Posted in

SAAT AKU HAMIL, DIA BERKATA, “MEMANG KAMU TIDAK PUNYA TANGAN?” SEKARANG, DIA BERLUTUT MEMAKAIKAN SEPATU UNTUK WANITA SIMPANANNYA.**

SAAT AKU HAMIL, DIA BERKATA, “MEMANG KAMU TIDAK PUNYA TANGAN?” SEKARANG, DIA BERLUTUT MEMAKAIKAN SEPATU UNTUK WANITA SIMPANANNYA.**

Aku baru saja selesai menyusui di kamar utama rumah mewah kami di kawasan elit Jakarta. Rasa nyeri di dadaku akibat menyusui belum juga mereda ketika suara pintu depan yang terbuka pelan memecah keheningan malam.

Kukira Lucas, suamiku, akhirnya pulang.

Sambil menggendong bayi kami yang baru berusia tiga bulan, aku berjalan perlahan menuruni tangga untuk menyambutnya.

Namun baru sampai di ujung tangga, langkahku langsung terhenti.

Tubuhku terasa seperti disiram air es.

Di depan pintu masuk berdiri sepasang sepatu hak tinggi merah.

Bukan milikku.

Sepasang **Chanel gartered pumps** edisi terbatas, ukuran 36. Sepatu yang bahkan tak pernah mampu kubelikan untuk diriku sendiri.

Lalu kulihat Lucas.

Pria yang pernah berjanji di hadapan altar akan mencintaiku dalam suka maupun duka itu sedang berlutut di depan seorang wanita asing.

Dengan sangat hati-hati, ia memakaikan sepatu ke kaki wanita itu, seolah-olah sedikit saja lebih kuat memegangnya, wanita itu akan pecah seperti kristal.

Saat itu juga aku teringat ketika usia kehamilanku memasuki delapan bulan.

Perutku begitu besar hingga aku bahkan tidak bisa melihat kakiku sendiri.

Aku kesulitan memakai sepatu, lalu memohon agar Lucas membantuku.

Aku masih mengingat jelas tatapan dinginnya.

**”Memangnya kamu tidak punya tangan? Pakai sepatu saja masih harus kubantu?”**

Namun kini, wanita di hadapannya berbicara dengan suara yang begitu manis hingga membuat lututku gemetar.

“Lucas… istrimu ada di atas. Kamu tidak takut kalau dia melihat kita?”

Lucas bahkan tidak mengangkat kepala.

Tatapannya tetap tertuju pada kaki wanita itu.

“Kalau dia melihat, memangnya dia bisa apa?”

Nada suaranya penuh ketidakpedulian.

Setiap katanya menusuk tepat ke jantungku.

“Dia baru melahirkan tiga bulan lalu. Tenaga untuk marah saja sudah tidak punya. Mengurus dirinya sendiri pun dia tidak sanggup.”

Aku hanya berdiri di sudut tangga yang gelap sambil memeluk bayi kami.

Bayi kecil di pelukanku bergerak pelan lalu mengeluarkan suara rengekan kecil.

Barulah mereka berdua mendongak bersamaan.

Aku langsung mengenali wanita itu.

Monica.

Direktur PR baru di perusahaan Lucas.

Usianya dua puluh enam tahun.

Tubuhnya langsing.

Riasannya sempurna tanpa sedikit pun terlihat lelah.

Memang…

Ia sangat berbeda denganku.

Sangat berbeda dengan seorang ibu yang baru melahirkan tiga bulan lalu.

Tubuhku belum benar-benar pulih.

Wajahku pucat.

Mataku cekung karena kurang tidur setiap malam.

Saat mata kami bertemu, Monica sama sekali tidak tampak panik.

Sebaliknya, ia malah tersenyum sinis sambil merangkul lengan suamiku.

“Hai, Kak. Maaf ya, kami mengganggu malam-malam begini.”

Lucas menoleh kepadaku.

Begitu melihatku menggendong bayi, wajahnya justru dipenuhi rasa kesal.

“Kenapa kamu masih belum tidur?”

Nada suaranya penuh kejengkelan.

“Bahkan menidurkan anak saja kamu tidak becus? Seharian kamu cuma di rumah. Sebenarnya apa yang kamu kerjakan?”

Aku tidak menangis.

Dalam tiga bulan sejak melahirkan…

Rasanya semua air mataku sudah habis.

Aku hanya memeluk anakku lebih erat, berbalik, lalu naik kembali ke lantai atas.

Begitu masuk kamar, aku langsung mengunci pintu.

Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu depan terbuka lagi.

Lucas mengantar Monica pulang.

Tak lama sesudahnya, terdengar langkah kaki Lucas menaiki tangga.

Ia berhenti di depan kamarku.

Beberapa kali mencoba memutar gagang pintu.

Saat sadar pintu terkunci, ia menghela napas kesal lalu berjalan menuju kamar tamu.

