Posted in

AKU SEDANG HAMIL DAN NYAWA BAYIKU TERANCAM. TAPI SUAMIKU YANG TERNYATA SEORANG CEO LEBIH MEMILIH MENOLAK MEMBAYAR BIAYA PENGOBATANKU—KARENA MENURUTNYA, AKU TIDAK PANTAS MENIKMATI KEKAYAAN KELUARGANYA.**

AKU SEDANG HAMIL DAN NYAWA BAYIKU TERANCAM. TAPI SUAMIKU YANG TERNYATA SEORANG CEO LEBIH MEMILIH MENOLAK MEMBAYAR BIAYA PENGOBATANKU—KARENA MENURUTNYA, AKU TIDAK PANTAS MENIKMATI KEKAYAAN KELUARGANYA.**

“Enam tahun kalian menikah, tapi sampai sekarang kamu belum pernah memberi tahu istrimu kalau sebenarnya kamulah satu-satunya pewaris sekaligus CEO Co Holdings?”

Aku langsung terhenti di depan pintu sebuah klinik spesialis.

Pintunya terbuka sedikit, cukup untuk membuat setiap kata dari dalam terdengar jelas.

Baru setengah jam yang lalu Dr. Albert Torres memeriksaku.

Kini ia sedang berbicara di telepon menggunakan speaker.

Suara dari seberang sana…

Aku mengenalinya dengan sangat baik.

Suara yang selama enam tahun selalu kudengar setiap malam sebelum tidur.

“Tidak ada alasan dia harus tahu.”

Jawaban itu terdengar dingin dan tanpa emosi.

“Dia memang masuk ke hidupku sebagai istriku, tapi aku tidak akan pernah membiarkannya menikmati kekayaan keluarga Co.”

Suamiku.

Kenneth Co.

Pria yang selama ini kukira hanyalah pegawai biasa dengan gaji pas-pasan di sebuah perusahaan kecil.

“Tapi Kenneth, istrimu sedang hamil!” suara Dr. Albert meninggi.

“Dia datang ke klinikku hari ini untuk pemeriksaan. Kondisi janinnya sangat lemah. Aku menyarankan dia dirawat inap dan menggunakan obat impor terbaik agar kehamilannya bisa dipertahankan.”

“Tahu apa yang dia katakan?”

“Dia bilang tidak sanggup membayar biayanya, lalu pergi.”

“Itu juga anakmu! Kalau tidak segera diobati, bayi itu tidak akan selamat!”

Seluruh tubuhku gemetar.

Aku bersandar lemas pada dinding lorong rumah sakit.

Hasil USG yang masih kugenggam perlahan kusut di dalam tanganku.

Aku hamil.

Setelah enam tahun menunggu dan berharap, akhirnya kami akan memiliki seorang anak.

Namun bahkan sebelum sempat merasakan kebahagiaan itu…

Dokter sudah mengatakan kemungkinan besar bayi ini tidak akan bertahan.

Aku berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain.

Semuanya memberikan jawaban yang sama.

Mereka menyarankan agar aku mengakhiri kehamilan ini.

Hanya klinik inilah yang masih memberiku secercah harapan.

Aku masih mengingat jelas ucapan Dr. Albert beberapa saat sebelumnya.

“Kondisi janin Anda sangat lemah, Bu Kristina.”

“Kalau ingin mempertahankan kehamilan ini, Anda harus dirawat inap selama satu bulan penuh dan menjalani terapi menggunakan obat impor.”

“Saat ini hanya klinik kami yang memiliki persediaan obat tersebut di Indonesia.”

“Namun biayanya…”

“…sekitar **Rp5.000.000 per hari**.”

Satu bulan berarti…

Sedikitnya aku membutuhkan **Rp150.000.000**.

Jumlah yang terasa mustahil bagiku.

Aku masih ingat bagaimana aku meremas blus lamaku sambil menunduk di hadapan dokter.

“Dok… kami tidak punya uang sebanyak itu.”

