Posted in

“Siapa bilang aku numpang, Bu? Anakmu yang selama ini numpang hidup sama aku!”

Puas banget membvngkam kesombongan mertuaku dengan fakta…

“Dok?”

Suara Halimah pelan, tapi cukup membuat meja makan itu berhenti.

Ponsel Risma masih menyala di antara piring dan gelas.

Sari RS

[Dok, I.G.D butuh keputusan sekarang.]

Walid lebih dulu bergerak. Telapak tangannya menutup layar ponsel Risma, lalu ia tertawa kaku.

“Bu, orang rumah sakit memang kadang asal panggil begitu.”

Halimah mengernyit. “Asal panggil sampai Dok?”

Maya langsung mencondongkan badan. “Lho, Mbak Risma dipanggil Dok di rumah sakit?”

Risma menatap tangan Walid.

“Mas, lepaskan.”

“Kita lagi makan, Ris.”

“IGD tidak menunggu orang selesai makan.”

Wajah Walid berubah.

Ponsel itu bergetar lagi. Nama Sari muncul sebagai panggilan masuk.

Walid menekan layar lebih kuat. “Jangan angkat dulu.”

“Kenapa?”

“Karena aku bilang jangan.”

Maya tertawa kecil. “Wah, suami sendiri sudah tidak didengar.”

Halimah menambahkan, “Kalau cuma Tenaga Sukarela di rumah sakit, bisa nanti. Orang tua suamimu baru datang jauh-jauh.”

Risma menarik ponselnya dari tangan Walid.

“Sari,” ucapnya begitu panggilan tersambung.

Suara Sari terdengar cepat, tapi jelas.

“Dok, pasien sudah distabilkan sementara. Dokter jaga sudah jalankan instruksi awal, tapi keluarga pas.ien minta keputusan lanjutan. Dokter jaga minta Ibu segera cek ulang.”

Walid berdiri. “Matikan dulu, Ris.”

Risma tidak menoleh.

“Tekanannya bagaimana?”

“Masih naik turun, Dok. Ada perubahan dari pemeriksaan terakhir.”

“Jangan ambil tindakan tambahan sebelum aku lihat datanya. Minta keluarga pasien tunggu. Aku berangkat sekarang.”

“Baik, Dok.”

Panggilan selesai.

Ruangan itu seketika sunyi.

Halimah menatap Risma seperti baru melihat orang asing duduk di meja makannya.

Maya lebih dulu bicara.

“Katanya cuma bantu-bantu.”

Walid cepat menyahut, “Ya memang bantu. Di rumah sakit itu orang panik, semua bisa dipanggil Dok.”

Risma menoleh. “Semua orang?”

Walid memberi tatapan peringatan.

Risma tidak membalas. Ia berdiri, mengambil tas, lalu berjalan ke kamar untuk mengambil jas luar dan kunci mobil.

Walid menyusul.

“Ris, jangan pergi sekarang.”

“Aku harus ke rumah sakit.”

“Orang tuaku ada di luar.”

“Pasien juga ada di IGD.”

“Jangan pakai pasien untuk membenarkan sikapmu.”

Risma berhenti di depan lemari.

Empat tahun menikah, ia hafal cara Walid memelintir kalimat. Bahkan saat ia bekerja, Walid masih bisa membuatnya terlihat sebagai istri yang salah.

“Aku tidak membenarkan apa pun, Mas. Aku menjalankan tugasku.”

“Tugas apa?” Suara Walid turun. “Kamu mau mereka curiga?”

“Curiga pada apa?”

Walid mendekat. “Jangan main-main.”

“Yang main-main siapa? Aku yang dipanggil IGD, atau kamu yang sibuk menjaga cerita bahwa aku cuma orang yang bisa diremehkan?”

Walid melirik pintu kamar.

“Jaga bicaramu.”

“Jaga ceritamu.”

Risma melewati Walid.

Di ruang makan, Halimah masih berdiri dengan wajah tersinggung.

“Kamu pergi sekarang, Ibu anggap kamu tidak menghargai keluarga suami.”

Risma berhenti di dekat pintu.

“Saya menghargai keluarga suami, Bu. Tapi pekerjaan saya malam ini menyangkut orang sakit.”

Maya mendengkus. “Nakes sukarela saja sibuknya seperti pejabat rumah sakit.”

Risma menatap Maya.

“Kalau suatu hari kamu butuh keputusan cepat di I.G.D, semoga orang yang kamu tunggu tidak memilih duduk hanya karena takut tamunya tersinggung.”

Maya langsung memerah.

“Mulut Mbak makin ta.jam, ya.”

“Lebih baik ta.jam daripada dipakai mem.otong harga diri orang dari tadi.”

“Risma!” bentak Walid.

Risma membuka pintu.

