Teriakan Baskara terdengar sangat menyayat hati. Laki-laki itu mundur beberapa langkah sampai punggungnya menabrak pilar teras. Matanya menatap ngeri pada map merah di tangan polisi itu. Napasnya terdengar putus-putus.
“Ini buktinya.” Polisi berkemeja putih itu menarik selembar kertas berlogo burung garuda dari dalam map. Ia menyodorkannya tepat ke depan wajah Baskara. “Salinan kartu identitas Bapak terlampir di halaman belakang. Lengkap dengan tanda tangan basah di atas meterai. Nama Bapak menjabat sebagai direktur utama di perusahaan fiktif pencucian u a ng itu.”
Baskara memicingkan mata. Keringat dingin sebesar biji jagung mengalir dari pelipisnya membasahi kerah kemeja. Ia menatap kertas itu lekat-lekat. Tangannya yang gemetar perlahan terangkat menunjuk nama yang tertulis di sana.
“Ini … memang tanda tanganku,” bisik Baskara parau. Suaranya nyaris hilang ditelan embusan angin sore.
“Jadi Bapak mengakui keterlibatan Bapak sebagai bagian dari sindikat ini?” tanya polisi itu dengan nada menekan.
“Bukan! Bukan begitu maksud saya, Pak!” Baskara menggeleng kuat-kuat. Ia menoleh ke arah mobil operasional polisi yang kacanya terbuka separuh. Saira duduk di dalam sana dengan wajah menunduk dalam.
“Saira!” jerit Baskara memanggil adiknya. “Ini kertas yang kamu minta aku tanda tangani tiga bulan lalu kan? Kamu menangis bilang kamu butuh tanda tanganku untuk urus bantuan sosial warga mi s kin di kelurahan! Kamu memintaku tanda tangan di atas kertas kosong bermeterai karena kamu bilang printernya sedang rusak!”
Saira tidak menjawab. Perempuan itu hanya membuang muka menghadap jendela sisi lain. Ia sama sekali tidak peduli pada kakaknya yang kini menangis putus asa di halaman. Parasit itu telah menemukan inang baru untuk dikorbankan demi menyelamatkan dirinya sendiri.
“Bapak bisa menjelaskan semua kronologi dan pembelaan itu di ruang penyidik,” ucap polisi itu dingin. Ia menoleh ke belakang dan memberi isyarat kepada rekannya.
Seorang petugas berseragam maju dan merengkuh kedua tangan Baskara ke belakang tu b uh. Bunyi besi borgol yang saling bergesekan terdengar sangat mengerikan memecah keheningan pelataran rumah. Tangan suamiku resmi terikat erat.
“Pak, tolong jangan bawa saya! Saya berani sumpah saya cuma dijebak adik saya sendiri! Naya! Tolong aku, Nay!” Baskara meronta pelan. Ia menoleh ke arahku dengan tatapan memelas yang luar biasa menyedihkan. Air mata membasahi pipi laki-laki itu.
Aku hanya diam mematung di samping anak tangga teras. Mataku menatap lurus ke arah borgol besi di pergelangan tangannya. Laki-laki ini sungguh bodoh. Ia terlalu mudah percaya pada keluarganya sendiri sampai tidak sadar lehernya sudah diikat tali gantungan sejak lama. Dan malam tadi, ia masih saja membela keluarga yang menjebaknya ini dengan cara merampok tabungan istrinya sendiri.
“Jangan bawa a n akku!”
Bu Laras tiba-tiba menjerit histeris dari arah pintu kayu. Mertuaku itu merangkak turun menuruni tangga dan mem e l u k kaki Baskara. Kerudung kuningnya sudah berantakan. Wajah tuanya basah oleh air mata dan keringat.
“A n a kku orang baik, Pak! Menantu saya yang bre n gsek! Dewa yang merencanakan semua ini! Tangkap Dewa saja!” Bu Laras menangis melolong menatap polisi itu. Tangannya mencengkram celana kain yang dipakai suamiku.