“Suami saya hanya pegawai biasa.”

“Gaji saya juga kecil.”

“Tidak adakah cara yang lebih murah?”

Dr. Albert menggeleng pelan.

“Itu sudah pilihan paling murah, Bu Kristina.”

“Kalau dikurangi lagi, saya tidak yakin janinnya bisa bertahan.”

Aku mengucapkan terima kasih lalu keluar dari ruang praktik.

Di luar, matahari sore terasa begitu terik.

Aku membuka aplikasi mobile banking.

Tabungan kami hanya tersisa sekitar **Rp100.000.000**.

Itulah seluruh hasil kerja keras kami selama enam tahun.

Setiap rupiah berasal dari penghematan dan pengorbanan.

Kenneth selalu mengatakan dirinya hanyalah staf administrasi di Co Enterprises.

Sedangkan aku bekerja sebagai asisten administrasi di sebuah perusahaan kecil.

Gajinya sekitar Rp25 juta sebulan.

Gajiku Rp20 juta.

Setelah membayar kontrakan apartemen kecil dan cicilan mobil tua kami…

Hampir tidak ada uang yang tersisa.

Bahkan membeli pakaian baru pun terasa mewah bagiku.

Kalau sakit…

Aku memilih beristirahat daripada pergi ke dokter.

Semua demi menabung untuk calon anak kami.

Aku mengusap perutku.

Sejak kecil aku sudah menjadi yatim piatu.

Kakek dan nenek yang membesarkanku juga telah lama meninggal.

Aku selalu mendambakan sebuah keluarga.

Aku ingin memiliki anak.

Seseorang yang membawa darahku sendiri.

Mataku terasa panas.

Namun aku menahan air mata.

Aku tidak boleh menyerah.

Aku rela mengorbankan semua tabunganku demi menyelamatkan bayi ini.

Karena itulah aku kembali ke ruang praktik Dr. Albert.

Aku ingin mengatakan bahwa aku akan menggunakan seluruh tabungan kami agar pengobatan bisa segera dimulai, meski baru cukup untuk sepuluh hari pertama.

Namun aku tidak pernah menyangka…

Kepulanganku justru membongkar kenyataan yang menghancurkan seluruh hidupku.

Di dalam ruangan…

Percakapan mereka masih berlanjut.

“Aku tahu kamu masih menyimpan dendam, Kenneth.”

Dr. Albert menghela napas panjang.

“Sebelum meninggal, kakekmu meninggalkan wasiat.”

“Kalau ingin mewarisi seluruh Co Holdings, kamu harus menikahi cucu dari sahabatnya yang dulu pernah menyelamatkan nyawanya.”

“Itulah sebabnya kamu terpaksa memutuskan hubungan dengan Kiara, cinta pertamamu.”

“Tapi Kristina tidak bersalah.”

“Dia sama sekali tidak tahu tentang semua perjanjian itu.”

“Kamu menyembunyikan identitasmu sebagai miliarder.”

“Kamu berpura-pura miskin.”

“Namun dia tetap menerimamu dan menemanimu selama enam tahun.”

“Sekarang bahkan biaya pengobatan kehamilannya pun tidak mau kamu keluarkan?”

“Sebagai dokter sekaligus sahabatmu… aku benar-benar kasihan padanya.”

Kakiku langsung lemas.

Rasanya kepalaku meledak.

Aku teringat pertama kali bertemu Kenneth di dalam bus menuju Bandung.

Pakaiannya sederhana.

Senyumnya pemalu.

Kami jatuh cinta dengan cepat lalu menikah beberapa bulan kemudian.

Aku pikir itu takdir.

Aku pikir dia mencintaiku tanpa memandang latar belakangku.

Ternyata…

Semua itu hanyalah sandiwara.

Permainan agar ia bisa mendapatkan warisannya.

“Dialah yang paling diuntungkan dari pernikahan ini.”

Suara Kenneth terdengar dingin.

“Kenapa harus dikasihani?”

