perempuan itu.


“Byurrr!”
Mi ayam bakso yang lengkap dengan saus, kecap, dan cabai kini berceceran di atas kepalanya. Kuah hangat itu membasahi pakaiannya.
“Dasar perempuan tidak tahu diri! Berani-beraninya kau duduk akrab dengan suamiku!” teriakku.
Warung langsung hening. Beberapa orang menahan napas. Tapi yang paling membuatku kaget, suamiku malah berdiri dan memarahiku.
“Hasna! Apa-apaan kamu ini? Mempermalukan aku di depan orang banyak!” bentaknya.
Aku menatapnya dengan tatapan tak percaya. “Aku yang mempermalukan? Kaulah yang tidak tahu diri! Kamu yang duduk berdua dengan perempuan lain! Kamu kira aku ini siapa, hah?”
Abi mendekat, suaranya meninggi. “Minta maaf padanya, sekarang juga!” bentak Abi.
Aku menoleh ke wanita yang masih menunduk sambil memegang wajahnya, dia sengaja menutupi wajah dengan hijabnya. Dengan cepat, aku membalik wajahnya, membuatnya menghadapku.
Mataku membelalak. Napasku tercekat. “Kinan…?!”
Kinan menatapku sekilas. Matanya berkaca-kaca.
Aku langsung meraih kerah bajunya. “Kamu?! Sahabatku sendiri?! Yang aku percayai selama ini?! Dan kau malah dekat dengan suamiku?!” Aku berteriak di depan wajahnya.
Orang-orang mulai berkerumun. Beberapa mencoba melerai.
Tapi Abi malah menarik tanganku kasar. “Cukup, Hasna! Mulai sekarang… talak satu untuk kamu!”
Seketika semua orang terdiam. Aku… bukannya menangis, malah tertawa. Tawa yang dingin dan getir.
“Alhamdulillah… akhirnya. Kenapa tidak dari dulu, Ustaz Haris?! Owh ya, kau ustaz ya? Tapi perilakumu tidak mencerminkan seorang ustaz sedikit pun.”
“Tutup mulutmu!” Haris meneriakiku.
“Kau tidak berhak mengaturku. Dan tolong, selesaikan sekarang! Talak tiga, jatuhkan talakku di hadapan mereka semua!” tantangku.
“Kau gila!” Haris meneriakiku.
“Kau yang gila!” Aku menunjuk wajahnya. Aku tidak takut atau gentar sedikit pun, karena aku sudah siap untuk mengakhiri semuanya.
“Diam kau, Hasna! Aku mencari perempuan lain karena kau tidak mau lagi melayaniku! Dan Kinan, aku akan menikahinya!”
“Benar! Aku memang tidak ingin melayani seorang suami yang temperamental dan tak bisa mengendalikan diri! Pria yang kupikir baik, ternyata sangat berbeda dari yang kubayangkan!” Aku menatap tajam wajahnya, lalu tersenyum sinis sebelum melanjutkan perkataanku. “Apa katamu? Kau mau menikahi Kinan? Baik! Silakan. Dan Kinan, aku menyerahkan dia padamu dengan senang hati. Kalian memang cocok!”
Mataku yang menyala menatap mereka satu per satu, lalu aku berbalik ingin meninggalkan mereka.
Lalu aku berhenti sejenak, dan berbalik menatap wajah Haris, pria yang begitu aku cintai.
“Dengar Haris! Sampai jumpa di pengadilan. Semua orang di sini akan menjadi saksi, menjadi alasanku untuk menuntut cerai darimu. Jangan khawatir, aku yang akan menggugatmu.”
Aku langsung berbalik meninggalkan mereka. Pulang ke rumah, aku segera mencari Nazifah dan bayiku yang bernama Nadhira yang tinggal di rumah bersama pengasuh. Saat sampai di hadapan kedua putriku, aku memeluk mereka erat.
“Mulai sekarang, kita bebas, Nak… tapi rumah ini akan tetap jadi milik kalian. Kita tidak akan pernah keluar dari rumah ini. Dia yang salah, maka dia yang akan pergi,” bisikku sambil tersenyum, siap menjalankan setiap rencanaku.
Aku dan dua putriku bersikap santai di rumahku. Lalu Haris datang terburu-buru.
“Hasna! Jangan pergi!” Haris berseru sambil menarik tanganku. “Aku minta maaf… aku khilaf… kita rujuk saja, Hasna. Aku nggak bisa tanpa kamu.”
Aku menatapnya dingin. “Rujuk? Untuk apa? Supaya kamu bisa seenaknya lagi? Supaya aku bisa lihat kamu jalan sama sahabatku lagi?”
Dia mencoba tersenyum memohon. “Kita bisa perbaiki semuanya. Kita nikah lagi… di hadapan Allah…”
Aku menggeleng, lalu menepis tangannya. “Tidak, Abi! Kenapa baru sekarang kamu ingin memperbaiki semuanya? Saat kau menjatuhkan talakku di hadapan semua orang? Merendahkanku? Dan kini kau ingin merujukku begitu saja? Tidak akan, Haris! Aku sudah cukup menjadi istri bodoh yang sabar. Tapi tidak lagi sekarang! Aku memilih menjadi perempuan yang bebas darimu. Kita akan bercerai!”
Aku menggendong kedua putriku. Kini dia seperti terkejut melihatku.
“Oh ya, dan satu lagi, aku tidak akan keluar dari rumah ini. Karena ini adalah rumahku! Aku yang akan tinggal di sini bersama dua putriku. Kupastikan, kau yang akan angkat kaki dari rumah ini, karena kau yang berbuat, maka kau pula yang akan pergi!”
Aku berkata dengan sinis dan percaya diri, karena aku sudah mempelajari semuanya. Dan aku telah mengumpulkan bukti-bukti perselingkuhannya, setelah selama ini sebenarnya aku diam-diam memeriksa ponselnya.
Tapi aku tidak tahu, kalau yang bernama satpam kampus di ponsel Haris adalah Kinan, sahabatku.
Aku masuk ke kamar sambil membawa dua putriku, lalu menutup pintu kamar tepat di depan wajahnya, membiarkannya berdiri di sana dengan wajah kebingungan.
Aku tidak akan meninggalkan rumah ini. Semua harta kami cari bersama, dan aku tidak akan diam saja jika dia berbuat semaunya.
Aku Hasna, dan aku siap melihat wajahnya pucat pasi, menyesal karena telah meremehkanku.
Bersambung …