Pukul dua dini hari.

Setelah selesai menyusui bayi untuk kedua kalinya malam itu, aku duduk di tepi ranjang dan membuka ponsel.

Aku melihat daftar kontak.

Selain keluargaku…

Hanya ada tiga nama.

Mereka adalah tiga sahabat terdekat Lucas.

Mereka jugalah yang menjadi pendamping pria di pernikahan kami beberapa tahun lalu.

Selain mereka…

Aku tak tahu lagi harus meminta bantuan kepada siapa.

Pukul 02.17.

Aku meletakkan bayiku kembali ke tempat tidurnya.

Setelah memastikan ia benar-benar tertidur, aku keluar ke balkon tanpa alas kaki.

Tiga bulan setelah melahirkan, kedua kakiku masih bengkak.

Sandal lamaku sudah tak muat lagi.

Aku membiarkan telapak kakiku menyentuh dinginnya lantai semen.

Hal pertama yang kubuka adalah percakapanku dengan ibu mertuaku.

Pesan terakhir kami terjadi seminggu yang lalu.

Aku mengirim foto cucunya dengan tulisan,

**”Bu, cucu Ibu sudah bisa mengangkat kepalanya.”**

Balasannya hanya dua kata.

**”Syukurlah.”**

Aku terus menggulir ke atas.

Saat beberapa hari setelah melahirkan, aku pernah mengirim pesan.

**”Bu, saya kena mastitis dan demam tinggi. Bisakah Ibu datang sehari saja membantu menjaga bayi?”**

Jawabannya sangat singkat.

**”Aku sudah punya jadwal liburan ke Bali bersama teman-teman. Sewa saja pengasuh.”**

Aku memang menyewa pengasuh.

Tetapi hanya bertahan satu bulan.

Lucas langsung mengeluh biayanya terlalu mahal.

“Kamu juga tidak bekerja. Seharian cuma di rumah mengurus satu anak, masih butuh pengasuh bergaji dua puluh juta rupiah sebulan? Memangnya uang kita jatuh dari langit?”

Saat itu aku tidak membantah.

Karena aku tahu…

Kalau aku melawan, yang menungguku hanyalah **silent treatment**.

Dan bagi Lucas, silent treatment berarti pulang semakin larut.

Sampai akhirnya sama sekali tidak pulang ke rumah.

Aku menutup percakapan dengan ibu mertuaku.

Pandanganku beralih kepada tiga nama di daftar kontak.

**”Teman Lucas 1″**

**”Teman Lucas 2″**

**”Teman Lucas 3″**

Aku belum pernah sekalipun menghubungi mereka secara pribadi.

Setiap kali bertemu, selalu ada Lucas di sampingku.

Di pesta-pesta maupun jamuan bisnis.

Sedangkan aku hanya duduk diam di sisinya.

Menuangkan minuman.

Tersenyum pada saat yang tepat.

Dan mengangguk pada setiap perkataannya.

Namun sekarang…

Aku benar-benar tidak punya siapa-siapa lagi.

Orang tuaku tinggal di luar kota.

Ibuku memiliki penyakit jantung.

Aku tidak ingin membuat mereka khawatir dengan keadaanku di Jakarta.

Teman-temanku juga perlahan menghilang sejak aku meninggalkan karier demi menjadi ibu rumah tangga penuh waktu.

Di rumah mewah seluas dua ratus meter persegi ini…

Teman sehari-hariku hanyalah tangisan bayi.

Botol susu yang tak pernah habis dicuci.

Dan bayangan diriku sendiri di cermin.

Lelah.

Pucat.

Hampir tidak lagi kukenal.

Aku menarik napas panjang.

Pada akhirnya…

Aku menekan nomor pertama dalam daftar kontak.

Namanya…

**Sandro Alcantara.**

Baru dua kali nada sambung berbunyi…

Telepon itu sudah diangkat….

Baru dua kali nada sambung berbunyi… Telepon itu sudah diangkat.

“Halo, Clara?” Suara berat Sandro terdengar di seberang sana, sangat jernih tanpa ada nada mengantuk, meski saat itu jarum jam hampir menunjuk angka tiga pagi. “Ada apa menelepon jam segini? Apa terjadi sesuatu?”

Aku mengepalkan tangan bebas kegemetaran, menahan isak yang hampir lolos. “Sandro… maaf mengganggu malam-malam. Bisakah kamu… menjemputku sekarang? Bawa aku dan bayiku keluar dari rumah ini.”

Hening sesaat. Tidak ada pertanyaan retoris, tidak ada pembelaan untuk Lucas. Sandro adalah pengacara korporat utama sekaligus sahabat Lucas yang paling pendiam. Dia tahu segalanya tentang bisnis Lucas—dan tampaknya, juga tentang busuknya tabiat Lucas.