“Suami dari anak perempuan Ibu sudah kami tahan di sel lebih dulu tadi siang,” jawab polisi itu tanpa ekspresi sedikit pun. Ia menarik lengan Baskara menjauh dari pel u kan Bu Laras dengan gerakan tegas. “Mari, Pak. Kita berangkat ke kantor resor sekarang.”
Baskara diseret paksa menuju mobil hitam yang menunggu di luar pagar. Langkah kakinya terseret-seret di atas jalan berkerikil. Ia terus memanggil namaku dengan suara serak. Laki-laki itu ditelan ke dalam mobil. Pintu ditutup rapat. Mesin dihidupkan. Dua mobil aparat penegak hu k um itu melaju perlahan meninggalkan halaman rumah, membawa pergi dua parasit yang selama ini menggerogoti hidup dan mimpiku.
Ibu-ibu pengajian di teras mulai membubarkan diri satu per satu. Tidak ada satu pun yang berani mendekat atau sekadar memberikan segelas air untuk Bu Laras. Mereka berjalan keluar pagar sambil berbisik sinis satu sama lain. Bu Tejo bahkan sengaja meludah ke arah pot tanaman di dekat pagar sebelum melangkah pergi.
Halaman rumah itu kini terasa sangat lengang. Langit sore berubah menjadi kelabu gelap. Tinggal aku dan ibu mertuaku yang masih tersisa di pelataran ini. Ibu Laras duduk bersimpuh di atas tanah berdebu dengan napas tersengal. Udara dingin menyusup pelan lewat sela kemejaku.
“Puas kamu sekarang, Naya?”
Aku menunduk. Bu Laras menatapku dengan mata merah menyala. Urat di pelipisnya menonjol keluar menahan amarah yang meledak-ledak.
“Puas kamu melihat suamimu dan adik iparmu digiring seperti binatang tontonan tetangga?” desis mertuaku itu penuh kebencian. Telunjuknya menuding tepat ke arah wajahku.
“Mereka digiring karena keserakahan mereka sendiri, Bu,” balasku pelan. Suaraku sangat tenang dan datar. “Mereka yang menggali kuburan mereka sendiri dengan tangan mereka.”
Bu Laras mengepalkan tangannya meninju tanah berkerikil di bawahnya. “Kamu harus tanggung jawab! U a ng di rekeningmu masih banyak! Kamu harus s e w a pengacara paling mahal di kota ini untuk membebaskan Baskara dan Saira! Kalau sampai anak-anakku membu s u k di penjara, aku akan buat hidupmu hancur, Naya!”
Aku berjongkok perlahan di hadapannya. Aku menatap mata tua yang dipenuhi kesombongan tak berdasar itu dalam-dalam. Tidak ada lagi rasa hormat yang tersisa di d a d aku untuk perempuan ini.
“U a ngku cuma untuk membangun rumahku sendiri, Bu. Tidak ada satu rupiah pun yang akan keluar untuk membebaskan komplotan m al ing. Ibu urus saja keluarga Ibu sendiri.”
Aku bangkit berdiri. Aku membalikkan badan, berniat melangkah keluar dari halaman kotor ini selamanya. Tugasku di sini sudah selesai. Aku akan pulang, mengemasi barang-barangku dari rumah kontrakan, lalu mengirimkan surat g u g a tan c e r ai ke pengadilan agama besok pagi.
Namun baru tiga langkah aku berjalan menuju pagar besi, sebuah mobil bak terbuka berwarna hitam berhenti mendadak tepat di depan rumah. Suara decit remnya terdengar memekakkan telinga.
Tiga orang pria berbadan sangat besar turun dari mobil itu secara bersamaan. Mereka memakai jaket kulit hitam yang tebal. Wajah mereka terlihat kasar dan tidak bersahabat. Pria yang berjalan paling depan memiliki bekas luka sayatan memanjang di pipi kirinya. Matanya menyapu garasi dan teras rumah dengan tatapan menilai.