“Karena dia, Kiara mengalami depresi.”

“Sampai sekarang jantung Kiara masih bermasalah akibat perpisahan kami.”

“Dialah korban yang sebenarnya.”

“Kenneth!”

Dr. Albert membentaknya.

“Coba dengarkan ucapanmu sendiri!”

“Kamu mengangkat Kiara menjadi Executive Secretary di Co Holdings.”

“Kamu memberinya apartemen mewah.”

“Mobil paling mahal.”

“Tunjangan ratusan juta rupiah setiap bulan.”

“Hidupnya bahkan lebih mewah daripada para sosialita.”

“Sementara istrimu sendiri memakai pakaian lusuh.”

“Lalu kamu bilang Kiara yang paling menderita?”

“Cukup, Albert.”

“Jangan ikut campur urusan pribadiku.”

“Aku tahu kamu hanya mengkhawatirkan bayinya.”

“Tenang saja.”

“Begitu Kristina datang memohon uang kepadaku…”

“…aku akan memberikan biaya pengobatannya.”

“Kalau memang semudah itu…”

Suara Dr. Albert menjadi pelan.

“Tapi masih ada satu hal yang harus kuingatkan.”

“Pada dua tahun pertama pernikahan kalian…”

“…karena kamu tidak ingin dia hamil…”

“…kamu memintaku memberikan pil kontrasepsi dosis paling kuat agar diam-diam bisa kamu campurkan ke minumannya.”

“Aku sudah memperingatkanmu.”

“Obat itu tidak boleh digunakan terlalu lama.”

“Rahimnya bisa rusak.”

“Dan jika suatu hari dia berhasil hamil…”

“…janinnya bisa mengalami kelainan.”

“Sekarang semua itu benar-benar terjadi.”

“Kenneth…”

“Kaulah penyebab bayi itu berada dalam kondisi seperti sekarang.”

Mulutku terbuka.

Tubuhku membeku.

Aku bahkan hampir tidak bisa bernapas.

Susu…

Aku baru teringat.

Selama enam tahun…

Setiap malam sebelum tidur…

Kenneth selalu membuatkan segelas susu hangat untukku.

Aku mengira itu bentuk kasih sayang seorang suami.

Aku merasa sangat beruntung.

Ternyata…

Di setiap gelas susu itu tersembunyi racun yang perlahan menghancurkan impianku menjadi seorang ibu.

Ia meracuniku…

Hanya agar aku tidak pernah mengandung anaknya.

Rasa mual yang hebat menyerang.

Aku menutup mulut sambil menangis tanpa suara.

Tubuhku perlahan merosot hingga terduduk di lantai lorong rumah sakit.

Saat itulah…

Aku mendengar langkah kaki yang sangat kukenal mendekat dari ujung koridor.

Itu langkah Kenneth.

Ia baru saja keluar dari ruang praktik.

Aku mengangkat wajahku yang penuh air mata.

Dan pada detik berikutnya…

Pandangan kami bertemu.

Begitu menyadari aku terduduk di lantai dengan wajah basah dan tatapan kosong, langkah Kenneth mendadak terhenti. Ponsel di tangannya perlahan diturunkan. Tidak ada riak kepanikan di wajah tampannya. Yang ada hanyalah keterkejutan sesaat, sebelum berubah menjadi topeng dingin yang angkuh—topeng seorang CEO Co Holdings, bukan suami miskin yang kukenal selama enam tahun ini.

“Kristina?” Dr. Albert yang mendengar keributan langsung keluar dari ruangannya. Wajah dokter itu memucat saat melihat posisi kami. “Kamu… kamu mendengar semuanya?”

Aku tidak menjawab Dr. Albert. Pandanganku terkunci pada pria yang berdiri beberapa meter di depanku. Pria yang setiap malam tersenyum manis sambil menyodorkan segelas racun berkedok susu hangat untuk merusak rahimku.

