Posted in

Aku menerima telepon dari nomor anakku yang sudah meninggal tiga tahun lalu… tetapi ketika mendengar kata pertama dari suara di seberang sana, ponselku hampir terlepas dari genggamanku…

Aku menerima telepon dari nomor anakku yang sudah meninggal tiga tahun lalu… tetapi ketika mendengar kata pertama dari suara di seberang sana, ponselku hampir terlepas dari genggamanku…

“Mama… jangan tutup teleponnya.”

Duniaku seakan berhenti.

Benar-benar berhenti.

Aku tak lagi mendengar hiruk-pikuk kendaraan di luar.

Tak lagi mendengar suara kipas angin yang berputar di ruang tamuku yang kecil.

Yang kudengar hanyalah suara itu.

Suara anakku, Angela.

Ia meninggal saat berusia enam belas tahun.

Sudah tiga tahun dimakamkan.

Selama tiga tahun itu pula aku tak pernah lagi merayakan ulang tahun.

Tak pernah lagi memasang lampu Natal.

Tak pernah lagi mendengarkan lagu favorit kami.

Dan sekarang…

aku mendengar suaranya.

Jari-jariku membeku.

Aku tak bisa bernapas.

Aku tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Perlahan aku terduduk di sofa tua.

“M-Mama?”

Suara itu memanggil lagi.

Begitulah persis cara Angela berbicara.

Lembut.

Dengan nada yang sedikit naik di akhir kalimat.

Ya Tuhan.

Mustahil.

Dia sudah meninggal.

Akulah yang menggenggam tangannya di rumah sakit hingga napas terakhirnya.

Akulah yang menandatangani seluruh dokumen.

Akulah yang meletakkan setangkai mawar putih di atas petinya.

“Siapa… siapa yang bicara?”

“Siapa… siapa yang bicara?” tanyaku, suaraku bergetar hebat, nyaris tenggelam dalam keheningan rumahku yang mencekam. Air mata yang selama tiga tahun ini kubendung, kini mendesak keluar, mengaburkan pandanganku.

Keheningan panjang merayap di seberang telepon. Hanya ada suara napas yang teratur—napas yang begitu familier, yang dulu sering kudengar saat ia tertidur di pangkuanku.

“Ini aku, Mama. Ini Angela,” suara itu berbisik, terdengar begitu dekat, seolah ia sedang berdiri tepat di belakang sofaku. “Aku tahu Mama merindukanku. Aku tahu Mama berhenti tersenyum sejak hari itu.”

Jantungku berdegup kencang, menghantam dadaku dengan brutal. “Jangan bercanda! Ini tidak lucu! Siapa kau sebenarnya?!” teriakku, antara histeris dan ketakutan. Bagaimana mungkin seseorang bisa meniru suara malaikat kecilku dengan begitu sempurna?

“Aku tidak bercanda, Mama,” sela suara itu dengan lembut, nada bicaranya tetap tenang. “Apakah Mama ingat kotak musik kayu dengan ukiran balerina yang rusak di laci paling bawah lemari bajuku? Di dalamnya, aku menyembunyikan sepucuk surat untuk ulang tahun Mama yang ke-40. Aku menyimpannya di sana… sehari sebelum aku pergi ke rumah sakit.”

Ponsel di genggamanku benar-benar terjatuh ke atas karpet.

Tubuhku lemas. Rahasia itu… tidak ada seorang pun di dunia ini yang tahu. Bahkan aku baru menemukan kotak musik itu beberapa bulan setelah pemakamannya dan menyimpannya erat-erat sebagai rahasia terdalamku.

Dengan tangan gemetar, kuambil kembali ponsel itu, menempelkannya ke telinga dengan sisa-sisa keberanian yang kupunya. “Angela…? Bagaimana… bagaimana bisa?”

“Aku tidak pernah benar-benar pergi, Mama,” jawab suara itu, kini terdengar lebih jauh, seolah perlahan menjauh dari gagang telepon. “Aku hanya ingin Mama tahu kalau aku baik-baik saja di sini. Tolong… pasang kembali lampu Natal tahun ini, ya? Berjanjilah padaku untuk mulai hidup lagi. Aku menyayangimu, Mama.”

Klik.

Sambungan terputus.

Aku tertegun, menatap layar ponsel yang kini menggelap. Di sana tertera durasi panggilan: 01:42. Ini bukan mimpi. Ini bukan ilusi dari rasa rinduku yang mendalam.

Perlahan, keheningan di ruang tamuku pecah. Suara putaran kipas angin kembali terdengar. Deru kendaraan di luar rumah kembali masuk ke telingaku. Duniaku bergerak lagi.

Aku menatap ke luar jendela, melihat langit senja yang mulai dihiasi bintang. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dadaku tidak lagi terasa sesak oleh penyesalan. Air mata yang mengalir di pipiku bukan lagi air mata duka, melainkan sebuah keikhlasan yang aneh.

Aku berdiri dari sofa tua itu, berjalan menuju gudang, dan mulai mencari kotak berdebu berisi lampu-lampu Natal yang sudah lama kusembunyikan.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.