Jam menunjukkan pukul 03.00 pagi di Jakarta ketika ketukan pintu yang sangat panik di pintu depan membangunkan Leticia. Saat ia membuka pintu, udara dingin malam langsung menusuk.
Namun, yang membuat darahnya membeku adalah pemandangan di hadapannya. Putrinya, Valeria, yang baru 12 jam lalu tampak anggun berseri di depan pelaminan, berdiri di ambang pintu.
Gaun putih mewah rancangan desainer ternama itu tampak robek di bagian punggung dan ternoda darah. Bibirnya pecah, salah satu tulang pipinya bengkak parah, dan lengannya penuh dengan memar keunguan.
— Mama… — bisik Valeria dengan suara parau, lalu jatuh berlutut sebelum akhirnya pingsan. — Ibu mertuaku menampar wajahku 40 kali… karena aku menolak menandatangani surat penyerahan sertifikat apartemenku.
Leticia mematung selama 1 detik. Naluri seorang ibu membuatnya langsung bergerak, menyeret putrinya masuk ke dalam rumah mereka di kawasan Menteng.
Sambil menyeka darah dari wajah gadis kecilnya yang tadi pagi ia rias dengan penuh kebahagiaan, rasa ngeri itu berubah menjadi kemarahan yang tak terlukiskan. Valeria membuka matanya sambil gemetar, lalu mencengkeram pergelangan tangan ibunya dengan sangat kuat.
— Jangan telepon rumah sakit, Mama. Mereka bilang kalau aku melapor ke polisi, mereka akan membunuhku.
Lantai di bawah kaki Leticia rasanya seperti runtuh mendadak.
— Siapa yang mengatakan hal gila seperti itu kepadamu? — tanyanya, merasa napasnya mendadak sesak.
— Ibu Beatriz… ibunya Mauricio.
Nama itu bergema seperti sebuah hukuman mati. Ibu Beatriz Elizondo, seorang wanita dari kalangan sosialita kelas atas yang baru masuk ke dalam kehidupan Valeria 3 bulan yang lalu.
Wanita yang selalu dipenuhi perhiasan mewah, menyombongkan liburannya, dan memiliki tatapan mata penuh perhitungan yang seolah-olah selalu menilai harga kekayaan orang lain.
Putranya, Mauricio, sebelumnya memperkenalkan diri sebagai pria yang sangat sempurna: seorang arsitek muda, pemilik 1 mobil mewah Eropa, memiliki tata krama yang tanpa cela, dan senyuman yang sangat memikat.
Leticia teringat kembali pada acara makan malam keluarga yang kedua. Saat itu, Beatriz memandangi ruang tamu rumah Leticia dengan tatapan yang sangat meremehkan.
— Setahu saya, ayahnya Valeria, Tuan Roberto, adalah seorang pria yang memiliki aset kekayaan properti yang sangat besar, bukan? — tanya Beatriz kala itu. — Dan anak gadis ini juga memiliki 1 unit apartemen yang sangat eksklusif di kawasan Sudirman.
Leticia saat itu langsung menjawab dengan sangat tegas:
— Apartemen itu milik Valeria. Itu adalah harta warisan miliknya dan tidak boleh diganggu gugat.
Hal itu memang benar. Roberto, mantan suami Leticia, sengaja membeli properti senilai 28.000.000.000 rupiah tersebut setelah perceraian mereka demi menjamin masa depan putri tunggal mereka.

Beatriz kemudian sempat menuntut “dana sumbangan keluarga” yang nilainya sangat konyol untuk acara pernikahan. Leticia menolak keras, namun Valeria terus membela Mauricio.
Pada akhirnya, pernikahan tetap digelar, namun dengan 1 syarat mutlak yang tidak bisa ditawar: apartemen di Sudirman tidak akan pernah dimasukkan ke dalam aset harta gono-gini pernikahan.
Kini, di atas sofa, Valeria menangis tersedu-sedu sambil menceritakan malam jahanam yang dialaminya.
— Mauricio membawaku ke kamar presidential suite. Dia kemudian pamit keluar ke koridor dengan alasan harus mengurus 1 urusan terkait resepsi pernikahan. Setelah 20 menit, pintu kamar mendadak terbuka. Ibu Beatriz masuk bersama dengan 6 orang wanita dari keluarga besarnya. Mereka langsung mengunci pintu dari dalam.
Leticia langsung menutup mulutnya, menahan sebuah jeritan yang tertahan di tenggorokan.
— Dia menjambak kerudung pengantinku, membantingku ke lantai, dan memaksaku menandatangani surat balik nama apartemen itu atas nama perusahaan kontraktor miliknya. Aku menolak.
— Saat itulah dia mulai memukuliku. Aku menghitung ada 40 kali tamparan. Bibi-bibinya malah tertawa, mereka bilang menantu yang membangkang memang harus dijinakkan sejak malam pertama pernikahan.
— Lalu di mana Mauricio? — tanya Leticia dengan geram.
— Dia ada di luar pintu. Aku mendengar dia berteriak dari balik pintu: “Mama, jangan terlalu banyak memukul wajahnya, karena besok orang-orang pasti akan menyadarinya”.

Rasa benci yang luar biasa langsung menguasai seluruh diri Leticia. Ia segera mengambil ponselnya.
Valeria sempat berusaha mencegahnya, mengingatkan ibunya bahwa Roberto sudah 10 tahun tidak pernah berbicara lagi dengan mereka.
Namun Leticia tetap menekan nomor tersebut. Ketika Roberto mengangkat telepon, Leticia hanya mengucapkan 1 kalimat singkat: “Putrimu baru saja dihajar hingga nyaris tewas di malam pernikahannya.”
Dalam waktu kurang dari 30 menit, Roberto langsung tiba di rumah. Pria itu berlari masuk dengan wajah pucat pasi dan ekspresi yang sangat mematikan.
Saat melihat putrinya hancur di atas sofa, ia langsung jatuh berlutut. Dengan sangat lembut, ia menyentuh wajah Valeria yang penuh memar, dan di dalam matanya, sebuah kemarahan yang sangat gelap mulai menyala.
Tidak ada seorang pun di dalam ruangan itu yang bisa membayangkan badai balas dendam yang sangat menghancurkan yang sebentar lagi akan segera dimulai.