Posted in

AKU MENUNGGU ISTRIKU PULANG DARI REONI KULIAHNYA. SEBELUMNYA DIA PERGI NAIK ANGKOT! TAPI AKU MELIHAT DIA PULANG DI ANTAR OLEH LAKI LAKI LAIN NAIK PAJERO

Suasana di dalam rumah menjadi gelap gulita. Hanya cahaya rembulan yang masuk melalui celah ventilasi, memberikan semburat perak pada wajah Bianka yang tampak tegang. Aku bisa merasakan genggaman tangannya yang dingin, kontras dengan hawa panas yang tadi sempat membakar dadaku karena cemburu.

“Jon, lewat sini!” bisik Pak Haris. Suaranya rendah namun penuh otoritas.

Kami bergerak dalam senyap menuju pintu dapur. Pak Haris memimpin di depan, gerakannya tak terlihat seperti pria tua; dia gesit dan waspada. Begitu pintu belakang terbuka, udara malam yang tajam menyambut kami. Di kejauhan, di balik pagar tanaman, aku melihat kilatan lampu senter dari arah depan rumah. Mereka mulai masuk.

“Pajero itu hanya pancingan,” bisik Pak Haris sambil menunjuk ke arah semak-semak di belakang gudang tua milik tetangga. Di sana, terparkir sebuah mobil kabin ganda (double cabin) yang kotor penuh lumpur, sengaja disembunyikan. “Mereka akan fokus pada Pajero di depan. Kita pakai ini.”

Kami masuk ke dalam mobil tersebut. Mesinnya menderu halus, hampir tak terdengar. Pak Haris memacu kendaraan menembus jalan tikus yang sempit dan berbatu. Aku duduk di kursi belakang bersama Bianka. Rasa bersalah mulai menghantamku lebih keras daripada rasa takut.

“Bian…” suaraku tercekat. “Maafkan aku. Aku benar-benar brengsek tadi.”

Bianka menoleh, matanya yang sembab berkilat di kegelapan. “Simpan permintaan maafmu, Jon. Kita harus bertahan hidup dulu. Kamu belum dengar bagian yang paling gila.”

Dia menatap punggung ayahnya yang sedang fokus menyetir. “Ayah, katakan sekarang. Apa yang ibu sembunyikan dari Jonatan? Kenapa namanya juga disebut-sebut?”

Pak Haris terdiam sejenak, matanya menatap spion tengah, memastikan tidak ada lampu yang membuntuti. “Jonatan… kamu pikir kenapa kamu bisa mendapatkan posisi manajer di perusahaan logistik tempatmu bekerja sekarang dengan begitu mudah dua tahun lalu?”

Aku tersentak. “Maksud Bapak? Itu karena prestasi saya. Saya melamar secara resmi!”

Pak Haris terkekeh pahit. “Perusahaan itu adalah salah satu anak perusahaan dari konsorsium yang dulu saya audit. Ibumu, sebelum meninggal, menghubungi mereka. Dia membuat kesepakatan: dia akan tetap diam soal keberadaan saya dan dokumen korupsi itu, asalkan masa depan menantunya—kamu—terjamin.”

Duniaku serasa runtuh untuk kedua kalinya malam ini. Jadi, karier yang kubanggakan, rumah yang kami tinggali, semuanya adalah hasil dari ‘uang tutup mulut’ atas penderitaan mertuaku?

“Artinya…” suaraku bergetar. “Selama ini aku bekerja untuk orang-orang yang menghancurkan hidup kalian?”

“Tepat,” jawab Pak Haris tajam. “Dan alasan kenapa mereka mulai bergerak sekarang bukan cuma karena Bianka mencari saya. Tapi karena mereka tahu kamu mulai mengendus ketidakberesan di laporan pengiriman barang bulan lalu. Kamu tanpa sadar sudah mulai menggali kuburanmu sendiri, Jonatan.”

Tiba-tiba, sebuah benturan keras menghantam bagian belakang mobil kami. BUM!

Tubuh kami terlempar ke depan. Di belakang, sebuah SUV hitam besar dengan lampu high-beam yang menyilaukan baru saja menabrak kami. Mereka berhasil menemukan jalur kami.

“Pegangan!” teriak Pak Haris. Dia menginjak gas sedalam-dalamnya. Mobil melompat melewati parit kecil dan masuk ke area perkebunan sawit yang gelap gulita.

Aksi kejar-kejaran pecah. Suara ban yang berdecit di atas tanah kering dan ranting pohon yang patah bersahutan dengan detak jantungku yang menggila. Aku melihat ke belakang; moncong SUV itu kembali mendekat, siap untuk menghantam lagi.

“Jon!” Bianka berteriak sambil menyodorkan sebuah tas kecil dari bawah kursinya. “Di dalam situ ada pistol suar dan beberapa dokumen asli. Kalau terjadi sesuatu pada mobil ini, kamu ambil Bianka dan lari ke arah sungai di ujung kebun ini!” perintah Pak Haris.

“Lalu Bapak?” tanyaku panik.

Pak Haris melirikku lewat spion, ada senyum tipis yang penuh pengorbanan. “Saya sudah lari selama dua puluh tahun, Jonatan. Malam ini, saya berhenti lari. Saya akan memastikan ‘anak-anak’ saya punya masa depan yang bersih.”

Sebuah tembakan meletus dari mobil belakang, memecahkan kaca samping kami. Bianka menjerit. Aku menariknya ke bawah, melindunginya dengan tubuhku. Di saat itulah, aku sadar: cemburu tadi pagi adalah masalah paling sepele di dunia. Sekarang, aku harus memilih: tetap menjadi pecundang yang meragukan istrinya, atau menjadi pria yang siap mati demi melindungi rahasia yang bisa meruntuhkan sebuah kekaisaran bisnis hitam.

“Pak Haris, jangan konyol! Kita lawan sama-sama!” teriakku sambil meraih pistol suar itu.

Pak Haris tidak menjawab. Dia justru membanting setir ke arah kanan, menuju sebuah tebing kecil yang di bawahnya mengalir sungai deras. “Siap-siap melompat saat saya bilang sekarang!”

Cahaya lampu SUV di belakang semakin dekat, menyinari kabin kami dengan warna putih yang mematikan. Ini bukan lagi soal reuni kuliah. Ini adalah perang keluarga.