Walid tetap mengikutinya sampai halaman.

“Dengar,” kata Walid pelan. “Di rumah sakit nanti jangan macam-macam. Jangan bikin orang rumah sakit menelepon ke rumah lagi. Jangan sampai Ibu dengar hal yang tidak perlu.”

Risma membuka pintu mobil.

“Hal yang tidak perlu itu pekerjaanku, atau kebohonganmu?”

“Risma.”

“Aku berangkat.”

“Kalau Ibu tanya, aku jawab apa?”

Risma masuk ke mobil dan menyalakan mesin.

“Kali ini, jawab sendiri.”

Walid mengetuk kaca. Risma menurunkan sedikit.

“Jangan tantang aku di depan keluargaku.”

“Jangan pakai keluargamu untuk mengecilkan aku.”

Kaca mobil naik. Risma keluar dari halaman sebelum Walid sempat bicara lagi. Sepanjang jalan menuju rumah sakit, ponselnya terus menyala.

Walid:

[Pulang cepat.

Jangan bikin Ibu makin curiga.

Aku bilang kamu cuma bantu administrasi.

Jangan bantah nanti kalau pulang.

Kamu jangan bikin aku kelihatan bohong.]

Risma membaca pesan terakhir saat berhenti di lampu merah.

Jangan bikin aku kelihatan bohong. Bukan hati-hati. Bukan pasiennya bagaimana.

Risma mengetik singkat.

[Kalau kamu tidak mau kelihatan bohong, berhenti berbohong.]

Pesan terkirim.

Walid langsung menelepon. Risma menolak panggilan itu.

Rumah sakit masih ramai saat ia tiba. Beberapa keluarga pasien duduk di kursi panjang dekat IGD. Ada yang memegang map, ada yang mondar-mandir sambil menelepon kerabat.

Sari sudah menunggu di dekat pintu.

“Dok.”

“Datanya mana?”

Sari menyerahkan map. “Dokter jaga di dalam. Pasien masih sadar, tapi keluhannya naik lagi.”

Risma membuka map sambil berjalan.

“Dokter jaga sudah lihat hasil ulang?”

“Sudah, Dok. Beliau tunggu Ibu.”

Mereka masuk ke I.G.D.

Dokter jaga menghampiri dengan wajah lega.

“Dok, terima kasih sudah datang.”

“Ceritakan singkat.”

Dokter jaga menjelaskan kondisi pasien. Risma mendengar sambil melihat hasil pemeriksaan dan catatan sore tadi.

Ia bertanya tiga hal. Dokter jaga menjawab dua dengan yakin, satu dengan ragu.

Risma menunjuk satu bagian di map.

“Ulangi pemeriksaan ini. Kalau hasilnya tetap sama, siapkan tindakan sesuai rencana kedua. Jangan tunggu kondisinya turun.”

“Baik, Dok.”

“Sari, panggil anak pasien. Jelaskan bahwa saya akan bicara langsung dengan keluarga.”

“Siap, Dok.”

Tidak ada suara tinggi. Tidak ada kepanikan kosong.

Risma bekerja seperti orang yang memang terbiasa mengambil keputusan saat orang lain menunggu.

Anak pasien datang dengan mata merah.

“Dok, Bapak saya harus bagaimana?”

Risma menutup map.

“Kondisi Bapak sempat stabil, tapi ada tanda yang harus kita kejar malam ini. Saya jelaskan pelan-pelan, ya. Keluarga perlu paham sebelum menyetujui tindakan.”

Anak pasien itu mengangguk cepat.

“Asal Bapak selamat, Dok.”

“Kami usahakan yang terbaik. Tapi keputusan tetap harus jelas.”

Setelah pemeriksaan ulang masuk, Risma memberi arahan lanjutan. Perawat bergerak. Dokter jaga menyiapkan tindakan. Keluarga pasien tidak lagi berkerumun bingung di depan meja.

Baru setelah keadaan lebih terkendali, Risma keluar ke koridor.

Ponselnya penuh pesan Walid.

Walid:

[Ibu tanya kamu sebenarnya ngapain.

Aku bilang kamu bantu koordinasi.

Pulang sekarang.

Ris, baca pesanku.]

Risma mengunci layar tanpa membalas.

Sari datang membawa map baru.

“Dok.”

“Hm?”

“Tadi sebelum Ibu datang, ada yang cari Ibu.”

Risma menoleh. “Siapa?”

“Dokter Arga.”

Nama itu membuat Risma berhenti merapikan tas.

“Dia masih di sini?”

“Saya kurang tahu. Tapi beliau pesan, kalau Ibu sudah selesai, beliau perlu bicara.”

“Soal apa?”

Sari menatap map di tangannya, lalu berkata pelan, “Soal keputusan tindakan tadi.”