“Tunggu di dalam kamar. Kunci pintu. Dua puluh menit lagi aku sampai,” jawab Sandro tenang namun tegas.

Tepat dua puluh menit kemudian, sebuah mobil SUV hitam berhenti di depan gerbang. Aku tidak membawa banyak barang. Hanya satu tas berisi popok, susu formula cadangan, baju ganti bayiku, dan yang paling penting: sebuah map cokelat berisi dokumen aset yang diam-diam kuambil dari ruang kerja Lucas seminggu lalu.

Aku menggendong bayiku, berjalan perlahan menuruni tangga tanpa alas kaki. Dinginnya lantai semen teras menyambut kakiku yang membengkak, tapi kali ini rasanya tidak lagi menyakitkan. Rasa sakit itu telah mati bersama rasa cintaku pada Lucas.

Sandro sudah berdiri di depan mobil. Begitu melihat kakiku yang telanjang dan bengkak, matanya berkilat marah. Tanpa berkata-kata, ia melepas jaket wol tebalnya, menyelimutkannya ke tubuhku dan bayiku, lalu membukakan pintu mobil dengan sangat takzim.

“Terima kasih,” bisikku lirih.

“Mulai hari ini, kamu tidak perlu berterima kasih atau memohon pada siapa pun lagi, Clara,” ucap Sandro sambil menatapku lurus melalui spion tengah. “Semua bukti perselingkuhan Lucas dengan Monica yang kamu minta lewat surel bulan lalu sudah siap. Besok pagi, gugatan cerai dan tuntutan hak asuh penuh akan mendarat di mejanya.”

Aku tersenyum tipis. Lucas mengira aku adalah wanita lemah yang kehilangan tenaga setelah melahirkan. Dia lupa bahwa sebelum menyerahkan karierku demi dirinya, aku adalah manajer risiko keuangan terbaik di perusahaannya—orang yang membangun sistem keuangan yang membuatnya kaya raya seperti sekarang.

Satu Tahun Kemudian

Suara riuh tepuk tangan menggema di aula hotel berbintang di pusat Jakarta.

Malam ini adalah peluncuran firma konsultan keuangan baruku. Tubuhku sudah kembali bugar, rambutku tertata rapi, dan aku mengenakan gaun malam berwarna biru safir yang anggun. Di kakiku, terpasang sepasang sepatu hak tinggi yang nyaman—bukan dibelikan oleh pria mana pun, melainkan hasil jerih payahku sendiri.

Di sudut ruangan, aku melihat seorang pria dengan kemeja kusut dan wajah kusam sedang berdebat dengan petugas keamanan.

Itu Lucas.

Setelah perceraian kami yang menguras habis reputasinya, pengadilan memutuskan dia bersalah atas perselingkuhan dan penelantaran anak. Saham perusahaannya anjlok, ibunya jatuh miskin karena gaya hidup mereka yang tak lagi ditopang oleh otaku, dan Monica? Wanita itu langsung pergi meninggalkannya begitu Lucas dinyatakan bangkrut dan terjerat utang ganti rugi hak asuh anak.

Lucas berhasil menerobos petugas keamanan dan berlari ke arahku. Wajahnya yang dulu angkuh kini dipenuhi keputusasaan.

“Clara! Tolong aku… beri aku kesempatan sekali lagi,” ratapnya, suaranya parau. “Perusahaanku hancur, Ibu sakit-sakitan, dan aku… aku merindukan anak kita. Aku salah, Clara. Aku tahu aku salah!”

Tepat di depan langkahku, tiba-tiba tali sepatuku terlepas sedikit.

Sebelum aku sempat membungkuk, sebuah bayangan tinggi melangkah maju. Sandro, yang kini menjadi mitra hukum sekaligus pria yang selalu menghormatiku, berlutut dengan satu kaki di lantai. Dengan gerakan yang sangat penuh hormat dan lembut, ia membetulkan tali sepatuku, memastikan kakiku tidak lecet sedikit pun.

Setelah selesai, Sandro berdiri di sampingku, menatap Lucas dengan pandangan dingin seolah pria itu hanyalah debu.

Aku menatap Lucas yang kini mematung, menatap pemandangan di depannya dengan mata membelalak penuh penyesalan yang terlambat.

Aku mendekat, lalu berbisik dengan nada sedingin es—nada yang persis sama dengan yang digunakannya padaku satu tahun lalu:

“Memangnya kamu tidak punya tangan, Lucas? Sampai harus mengemis bantuan dari mantan istrimu yang dulu kamu sebut tidak becus ini?”

Aku berbalik tanpa menunggu jawabannya, menggandeng lengan Sandro, dan berjalan meninggalkan Lucas yang perlahan jatuh berlutut di lantai aula—menangisi semua kebodohan dan kesombongannya yang telah menghancurkan hidupnya sendiri.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.