Udara dingin dari pendingin ruangan di apartemenku terasa tidak ada gunanya saat kulihat wajah Rafael dan ibunya melalui lubang intip. Kata-kata terakhir dari Trisha di telepon tadi bergema di telingaku seperti lonceng kematian bagi sisa-sisa rasa hormat yang mungkin masih kumiliki untuk mantan suamiku.
Uang yang disimpan atas namaku itu sebenarnya adalah uang milik Mia.

Aku membuka pintu. Tidak lebar, hanya cukup untuk mereka melihat mataku yang kini sedingin es.
“Maksudnya apa, Rafa?” tanyaku pelan, namun tajam.
Ibu mertuaku—mantan ibu mertuaku—langsung merangsek maju. “Mia! Kamu gila ya? Trisha sampai gemetar di London! Dia tidak bisa bayar deposit buat summer trip-nya ke Swiss! Kamu tega sekali memutus jatahnya di saat-saat terakhir begini?”
“Summer trip?” Aku hampir tertawa. “Aku bekerja lembur sampai tipes tahun lalu supaya dia bisa ‘belajar’, dan sekarang kamu bicara soal liburan ke Swiss?”
Rafael mencoba mengambil alih. Wajahnya yang tadi sok beradab kini tampak berantakan. Dasinya sudah longgar. “Mia, dengar. Kita bisa bicara baik-baik. Masuk dulu, ya? Tidak enak dilihat tetangga.”
“Jelaskan kalimat Trisha tadi,” tuntutku, mengabaikan permintaannya. “Uang apa yang kamu simpan atas namanya?”
Rafael terdiam. Dia melirik ibunya, yang tiba-tiba saja membuang muka ke arah lorong. Sesuatu di dalam dadaku hancur, namun digantikan oleh amarah yang membara. Aku teringat setiap kali Rafael bilang investasinya gagal. Aku teringat saat dia bilang bonus kantornya dipotong karena resesi. Aku teringat saat dia memintaku membayar cicilan mobilnya karena dia “sedang kesulitan”.
“Kamu mencuri dariku?” bisikku.
“Bukan mencuri, Mia! Itu uang keluarga!” Rafael membentak, pertahanannya runtuh. “Selama ini aku menyisihkan sebagian uang yang kamu berikan untuk ‘biaya tak terduga’ rumah tangga, dan aku menitipkannya di rekening Trisha agar tidak terpakai olehmu untuk hal-hal tidak berguna!”
“Hal tidak berguna?” Aku membuka pintu lebar-lebar sekarang. “Seperti membeli sepatu baru karena sepatuku bolong? Atau seperti membelikan ibuku obat jantung?”
“Sudahlah!” potong ibunya dengan nada sombong yang biasa dia gunakan. “Lagipula itu sudah jadi hak Rafael sebagai suami. Sekarang, kirimkan uangnya. Trisha butuh 2.000 Poundsterling malam ini juga karena dia sudah terlanjur janji pada teman-temannya. Kamu tidak mau kan dia malu?”
Aku menatap mereka berdua. Benar-benar sepasang parasit.
“Kalian tahu apa yang lucu?” kataku sambil mengambil ponsel dari saku. “Tadi pagi, sebelum ke pengadilan, aku sempat merasa bersalah. Aku pikir, mungkin aku terlalu kejam pada Trisha. Tapi sekarang…”
Aku menunjukkan layar ponselku kepada mereka. Aku sedang membuka aplikasi mobile banking.
“Uang di rekening Trisha yang kamu banggakan itu? Aku tahu kamu menggunakan fitur proxy yang terhubung dengan akun bisnis yang dulu kita buat bersama. Dan karena aku adalah pemilik tunggal berbadan hukum dari bisnis sampingan itu…”
Jari jemariku menari di atas layar.
“Aku baru saja melaporkan kartu itu hilang dan membekukan seluruh akses keluar-masuk dana dari rekening penampungan yang terhubung ke London.”
Wajah Rafael memucat. “Kamu… kamu tidak bisa melakukan itu.”
“Aku sudah melakukannya,” kataku tenang. “Bukan hanya itu. Rafael, jam tangan itu? Itu dibeli atas nama perusahaan pribadiku. Aku akan melaporkannya sebagai aset yang tidak dikembalikan. Besok, pengacaraku akan mengirimkan surat tuntutan pengembalian dana yang kamu gelapkan ke rekening adikmu.”
“Mia, jangan keterlaluan! Kita ini keluarga!” teriak ibunya, suaranya melengking memenuhi koridor apartemen.
“Kita tadinya keluarga,” koreksiku. “Sekarang, kalian hanyalah orang asing yang mencoba merampokku di depan pintu rumahku sendiri.”
Ponsel Rafael kembali berbunyi. Itu Trisha. Pasti kartu kreditnya baru saja ditolak saat dia mencoba membayar sesuatu di London. Rafael melihat layar ponselnya dengan panik, lalu melihatku dengan tatapan memohon yang menjijikkan.
“Mia, tolong… Trisha bisa ditangkap kalau dia tidak bayar tagihan restorannya sekarang. Dia sedang bersama teman-teman sosialitanya.”
Aku tersenyum—senyum paling tulus yang pernah kuberikan padanya dalam tiga tahun terakhir.
“Suruh dia mencuci piring, Rafa. Katanya dia mau belajar mandiri di luar negeri, kan? Ini pelajaran pertamanya.”
Aku menutup pintu tepat di depan wajah mereka. Aku mengunci semua slot kunci yang ada. Dari balik pintu, aku bisa mendengar Rafael menggedor-gedor dan ibunya mulai memaki dengan kata-kata kasar yang tidak pernah berani dia ucapkan sebelumnya.
Aku berjalan ke dapur, menuangkan segelas air putih, dan meminumnya perlahan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, air itu terasa sangat segar.
Suara gedoran itu lama-lama mengecil, digantikan oleh suara langkah kaki yang menjauh dan pertengkaran hebat antara ibu dan anak di depan lift.
Aku duduk di sofa lamaku, membuka laptop, dan memesan tiket liburan ke Bali. Kelas bisnis. Menggunakan uang yang seharusnya menjadi “jatah” Trisha bulan depan.
Rafael mengira dia bisa membuatku gila dengan mengontrol uangku. Dia lupa satu hal: akulah yang memegang kunci brankasnya sejak awal. Dan sekarang, brankas itu sudah tertutup rapat untuk mereka selamanya.