Kenneth menghela napas panjang, lalu melangkah mendekat. Ia tidak berniat membantuku berdiri. Ia hanya berdiri menjulang di hadapanku, memasukkan satu tangannya ke saku celana kainnya yang sengaja ia pilih agar terlihat seperti pegawai rendahan.

“Jadi kamu sudah tahu,” ucap Kenneth, nadanya datar seolah sedang membahas cuaca. “Baguslah. Aku tidak perlu repot-repot bersandiwara lagi.”

Aku mencengkeram hasil USG di tanganku hingga robek. “Enam tahun, Kenneth… Enam tahun aku hidup hemat, memakai baju usang, menahan lapar, dan mengorbankan segalanya demi masa depan kita. Dan kamu… kamu meracuniku?” Suaraku serak, gemetar oleh perpaduan rasa sakit yang luar biasa dan kebencian yang mendidih.

“Aku tidak meracunimu. Aku hanya memastikan wanita yang dipaksakan kakekku tidak memberikan keturunan untuk keluarga Co,” jawabnya tanpa secuil pun rasa bersalah. “Anakku hanya boleh lahir dari rahim Kiara. Tapi kamu malah kecolongan dan hamil.”

Kenneth mengeluarkan sebuah dompet kulit dari sakunya. Ia menarik sebuah kartu hitam—Black Card yang limitnya bisa membeli rumah sakit ini. Ia melemparkannya ke atas lantai, tepat di depan lututku.

“Itu biaya pengobatanmu. Pindahkan dirimu ke fasilitas terbaik, selamatkan janin itu jika kamu bisa,” kata Kenneth dingin. “Anggap saja itu upahmu karena sudah menjadi istri yang penurut selama enam tahun. Setelah anak itu lahir dan sehat, kita bercerai. Aku akan mengambil hak asuh penuh, dan kamu bisa pergi membawa uang kompensasi.”

Aku menatap kartu hitam di lantai, lalu menatap wajah Kenneth. Di matanya, aku hanyalah bidak catur yang bisa dibeli. Di matanya, bayiku yang sedang berjuang hidup adalah properti yang bisa ia klaim setelah sehat.

Rasa sakit di hatiku tiba-tiba menguap, digantikan oleh dingin yang membekukan. Sesuatu di dalam diriku patah, namun sekaligus bangkit. Aku bukan lagi Kristina yang lemah lembut dan penurut.

Dengan sisa tenagaku, aku berdiri. Aku tidak menyentuh kartu hitam itu. Aku justru menginjaknya dengan sepatu flatku yang sudah menipis.

“Simpan uang harammu, Kenneth,” bisikku, suaranya begitu tenang hingga membuat Dr. Albert tersentak. “Aku tidak akan sudi menggunakan satu rupiah pun dari kekayaan keluarga Co untuk menyelamatkan anakku.”

Kenneth menyipitkan mata, rahangnya mengeras. “Jangan egois, Kristina! Nyawa bayimu terancam. Tanpa uangku, kamu tidak akan bisa membayar Rp150 juta untuk obat itu! Kamu mau membiarkan anak itu mati hanya demi harga dirimu?”

“Dia anakku. Hanya anakku,” ujarku sambil menatapnya lurus. “Dia tidak punya hubungan apa pun dengan pembunuh seperti wujud aslimu.”

Aku berbalik, mengabaikan seruan Kenneth dan tatapan bersalah Dr. Albert. Aku berjalan keluar dari klinik itu dengan punggung tegak, memeluk perutku yang terasa nyeri.

Begitu sampai di dalam taksi, aku langsung menghubungi satu-satunya pengacara senior yang kutahu merupakan musuh bebuyutan dari Co Holdings di dunia bisnis. Aku tidak miskin karena tidak punya kemampuan. Aku lulusan terbaik hukum bisnis yang sengaja menekan potensiku demi mendukung “suami miskin”-ku. Sekarang, saatnya menggunakan otakku.

