Posted in

Baru saja aku turun dari pesawat, tapi aku malah dilarang masuk ke apartemenku sendiri selama tiga tahun.

Baru saja aku turun dari pesawat, tapi aku malah dilarang masuk ke apartemenku sendiri selama tiga tahun.

Resepsionis bahkan menertawakanku dan berkata, “Kamu sudah tidak punya hak menjadi Mrs. Rivera.”

Sampai aku menelepon… dan tiba-tiba seluruh korporasi Rivera Tech menjadi hening.

Aku baru saja melangkah ke dalam lift di sebuah kondominium mewah di Bonifacio Global City ketika seorang resepsionis baru menghalangiku.

“Maaf, Bu… penthouse hari ini tidak menerima tamu.”

Aku terdiam sejenak.

“Aku pemilik unit ini.”

Dia menatapku dari atas sampai bawah dengan penuh penghinaan.

“Jangan bercanda.”

“Penthouse di lantai 38 milik Tuan Alejandro Rivera.”

“Dan atas perintah pacarnya, tidak boleh ada sembarang orang yang masuk.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Aku yang membeli penthouse itu dua tahun lalu.

Namaku ada di sertifikat kepemilikan.

Setiap bulan, dari rekeningku lah yang membayar biaya maintenance, iuran asosiasi, bahkan gaji para satpam gedung ini.

Tapi sekarang—

Seorang resepsionis yang bahkan belum sebulan bekerja di sini berani menghalangiku di rumahku sendiri.

Aku melihat nameplatenya.

“Siapa namamu?”

“Camille.”

Dia menyilangkan tangan.

“Bu, wanita harus tahu diri.”

“Sekarang Tuan Rivera sudah punya cinta baru.”

“Jangan memaksakan diri seperti istri-istri yang ditinggalkan.”

Aku menatapnya diam selama beberapa detik.

Lalu perlahan aku berkata,

“Siapa yang bilang aku mantan istri?”

Dia menyeringai.

“Semua orang di gedung ini tahu.”

“Dulu saat Tuan Rivera belum punya apa-apa, kamu selalu menempel padanya.”

“Sekarang dia sudah sukses, kamu masih merasa pantas berdiri di sampingnya?”

Aku tertawa kecil.

Alejandro Rivera adalah suamiku.

Di brankas kamar kami masih tersimpan akta nikah.

Dan perusahaan yang mereka banggakan itu…

Investasi pertamanya berasal dari uangku sendiri.

Aku mengeluarkan ponsel dan menelepon Alejandro.

Dia langsung mengangkat.

“Sayang? Kamu sudah bangun?”

“Tadi malam meetingku selesai larut, jadi aku belum pulang.”

Aku menatap Camille.

“Sayang…”

“Resepsionismu bilang aku tidak boleh naik ke penthouse milikku sendiri.”

Dia terdiam dua detik.

Lalu suaranya langsung berubah dingin.

“Siapa yang bilang begitu?”

Wajah Camille langsung pucat.

Aku menyalakan speaker.

“Dia juga bilang… pacar barumu melarang orang ‘tidak dikenal’ masuk ke lantai 38.”

Suara Alejandro berat.

“Aku turun sekarang.”

Camille buru-buru menyela.

“Tuan Rivera! Saya hanya mengikuti perintah Nona Vanessa!”

“Nona Vanessa bahkan tidur di sini tadi malam!”

Seluruh lobi langsung sunyi.

Aku perlahan menoleh.

“Siapa yang tidur di rumahku?”

Camille menggigit bibirnya.

“Vanessa Cruz.”

“Dia direktur di Rivera Tech.”

“Dan dia yang katanya akan menjadi Mrs. Rivera berikutnya.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu aku tersenyum dingin.

“Wow.”

“Baru satu minggu aku dinas bisnis ke Singapura…”

“Sudah ada yang antre menggantikan posisiku.”

Tepat saat itu, lift VIP terbuka.

Alejandro keluar dengan cepat, kancing kemeja hitamnya belum rapi.

Semua satpam langsung menunduk.

Mata Camille langsung memerah saat melihatnya.

“Tuan Rivera… saya hanya tidak ingin Anda diganggu orang sembarangan…”

Alejandro bahkan tidak menoleh padanya.

Matanya langsung tertuju padaku.

“Sudah berapa lama kamu menunggu di sini?”