Langkahku terhenti seketika. Aku menyingkir sedikit ke pinggir pagar, memberi jalan bagi ketiga pria menakutkan itu untuk masuk.
Pria berwajah codet itu melangkah masuk ke halaman tanpa permisi. Ia berhenti tepat dua langkah di depan Bu Laras yang masih duduk meratap di atas tanah.
“Ibu bernama Larasati?” Suara pria itu berat dan serak. Menggema menguasai seluruh halaman.
Bu Laras mendongak dengan wajah bingung campur takut. Ia mengusap sisa air matanya pelan. “Iya. Kalian ini siapa datang ke mari?”
“Kami utusan dari Bang Toni. Bandar besar tempat menantu Ibu bermain dadu selama setahun terakhir.” Pria itu berkacak pinggang menatap mertuaku dari atas ke bawah. “Sesuai kesepakatan tertulis, jatuh tempo pelunasan adalah sore ini jam lima. Tapi karena sampai detik ini tidak ada u a ng masuk sepeser pun, maka kami datang untuk melakukan eksekusi.”

Wajah Bu Laras kembali pucat pasi. Bibirnya bergetar hebat. “Maksudnya eksekusi apa? A n a k saya baru saja dibawa polisi! Lagian Dewa bilang rumah ini cuma diga d a ikan sementara untuk jaminan u t a ng!”
“Tidak ada sistem ga d ai di tempat kami, Bu.” Pria berwajah codet itu tertawa keras. Tawa yang menggetarkan kaca jendela rumah bercat hijau itu. Ia lalu berjalan mendekati Bu Laras dan melemparkan sebuah kertas tebal ke pangkuan mertuaku.
“Sertifikat rumah ini sudah dibalik nama secara legal bulan lalu,” ucap pria itu dengan senyum miring. “Sore ini, rumah ini resmi kami s i t a. Silakan Ibu kemas pakaian Ibu dalam waktu setengah jam dan angkat kaki dari sini.”
Bu Laras menggeleng kuat-kuat. Ia mere m as kertas itu tanpa melihat isinya. “Kalian g i l a! Ini rumah peninggalan suami saya! Dewa men i p u saya! Saya tidak pernah setuju rumah ini dij u a l apalagi dis i t a!”
“Oh, jadi Ibu mau bermain peran merasa dit i p u juga seperti a n a k laki-laki Ibu tadi?”
Pria berwajah codet itu mendengkus pelan. Matanya menatap tajam bagai belati. Ia membungkuk sedikit, menatap tepat ke manik mata Bu Laras yang membesar ketakutan.
“Ibu tidak usah pura-pura jadi korban di depan mantan menantu Ibu ini.” Pria itu menunjuk ke arahku sekilas. “Baca sendiri surat kuasa pemindahan hak milik di pangkuan Ibu itu. Di atas meterai bulan lalu, tanda tangan Ibu bersanding sangat rapi persis di sebelah tanda tangan Dewangga.”
Napas Bu Laras tercekat. Kertas di tangannya terlepas jatuh ke atas kerikil.
Aku mematung di tempatku berdiri. Fakta baru ini menghantam kepalaku dengan sangat keras. Sandiwara keluarga ini sungguh melampaui batas akal sehat.
“Ibu pikir bos kami b o d o h?” lanjut pria itu dengan nada mengejek. “Ibu sengaja ikut menandatangani penju a lan rumah ini bulan lalu supaya ibu mendapat bagian u a n g t u n a i dari sisa bayar u t a ngnya kan? Lalu semalam ibu pura-pura diteror preman supaya anak laki-laki ibu menc u ri u a ng istrinya. Ibu butuh u a ng istrinya itu sebagai bekal tambahan untuk lari ke luar kota sore ini.”