Malam itu juga, aku memindahkan seluruh tabunganku yang berjumlah Rp100 juta untuk membayar sepuluh hari pertama pengobatan di rumah sakit lain yang diam-diam bekerja sama dengan jaringan dokter internasional. Untuk sisa biayanya? Aku menjual mobil tua kami dan menggadaikan satu-satunya warisan kakekku: sebuah tanah tua di pinggiran kota yang selama ini sengaja tidak kuberi tahu pada Kenneth.

Ternyata, tanah tua itu berada di kawasan yang akan digusur untuk proyek jalan tol pemerintah. Nilainya melonjak hingga miliaran rupiah. Aku mendapatkan uangnya dalam waktu tiga hari. Aku punya lebih dari cukup uang untuk menyembuhkan rahimku dan menyelamatkan bayiku—tanpa menyentuh sepeser pun uang Kenneth Co.

Tujuh Bulan Kemudian

Ruang sidang Pengadilan Agama Jakarta Pusat dipenuhi oleh wartawan. Berita tentang CEO raksasa Co Holdings yang menelantarkan istrinya yang hamil dan diam-diam meracuninya dengan kontrasepsi dosis tinggi telah meledak menjadi skandal nasional.

Dr. Albert, yang akhirnya tidak kuat menahan beban moral, berbalik arah dan menyerahkan seluruh rekaman medis serta bukti instruksi Kenneth kepadaku di pengadilan.

Aku duduk di kursi penggugat. Tubuhku sudah jauh lebih sehat, perutku sudah membesar di usia kehamilan delapan bulan. Bayiku kuat. Dia bertahan melawan racun ayahnya sendiri.

Di seberang ruangan, Kenneth duduk dengan wajah pucat dan lingkaran hitam di matanya. Dalam tujuh bulan ini, saham Co Holdings hancur lebur akibat boikot publik. Kiara, cinta pertamanya, telah melarikan diri ke luar negeri membawa sisa uang perusahaan setelah tahu Kenneth diambang kebangkrutan dan penyelidikan pidana.

Hakim mengetuk palunya dengan keras.

“Memutuskan, mengabulkan gugatan cerai Penggugat secara keseluruhan. Memberikan hak asuh penuh anak yang dikandung kepada Penggugat, serta mewajibkan Tergugat membayar ganti rugi materiil dan imateriil atas tindakan pembatasan keturunan tanpa persetujuan…”

Ketukan palu itu terdengar seperti musik terindah di telingaku.

Saat sidang selesai, Kenneth berjalan terhuyung-huyung mendekatiku. Penampilannya yang dulu rapi kini berantakan.

“Kristina…” suaranya gemetar, mencoba meraih tanganku. “Maafkan aku… Aku dijebak oleh Kiara. Perusahaanku hancur, Kristina. Kakekku… wasiat kakekku dibatalkan oleh dewan komisaris karena skandal ini. Aku tidak punya apa-apa lagi. Tolong, biarkan aku melihat anak kita nanti…”

Aku melangkah mundur, menghindari sentuhannya seolah dia adalah wabah penyakit. Aku menatapnya dari atas ke bawah, persis seperti cara dia memandangku di koridor rumah sakit hari itu.

“Kamu bilang kamu tidak ingin aku menikmati kekayaan keluarga Co, Kenneth,” ucapku dengan senyum tipis yang dingin. “Sekarang lihat dirimu. Kamu bahkan tidak punya kekayaan itu lagi untuk dinikmati dirimu sendiri.”

Aku mengelus perutku yang menendang pelan, merasakan detak jantung kehidupan yang berhasil kuperjuangkan sendirian.

“Jangan pernah mencari kami lagi. Karena bagi anak ini, ayahnya sudah mati sejak segelas susu pertama enam tahun lalu.”

Aku berbalik dan berjalan keluar dari ruang sidang menuju masa depan baru yang cerah, meninggalkan Kenneth Co yang jatuh terduduk di lantai pengadilan—meratapi kehancuran total yang ia ciptakan dengan tangannya sendiri.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.