“Sekitar sepuluh menit.”

Aku tersenyum dingin.

“Cukup untuk mendengar bahwa kamu sudah mau menikah lagi.”

Wajah Alejandro langsung mengeras.

Dia menoleh ke Camille.

“Siapa yang memberimu hak untuk ikut campur urusan keluargaku?”

Camille panik.

“Tuan… saya hanya memikirkan Anda…”

“Karena Nona Vanessa—”

“Apa yang dia katakan?”

Sebuah suara perempuan tiba-tiba menyela dari belakang.

“Aku yang bilang.”

Dari pintu putar lobi, seorang wanita bergaun putih masuk perlahan.

Rambutnya ikal rapi.

Dia terlihat seperti sosialita Manila pada umumnya.

Dia mendekati Alejandro dengan percaya diri.

“Kenapa kamu bersikap kasar pada karyawanmu?”

“Aku hanya menyuruhnya untuk tidak memasukkan orang sembarangan.”

Aku menatapnya.

“Kamu Vanessa Cruz?”

Dia tersenyum.

“Iya.”

“Jadi kamu Linh.”

“Banyak cerita tentangmu dari Alejandro.”

Alejandro langsung mengernyit.

“Vanessa.”

“Aku tidak pernah menceritakan istriku seperti yang kamu pikirkan.”

Senyumnya sedikit kaku.

Tapi dia cepat menguasai diri lagi.

“Tapi Alejandro… dia kan sudah tidak tinggal di sini lagi, kan?”

“Sayang sekali penthouse sebesar ini tidak dipakai.”

“Dan lagi… kamu sendiri yang menyuruhku menginap tadi malam.”

Aku menatap Alejandro.

“Benarkah?”

“Sepertinya hidupmu cukup menyenangkan saat aku tidak ada.”

Dia langsung menggenggam tanganku.

“It’s not what you think.”

Vanessa tertawa kecil.

“Nona Linh.”

“Seharusnya wanita dewasa mengerti…”

“Kalau pria sudah sukses, dia tidak akan selamanya memilih wanita yang hanya di rumah dan menghabiskan uang.”

“Setiap hari aku bersama Alejandro.”

“Aku yang paling mengerti dia sekarang.”

Aku menatapnya lama.

Lalu perlahan aku melepas cincin pernikahanku dan meletakkannya di meja resepsionis.

“Rivera Tech…”

“Aku yang membantu membangunnya.”

“Dan aku juga yang bisa menghancurkannya.”

Wajah Alejandro langsung berubah.

“Linh!”

Tapi aku sudah berbalik.

Tepat saat itu—

Ponsel Alejandro berdering.

Begitu dia mengangkatnya, wajahnya langsung pucat.

“Apa?!”

“Rapat darurat pemegang saham?”

“Semua investasi dari Santos Capital tiba-tiba ditarik?!”

Vanessa juga langsung pucat.

“Alejandro… bukankah Santos Capital itu milik istrimu…?”

Aku berhenti melangkah.

Perlahan aku menoleh.

Lalu tersenyum sambil menatap mereka berdua.

“Oh, iya.”

“Bukan hanya istri Alejandro Rivera.”

“Aku juga pendiri Santos Capital.”

“Dan seluruh Rivera Tech…”

“Aku adalah alasan sebenarnya perusahaan itu bisa berdiri.”

Bagian 2

Lobi kondominium mewah itu mendadak sedingin es. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan, hanya diinterupsi oleh dering ponsel Alejandro yang terus berbunyi tanpa henti.

Wajah Vanessa yang tadinya penuh senyum kemenangan kini memucat, beralih menatapku dengan mata terbelalak. “San… Santos Capital? Kamu pemilik raksasa investasi itu? Tidak mungkin! Kamu hanya… kamu hanya Linh, wanita rumahan yang beruntung menikah dengan Alejandro!”

Aku tidak menjawabnya. Aku hanya menatap cincin pernikahan yang tergeletak di atas meja resepsionis, tepat di samping jemari Camille yang kini gemetar hebat.

“Linh… tolong, dengarkan aku dulu!” Alejandro melangkah maju, suaranya yang biasa berwibawa kini bergetar dipenuhi kepanikan yang amat sangat. “Tadi malam ada gala dinner dengan investor asing, dan Vanessa mabuk berat setelah membantuku mengamankan kontrak. Aku hanya menyuruhnya tidur di kamar tamu penthouse karena sudah terlalu larut! Demi Tuhan, Linh, aku tidak pernah menyentuhnya!”

“Lalu kenapa resepsionismu bisa berpikir dia adalah Mrs. Rivera berikutnya, Alejandro?” tanyaku dengan nada yang sangat tenang, namun sanggup membuat Alejandro tersentak. “Dan kenapa seorang direktur di perusahamu merasa memiliki hak untuk mengatur siapa yang boleh masuk ke rumah milikku?”

Sebelum Alejandro sempat menjawab, ponselnya berdering lagi. Kali ini dari Wakil Direktur Rivera Tech. Alejandro mengangkatnya dengan tangan yang gemetar, menyalakan pengeras suara karena panik.

“Tuan Rivera! Situasinya kritis!” suara di seberang telepon berteriak histeris, cukup keras hingga menggema di lobi yang sepi. “Bukan hanya Santos Capital yang menarik modal, tapi tiga bank utama kita baru saja membekukan lini kredit! Mereka bilang… mereka mendapat instruksi langsung dari pemilik hak suara mayoritas Rivera Tech. Tuan, 60% saham rahasia perusahaan kita terdaftar atas nama sebuah trust fund… dan pemiliknya baru saja menandatangani perintah likuidasi!”

Mendengar hal itu, lutut Vanessa lemas. Dia terhuyung mundur dan terpaksa berpegangan pada pilar marmer. Sebagai direktur, dia tahu persis apa artinya itu. Tanpa Santos Capital dan suntikan dana dari trust fund tersebut, Rivera Tech hanyalah cangkang kosong yang akan hancur dalam hitungan jam.

Alejandro menatapku dengan mata memerah, napasnya memburu. Dia menjatuhkan harga dirinya, berlutut di atas lantai lobi yang dingin di depan para satpam dan karyawannya sendiri.

“Linh, aku mohon… jangan lakukan ini. Kita membangun Rivera Tech dari nol, dari garasi kecil di Quezon City. Kamu tidak bisa menghancurkannya begitu saja!” ratapnya, mencoba meraih ujung sepatuku.

“Kita?” Aku tersenyum tipis, menatap pria yang dulu berjanji akan selalu menghormatiku saat kami masih kesulitan membayar sewa tempat tinggal. “Aku yang membiayai riset teknologimu, Alejandro. Aku yang menggunakan nama Santos untuk membukakan pintu bagi setiap investor yang menolakmu. Kamu hanya fokus pada spotlight, sampai kamu lupa bahwa bayangan yang melindungimu adalah aku.”

Aku menoleh ke arah Camille, yang kini sudah menangis tanpa suara, ketakutan setengah mati menyadari bahwa dia baru saja menghina wanita yang sanggup membeli seluruh gedung ini beserta isinya.

“Camille,” panggilku lembut.

Dia mendongak dengan tubuh gemetar. “Y-Ya, Madam…”

“Kamu benar tentang satu hal. Wanita memang harus tahu diri,” kataku, membuat wajahnya makin pias. “Dan hari ini, kamu kehilangan pekerjaanmu. Kamu dipecat.”

Lalu aku beralih menatap Vanessa yang masih syok. “Dan untukmu, Nona Direktur yang ambisius… silakan ambil Alejandro. Nikmati pria sukses yang kamu puja-puja itu. Tapi ingat, tanpa uangku, suksesi yang kamu impikan hanyalah tumpukan utang yang harus kamu bayar bersamanya mulai besok.”

Aku membalikkan badan, melangkah dengan anggun menuju pintu keluar lobi. Dua satpam yang tadi sempat ragu kini buru-buru membukakan pintu putar untukku, membungkuk sangat rendah dengan penuh rasa hormat.

“Linh! Jangan pergi! Linh!” teriakan frustrasi Alejandro menggema di belakangku, diiringi suara ponselnya yang terus berdering—menandakan akhir dari kejayaan Rivera Tech.

Aku melangkah keluar menuju mobil hitam yang sudah menungguku di lobi luar Bonifacio Global City. Angin Manila menerpa wajahku, terasa begitu menyegarkan. Tiga tahun aku membiarkan diriku berada di balik layar demi mendukung mimpi seorang pria, dan hari ini, aku baru saja menyadarkannya bahwa akulah sang pemilik panggung yang sesungguhnya.